Connect with us

Seni Tari

Tari Topeng Cirebon dan Makna Dibaliknya

Published

on

Tari Topeng Cirebon dengan gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab, memang memiliki ciri khas tersendiri. Tidak hanya itu, ternyata sarat makna dan filosofis.

Tari topeng Cirebon adalah salah satu tarian tradisional yang ada di Cirebon – Jawa Barat Indonesia. Tari ini dinamakan tari topeng karena ketika beraksi sang penari memakai topeng.

Konon pada awalnya, Tari Topeng diciptakan oleh sultan Cirebon yang cukup terkenal, yaitu Sunan Gunung Jati. Ketika Sunan Gunung Jati berkuasa di Cirebon, terjadilah serangan oleh Pangeran Welang dari Karawang.

Tari Topeng Cirebon dan Makna Dibaliknya
Tari Topeng Cirebon dan Makna Dibaliknya | Photo wikimedia.org

Pangeran ini sangat sakti karena memiliki pedang yang diberi nama Curug Sewu. Melihat kesaktian sang pangeran tersebut, Sunan Gunung Jati tidak bisa menandinginya walaupun telah dibantu oleh Sunan Kalijaga dan Pangeran Cakrabuana. Akhirnya sultan Cirebon memutuskan untuk melawan kesaktian Pangeran Welang itu dengan cara diplomasi kesenian.

Berawal dari keputusan itulah kemudian terbentuk kelompok tari, dengan Nyi Mas Gandasari sebagai penarinya. Setelah kesenian itu terkenal, akhirnya Pangeran Welang jatuh cinta pada penari itu, dan menyerahkan pedang Curug Sewu itu sebagai pertanda cintanya.

Bersamaan dengan penyerahan pedang itulah, akhirnya Pangeran Welang kehilangan kesaktiannya dan kemudian menyerah pada Sunan Gunung Jati. Pangeran itupun berjanji akan menjadi pengikut setia Sunan Gunung Jati yang ditandai dengan bergantinya nama Pangeran Welang menjadi Pangeran Graksan.

Seiring dengan berjalannya waktu, Tari Topeng Cirebon inipun kemudian lebih dikenal dengan nama Tari Topeng dan masih berkembang hingga sekarang.

Dalam tarian ini biasanya sang penari berganti topeng hingga tiga kali secara simultan, yaitu topeng warna putih, kemudian biru dan ditutup dengan topeng warna merah. Uniknya, tiap warna topeng yang dikenakan, gamelan yang ditabuh pun semakin keras sebagai perlambang dari karakter tokoh yang diperankan.

Tari Topeng Cirebon ini diawali dengan formasi membungkuk, formasi ini melambangkan penghormatan kepada penonton dan sekaligus pertanda bahwa tarian akan dimulai. Setelah itu, kaki para penari digerakkan melangkah maju-mundur yang diiringi dengan rentangan tangan dan senyuman kepada para penontonnya.

Gerakan ini kemudian dilanjutkan dengan membelakangi penonton dengan menggoyangkan pinggulnya sambil memakai topeng berwarna putih, topeng ini menyimbolkan bahwa pertunjukan pendahuluan sudah dimulai.

Setelah berputar-putar menggerakkan tubuhnya, kemudian para penari itu berbalik arah membelakangi para penonton sambil mengganti topeng yang berwarna putih itu dengan topeng berwarna biru. Proses serupa juga dilakukan ketika penari berganti topeng yang berwarna merah. Uniknya, seiring dengan pergantian topeng itu, alunan musik yang mengiringinya maupun gerakan sang penari juga semakin keras. Puncak alunan musik paling keras terjadi ketika topeng warna merah dipakai para penari.

Seperti yang disebutkan diatas, masing-masing warna topeng yang dikenakan mewakili karakter tokoh yang dimainkan, sebut saja misalnya warna putih. Warna ini melambangkan tokoh yang punya karakter lembut dan alim. Sedangkan topeng warna biru, warna itu menggambarkan karakter sang ratu yang lincah dan anggun. Kemudian yang terakhir, warna merah menggambarkan karakter yang berangasan (tempramental) dan tidak sabaran. Dan busana yang dikenakan penari sendiri adalah biasanya selalu memiliki unsur warna kuning, hijau dan merah yang terdiri dari toka-toka, apok, kebaya, sinjang, dan ampreng.

Jika anda berminat untuk menyaksikan tarian yang dimainkan oleh satu atau beberapa orang penari cantik, seorang sinden, dan sepuluh orang laki-laki yang memainkan alat musik pengiring, di antaranya rebab, kecrek, kulanter, ketuk, gendang, gong, dan bendhe ini, silahkan datang saja ke Cirebon. Tarian ini biasanya akan dipentaskan ketika ada acara-acara kepemerintahan, hajatan sunatan, perkawinan maupun acara-acara rakyat lainnya.

Makna dan Filosofis Tari Topeng Cirebon

Tari topeng Panji Cirebon
Tari topeng Panji Cirebon | Photo www.disparbud.jabarprov.go.id

Selain memiliki nilai historis, Tari Topeng Cirebon sarat akan makna dan filosofis. Terutama untuk tari jenis topeng Panji yang terkenal sangat paradoks itu.

Kenapa dikatakan paradoks karena dalam tari topeng Panji Cirebon ini terkandung unsur-unsur yang saling bertentangan. Pertentangan-pertentangan itu dapat ditemukan dari beberapa hal yang diantaranya adalah topeng yang dikenakan dalam tari Topeng Panji yang berwarna putih polos tanpa hiasan sama sekali hingga tak dapat dibedakan apakah topeng ini menggambarkan sosok lak-laki atau sosok perempuan, gerak tari pun demikian, tak dapat dibedakan apakah itu gerak seorang yang mewakili sifat maskulinitas lelaki atau femininitas perempuan.

Gerak-gerak tariannya amat minim, namun iringan gamelannya begitu gemuruh. Kalau meminjam kata-katanya Prof. Drs. Jakob Sumardjo,

gerak Tarian Panji seolah-olah “tidak menari”.

Justru karena tariannya tidak spektakuler, maka ia merupakan sejatinya tarian, yakni perpaduan antara hakiki gerak dan hakiki diam. Satu hal lainnya yang membuat tari topeng panji Cirebon sedemikian paradoks adalah karena meski tari ini dihadirkan sebagai pembuka dari rangkaian tari topeng Cirebon lainnya yakni Pamindo-Rumyang dan Patih-Kelana tapi tari panji mengandung unsur dari keempat tari topeng itu sendiri. Ia hadir selaku pembuka sekaligus juga perwujudan dari klimaks pertunjukan tari topeng itu sendiri.

Selain itu, untuk menarikan tari topeng panji ini tidak sembarang orang bisa menarikannya. Itulah sebabnya ada pendapat yang mengatakan bahwa hakikinya pada zaman dulu tari topeng panji ini adalah jenis tarian para raja Jawa yang lebih dekat ke sisi spiritualnya daripada sebagai tontonan.

Pendapat ini muncul karena Dalam Negarakertagama dan Pararaton dikisahkan raja Majapahit yaitu Prabu Hayam Wuruk pernah menari topeng (kedok) yang terbuat dari emas. Hayam Wuruk menarikan topeng emas (atapel, anapuk) di lingkungan kaum perempuan istana Majapahit.

Jadi Tari topeng Cirebon ini semula hanya ditarikan para raja dengan penonton perempuan (istri-istri raja, adik-adik perempuan raja, ipar-ipar perempuan raja, ibu mertua raja, ibunda raja). Pun begitu dengan Raden Patah yang menari Topeng di kaki Gunung Lawu di hadapan Raja Majapahit, Brawijaya.

Inilah yang membuktikan bahwa Tari Topeng Cirebon erat hubungannya dengan konsep kekuasaan Jawa. Bahwa hanya Raja yang berkuasa dapat menarikan topeng ini, ditunjukkan oleh babad, yang berarti kekuasaan atas Jawa telah beralih kepada Raden Patah, dan Raja Majapahit hanya sebagai penonton.

Dan karena sakralnya tarian ini maka sebelum pelaksanaan tari topeng Cirebon ini seorang penari harus terlebih dahulu melakukan laku puasa, berpantang pada sesuatu, dan semedi. Selain itu juga dipersembahkan segala macam sesajian yang mengandung unsur-unsur dualisme sekaligus pengesaan yang antara lain mewujud dalam berbagai sesajian yang sering dijumpai yang diantaranya bedak, sisir, cermin yang merupakan lambang perempuan, didampingi oleh cerutu atau rokok sebagai lambang lelaki.

Bubur merah lambang dunia manusia, bubur putih lambang Dunia Atas. Cowek batu yang kasar sebagai lambang lelaki, dan uleg dari kayu yang halus sebagai lambang perempuan. Pisang lambang lelaki, buah jambu lambang perempuan. Air kopi lambang Dunia Bawah, air putih lambang Dunia Atas, air teh lambang Dunia Tengah. Sesajian adalah lambang keanekaan yang ditunggalkan.

Sisi Filosofis Tari Topeng Cirebon

Tari Topeng Cirebon dan Makna Dibaliknya 2
Tari Topeng Cirebon dan Makna Dibaliknya | Photo www.cirebontrust.com

Secara garis besar makna filosofis dan spiritualitas tari topeng Cirebon sendiri adalah semacam symbol penciptaan alam semesta yang berdasar pada sistem kepercayaan Hindu-Budha pengaruh dari kerajaan Majapahit yang menganut sistem emanasi yaitu adanya kesamaan antara sang pencipta (Dewa) dengan yang diciptakan (makhluk) karena menurut mereka ciptaan adalah bagian atau pancaran dari Sang Hyang Tunggal.

Siapakah Sang Hyang Tunggal itu? Dia adalah ketidak-berbedaan yang tunggal dan mutlak.

Sementara alam semesta sendiri merupakan suatu keanekaragaman.yang di dalamnya tergabung perbedaan-perbedaan yang bertentangan tapi saling melengkapi dan bertaut satu sama lain seperti siang-malam, gelap-terang, laut-darat dan lain sebagainya.

Nah, Sang Hyang Tunggal itulah yang kemudian merangkum segala perbedan ciptaan itu untuk menjadikannya sebagai keseimbangan yang sempurna. Sifat-sifat positif melebur jadi satu dengan sifat-sifat negatif. Akibatnya semua sifat-sifat yang dikenal manusia berada secara seimbang dalam diriNya sehingga Sifat itu tidak dikenal manusia alias Kosong mutlak.

Paradoksnya justru Kosong itu Kepenuhan sejati karena Dia mengandung semua sifat yang ada. Kosong itu Penuh, Penuh itu Kosong, itulah Sang Hyang Tunggal itu. Di dalamNya tidak ada perbedaan, tunggal mutlak.

Dan Tari Topeng Cirebon berusaha menggambarkan semua unsur dari Sang Hyang Tunggal ini memecahkan diriNya menjadi beberapa serpihan pasangan kembar yang saling bersisian tapi sekaligus saling melengkapi. Dari Tari Topeng Panji sebagai perwujudan Sang Hyang Wenang yang memiliki segala unsur penciptaan kemudian menyerpih dan berdiri sendiri seperti yang kemudian digambarkan dalam tarian berikutnya yaitu ‘Pamindo-Rumyang’, dan ‘Patih-Klana’.

Karena memiliki unsur segala penciptaan itulah maka Tari Topeng Panji pun sulit di bedakan apakah ia perempuan atau lelaki, jahat atau baik dan sebagainya. Kedoknya yang sama sekali bersih dari segala aksesoris pun dapat disimbolkan sebagai bentuk kekosongan. Berisi tapi kosong. Mengandung berbagai unsur tapi tak terdefinisikan.

Itulah wujud paradoks antara gerak dan diam. Tarian Panji sepenuhnya sebuah paradoks. Inilah kegeniusan para empu purba itu, bagaimana menghadirkan Hyang Tunggal dalam transformasinya menjadi aneka, dari ketidakberbedaan menjadi perbedaan-perbedaan.

Itulah puncak tari topeng Cirebon, yang lain hanyalah terjemahan dari proses pembedaan itu. Empat tarian sisanya adalah perwujudan emanasi dari Hyang Tunggal tadi. Sang Hyang Tunggal membagi diriNya ke dalam dua pasangan yang saling bertentangan, yakni ‘Pamindo-Rumyang’, dan ‘Patih-Klana’. Inilah sebabnya kedok ‘Pamindo-Rumyang’ berwarna cerah, sedangkan ‘Patih-Klana’ berwarna gelap (merah tua).

Gerak tari “Pamindo-Rumyang” halus keperempuan-perempuanan, sedangkan Patih-Klana gagah kelaki-lakian. Pamindo-Rumyang menggambarkan pihak “dalam” (istri dan adik ipar Panji) dan Patih-Klana menggambarkan pihak “luar”. Terang dapat berarti siang, gelap dapat berarti malam. Matahari dan bulan. Tetapi harus diingat bahwa semuanya itu adalah Panji sendiri, yang membelah dirinya menjadi dua pasangan saling bertentangan sifat-sifatnya. Inilah sebabnya keempat tarian setelah Panji mengandung unsur-unsur tarian Panji. Untuk hal ini orang-orang tari tentu lebih fasih menjelaskannya.

Garuda Citizen truly of Indonesia » politik, hukum, sosial, wisata, budaya, dan berbagai berita peristiwa menarik dan penting untuk dibaca.

Seni Tari

Keistimewaan Tari Gambyong – Jawa Tengah

Published

on

Keistimewaan Tari Gambyong – Jawa Tengah

Tari Gambyong – Jawa Tengah adalah jenis tari klasik yang digunakan dalam sebuah pertunjukan atau dalam penyambutan tamu. Tari ini biasanya hampir selalu ada dalam acara adat masyarakat Jawa. Apa saja keistimewaan Tari Gambyong, asal mula dan cara menarikan tarian ini? Berikut penjelasan singkatnya.

Apa yang Membuat Tari Gambyong Istimewa?

Ciri tari Gambyong adalah kostum tari yang dikenakan dalam pertunjukan selalu memiliki nuansa warna kuning dan hijau. Warna ini dipilih karena menunjukkan simbol kesuburan dan kemakmuran rakyat.

Tari ini menggunakan sampur dalam pertunjukannya. Sampur merupakan selendang atau tali panjang yang diikatkan di bagian perut sang penari. Penggunaan sampur ini dikaitkan dengan kelembutan yang dimiliki oleh para wanita.

Selain itu, sebelum memulai pertunjukkan tari, acara selalu dibuka dengan memainkan gendhing Pangkur. Jika Anda masyarakat Jawa, tentu sudah tidak asing dengan gendhing Pangkur ini. Irama kendang menyatu selaras dengan gerakan penari yang luwes.

Tari ini juga memiliki karakteristik yang sangat menonjolkan kerakyatan, sehingga tari ini juga masuk dalam jenis tari pergaulan masyarakat. Dalam berbagai variasi, tarian ini juga disebut dengan istilah Tari Tayub. Jenis tari ini sangat berkaitan dengan taledhek atau tledek atau ledek.

Ciri khas lain dari tari ini adalah adanya keluwesan dari penari wanita yang terkesan erotis. Penari tunggal wanita akan menarikan tarian ini dengan gerakan yang tregel dan luwes sesuai dengan irama dari iringan pola kendang yang terdengar rumit.

Kapan Tari Ini Dibuat?

Tarian ini dikenalkan oleh K.R.M.T Wreksodiningrat ke dalam pihak keraton saat masa Pakubuwana IX pada tahun 1861-1893. Saat dibawa ke dalam keraton, tarian ini dimainkan oleh para pesinden atau penari waranggana.

Setelah mengetahui tarian ini, pihak dari keraton Mangkunegaran membuat jenis baru dari modifikasi tarian ini. Jenis tari Gambyong yang baru pun tercipta dengan nama tari Gambyong Pareanom. Jenis baru ini dibawakan pada tahun 1950 oleh Nyi Bei Mintoraras.

Perkembangan tari Gambyong terus berlanjut sejak tari ini ditetapkan sebagai tari penyambutan tamu di daerah Jawa Tengah. Saat itu Gubernur Jawa Tengah, H.Ismail, menetapkan tari ini sebagai adat untuk menyambut tamu.

Sejak saat itu, tari Gambyong terus berkembang dan memiliki berbagai ragam modifikasi seperti tari Gambyong Mudhatama, Gambyong Dewandaru, Gambyong Campursari, Gambyong Ayun-ayun, Gambyong Pangkur dan Gambyong Gambirsawit.

Baca juga: 10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Dari Mana Tari Gambyong Berasal ?

Tari Gambyong berasal dari Provinsi Jawa Tengah tepatnya di daerah Surakarta. Tarian ini hidup dalam kehidupan masyarakat Jawa Tengah yang luwes menghadapi berbagai macam tuntutan kehidupan. Tari ini juga menjadi salah satu bukti betapa kaya masyarakat Jawa akan adat budaya.

Berapa Jumlah Penari Tari Gambyong?

Tari Gambyong adalah tarian yang awalnya dipertunjukkan dalam upacara ritual pertanian masyarakat Jawa Tengah. Namun, seiring perkembangannya tarian ini digunakan sebagai upacara penyambutan tamu dan memeriahkan pesta pernikahan masyarakat Jawa.

Pada awalnya, tarian ini hanya dimainkan oleh satu orang penari perempuan. Lalu tarian ini dimainkan sekitar 3 sampai 5 orang dalam pertunjukkan. Menurut kepercayaan, tarian ini harus dimainkan oleh penari dengan jumlah yang ganjil. Seiring berjalannya waktu, jumlah penari disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak hanya berpusat pada 3 atau 5 orang, tapi jumlahnya lebih banyak.

Bagaimana Tari Gambyong Dipertunjukkan?

Mengawali tarian ini, dimainkan musik pengiring yang menggunakan kendang. Biasanya yang dimainkan sebelum tarian ini dimulai adalah gendhing Pangkur. Musik pengiring tarian ini merupakan inspirasi dari gendhing Tayub khas dari daerah Blora, Jawa Tengah.

Musik pengiring ini biasanya dimainkan oleh 8 orang laki-laki. Alat musik yang digunakan pun tidak sembarangan, hanya alat musik tertentu yang bisa dijadikan pengiring. Diantaranya dalah gong, kendang, peking, kenong, kempul, simbal, drum dan saron.

Musik pengiring ini digunakan untuk mengiringi nyanyian yang biasanya dinyanyikan oleh sinden yang eksotik. Nyanyian yang didendangkan pun harus menggunakan bahasa Jawa. Lirik bahasa Jawa dipilih untuk iringan tarian ini karena masyarakat akan lebih mudah menerima pesan yang disampaikan jika menggunakan bahasa daerah sehari-hari.

Tarian ini memiliki 3 gerakan bagian, yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian akhir. Dalam istilah tari Jawa, gerakan ini biasa disebut dengan maju beksan, beksan serta mundur beksan.

Pusat gerakan tarian ini berada pada kaki, lengan, badan dan kepala. Gerakan tangan dan kepala yang selaras serasi dengan irama musik pengiring, merupakan pola yang utama dalam gerakan tari ini.

Pandangan mata harus mengikuti setiap gerakan tangan atau jari-jari tangan yang meliuk-liuk dengan luwes. Selain itu, gerakan kaki juga terlihat nampak lembut dipadukan dengan irama yang menghanyutkan.

Demikian uraian singkat mengenai tari Gambyong. Tari Gambyong adalah salah satu budaya daerah yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Tarian ini harus selalu terjaga karena termasuk dalam budaya daerah serta kekayaan bangsa yang harus dilestarikan. Jadi, tidak ada salahnya bagi Anda untuk mempelajari kekayaan budaya ini.

Continue Reading

Seni Tari

Tari Pendet – Bali, Ciri khas dan nuansa sakralnya

Published

on

Tari Pendet adalah tari yang asli berasal dari Bali. Mulai ada sejak tahun 1950 an, ada asal mula mengapa tari yang seharusnya menjadi sesembahan sakral pada upacara religi ini menjadi tari selamat datang. Simak hal-hal menarik tentang tari Pendet berikut.

Apa Saja Properti yang Digunakan Pada Pementasan Tari Pendet?

Hanya ada satu properti yang digunakan pada tari Pendet. Namanya adalah Bokor, Bokor ini berupa nampan kecil yang pinggirannya telah dihias dengan janur. Tak hanya dihias pinggirannya saja, di dalam Bokor juga diberi berbagai macam bunga. Bokor ini harus selalu dibawa selama tari Pendet ditarikan.

Untuk kostum, ada beberapa bagian pakaian sekaligus yang digunakan oleh penari tari Pendet. Diantaranya ada kemben prade, tapih, sabuk prade, stagen, serta selendang. Selendangnya diletakkan di pundak penari.

Sedangkan untuk bagian rambutnya, akan diikat pusung gonjer dan dihias beberapa bunga sekaligus. Bunga-bunga yang digunakan antara lain bunga cempaka, bunga mawar, bunga jepun, dan bunga kamboja.

Selain kostum dan hiasan bunga pada rambut, para penari tari Pendet juga menggunakan aksesoris seperti anting-anting, kalung, dan gelang yang khas. Kemudian para penari tari Pendet juga dirias dengan make up yang sangat mempertegas garis muka. Selain supaya garis mukanya terlihat lebih jelas, mereka juga menggunakan subeng.

Bagaimana Sejarah Tari Ini?

Source: flickr.com

Tari Pendet adalah tari yang tadinya hanya dilakukan pada saat pemujaan saja, tepatnya di tempat beribadah umat Hindu di Indonesia (Pura). Sebab, tari ini memang tadinya bertujuan untuk melakukan penyembahan kepada dewata yang sedang turun ke alam dunia. Namun demikian, seiring berkembanhnya waktu tari ini beralih fungsi sebagai tari penyambutan tamu. 

Pendet sendiri diartikan sebagai persembahan yang mana bentuknya sebuah tarian. Karena hal ini, tari Pendet bukanlah tapi dengan gerakan yang perlu dikuasai dengan latihan intensif. Bisa dikatakan gerakan pada tari ini hanyalah mengikuti gerakan.

Gadis-gadis muda yang menafikan tari ini mengikuti gerakan dari wanita yang lebih tua, yang mana lebih senior dan bisa menjadi contoh yang baik. Tari Pendet yang ditarikan oleh putri biasanya dipentaskan setelah tari Rejang di halaman pura.

Tari ini memiliki gerakan lebih dinamis dibandingkan dengan tari Rejang. Tari ini ditarikan dengan menghadap ke arah suci dan penontonnya menggunakan pakaian upacara masing-masing. Penari juga menggunakan kostum khusus dan beberapa properti yang telah disebutkan di atas.

Di Mana Asal Tari Pendet?

Tari Pendet berasal dari Bali, Indonesia. Pernah ada kontroversi terkait ditunjukkannya tari ini dalam media televisi yang mana telah membekaskan sentimen Anti-Malaysia sejak kejadian tersebut. Pada tahun 2009 lalu, salah satu channel televisi bernama Discovery Channel Singapura mempertontonkan tari Pendet.

Negara Malaysia mengaku tidak bertanggung jawab atas kejadian tersebut karena iklan tersebut bukan dari negaranya.  Kemudian Singapura telah mengirimkan surat baik ke Malaysia dan ke Indonesia.

Surat yang berisi pengakuan tanggung jawab penuh atas penayangan iklan yang berisi tari Pendet, tari yang berasal dari Indonesia. Sejak penayangan iklan ini pula muncul sentimen Anti-Malaysia yang masih terasa hingga sekarang.

Kapan Tari Ini Ditarikan?

Ciri khas tari Pendet adalah waktu dipentaskannya. Di atas telah disebutkan bahwa tari Pendet tadinya dipertunjukkan pada upacara sakral, namun sekarang ini juga sering dipertunjukkan pada penyambutan.

Acara-acara yang membutuhkan penyambutan di Bali sudah biasa dipentaskan pula tarian ini. Contohnya pada acara Asian Games yang diadakan di Jakarta beberapa tahun lalu, di acara yang mengundang banyak tamu dari luar negeri itu telah dipentaskan tari Pendet.

Siapa Pembuat Tari Ini?

Pembuat atau koreografer dari tari Pendet adalah I wayan Rindi. Tari Pendet ini tadinya dibuat untuk upacara sakral yang mengandung religius tinggi. Seiring berkembangnya waktu, seniman-seniman tari di Bali menjadi tari Pendet inj sebagai tari penyambut atau tari ‘selamat datang’. Oleh para seniman tari di Bali, disetujui bahwa tahun 1950 adalah tahun lahirnya tari Pendet. 

Berapa Jumlah Penarinya?

Jumlah penari tari Pendet adalah lima orang aslinya, yang mana berasal dari apa yang dikembangkan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1961 lalu. Tadinya tari Pendet ini ditarikan hanya empat orang, namun sejak tahun 1961 itu I Wayan Beratha menambahkan satu orang sehingga menjadi lima orang.

Meski begitu, tari Pendet ini tetap bisa ditarikan oleh lebih dari lima orang. Contohnya pada Asian Games yang pernah bertempat di Indonesia. Saat itu dipentaskan tari Pendet dengan sekitar 800 penari. 

Meskipun pernah ada kontroversi antara Indonesia dengan Malaysia tentang tari Pendet – Bali ini. Namun authentic nya tari ini tidak akan pudar. Anda juga bisa menonton pementasan tari ini ketika ada acara-acara yang membutuhkan penyambutan. 

Continue Reading

Seni Tari

Tari Remong Jawa Timur dan ciri khasnya

Published

on

Salah satu tari yang biasa dipentaskan di festival kesenian daerah adalah tari Remong Jawa Timur. Tari ini memiliki unsur cerita kepahlawanan dan memiliki ciri khas yang unik. Kenal lebih dalam tari Remong dengan bahasan berikut.

Baca juga: 10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Apakah Cerita yang Disampaikan Pada Tari Remong?

Asal mula tari Remong tak bisa dilepaskan dari penari jalanan yang ada di Jombang dahulu kala. Ya, memang sebelum zaman modern sekarang ini di Jombang terkenal ada banyak penari jalanan. Tari Remong dibuat oleh salah satu penari jalanan di Jonbang dengan cerita di dalamnya.

Cerita dari tari Remong ini adalah tentang pangeran yang sedang berada di medan perang. Tak dijelaskan secara pasti apa saja yang dilakukan pangeran tersebut di medan perang, namun ada fokus utama dari ditunjukkannya tari ini.

Tari ini menunjukkan sisi maskulinitas seorang laki laki yang mana diperagakan sedang berada di dalam medan pertempuran. Dengan demikian, jelas bisa disimpulkan bahwa tari ini hanya bisa ditarikan oleh seorang laki-laki saja. 

Namun seiring berkembangnya waktu, ada perubahan yang terjadi pada tarian ini. Baik itu soal penarinya maupun fungsinya. Tadinya tari Remong ini berfungsi untuk mengiringi pertunjukkan Ludruk. Hal ini telah tercatat dalam sejarah tari Remong yang terpercaya. Untuk sekarang ini, memang tari Remong masih digunakan untuk pengiring Ludruk, namun ada hal lainnya yang membuat tari ini juga dipentaskan.

Di Mana Tari Ini Berasal?

Tari Remong berasal dari daerah Jombang, Provinsi Jawa Timur. Lebih tepatnya lagi tari ini berasal dari desa di Jombang yang bernama Desa Ceweng, di Kecamatan Diwek, Jombang.

Festival kesenian daerah, sambutan tamu dari luar Jombang atau luar Jawa Timur, sambutan kenegaraan, dan event-event penting lainnya kerap kali membutuhkan pementasan tari Remong. Seiring berkembangnya waktu pula, tari Remong yang tadinya hanya ditarikan oleh laki-laki kini tak lagi sedemikian rupa.

Kapan Tari Ini Dipentaskan?

Seperti yang telah dibahas pada poin sebelumnya, yang mana menjelaskan bahwa tari Remong telah beralih fungsi tanpa meninggalkan fungsi lamanya. Tari Remong hingga saat ini tetap digunakan sebagai iringan dalam pertunjukkan Ludruk. Namun, tari Remong juga biasa dipentaskan ketika festival kesenian daerah, pertunjukkan, penyambutan tamu daerah dan kenegaraan, dan lain-lain.

Berapa Jumlah Penari Tari Remong?

Tari Remong sebenarnya biasa ditarikan oleh satu orang penari saja. Namun boleh-boleh saja jika ditarikan lebih dari satu orang.

Tari Remong saat ini dianggap lebih garang apabila ditarikan oleh perempuan. Ini mengapa muncullah tari Remong Putri. Tari Remong Putri ini juga biasa disebut sebagai tari Remong gaya perempuan atau tari Remong gaya banci.

Meski kini penari tari Remong sudah beralih gender, namun tetap ada perbedaan yang menyertainya. Kostum yang dipakai penari perempuan tari Remong berbeda dengan kostum penari tari Remong laki-laki.

Baca juga seni tari berikut ini:

Siapa Penemu Tari Remong?

Tari Remong Jombangan dibuat oleh Ali Markasa, sedangkan tari Remong Boletan diciptakan oleh Mbah Bolet Sastra Amenan.

Tari Remong adalah tari yang bernuansa kepahlawanan, sebab cerita yang dipertunjukkan dari tari ini adalah seorang pangeran yang sedang berjuang dalam medan pertempuran. Sedangkan untuk jenis, tari Remong termasuk dalam jenis tari laki-laki gagah. 

Bagaimana Tari Ini Dipentaskan?

Bisa dikatakan ciri tari Remong terletak pada gerakan kaki yang dinamis, gerakkan kaki menjadi fokus utamanya. Dalam serangkaian gerakannya, tari ini lebih banyak menggerakkan kaki seperti hentakkan atau loncatan.

 Gerakan kaki rancak dan dinamis semakin didukung saja dengan kostum yang digunakan, yaitu sebuah gelang dengan lonceng-lonceng di kaki penari. Dengan demikian, saat penari menghentakkan kakinya maka akan terdengar bunyi-bunyi lonceng. 

Tak hanya kaki saja, tari ini juga akan membuat penonton tercuri perhatiannya pada sampur penari. Sebab penari juga akan memainkan sampur (selendang) yang dipakainya. Ekspresi wajah, kuda-kuda, dan anggukan kepala juga ditonjolkan pada tarian ini sehingga membuat tari ini semakin atraktif ketika dipentaskan. 

Ada beberapa gaya busana dalam pementasan tari Remong. Diantaranya ada busana Remong putri, busana gaya Jombangan, busana gaya Malangan, busana gaya Sawunggaling, dan busana gaya Surabayan. Masing-masing gaya busana ini menjadikan kostum yang dipakai penari sedikit berbeda satu sama lain. 

Busana untuk Remong putri, penarinya akan menggunakan satu sampur atau selendang yang diletakkan di bahu. Selain itu, juga memakai sanggul, kain rapak yang akan menutupi pinggang sampai lutut, dan ditambah lagi kain berwarna hitam yang menutupi dada. Sedangkan pada busana Jombangan, penari laki-laki akan menggunakan rompi. Serta pada busana Sawunggaling penarinya menggunakan kaos.

Tari Remong – Jawa Timur memang dikenal sebagai hiburan serta budaya yang masih sangat kental di daerah Jombang. Hingga saat ini muncul kreasi-kreasi baru pada tari ini, tanpa harus meninggalkan kekhasan yang dimiliki tari ini.

Continue Reading

Trending