Antara Bengkulu, Raflesia dan Bunga Bangkai

0
3284
Bunga Rafflesia Bengkulu
Bunga Rafflesia Bengkulu
Banner BPKAD Banner BPKAD

Berbicara tentang provinsi Bengkulu jelas tidak lengkap rasanya tanpa menyinggung tentang keberadaan puspa langka yang tumbuh disana.

Memang, daerah yang termasuk dalam wilayah pulau Sumatera ini, tempat biasanya Rafflesia Arnoldi dan Bungei Kibut/Bangkai – bunga terbesar dunia itu tumbuh.

Sebagian besar publik menyebutnya bunga bangkai. Dan, beberapa diantaranya lebih akrab dengan nama bunga Rafflesia Arnoldi. Namun tidak sedikit pula yang benar-benar tahu bahwa bunga raksasa ini sebenarnya ada dua jenis dengan spesies yang berbeda. Memang yang jelas memang sama-sama berukuran besar.

Fakta tentang bunga bangkai (Amorphophallus) masih banyak tidak diketahui oleh masyarakat, termasuk di Indonesia sendiri. Sering kali bunga bangkai masih diangap sebagai spesies yang sama dengan bunga Rafflesia. Padahal antara keduanya merupakan spesies yang berbeda mulai dari klasifikasi biologi, bentuk, warna, siklus dan cara hidupnya.

Selain perbedaan itu, masih terdapat beberapa fakta lain tentang dua bunga raksasa yang mampu menyedot perhatian dunia tersebut.

Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus Titanum)

Antara Bengkulu, Raflesia dan Bunga Bangkai
Bunga bangkai raksasa (Amorphophallus Titanum)

Bunga bangkai jelas sangat berbeda dengan Raflesia. Secara fisik, bunga bangkai memiliki daun dan batang yang tumbuh menjulang tinggi, sedangkan bunga Rafflesia hidup sebagai parasit pada inang tertentu tanpa batang dan daun. Bunganya berupa kelopak yang ketika mekar akan melebar serta merebah di tanah.

Secara taksonomi, bunga bangkai dan Rafflesia merupakan spesies yang berbeda mulai dari tingkat kelas. Bunga bangkai (Amorphophallus sp.) merupakan anggota kelas Liliopsida, sedangkan bunga rafflesia merupakan anggota kelas Magnoliopsida.

Terdapat 170 jenis bunga bangkai di seluruh dunia dan sekitar 25 jenis di antaranya bisa ditemui di Indonesia.

Penemu pertama jenis Amorphophallus Titanum adalah Odoardo Beccari, seorang pakar botani berkebangsaan Italia. Ketika itu, tahun 1878, dalam perjalanannya di Kepahiang – Rejang Lebong (Bengkulu), ia menemukan tumbuhan bunga bangkai. Kemudian oleh rekannya, Prof. Giovanni Arcaneli dari Turki, diberi nama ilmiah Amorphophallus Titanum terhadap hasil temuan Beccari tersebut. Sejak itu dunia botani mengenal bunga bangkai dengan nama Amorphophallus Titanum Beccari.

Bunga yang ditetapkan sebagai flora maskot provinsi Bengkulu ini juga dijadikan lambang kebun raya Botanische Gärten Bonn, Jerman. Bahkan, karena keunikannya, peneliti asal University of Wisconsin, AS, Thomas C Gibson, menyebutkan, di benua Eropa dan Amerika saja, ada sekitar 6.000 kebun raya dan arboretum yang mengoleksi bunga bangkai raksasa tersebut.

Namun bukan perkara gampang untuk melihat bunga ini mekar sempurna.

Butuh proses yang panjang. Sebutir biji bunga bangkai titan arum (Amorphpophallus titanium) diperkirakan butuh waktu 20 hingga 40 tahun hingga berbunga untuk yang pertama kalinya.

Antara Bengkulu, Raflesia dan Bunga BangkaiTidak hanya besar, bunga ini mempunyai proses pertumbuhan yang unik. Yakni mengalami dua fase siklus kehidupan yang berlangsung secara bergantian dan terus menerus, yakni fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif, di atas umbi bunga bangkai tumbuh batang tunggal dan daun yang mirip daun pepaya. Hingga kemudian batang dan daun menjadi layu dan menyisakan umbi di dalam tanah. Fase selanjutnya, generatif, yakni munculnya bunga majemuk yang menggantikan batang dan daun yang layu tadi.

Warna kelopak bunga bangkai raksasa ini pun selalu beragam dan tak pernah sama setiap kali mekar meskipun berasal dari umbi yang sama. Warna bunganya dapat bervariasi seperti merah hati, jingga, merah dadu, dan kehijauan. Sementara tongkolnya pun pernah muncul dengan warna keunguan, agak putih, serta kuning.

Sesaat menjelang mekar, suhu di dalam seludang yang belum terbuka bisa mencapai 50 hingga 60 derajat celcius. Kondisi ini membuat bunga ini terlihat mengeluarkan asap di tengah dinginnya udara pegunungan.

Bau yang dikeluarkan ternyata tidak sekedar bau busuk saja. Biasanya bau busuk yang dikeluarkan bunga bangkai bercampur antara bau yang menyerupai kertas terbakar, amis ikan, telur busuk, bahkan bau bangkai tikus.

Di Bengkulu tepatnya di Desa Tebat Monok Kabupaten Kepahiang, Tim Peduli Puspa Langka (Holidin Bersaudara), pernah menemukan bunga bangkai mencapai 100 kg. Bunga bangkai raksasa tertinggi yang pernah mekar tercatat menjulang setinggi 3.45 hingga 4,20 meter.

Rafflesia arnoldi

Mereka sama-sama tumbuh dan dikenal sebagai ikon Provinsi Bengkulu, mereka juga sama-sama disebut bunga Raksasa. Sebagian besar masyarakat malah berpikir, Bunga Rafflesia adalah juga bunga bangkai. Padahal, sejatinya mereka berbeda jauh.

Antara Bengkulu, Raflesia dan Bunga Bangkai
Rafflesia arnoldi mekar sempurna

Rafflesia arnoldi adalah tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan tercatat merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis.

Penamaan bunga raksasa ini tidak terlepas oleh sejarah penemuannya pada tahun 1818 di hutan tropis Bengkulu (Sumatera) yang kemudian membuat daerah ini dikenal dunia sebagai The Land of Rafflesia atau Bumi Rafflesia.

Adalah seorang pemandu yang bernama Dr. Joseph Arnold yang menemukan bunga raksasa ini pertama kali. Dr. Joseph Arnold sendiri saat itu tengah mengikuti ekspedisi yang dipimpin oleh Thomas Stamford Raffles.

Jadi penamaan bunga Rafflesia arnoldi didasarkan dari gabungan nama Thomas Stamford Raffles sebagai pemimpin ekspedisi dan Dr. Joseph Arnold sebagai penemu bunga. Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini. Tumbuh bersama-sama dengan anggota genus Rafflesia yang lainnya.

Di Pulau Jawa diketahui pernah tumbuh satu jenis padma parasit atau Rafflesia padma.
Rafflesia juga mempunyai siklus kehidupan unik dan berbeda dengan bunga bangkai.

Padma raksasa ini merupakan parasit tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Diameter bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram.

Bunga Rafflesia menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inang Tetrastigma. Satu-satunya bagian yang bisa disebut sebagai “tanaman” adalah jaringan yang tumbuh di tumbuhan merambat Tetrastigma. Bunga ini mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut gentong. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri, berisi benang sari atau putik bergantung pada jenis kelamin bunga, jantan atau betina. Hewan penyerbuk adalah lalat yang tertarik dengan bau busuk yang dikeluarkan bunga.

Bunga Rafflesia hanya berumur sekitar satu minggu (5-7 hari) dan setelah itu layu dan mati. Persentase pembuahan sangat kecil, karena bunga jantan dan bunga betina sangat jarang bisa mekar bersamaan dalam satu minggu, itu pun kalau ada lalat yang datang membuahi.

Namun, untuk pelestarian bunga ini dijaga dan dalam upaya penangkaran disebutkan bisa tumbuh sempurna dibeberapa tempat, seperti di Kebun Raya Bogor.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here