Connect with us

Seni Tari

Keistimewaan Tari Gambyong – Jawa Tengah

Published

on

Keistimewaan Tari Gambyong – Jawa Tengah

Tari Gambyong – Jawa Tengah adalah jenis tari klasik yang digunakan dalam sebuah pertunjukan atau dalam penyambutan tamu. Tari ini biasanya hampir selalu ada dalam acara adat masyarakat Jawa. Apa saja keistimewaan Tari Gambyong, asal mula dan cara menarikan tarian ini? Berikut penjelasan singkatnya.

Apa yang Membuat Tari Gambyong Istimewa?

Ciri tari Gambyong adalah kostum tari yang dikenakan dalam pertunjukan selalu memiliki nuansa warna kuning dan hijau. Warna ini dipilih karena menunjukkan simbol kesuburan dan kemakmuran rakyat.

Tari ini menggunakan sampur dalam pertunjukannya. Sampur merupakan selendang atau tali panjang yang diikatkan di bagian perut sang penari. Penggunaan sampur ini dikaitkan dengan kelembutan yang dimiliki oleh para wanita.

Selain itu, sebelum memulai pertunjukkan tari, acara selalu dibuka dengan memainkan gendhing Pangkur. Jika Anda masyarakat Jawa, tentu sudah tidak asing dengan gendhing Pangkur ini. Irama kendang menyatu selaras dengan gerakan penari yang luwes.

Tari ini juga memiliki karakteristik yang sangat menonjolkan kerakyatan, sehingga tari ini juga masuk dalam jenis tari pergaulan masyarakat. Dalam berbagai variasi, tarian ini juga disebut dengan istilah Tari Tayub. Jenis tari ini sangat berkaitan dengan taledhek atau tledek atau ledek.

Ciri khas lain dari tari ini adalah adanya keluwesan dari penari wanita yang terkesan erotis. Penari tunggal wanita akan menarikan tarian ini dengan gerakan yang tregel dan luwes sesuai dengan irama dari iringan pola kendang yang terdengar rumit.

Kapan Tari Ini Dibuat?

Tarian ini dikenalkan oleh K.R.M.T Wreksodiningrat ke dalam pihak keraton saat masa Pakubuwana IX pada tahun 1861-1893. Saat dibawa ke dalam keraton, tarian ini dimainkan oleh para pesinden atau penari waranggana.

Setelah mengetahui tarian ini, pihak dari keraton Mangkunegaran membuat jenis baru dari modifikasi tarian ini. Jenis tari Gambyong yang baru pun tercipta dengan nama tari Gambyong Pareanom. Jenis baru ini dibawakan pada tahun 1950 oleh Nyi Bei Mintoraras.

Perkembangan tari Gambyong terus berlanjut sejak tari ini ditetapkan sebagai tari penyambutan tamu di daerah Jawa Tengah. Saat itu Gubernur Jawa Tengah, H.Ismail, menetapkan tari ini sebagai adat untuk menyambut tamu.

Sejak saat itu, tari Gambyong terus berkembang dan memiliki berbagai ragam modifikasi seperti tari Gambyong Mudhatama, Gambyong Dewandaru, Gambyong Campursari, Gambyong Ayun-ayun, Gambyong Pangkur dan Gambyong Gambirsawit.

Baca juga: 10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Dari Mana Tari Gambyong Berasal ?

Tari Gambyong berasal dari Provinsi Jawa Tengah tepatnya di daerah Surakarta. Tarian ini hidup dalam kehidupan masyarakat Jawa Tengah yang luwes menghadapi berbagai macam tuntutan kehidupan. Tari ini juga menjadi salah satu bukti betapa kaya masyarakat Jawa akan adat budaya.

Berapa Jumlah Penari Tari Gambyong?

Tari Gambyong adalah tarian yang awalnya dipertunjukkan dalam upacara ritual pertanian masyarakat Jawa Tengah. Namun, seiring perkembangannya tarian ini digunakan sebagai upacara penyambutan tamu dan memeriahkan pesta pernikahan masyarakat Jawa.

Pada awalnya, tarian ini hanya dimainkan oleh satu orang penari perempuan. Lalu tarian ini dimainkan sekitar 3 sampai 5 orang dalam pertunjukkan. Menurut kepercayaan, tarian ini harus dimainkan oleh penari dengan jumlah yang ganjil. Seiring berjalannya waktu, jumlah penari disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak hanya berpusat pada 3 atau 5 orang, tapi jumlahnya lebih banyak.

Bagaimana Tari Gambyong Dipertunjukkan?

Mengawali tarian ini, dimainkan musik pengiring yang menggunakan kendang. Biasanya yang dimainkan sebelum tarian ini dimulai adalah gendhing Pangkur. Musik pengiring tarian ini merupakan inspirasi dari gendhing Tayub khas dari daerah Blora, Jawa Tengah.

Musik pengiring ini biasanya dimainkan oleh 8 orang laki-laki. Alat musik yang digunakan pun tidak sembarangan, hanya alat musik tertentu yang bisa dijadikan pengiring. Diantaranya dalah gong, kendang, peking, kenong, kempul, simbal, drum dan saron.

Musik pengiring ini digunakan untuk mengiringi nyanyian yang biasanya dinyanyikan oleh sinden yang eksotik. Nyanyian yang didendangkan pun harus menggunakan bahasa Jawa. Lirik bahasa Jawa dipilih untuk iringan tarian ini karena masyarakat akan lebih mudah menerima pesan yang disampaikan jika menggunakan bahasa daerah sehari-hari.

Tarian ini memiliki 3 gerakan bagian, yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian akhir. Dalam istilah tari Jawa, gerakan ini biasa disebut dengan maju beksan, beksan serta mundur beksan.

Pusat gerakan tarian ini berada pada kaki, lengan, badan dan kepala. Gerakan tangan dan kepala yang selaras serasi dengan irama musik pengiring, merupakan pola yang utama dalam gerakan tari ini.

Pandangan mata harus mengikuti setiap gerakan tangan atau jari-jari tangan yang meliuk-liuk dengan luwes. Selain itu, gerakan kaki juga terlihat nampak lembut dipadukan dengan irama yang menghanyutkan.

Demikian uraian singkat mengenai tari Gambyong. Tari Gambyong adalah salah satu budaya daerah yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Tarian ini harus selalu terjaga karena termasuk dalam budaya daerah serta kekayaan bangsa yang harus dilestarikan. Jadi, tidak ada salahnya bagi Anda untuk mempelajari kekayaan budaya ini.

Blogger dan SEO Expert di Garuda Website. Sebuah perusahaan Web Developer di Jakarta Indonesia

Seni Tari

Tari Pendet – Bali, Ciri khas dan nuansa sakralnya

Published

on

Tari Pendet adalah tari yang asli berasal dari Bali. Mulai ada sejak tahun 1950 an, ada asal mula mengapa tari yang seharusnya menjadi sesembahan sakral pada upacara religi ini menjadi tari selamat datang. Simak hal-hal menarik tentang tari Pendet berikut.

Apa Saja Properti yang Digunakan Pada Pementasan Tari Pendet?

Hanya ada satu properti yang digunakan pada tari Pendet. Namanya adalah Bokor, Bokor ini berupa nampan kecil yang pinggirannya telah dihias dengan janur. Tak hanya dihias pinggirannya saja, di dalam Bokor juga diberi berbagai macam bunga. Bokor ini harus selalu dibawa selama tari Pendet ditarikan.

Untuk kostum, ada beberapa bagian pakaian sekaligus yang digunakan oleh penari tari Pendet. Diantaranya ada kemben prade, tapih, sabuk prade, stagen, serta selendang. Selendangnya diletakkan di pundak penari.

Sedangkan untuk bagian rambutnya, akan diikat pusung gonjer dan dihias beberapa bunga sekaligus. Bunga-bunga yang digunakan antara lain bunga cempaka, bunga mawar, bunga jepun, dan bunga kamboja.

Selain kostum dan hiasan bunga pada rambut, para penari tari Pendet juga menggunakan aksesoris seperti anting-anting, kalung, dan gelang yang khas. Kemudian para penari tari Pendet juga dirias dengan make up yang sangat mempertegas garis muka. Selain supaya garis mukanya terlihat lebih jelas, mereka juga menggunakan subeng.

Bagaimana Sejarah Tari Ini?

Source: flickr.com

Tari Pendet adalah tari yang tadinya hanya dilakukan pada saat pemujaan saja, tepatnya di tempat beribadah umat Hindu di Indonesia (Pura). Sebab, tari ini memang tadinya bertujuan untuk melakukan penyembahan kepada dewata yang sedang turun ke alam dunia. Namun demikian, seiring berkembanhnya waktu tari ini beralih fungsi sebagai tari penyambutan tamu. 

Pendet sendiri diartikan sebagai persembahan yang mana bentuknya sebuah tarian. Karena hal ini, tari Pendet bukanlah tapi dengan gerakan yang perlu dikuasai dengan latihan intensif. Bisa dikatakan gerakan pada tari ini hanyalah mengikuti gerakan.

Gadis-gadis muda yang menafikan tari ini mengikuti gerakan dari wanita yang lebih tua, yang mana lebih senior dan bisa menjadi contoh yang baik. Tari Pendet yang ditarikan oleh putri biasanya dipentaskan setelah tari Rejang di halaman pura.

Tari ini memiliki gerakan lebih dinamis dibandingkan dengan tari Rejang. Tari ini ditarikan dengan menghadap ke arah suci dan penontonnya menggunakan pakaian upacara masing-masing. Penari juga menggunakan kostum khusus dan beberapa properti yang telah disebutkan di atas.

Di Mana Asal Tari Pendet?

Tari Pendet berasal dari Bali, Indonesia. Pernah ada kontroversi terkait ditunjukkannya tari ini dalam media televisi yang mana telah membekaskan sentimen Anti-Malaysia sejak kejadian tersebut. Pada tahun 2009 lalu, salah satu channel televisi bernama Discovery Channel Singapura mempertontonkan tari Pendet.

Negara Malaysia mengaku tidak bertanggung jawab atas kejadian tersebut karena iklan tersebut bukan dari negaranya.  Kemudian Singapura telah mengirimkan surat baik ke Malaysia dan ke Indonesia.

Surat yang berisi pengakuan tanggung jawab penuh atas penayangan iklan yang berisi tari Pendet, tari yang berasal dari Indonesia. Sejak penayangan iklan ini pula muncul sentimen Anti-Malaysia yang masih terasa hingga sekarang.

Kapan Tari Ini Ditarikan?

Ciri khas tari Pendet adalah waktu dipentaskannya. Di atas telah disebutkan bahwa tari Pendet tadinya dipertunjukkan pada upacara sakral, namun sekarang ini juga sering dipertunjukkan pada penyambutan.

Acara-acara yang membutuhkan penyambutan di Bali sudah biasa dipentaskan pula tarian ini. Contohnya pada acara Asian Games yang diadakan di Jakarta beberapa tahun lalu, di acara yang mengundang banyak tamu dari luar negeri itu telah dipentaskan tari Pendet.

Siapa Pembuat Tari Ini?

Pembuat atau koreografer dari tari Pendet adalah I wayan Rindi. Tari Pendet ini tadinya dibuat untuk upacara sakral yang mengandung religius tinggi. Seiring berkembangnya waktu, seniman-seniman tari di Bali menjadi tari Pendet inj sebagai tari penyambut atau tari ‘selamat datang’. Oleh para seniman tari di Bali, disetujui bahwa tahun 1950 adalah tahun lahirnya tari Pendet. 

Berapa Jumlah Penarinya?

Jumlah penari tari Pendet adalah lima orang aslinya, yang mana berasal dari apa yang dikembangkan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1961 lalu. Tadinya tari Pendet ini ditarikan hanya empat orang, namun sejak tahun 1961 itu I Wayan Beratha menambahkan satu orang sehingga menjadi lima orang.

Meski begitu, tari Pendet ini tetap bisa ditarikan oleh lebih dari lima orang. Contohnya pada Asian Games yang pernah bertempat di Indonesia. Saat itu dipentaskan tari Pendet dengan sekitar 800 penari. 

Meskipun pernah ada kontroversi antara Indonesia dengan Malaysia tentang tari Pendet – Bali ini. Namun authentic nya tari ini tidak akan pudar. Anda juga bisa menonton pementasan tari ini ketika ada acara-acara yang membutuhkan penyambutan. 

Continue Reading

Seni Tari

Tari Remong Jawa Timur dan ciri khasnya

Published

on

Salah satu tari yang biasa dipentaskan di festival kesenian daerah adalah tari Remong Jawa Timur. Tari ini memiliki unsur cerita kepahlawanan dan memiliki ciri khas yang unik. Kenal lebih dalam tari Remong dengan bahasan berikut.

Baca juga: 10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Apakah Cerita yang Disampaikan Pada Tari Remong?

Asal mula tari Remong tak bisa dilepaskan dari penari jalanan yang ada di Jombang dahulu kala. Ya, memang sebelum zaman modern sekarang ini di Jombang terkenal ada banyak penari jalanan. Tari Remong dibuat oleh salah satu penari jalanan di Jonbang dengan cerita di dalamnya.

Cerita dari tari Remong ini adalah tentang pangeran yang sedang berada di medan perang. Tak dijelaskan secara pasti apa saja yang dilakukan pangeran tersebut di medan perang, namun ada fokus utama dari ditunjukkannya tari ini.

Tari ini menunjukkan sisi maskulinitas seorang laki laki yang mana diperagakan sedang berada di dalam medan pertempuran. Dengan demikian, jelas bisa disimpulkan bahwa tari ini hanya bisa ditarikan oleh seorang laki-laki saja. 

Namun seiring berkembangnya waktu, ada perubahan yang terjadi pada tarian ini. Baik itu soal penarinya maupun fungsinya. Tadinya tari Remong ini berfungsi untuk mengiringi pertunjukkan Ludruk. Hal ini telah tercatat dalam sejarah tari Remong yang terpercaya. Untuk sekarang ini, memang tari Remong masih digunakan untuk pengiring Ludruk, namun ada hal lainnya yang membuat tari ini juga dipentaskan.

Di Mana Tari Ini Berasal?

Tari Remong berasal dari daerah Jombang, Provinsi Jawa Timur. Lebih tepatnya lagi tari ini berasal dari desa di Jombang yang bernama Desa Ceweng, di Kecamatan Diwek, Jombang.

Festival kesenian daerah, sambutan tamu dari luar Jombang atau luar Jawa Timur, sambutan kenegaraan, dan event-event penting lainnya kerap kali membutuhkan pementasan tari Remong. Seiring berkembangnya waktu pula, tari Remong yang tadinya hanya ditarikan oleh laki-laki kini tak lagi sedemikian rupa.

Kapan Tari Ini Dipentaskan?

Seperti yang telah dibahas pada poin sebelumnya, yang mana menjelaskan bahwa tari Remong telah beralih fungsi tanpa meninggalkan fungsi lamanya. Tari Remong hingga saat ini tetap digunakan sebagai iringan dalam pertunjukkan Ludruk. Namun, tari Remong juga biasa dipentaskan ketika festival kesenian daerah, pertunjukkan, penyambutan tamu daerah dan kenegaraan, dan lain-lain.

Berapa Jumlah Penari Tari Remong?

Tari Remong sebenarnya biasa ditarikan oleh satu orang penari saja. Namun boleh-boleh saja jika ditarikan lebih dari satu orang.

Tari Remong saat ini dianggap lebih garang apabila ditarikan oleh perempuan. Ini mengapa muncullah tari Remong Putri. Tari Remong Putri ini juga biasa disebut sebagai tari Remong gaya perempuan atau tari Remong gaya banci.

Meski kini penari tari Remong sudah beralih gender, namun tetap ada perbedaan yang menyertainya. Kostum yang dipakai penari perempuan tari Remong berbeda dengan kostum penari tari Remong laki-laki.

Baca juga seni tari berikut ini:

Siapa Penemu Tari Remong?

Tari Remong Jombangan dibuat oleh Ali Markasa, sedangkan tari Remong Boletan diciptakan oleh Mbah Bolet Sastra Amenan.

Tari Remong adalah tari yang bernuansa kepahlawanan, sebab cerita yang dipertunjukkan dari tari ini adalah seorang pangeran yang sedang berjuang dalam medan pertempuran. Sedangkan untuk jenis, tari Remong termasuk dalam jenis tari laki-laki gagah. 

Bagaimana Tari Ini Dipentaskan?

Bisa dikatakan ciri tari Remong terletak pada gerakan kaki yang dinamis, gerakkan kaki menjadi fokus utamanya. Dalam serangkaian gerakannya, tari ini lebih banyak menggerakkan kaki seperti hentakkan atau loncatan.

 Gerakan kaki rancak dan dinamis semakin didukung saja dengan kostum yang digunakan, yaitu sebuah gelang dengan lonceng-lonceng di kaki penari. Dengan demikian, saat penari menghentakkan kakinya maka akan terdengar bunyi-bunyi lonceng. 

Tak hanya kaki saja, tari ini juga akan membuat penonton tercuri perhatiannya pada sampur penari. Sebab penari juga akan memainkan sampur (selendang) yang dipakainya. Ekspresi wajah, kuda-kuda, dan anggukan kepala juga ditonjolkan pada tarian ini sehingga membuat tari ini semakin atraktif ketika dipentaskan. 

Ada beberapa gaya busana dalam pementasan tari Remong. Diantaranya ada busana Remong putri, busana gaya Jombangan, busana gaya Malangan, busana gaya Sawunggaling, dan busana gaya Surabayan. Masing-masing gaya busana ini menjadikan kostum yang dipakai penari sedikit berbeda satu sama lain. 

Busana untuk Remong putri, penarinya akan menggunakan satu sampur atau selendang yang diletakkan di bahu. Selain itu, juga memakai sanggul, kain rapak yang akan menutupi pinggang sampai lutut, dan ditambah lagi kain berwarna hitam yang menutupi dada. Sedangkan pada busana Jombangan, penari laki-laki akan menggunakan rompi. Serta pada busana Sawunggaling penarinya menggunakan kaos.

Tari Remong – Jawa Timur memang dikenal sebagai hiburan serta budaya yang masih sangat kental di daerah Jombang. Hingga saat ini muncul kreasi-kreasi baru pada tari ini, tanpa harus meninggalkan kekhasan yang dimiliki tari ini.

Continue Reading

Seni Tari

10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Published

on

Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan tradisi dan kebudayaan. Salah satunya adalah tradisi tarian yang memiliki ciri khas dari Sabang sampai Merauke. Berikut ini adalah 10 kesenian tari tradisional di Indonesia yang sayang untuk dilewatkan.

Fitur image Denita Utami : Srikandi Dance – Destination Indonesia at Northern Virginia, USA (Traditional dance)

1. Tari Jaipong – Jawa Barat

Tari Jaipong atau Jaipongan dapat dikatakan sebagai salah satu jenis budaya Indonesia. Yang mana tarian ini  yang cukup populer pergaulannya dan berasal dari Sunda, Jawa Barat. Tari ini tak serta merta ada sejak dahulu kala, melainkan bisa dikatakan usia tari ini sebenarnya masih cukup muda.

Adapun tari ini awalnya berasal dari tahun 1970 an, saat itu H. Suanda lah seseorang yang menciptakan tarian ini. Oleh H. Suanda, tari ini dibuat dengan cara menggabungkan beberapa kesenian tradisional sekaligus. Diantaranya adalah ketuk tilu, topeng banjet, wayang golek, pencak silat, dan masih banyak lagi.

Komposisi tarian dan musikalnya terus melalui perkembangan dari zaman ke zaman, tanpa menghilangkan unsur orisinalitas dari tari ini. Tari Jaipong juga identik dengan alat musik gong dan gendang karena alunan alat musik inilah yang mendominasi.

Selain itu, tari yang ditarikan sebagai hiburan masyarakat ini juga rupanya sejauh ini memberikan pengaruh pada kesenian-kesenian lain dari Jawa Barat di luar Sunda. Bisa ditarikan oleh penari tunggal, berpasangan, dan bisa juga berkelompok.

Jika itu berkelompok maka penari yang tampil biasanya 3 sampai 5 orang. Apabila berpasangan, maka harus perempuan-perempuan, tidak ada laki-lakinya. Kostum yang digunakan adalah baju atasan dengan kemben sampai mata kaki yang biasanya berupa kain batik. Baju atasan yang dipakai warnanya bisa beragam, terkadang berwarna kuning terkadang berwarna merah.

2.  Tari Kecak – Bali

Tidak ada batasan jumlah penari pada pertunjukan tari Kecak dari Bali. Kesenian tari tradisional ini bisa ditarikan oleh lima atau beberapa orang saja, namun bisa juga ditarikan oleh ribuan orang sekaligus. Hanya bisa ditarikan oleh laki-laki, nantinya mereka hanya akan menggunakan celana saja ketika memainkannya.

Mereka akan duduk melingkar dengan space yang cukup untuk satu orang di tengahnya. Yang mana space ini nanti digunakan untuk penari yang memainkan tokoh Rahwana. Mendengar kata Rahwana, memang benar adanya tarian ini memiliki unsur kisah Ramayana di dalamnya. Sebuah cerita Jawa yang mengisahkan Sinta, istri Rama yang diculik oleh Rahwana. 

Tari Kecak ini usianya tak semuda tari sebelumnya. Diketahui tari ini sudah ada sejak tahun 1930 an, yang mana dibuat oleh sosok seniman dari Indonesia dan pelukis dari Jerman. Mereka adalah Wayan Limbak dan Walter Spies.

Di tahun yang sama tari ini ada, Wayan Limbak mempopulerkan tari ini ketika ia berkeliling dunia bersama penari-penari dari Bali. Saat tari ini dipentaskan akan terdengar bunyi cak cak cak yang mana itu berasal dari mulut penari.

Ya, tidak ada alunan musik dari pementasan tari ini. Namun ada asal mula alunan musik yang harus digunakan oleh penari ini, yaitu sebuah iringan dalam Tari Sanghyang. Jika ada suara selain dari mulut penari, pastilah itu berasal dari aksesoris kaki para pemain tokoh Ramayana. 

3. Tari Remong – Jawa Timur

Tari Remong adalah tari yang berasal dari Jawa Timur dan dengan kisah asal usul yang menarik. Tari Remong ini saat ini memang digunakan untuk pengiring kesenian Ludruk, namun tadinya tari ini adalah tari yang dibuat oleh penari jalanan di Jombang.

Kerap kali kita menyaksikan tari ini dalam festival kesenian atau saat menyambut tamu acara kenegaraan. Mulanya tari ini ditarikan oleh penari laki-laki, namun seiring berkembangnya zaman tari ini lebih sering ditarikan oleh penari perempuan.

Penari perempuan dianggap lebih bisa mempertunjukkan kisah dan nuansa yang sangar dibanding penari laki-laki. Soal busana, busana yang digunakan oleh penari tari ini berbeda-beda. Perbedaan ini berupa beberapa bagian kostum saja, yang mana kesemuanya tetap memberikan unsur orisinil dari tari ini.

Beberapa perbedaan busana tersebut diantaranya adalah gaya Surabayan, gaya Malangan, gaya Sawunggaling, dan gaya Jombangan. Ada beberapa alat musik yang digunakan untuk mengiringi pementasan tari ini, diantaranya adalah kenong, kethuk, kempul, gong, bonang, dan saron. 

4. Tari Pendet – Bali

Tari ini memang sangat ikonik di Bali, namun perlu diketahui bahwa tari ini tadinya tidak untuk dipentaskan di kalangan masyarakat umum. Dulunya tari Pendet digunakan sebagai salah satu bentuk acara keagamaan, yaitu sebagai simbol penyambutan Dewa yang turun ke bumi.

Pencipta tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi, salah satu seniman tari atau koreografer di masa itu. Tepatnya, tari dari Bali ini lahir sekitar tahun 1960 an, lebih muda usianya dibanding tari Kecak.  Kostum penari tari ini identik dengan warna merah, merah muda, dan keemasan.

Sabuk stagen, tapih, kemben, dan sabuk prade wajib digunakan oleh setiap penari yang mementaskan tari ini. tak hanya pakaian yang melekat saja, para penari juga akan menggunakan aksesoris bunga-bunga yang ditaruh di kepala. Riasan wajahnya khas, yaitu riasan yang menonjolkan garis-garis wajah supaya ekspresi mereka semakin jelas terlihat. 

Bunga yang menghias kepala penari diantaranya adalah bunga jepun, cempaka, mawar, dan kamboja. Penari yang mementaskannya juga akan dipercantik dengan berbagai aksesoris. Layaknya aksesoris pada tarian lain, yaitu gelang, anting-anting, kalung, serta membawa subeng.

5. Tari Gambyong – Jawa Tengah

Tari Gambyong adalah tari asli Surakarta yang populer untuk menyambut tamu. Bukan hanya sebagai tari tunggal saja, ada modifikasi yang tak lain berupa modifikasi koreografinya dari tari ini. Hasil dari modifikasi ini adalah tari Gambyong Pangkur dan Gambyong Pareanom. Meski demikian, dasar dari gerakan modifikasi-modifikasi ini dengan aslinya sama. 

Kesenian tari tradisional ini usianya sangat lebih tua dibanding tari-tari sebelumnya. Jika tari-tari sebelumnya dketahi mulai ada pafa abad ke-19, maka tari dari Surakarta, Jawa Tengah ini diketahui sudah ada sejak abad ke-17.

Alasannya adalah nama tari ini sudah ada di dalam Serat Centhini yang ditulis pada abad yang sama. Ada ciri-ciri khas yang menyertai tarian ini, yang mana membuat tari ini semakin mudah saja dibedakan dengan tari tradisional lainnya. Ciri yang pertama adalah terletak pada pakaiannya.

Para penari yang menarikan tari ini menggunakan kostum berwarna kuning-hijau, yang mana memiliki simbol makmur dan subur.  Ciri selanjutnya adalah bahwa sebelum tari ini mulai, ada pembukaan berupa gending Pangkur. Gerakan dari tari ini menampilkan karakter yang tregel, kewes, kenes, dan luwes sekaligus.

6. Tari Serimpi – Yogyakarta

Berbeda dari beberapa tari sebelumnya, tari Serimpi adalah tari klasik yang mana merupakan tradisi asli dari Keraton Kesultanan Mataram (Yogyakarta). Sebagai tarian keraton dan memiliki gerakan yang lembut, tari Serimpi ini sering dianggap mirip dengan tari Pakarena yang berasal dari Makassar.

Ya, tari dari Yogyakarta ini memang memiliki tata gerak yang lemah gemulai, sebab hal ini menunjukkan kelemahlembutan, kesopanan, serta kehalusan budi.  Tata gerak dari tarian ini diiringi dengan alunan musik gamelan.

Karena berasal dari zaman kuno dan dari Keraton Kesultanan Mataram, tari ini tidak boleh disamakan kedudukannya dengan tarian lain. Meskipun berasal dari zaman kuno, tari ini berhasil terus dilestarikan hingga tetap ada sampai sekarang ini.

Tari Serimpi memang tak sesakral tari Bedhaya, namun hanya orang-orang yang dipilih oleh keraton saja yang bisa mementaskan tarian ini. Bisa dikatakan kesakralan dari tari ini sama sakralnya dengan pusaka dan benda-benda raja dari zaman dahulu yang saat ini berada di dalam keraton.  

Alunan dari pementasan tari ini lebih menonjolkan saat dinyanyikan tembang atau lagu Jawa. Pementasan tari ini juga tak menggunakan sesajen, tidak seperti tari Bedhaya. Boleh jadi tari ini bersifat cukup sakral, namun dasarnya tari ini sebenarnya bertema erotik dan kegembiraan.

Di atas memang telah dijelaskan bahwa tari ini sudah disebutkan dalam sebuah kitab yang ada pada abad ke-17. Namun tentu saja ada pencipta dari tarian ini. Beliau adalah Sri Pakubuwana V yang mana menciptakan tarian ini pada tahun 1748.

Ada beberapa tari modifikasi yang menggunakan dasar tari klasik ini. Diantaranya adalah Serimpi Pondelori, Serimpi Ludira Madu, Serimpi Bondan, Serimpi Anglir Mendung, Serimpi Genjung, Serimpi Dhempel, dan Serimpi Babul Layar.

7. Tari Yapong – Jakarta

Usia tari Yapong dari Jakarta cukup muda, yaitu lahir pada tahun 1977. Pementasan pertama tari ini adalah di tahun tersebut yang mana berlokasi di Balai Sidang Senayan Jakarta. Ada tiga ratus orang penari yang menarikan tari kreasi ini pada saat itu.

Berdasarkan sumber yang valid, setelah munculnya tari ini kemudian Dinas Kebudayaan Jakarta bersama Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardjo menjadikan tari yang tadinya sendratari ini menjadi tarian lepas.

Kostum yang digunakan penari tari Yapong bisa dikatakan memiliki keterkaitan dengan tari Kembang Topeng Betawi. Hal ini disebabkan adanya toka-toka atau selempang di dada dan tutup kepala ragam hias yang digunakan oleh penari tari ini juga penari tari Kembang Topeng Betawi.

Selain itu, tari ini juga memiliki akulturasi budaya lainnya, yaitu dengan masuknya unsur tari pop, unsur budaya Tionghoa, dan unsur budaya Sumatera.  Alat musik pengiring yang digunakan pada tari ini ada beberapa namun mayoritas adalah rebana.

Diantaranya yaitu rebana hadroh, rebana biang, dan rebana ketimpring. Satu hal lain tentang tari dari Jakarta ini adalah bahwa meskipun tari ini cukup baru namun tetap ada modifikasi yang beredar. Modifikasi dari tari ini alias Yapong Kreasi Baru memiliki tata gerak yang sangat bertolak belakang dengan unsur Betawi tradisional.

8.  Tari Tor Tor – Sumatera Utara

Tari Tor Tor tak hanya sebagai tari klasik atau tari tradisional saja, melainkan ada sebagai tari purba. Tari ini berasal dari Sumatra Utara, tepatnya di sekitaran Danau Toba. Sedangkan daerah yang berada di sekitaran Danau Toba antara lain Samosir, Tapanuli Utara, Toba Samosir, dan Humbang Hasundutan.

Tari ini pada dasarnya bukanlah tari hiburan, namun tari untuk seremongnial atau upacara adat.  Cukup berbeda dengan tarian lainnya yang mungkin gerakannya merupakan serangkaian kisah. Di tari Tor Tor ini gerakannya adalah sebuah media komunikasi, komunikasi yang seharusnya terjalin di antara partisipan upacara.

Sebelum tari ini ditarikan, tuan rumah akan mengadakan upacara khusus terlebih dahulu. Upacara khusus tersebut bernama Tua ni Gondang yang mana membuat ada istilah bahwa tari Tor Tor tak bisa dipisahkan dengan musik gondang.

Tari ini ditarikan bersamaan dengan upacara adat, dalam upacara adat tersebut disebutkan beberapa permintaan. Setelah permintaan selesai diucapkan maka ada ritme khusus dari musik gondang tadi.

Lalu upacara adat seperti apakah yang disertai oleh tari ini? Upacara adat yang dilakukan warga sekitar Danau Toba ini adalah upacara untuk menyampaikan batin kepada roh leluhur dan pada tamu-tamu yang dihormati di upacara tersebut. Disinilah tujuan dari tari ini ditarikan, yaitu untuk menunjukkan rasa penghormatan tersebut.

9. Tari Piring – Sumatera Barat

Tari Piring juga disebut sebagai tari Piriang di Sumatera Barat. Sebutan lain tersebut berasal dari bahasa Minangkabau. Ciri khas dari tari ini sesuai dengan namanya, yaitu sebuah piring yang mana akan dimainkan oleh penari saat dipentaskannya tari ini. Gerakan-gerakan dari tari Piring memang mayoritas memainkan piring, namun beberapa gerakannya juga diserap dari gerakan silat Minangkabau atau yang biasa disebut dengan silek. 

Piring yang dimainkan adalah dua piring yang diletakkan di telapak tangan. Tak hanya itu, tangan dengan piring ini digerakkan dengan cepat supaya tidak jatuh disertai dengan didatangkannya piring atau cincin yang berada di dua jari penari.

Akhir dari pementasan tari ini pun juga cukup unik atau khas, setelah piring dimainkan di telapak tangan di akhir piring tersebut akan dipecahkan dengan cara dilempar ke lantai. Tidak berhenti disitu, setelah pecah penari akan menari di atasnya.

Jumlah penari yang menarikan tari dari Solok ini selalu ganjil, bisa tiga orang penari namun juga bisa tujuh orang penari. Pakaian atau kostum yang digunakan sangat khas, yaitu identik dengan warna cerah seperti kuning keemasan atau merah cerah. 

Mulanya, tari ini ditarikan sebagai bentuk ucapan rasa bersyur kepada para dewa. Sebab mereka meyakini bahwa dewa lah yang memberikan mereka hasil panen yang melimpah. Ritual untuk rasa syukur ini diwujudkan dengan membawa sesaji makanan di atas piring. Sehingga sudah jelas mengapa sebuah piring digunakan sebagai properti pada tari ini.

10.  Tari Saman – Aceh

Tari Saman otentik berasal dari kalangan suku Gayo, Aceh. Beberapa upacara adat dan upacara keagamaan membuat tari ini dipentaskan. Salah satunya adalah ketika diperingatinya hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tarian ini juga diiringi dengan nyanyian, yang mana bahasanya menggunakan bahasa suku Gayo. Telah terdaftar di UNESCO, tari ini dibuat dan dikembangkan oleh seorang ulama populer bernama Syekh Saman.

Awal mula dibuatnya tarian ini bertujuan sebagai dakwah atau penyampaian suatu pesan dan ajaran. Ada hal yang dicerminkan dalam tari ini, antara lain sebuah kekompakan, pendidikan, kebersamaaan, kepahlawanan, serta keagamaan.

Tari ini diawali dengan sebuah pembukaan, pembukaan yang melakukan ini diisi oleh seorang orang tua yang memberikan nasihat-nasihat kepada para penonton sekaligus para pemain.  Jumlah penari pada tari Saman tidak sembarangan, yaitu hanya dibatasi delapan sampai sepuluh orang saja.

Dengan dua orang diantara mereka akan menyanyi sekaligus memberikan aba-aba. Tadinya memang tak bisa sembarangan jumlah penarinya, namun seiring berkembangnya waktu jumlah penari pada tari ini bertambah karena adanya keyakinan semakin banyak penari semakin semarak. 

Ditunjuk seorang syaikh untuk mengatur gerakan pada tari ini, orang yang sama juga bertugas menyanyikan syair sebagai pengiring tarian ini ketika dipentaskan. Syair-syair yang dinyanyikan ini berasal dari lagu Saman.

Continue Reading

Trending