Yogyakarta: Menjelang Ramadhan Ketubuhan Pokok Naik 20%

0
294

YOGYAKARTA – Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, memprediksi permintaan semua kebutuhan pokok di tingkat pedagang pasar naik sekitar 20 persen pada awal Ramadhan 1437 Hijriah.

“Kalau awal-awal puasa kenaikan permintaan bisa 20 persen, sementara mejelang Lebaran peningkatannya bisa seratus persen. Itu untuk semua kebutuhan pokok,” kata Kepala Disperindagkop Bantul Sulistyanto di Bantul, Selasa lalu.

Menurut dia, kenaikan permintaan kebutuhan pokok pada saat Ramadhan dibanding hari biasa dikarenakan pada bulan puasa itu cenderung mendorong masyarakat untuk berbelanja kebutuhan pokok guna menyiapkan menu berbuka puasa maupun sahur.

Ia mengatakan sudah menjadi kebiasaan warga yang merayakan ibadah puasa, bahwa meskipun sejak dari pagi hingga sore menjelang waktu berbuka puasa tidak menyantap makanan, namun saat berbuka mereka menyantap makanan dengan menu lebih komplit.

“Pengalaman-pengalaman tahun sebelumnya juga seperti itu, bahkan kenaikan permintaan kebutuhan makin meningkat lagi hingga menjelang Lebaran, karena itu untuk memberikan nuansa di hari raya,” katanya.

Meski mengalami peningkatan permintaan kebutuhan pokok di pasaran, namun pihaknya menjamin kelancaran distribusi maupun pasokan bahan pokok ke pasar-pasar tradisional daerah ini, supaya stok di tingkat pedagang dapat mencukupi kebutuhan permintaan.

“Dari sisi kebutuhan pokok strategis kami pastikan tersedia dan mencukupi kebutuhan, kemudian terkait harga, saat puasa hingga Lebaran cenderung ada kenaikan, namun kita berharap kalau harganya naik, naiknya tidak terlalu tinggi,” katanya.

Sementara itu, menurut dia, beberapa komoditas pangan yang paling banyak dicari masyarakat biasanya bawang merah dan cabai serta berbagai sayuran, selain itu beras dan daging sapi maupun ayam paling dicari, sehingga harganya diprediksi naik.

“Saat puasa hingga Lebaran biasanya yang meroket itu harga daging sapi. Tentunya ini yang terus kita pantau dan dikendalikan, supaya harganya yang sekarang Rp110 ribu per kilogram, jangan sampai berada di kisaran Rp120 ribu sampai Rp130 ribu per kilogram,” katanya.(Arintoko)