Connect with us

Seni Tari

Tari Kecak Bali, Sejarah dan keunikannya

Published

on

Jangan sampai melewatkan pementasan tari Kecak Bali, ketika Anda liburan di Bali. Anda akan membuktikan sendiri keunikan tarian ini dengan nuansa yang khas saat menyaksikannya. Tertarik, berikut beberapa informasi tentang tari Kecak.

Apa Sejarah Awal Mula Tari Kecak?

Tari Kecak Bali - Sejarah dan keunikannya
Source: trip.com

Tari Kecak adalah tari yang bisa dinilai sangat ikonik di Bali. Tari Kecak berasal dari Bali dan dulunya dibuat oleh orang asli Bali dan orang yang berasal dari Jerman. Siapa dua orang ini akan dibahas selanjutnya. 

Seniman tari yang membuat tari Kecak ini tadinya terinspirasi oleh tari Sanghyang. Sebuah tari yang dilakukan untuk melakukan upacara adat tolak bala. Kemudian dua seniman dari Bali dan Jerman ini bersama-sama merancang tarian yang juga dipadukan dengan epos Ramayana. Dalam epos Ramayana, dikisahkan ada seorang Rahwana yang menculik Dewi Sinta, istri dari Rama. 

Pada pagelaran Ramayana, seringkali tari Kecak ini juga dipentaskan saat Rahwana menculik Dewi Sinta. Yang mana kisah dan tarian ini dipadukan bukan tanpa sebab. Jika dilihat dari sisi epos Ramayana, kisah tersebut memberikan pelajaran hidup yang bermakna.

Antara lain tentang kesetiaan cinta dalam rumah tangga, keberanian, dan kesetiaan pada pasangan. Dua seniman tadi yang merancang tari Kecak akhirnya menyebarluaskan tarian ini ke seluruh dunia setelah selesai. 

Baca juga: Tips wisata Jogja bagi pemula

Siapa Pembuat Tari Ini?

Dalam cerita sejarah, diceritakan ada dua orang yang berhasil membuat tarian unik ini. Bahkan keduanya berasal dari daerah yang berbeda. Pembuatnya adalah Wayan Limbak dari Bali dan Walter Spies yang berasal dari Jerman. Wayan Limbak sendiri memang seniman tari dari Bali, sedangkan Walter Spies adalah seniman lukis dan pemusik dari negara Jerman. 

Di Mana Tari Kecak Biasa Dipentaskan?

Hanya ada satu daerah saja yang terus melangsungkan pementasan tari Kecak, yaitu asal dari tari Kecak ini sendiri, di Bali. Di Bali ada dua tempat yang biasa dipakai untuk mementaskan tarian ini. Anda bisa memilih salah satunya ketika di Bali nanti untuk menyaksikannya. Pilihan pertama adalah di Tanah Lot di mana sejarah telah mencatat rekor. Pilihan kedua adalah di Pura Luhur Uluwatu.

Terlepas dari tiga lokasi tersebut, ada tiga lokasi lainnya yang juga bisa dikatakan aktif memberikan pertunjukkan tari Kecak ini. Diantaranya adalah Pura Dalem Ubud, Taman Garuda Wisnu Kencana, dan Ratu Bulan.

Kapan Tari Ini Dipentaskan?

Dari pembahasan sebelumnya Anda telah mengetahui di mana saja tari ini dipentaskan. Perlu diketahui bahwa masing-masing lokasi pementasan tersebut memiliki jadwal yang berbeda-beda. Salah satunya di Uluwatu, di sana tari ini dipentaskan setiap hati pada pukul enam petang sampai tujuh malam. Namun di lokasi lain, jam pementasanya berbeda yang mana bisa lebih awal dan bisa lebih malam.

Berapa Jumlah Penarinya?

Tari Kecak dari Bali ini rupanya cukup unik karena jumlah pemainnya. Jika ditanya berapa penari yang harus ada supaya tari ini bisa dipentaskan, jawabannya adalah tak terhingga. Puluhan hingga ratusan ribu orang boleh-boleh saja bersama-sama menarikan tari ini.

Yang mana nantinya akan berkumpul membuat kerumunan melingkar dan di tengahnya ada satu orang yang beraksi sebagai salah satu tokoh dalam kisah Ramayana. Sejarah telah mencatat pementasan tari Kecak dengan jumlah terbanyak di Indonesia. Rekor MURI ini tercatat pada tanggal 26 September 2006, yang mana telah ada lima ribu orang menarikan tari Kecak bersama di Tanah Lot, Bali.

Baca juga, seni tari nusantara berikut ini:

Bagaimana Tari Ini Dipentaskan?

Apakah Anda menyadari bahwa ada satu ciri tari Kecak yang sangat terasa? Ciri tersebut adalah tidak ditemukannya alat musik saat tari ini dipentaskan. Memang benar adanya, dan inilah salah satu keunikan tari Kecak yang bisa menarik para wisatawan lokal maupun asing untuk menonton langsung tari Kecak.

Meskipun tidak ada alat musik, namun tetap ada pengiring musik ketika tari ini dipentaskan. Tak lain adalah suara dari penarinya itu sendiri. Mereka akan memberikan suara bernada dengan bunyi ‘cak’ ‘cak’ ‘cak’ yang sangat ikonik. Mereka akan duduk membuat lingkaran dengan jumlah penari yang tak terbatas. Berapapun jumlah penari laki-laki yang ada, tari ini tetap bisa dimainkan.

Satu hal yang pasti adalah harus ada satu orang di tengah yang berkostum seperti Rahwana dan melakukan gerakan yang berbeda dengan lainnya. Sedangkan penari lainnya yang dimaksud adalah duduk mengelilingi satu orang tadi, menyuarakan suara khas, dan memainkan kedua tangan bersamaan dengan penari lainnya. 

Dengan demikian, Tari Kecak Bali ada sebagai tari yang terinspirasi dari tari lain namun juga sebagai pengiring sebuah pertunjukan Ramayana.

Jumlah penarinya tak terbatas, dipentaskan di beberapa tempat sekaligus, tariannya pun juga unik, jangan sampai tari ini tidak Anda saksikan ketika di Bali.

Blogger dan SEO Expert di Garuda Website. Sebuah perusahaan Web Developer di Jakarta Indonesia

Seni Tari

Keistimewaan Tari Gambyong – Jawa Tengah

Published

on

Keistimewaan Tari Gambyong – Jawa Tengah

Tari Gambyong – Jawa Tengah adalah jenis tari klasik yang digunakan dalam sebuah pertunjukan atau dalam penyambutan tamu. Tari ini biasanya hampir selalu ada dalam acara adat masyarakat Jawa. Apa saja keistimewaan Tari Gambyong, asal mula dan cara menarikan tarian ini? Berikut penjelasan singkatnya.

Apa yang Membuat Tari Gambyong Istimewa?

Ciri tari Gambyong adalah kostum tari yang dikenakan dalam pertunjukan selalu memiliki nuansa warna kuning dan hijau. Warna ini dipilih karena menunjukkan simbol kesuburan dan kemakmuran rakyat.

Tari ini menggunakan sampur dalam pertunjukannya. Sampur merupakan selendang atau tali panjang yang diikatkan di bagian perut sang penari. Penggunaan sampur ini dikaitkan dengan kelembutan yang dimiliki oleh para wanita.

Selain itu, sebelum memulai pertunjukkan tari, acara selalu dibuka dengan memainkan gendhing Pangkur. Jika Anda masyarakat Jawa, tentu sudah tidak asing dengan gendhing Pangkur ini. Irama kendang menyatu selaras dengan gerakan penari yang luwes.

Tari ini juga memiliki karakteristik yang sangat menonjolkan kerakyatan, sehingga tari ini juga masuk dalam jenis tari pergaulan masyarakat. Dalam berbagai variasi, tarian ini juga disebut dengan istilah Tari Tayub. Jenis tari ini sangat berkaitan dengan taledhek atau tledek atau ledek.

Ciri khas lain dari tari ini adalah adanya keluwesan dari penari wanita yang terkesan erotis. Penari tunggal wanita akan menarikan tarian ini dengan gerakan yang tregel dan luwes sesuai dengan irama dari iringan pola kendang yang terdengar rumit.

Kapan Tari Ini Dibuat?

Tarian ini dikenalkan oleh K.R.M.T Wreksodiningrat ke dalam pihak keraton saat masa Pakubuwana IX pada tahun 1861-1893. Saat dibawa ke dalam keraton, tarian ini dimainkan oleh para pesinden atau penari waranggana.

Setelah mengetahui tarian ini, pihak dari keraton Mangkunegaran membuat jenis baru dari modifikasi tarian ini. Jenis tari Gambyong yang baru pun tercipta dengan nama tari Gambyong Pareanom. Jenis baru ini dibawakan pada tahun 1950 oleh Nyi Bei Mintoraras.

Perkembangan tari Gambyong terus berlanjut sejak tari ini ditetapkan sebagai tari penyambutan tamu di daerah Jawa Tengah. Saat itu Gubernur Jawa Tengah, H.Ismail, menetapkan tari ini sebagai adat untuk menyambut tamu.

Sejak saat itu, tari Gambyong terus berkembang dan memiliki berbagai ragam modifikasi seperti tari Gambyong Mudhatama, Gambyong Dewandaru, Gambyong Campursari, Gambyong Ayun-ayun, Gambyong Pangkur dan Gambyong Gambirsawit.

Baca juga: 10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Dari Mana Tari Gambyong Berasal ?

Tari Gambyong berasal dari Provinsi Jawa Tengah tepatnya di daerah Surakarta. Tarian ini hidup dalam kehidupan masyarakat Jawa Tengah yang luwes menghadapi berbagai macam tuntutan kehidupan. Tari ini juga menjadi salah satu bukti betapa kaya masyarakat Jawa akan adat budaya.

Berapa Jumlah Penari Tari Gambyong?

Tari Gambyong adalah tarian yang awalnya dipertunjukkan dalam upacara ritual pertanian masyarakat Jawa Tengah. Namun, seiring perkembangannya tarian ini digunakan sebagai upacara penyambutan tamu dan memeriahkan pesta pernikahan masyarakat Jawa.

Pada awalnya, tarian ini hanya dimainkan oleh satu orang penari perempuan. Lalu tarian ini dimainkan sekitar 3 sampai 5 orang dalam pertunjukkan. Menurut kepercayaan, tarian ini harus dimainkan oleh penari dengan jumlah yang ganjil. Seiring berjalannya waktu, jumlah penari disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak hanya berpusat pada 3 atau 5 orang, tapi jumlahnya lebih banyak.

Bagaimana Tari Gambyong Dipertunjukkan?

Mengawali tarian ini, dimainkan musik pengiring yang menggunakan kendang. Biasanya yang dimainkan sebelum tarian ini dimulai adalah gendhing Pangkur. Musik pengiring tarian ini merupakan inspirasi dari gendhing Tayub khas dari daerah Blora, Jawa Tengah.

Musik pengiring ini biasanya dimainkan oleh 8 orang laki-laki. Alat musik yang digunakan pun tidak sembarangan, hanya alat musik tertentu yang bisa dijadikan pengiring. Diantaranya dalah gong, kendang, peking, kenong, kempul, simbal, drum dan saron.

Musik pengiring ini digunakan untuk mengiringi nyanyian yang biasanya dinyanyikan oleh sinden yang eksotik. Nyanyian yang didendangkan pun harus menggunakan bahasa Jawa. Lirik bahasa Jawa dipilih untuk iringan tarian ini karena masyarakat akan lebih mudah menerima pesan yang disampaikan jika menggunakan bahasa daerah sehari-hari.

Tarian ini memiliki 3 gerakan bagian, yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian akhir. Dalam istilah tari Jawa, gerakan ini biasa disebut dengan maju beksan, beksan serta mundur beksan.

Pusat gerakan tarian ini berada pada kaki, lengan, badan dan kepala. Gerakan tangan dan kepala yang selaras serasi dengan irama musik pengiring, merupakan pola yang utama dalam gerakan tari ini.

Pandangan mata harus mengikuti setiap gerakan tangan atau jari-jari tangan yang meliuk-liuk dengan luwes. Selain itu, gerakan kaki juga terlihat nampak lembut dipadukan dengan irama yang menghanyutkan.

Demikian uraian singkat mengenai tari Gambyong. Tari Gambyong adalah salah satu budaya daerah yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Tarian ini harus selalu terjaga karena termasuk dalam budaya daerah serta kekayaan bangsa yang harus dilestarikan. Jadi, tidak ada salahnya bagi Anda untuk mempelajari kekayaan budaya ini.

Continue Reading

Seni Tari

Tari Pendet – Bali, Ciri khas dan nuansa sakralnya

Published

on

Tari Pendet adalah tari yang asli berasal dari Bali. Mulai ada sejak tahun 1950 an, ada asal mula mengapa tari yang seharusnya menjadi sesembahan sakral pada upacara religi ini menjadi tari selamat datang. Simak hal-hal menarik tentang tari Pendet berikut.

Apa Saja Properti yang Digunakan Pada Pementasan Tari Pendet?

Hanya ada satu properti yang digunakan pada tari Pendet. Namanya adalah Bokor, Bokor ini berupa nampan kecil yang pinggirannya telah dihias dengan janur. Tak hanya dihias pinggirannya saja, di dalam Bokor juga diberi berbagai macam bunga. Bokor ini harus selalu dibawa selama tari Pendet ditarikan.

Untuk kostum, ada beberapa bagian pakaian sekaligus yang digunakan oleh penari tari Pendet. Diantaranya ada kemben prade, tapih, sabuk prade, stagen, serta selendang. Selendangnya diletakkan di pundak penari.

Sedangkan untuk bagian rambutnya, akan diikat pusung gonjer dan dihias beberapa bunga sekaligus. Bunga-bunga yang digunakan antara lain bunga cempaka, bunga mawar, bunga jepun, dan bunga kamboja.

Selain kostum dan hiasan bunga pada rambut, para penari tari Pendet juga menggunakan aksesoris seperti anting-anting, kalung, dan gelang yang khas. Kemudian para penari tari Pendet juga dirias dengan make up yang sangat mempertegas garis muka. Selain supaya garis mukanya terlihat lebih jelas, mereka juga menggunakan subeng.

Bagaimana Sejarah Tari Ini?

Source: flickr.com

Tari Pendet adalah tari yang tadinya hanya dilakukan pada saat pemujaan saja, tepatnya di tempat beribadah umat Hindu di Indonesia (Pura). Sebab, tari ini memang tadinya bertujuan untuk melakukan penyembahan kepada dewata yang sedang turun ke alam dunia. Namun demikian, seiring berkembanhnya waktu tari ini beralih fungsi sebagai tari penyambutan tamu. 

Pendet sendiri diartikan sebagai persembahan yang mana bentuknya sebuah tarian. Karena hal ini, tari Pendet bukanlah tapi dengan gerakan yang perlu dikuasai dengan latihan intensif. Bisa dikatakan gerakan pada tari ini hanyalah mengikuti gerakan.

Gadis-gadis muda yang menafikan tari ini mengikuti gerakan dari wanita yang lebih tua, yang mana lebih senior dan bisa menjadi contoh yang baik. Tari Pendet yang ditarikan oleh putri biasanya dipentaskan setelah tari Rejang di halaman pura.

Tari ini memiliki gerakan lebih dinamis dibandingkan dengan tari Rejang. Tari ini ditarikan dengan menghadap ke arah suci dan penontonnya menggunakan pakaian upacara masing-masing. Penari juga menggunakan kostum khusus dan beberapa properti yang telah disebutkan di atas.

Di Mana Asal Tari Pendet?

Tari Pendet berasal dari Bali, Indonesia. Pernah ada kontroversi terkait ditunjukkannya tari ini dalam media televisi yang mana telah membekaskan sentimen Anti-Malaysia sejak kejadian tersebut. Pada tahun 2009 lalu, salah satu channel televisi bernama Discovery Channel Singapura mempertontonkan tari Pendet.

Negara Malaysia mengaku tidak bertanggung jawab atas kejadian tersebut karena iklan tersebut bukan dari negaranya.  Kemudian Singapura telah mengirimkan surat baik ke Malaysia dan ke Indonesia.

Surat yang berisi pengakuan tanggung jawab penuh atas penayangan iklan yang berisi tari Pendet, tari yang berasal dari Indonesia. Sejak penayangan iklan ini pula muncul sentimen Anti-Malaysia yang masih terasa hingga sekarang.

Kapan Tari Ini Ditarikan?

Ciri khas tari Pendet adalah waktu dipentaskannya. Di atas telah disebutkan bahwa tari Pendet tadinya dipertunjukkan pada upacara sakral, namun sekarang ini juga sering dipertunjukkan pada penyambutan.

Acara-acara yang membutuhkan penyambutan di Bali sudah biasa dipentaskan pula tarian ini. Contohnya pada acara Asian Games yang diadakan di Jakarta beberapa tahun lalu, di acara yang mengundang banyak tamu dari luar negeri itu telah dipentaskan tari Pendet.

Siapa Pembuat Tari Ini?

Pembuat atau koreografer dari tari Pendet adalah I wayan Rindi. Tari Pendet ini tadinya dibuat untuk upacara sakral yang mengandung religius tinggi. Seiring berkembangnya waktu, seniman-seniman tari di Bali menjadi tari Pendet inj sebagai tari penyambut atau tari ‘selamat datang’. Oleh para seniman tari di Bali, disetujui bahwa tahun 1950 adalah tahun lahirnya tari Pendet. 

Berapa Jumlah Penarinya?

Jumlah penari tari Pendet adalah lima orang aslinya, yang mana berasal dari apa yang dikembangkan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1961 lalu. Tadinya tari Pendet ini ditarikan hanya empat orang, namun sejak tahun 1961 itu I Wayan Beratha menambahkan satu orang sehingga menjadi lima orang.

Meski begitu, tari Pendet ini tetap bisa ditarikan oleh lebih dari lima orang. Contohnya pada Asian Games yang pernah bertempat di Indonesia. Saat itu dipentaskan tari Pendet dengan sekitar 800 penari. 

Meskipun pernah ada kontroversi antara Indonesia dengan Malaysia tentang tari Pendet – Bali ini. Namun authentic nya tari ini tidak akan pudar. Anda juga bisa menonton pementasan tari ini ketika ada acara-acara yang membutuhkan penyambutan. 

Continue Reading

Seni Tari

Tari Remong Jawa Timur dan ciri khasnya

Published

on

Salah satu tari yang biasa dipentaskan di festival kesenian daerah adalah tari Remong Jawa Timur. Tari ini memiliki unsur cerita kepahlawanan dan memiliki ciri khas yang unik. Kenal lebih dalam tari Remong dengan bahasan berikut.

Baca juga: 10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Apakah Cerita yang Disampaikan Pada Tari Remong?

Asal mula tari Remong tak bisa dilepaskan dari penari jalanan yang ada di Jombang dahulu kala. Ya, memang sebelum zaman modern sekarang ini di Jombang terkenal ada banyak penari jalanan. Tari Remong dibuat oleh salah satu penari jalanan di Jonbang dengan cerita di dalamnya.

Cerita dari tari Remong ini adalah tentang pangeran yang sedang berada di medan perang. Tak dijelaskan secara pasti apa saja yang dilakukan pangeran tersebut di medan perang, namun ada fokus utama dari ditunjukkannya tari ini.

Tari ini menunjukkan sisi maskulinitas seorang laki laki yang mana diperagakan sedang berada di dalam medan pertempuran. Dengan demikian, jelas bisa disimpulkan bahwa tari ini hanya bisa ditarikan oleh seorang laki-laki saja. 

Namun seiring berkembangnya waktu, ada perubahan yang terjadi pada tarian ini. Baik itu soal penarinya maupun fungsinya. Tadinya tari Remong ini berfungsi untuk mengiringi pertunjukkan Ludruk. Hal ini telah tercatat dalam sejarah tari Remong yang terpercaya. Untuk sekarang ini, memang tari Remong masih digunakan untuk pengiring Ludruk, namun ada hal lainnya yang membuat tari ini juga dipentaskan.

Di Mana Tari Ini Berasal?

Tari Remong berasal dari daerah Jombang, Provinsi Jawa Timur. Lebih tepatnya lagi tari ini berasal dari desa di Jombang yang bernama Desa Ceweng, di Kecamatan Diwek, Jombang.

Festival kesenian daerah, sambutan tamu dari luar Jombang atau luar Jawa Timur, sambutan kenegaraan, dan event-event penting lainnya kerap kali membutuhkan pementasan tari Remong. Seiring berkembangnya waktu pula, tari Remong yang tadinya hanya ditarikan oleh laki-laki kini tak lagi sedemikian rupa.

Kapan Tari Ini Dipentaskan?

Seperti yang telah dibahas pada poin sebelumnya, yang mana menjelaskan bahwa tari Remong telah beralih fungsi tanpa meninggalkan fungsi lamanya. Tari Remong hingga saat ini tetap digunakan sebagai iringan dalam pertunjukkan Ludruk. Namun, tari Remong juga biasa dipentaskan ketika festival kesenian daerah, pertunjukkan, penyambutan tamu daerah dan kenegaraan, dan lain-lain.

Berapa Jumlah Penari Tari Remong?

Tari Remong sebenarnya biasa ditarikan oleh satu orang penari saja. Namun boleh-boleh saja jika ditarikan lebih dari satu orang.

Tari Remong saat ini dianggap lebih garang apabila ditarikan oleh perempuan. Ini mengapa muncullah tari Remong Putri. Tari Remong Putri ini juga biasa disebut sebagai tari Remong gaya perempuan atau tari Remong gaya banci.

Meski kini penari tari Remong sudah beralih gender, namun tetap ada perbedaan yang menyertainya. Kostum yang dipakai penari perempuan tari Remong berbeda dengan kostum penari tari Remong laki-laki.

Baca juga seni tari berikut ini:

Siapa Penemu Tari Remong?

Tari Remong Jombangan dibuat oleh Ali Markasa, sedangkan tari Remong Boletan diciptakan oleh Mbah Bolet Sastra Amenan.

Tari Remong adalah tari yang bernuansa kepahlawanan, sebab cerita yang dipertunjukkan dari tari ini adalah seorang pangeran yang sedang berjuang dalam medan pertempuran. Sedangkan untuk jenis, tari Remong termasuk dalam jenis tari laki-laki gagah. 

Bagaimana Tari Ini Dipentaskan?

Bisa dikatakan ciri tari Remong terletak pada gerakan kaki yang dinamis, gerakkan kaki menjadi fokus utamanya. Dalam serangkaian gerakannya, tari ini lebih banyak menggerakkan kaki seperti hentakkan atau loncatan.

 Gerakan kaki rancak dan dinamis semakin didukung saja dengan kostum yang digunakan, yaitu sebuah gelang dengan lonceng-lonceng di kaki penari. Dengan demikian, saat penari menghentakkan kakinya maka akan terdengar bunyi-bunyi lonceng. 

Tak hanya kaki saja, tari ini juga akan membuat penonton tercuri perhatiannya pada sampur penari. Sebab penari juga akan memainkan sampur (selendang) yang dipakainya. Ekspresi wajah, kuda-kuda, dan anggukan kepala juga ditonjolkan pada tarian ini sehingga membuat tari ini semakin atraktif ketika dipentaskan. 

Ada beberapa gaya busana dalam pementasan tari Remong. Diantaranya ada busana Remong putri, busana gaya Jombangan, busana gaya Malangan, busana gaya Sawunggaling, dan busana gaya Surabayan. Masing-masing gaya busana ini menjadikan kostum yang dipakai penari sedikit berbeda satu sama lain. 

Busana untuk Remong putri, penarinya akan menggunakan satu sampur atau selendang yang diletakkan di bahu. Selain itu, juga memakai sanggul, kain rapak yang akan menutupi pinggang sampai lutut, dan ditambah lagi kain berwarna hitam yang menutupi dada. Sedangkan pada busana Jombangan, penari laki-laki akan menggunakan rompi. Serta pada busana Sawunggaling penarinya menggunakan kaos.

Tari Remong – Jawa Timur memang dikenal sebagai hiburan serta budaya yang masih sangat kental di daerah Jombang. Hingga saat ini muncul kreasi-kreasi baru pada tari ini, tanpa harus meninggalkan kekhasan yang dimiliki tari ini.

Continue Reading

Seni Tari

10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Published

on

Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan tradisi dan kebudayaan. Salah satunya adalah tradisi tarian yang memiliki ciri khas dari Sabang sampai Merauke. Berikut ini adalah 10 kesenian tari tradisional di Indonesia yang sayang untuk dilewatkan.

Fitur image Denita Utami : Srikandi Dance – Destination Indonesia at Northern Virginia, USA (Traditional dance)

1. Tari Jaipong – Jawa Barat

Tari Jaipong atau Jaipongan dapat dikatakan sebagai salah satu jenis budaya Indonesia. Yang mana tarian ini  yang cukup populer pergaulannya dan berasal dari Sunda, Jawa Barat. Tari ini tak serta merta ada sejak dahulu kala, melainkan bisa dikatakan usia tari ini sebenarnya masih cukup muda.

Adapun tari ini awalnya berasal dari tahun 1970 an, saat itu H. Suanda lah seseorang yang menciptakan tarian ini. Oleh H. Suanda, tari ini dibuat dengan cara menggabungkan beberapa kesenian tradisional sekaligus. Diantaranya adalah ketuk tilu, topeng banjet, wayang golek, pencak silat, dan masih banyak lagi.

Komposisi tarian dan musikalnya terus melalui perkembangan dari zaman ke zaman, tanpa menghilangkan unsur orisinalitas dari tari ini. Tari Jaipong juga identik dengan alat musik gong dan gendang karena alunan alat musik inilah yang mendominasi.

Selain itu, tari yang ditarikan sebagai hiburan masyarakat ini juga rupanya sejauh ini memberikan pengaruh pada kesenian-kesenian lain dari Jawa Barat di luar Sunda. Bisa ditarikan oleh penari tunggal, berpasangan, dan bisa juga berkelompok.

Jika itu berkelompok maka penari yang tampil biasanya 3 sampai 5 orang. Apabila berpasangan, maka harus perempuan-perempuan, tidak ada laki-lakinya. Kostum yang digunakan adalah baju atasan dengan kemben sampai mata kaki yang biasanya berupa kain batik. Baju atasan yang dipakai warnanya bisa beragam, terkadang berwarna kuning terkadang berwarna merah.

2.  Tari Kecak – Bali

Tidak ada batasan jumlah penari pada pertunjukan tari Kecak dari Bali. Kesenian tari tradisional ini bisa ditarikan oleh lima atau beberapa orang saja, namun bisa juga ditarikan oleh ribuan orang sekaligus. Hanya bisa ditarikan oleh laki-laki, nantinya mereka hanya akan menggunakan celana saja ketika memainkannya.

Mereka akan duduk melingkar dengan space yang cukup untuk satu orang di tengahnya. Yang mana space ini nanti digunakan untuk penari yang memainkan tokoh Rahwana. Mendengar kata Rahwana, memang benar adanya tarian ini memiliki unsur kisah Ramayana di dalamnya. Sebuah cerita Jawa yang mengisahkan Sinta, istri Rama yang diculik oleh Rahwana. 

Tari Kecak ini usianya tak semuda tari sebelumnya. Diketahui tari ini sudah ada sejak tahun 1930 an, yang mana dibuat oleh sosok seniman dari Indonesia dan pelukis dari Jerman. Mereka adalah Wayan Limbak dan Walter Spies.

Di tahun yang sama tari ini ada, Wayan Limbak mempopulerkan tari ini ketika ia berkeliling dunia bersama penari-penari dari Bali. Saat tari ini dipentaskan akan terdengar bunyi cak cak cak yang mana itu berasal dari mulut penari.

Ya, tidak ada alunan musik dari pementasan tari ini. Namun ada asal mula alunan musik yang harus digunakan oleh penari ini, yaitu sebuah iringan dalam Tari Sanghyang. Jika ada suara selain dari mulut penari, pastilah itu berasal dari aksesoris kaki para pemain tokoh Ramayana. 

3. Tari Remong – Jawa Timur

Tari Remong adalah tari yang berasal dari Jawa Timur dan dengan kisah asal usul yang menarik. Tari Remong ini saat ini memang digunakan untuk pengiring kesenian Ludruk, namun tadinya tari ini adalah tari yang dibuat oleh penari jalanan di Jombang.

Kerap kali kita menyaksikan tari ini dalam festival kesenian atau saat menyambut tamu acara kenegaraan. Mulanya tari ini ditarikan oleh penari laki-laki, namun seiring berkembangnya zaman tari ini lebih sering ditarikan oleh penari perempuan.

Penari perempuan dianggap lebih bisa mempertunjukkan kisah dan nuansa yang sangar dibanding penari laki-laki. Soal busana, busana yang digunakan oleh penari tari ini berbeda-beda. Perbedaan ini berupa beberapa bagian kostum saja, yang mana kesemuanya tetap memberikan unsur orisinil dari tari ini.

Beberapa perbedaan busana tersebut diantaranya adalah gaya Surabayan, gaya Malangan, gaya Sawunggaling, dan gaya Jombangan. Ada beberapa alat musik yang digunakan untuk mengiringi pementasan tari ini, diantaranya adalah kenong, kethuk, kempul, gong, bonang, dan saron. 

4. Tari Pendet – Bali

Tari ini memang sangat ikonik di Bali, namun perlu diketahui bahwa tari ini tadinya tidak untuk dipentaskan di kalangan masyarakat umum. Dulunya tari Pendet digunakan sebagai salah satu bentuk acara keagamaan, yaitu sebagai simbol penyambutan Dewa yang turun ke bumi.

Pencipta tari Pendet ini adalah I Wayan Rindi, salah satu seniman tari atau koreografer di masa itu. Tepatnya, tari dari Bali ini lahir sekitar tahun 1960 an, lebih muda usianya dibanding tari Kecak.  Kostum penari tari ini identik dengan warna merah, merah muda, dan keemasan.

Sabuk stagen, tapih, kemben, dan sabuk prade wajib digunakan oleh setiap penari yang mementaskan tari ini. tak hanya pakaian yang melekat saja, para penari juga akan menggunakan aksesoris bunga-bunga yang ditaruh di kepala. Riasan wajahnya khas, yaitu riasan yang menonjolkan garis-garis wajah supaya ekspresi mereka semakin jelas terlihat. 

Bunga yang menghias kepala penari diantaranya adalah bunga jepun, cempaka, mawar, dan kamboja. Penari yang mementaskannya juga akan dipercantik dengan berbagai aksesoris. Layaknya aksesoris pada tarian lain, yaitu gelang, anting-anting, kalung, serta membawa subeng.

5. Tari Gambyong – Jawa Tengah

Tari Gambyong adalah tari asli Surakarta yang populer untuk menyambut tamu. Bukan hanya sebagai tari tunggal saja, ada modifikasi yang tak lain berupa modifikasi koreografinya dari tari ini. Hasil dari modifikasi ini adalah tari Gambyong Pangkur dan Gambyong Pareanom. Meski demikian, dasar dari gerakan modifikasi-modifikasi ini dengan aslinya sama. 

Kesenian tari tradisional ini usianya sangat lebih tua dibanding tari-tari sebelumnya. Jika tari-tari sebelumnya dketahi mulai ada pafa abad ke-19, maka tari dari Surakarta, Jawa Tengah ini diketahui sudah ada sejak abad ke-17.

Alasannya adalah nama tari ini sudah ada di dalam Serat Centhini yang ditulis pada abad yang sama. Ada ciri-ciri khas yang menyertai tarian ini, yang mana membuat tari ini semakin mudah saja dibedakan dengan tari tradisional lainnya. Ciri yang pertama adalah terletak pada pakaiannya.

Para penari yang menarikan tari ini menggunakan kostum berwarna kuning-hijau, yang mana memiliki simbol makmur dan subur.  Ciri selanjutnya adalah bahwa sebelum tari ini mulai, ada pembukaan berupa gending Pangkur. Gerakan dari tari ini menampilkan karakter yang tregel, kewes, kenes, dan luwes sekaligus.

6. Tari Serimpi – Yogyakarta

Berbeda dari beberapa tari sebelumnya, tari Serimpi adalah tari klasik yang mana merupakan tradisi asli dari Keraton Kesultanan Mataram (Yogyakarta). Sebagai tarian keraton dan memiliki gerakan yang lembut, tari Serimpi ini sering dianggap mirip dengan tari Pakarena yang berasal dari Makassar.

Ya, tari dari Yogyakarta ini memang memiliki tata gerak yang lemah gemulai, sebab hal ini menunjukkan kelemahlembutan, kesopanan, serta kehalusan budi.  Tata gerak dari tarian ini diiringi dengan alunan musik gamelan.

Karena berasal dari zaman kuno dan dari Keraton Kesultanan Mataram, tari ini tidak boleh disamakan kedudukannya dengan tarian lain. Meskipun berasal dari zaman kuno, tari ini berhasil terus dilestarikan hingga tetap ada sampai sekarang ini.

Tari Serimpi memang tak sesakral tari Bedhaya, namun hanya orang-orang yang dipilih oleh keraton saja yang bisa mementaskan tarian ini. Bisa dikatakan kesakralan dari tari ini sama sakralnya dengan pusaka dan benda-benda raja dari zaman dahulu yang saat ini berada di dalam keraton.  

Alunan dari pementasan tari ini lebih menonjolkan saat dinyanyikan tembang atau lagu Jawa. Pementasan tari ini juga tak menggunakan sesajen, tidak seperti tari Bedhaya. Boleh jadi tari ini bersifat cukup sakral, namun dasarnya tari ini sebenarnya bertema erotik dan kegembiraan.

Di atas memang telah dijelaskan bahwa tari ini sudah disebutkan dalam sebuah kitab yang ada pada abad ke-17. Namun tentu saja ada pencipta dari tarian ini. Beliau adalah Sri Pakubuwana V yang mana menciptakan tarian ini pada tahun 1748.

Ada beberapa tari modifikasi yang menggunakan dasar tari klasik ini. Diantaranya adalah Serimpi Pondelori, Serimpi Ludira Madu, Serimpi Bondan, Serimpi Anglir Mendung, Serimpi Genjung, Serimpi Dhempel, dan Serimpi Babul Layar.

7. Tari Yapong – Jakarta

Usia tari Yapong dari Jakarta cukup muda, yaitu lahir pada tahun 1977. Pementasan pertama tari ini adalah di tahun tersebut yang mana berlokasi di Balai Sidang Senayan Jakarta. Ada tiga ratus orang penari yang menarikan tari kreasi ini pada saat itu.

Berdasarkan sumber yang valid, setelah munculnya tari ini kemudian Dinas Kebudayaan Jakarta bersama Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardjo menjadikan tari yang tadinya sendratari ini menjadi tarian lepas.

Kostum yang digunakan penari tari Yapong bisa dikatakan memiliki keterkaitan dengan tari Kembang Topeng Betawi. Hal ini disebabkan adanya toka-toka atau selempang di dada dan tutup kepala ragam hias yang digunakan oleh penari tari ini juga penari tari Kembang Topeng Betawi.

Selain itu, tari ini juga memiliki akulturasi budaya lainnya, yaitu dengan masuknya unsur tari pop, unsur budaya Tionghoa, dan unsur budaya Sumatera.  Alat musik pengiring yang digunakan pada tari ini ada beberapa namun mayoritas adalah rebana.

Diantaranya yaitu rebana hadroh, rebana biang, dan rebana ketimpring. Satu hal lain tentang tari dari Jakarta ini adalah bahwa meskipun tari ini cukup baru namun tetap ada modifikasi yang beredar. Modifikasi dari tari ini alias Yapong Kreasi Baru memiliki tata gerak yang sangat bertolak belakang dengan unsur Betawi tradisional.

8.  Tari Tor Tor – Sumatera Utara

Tari Tor Tor tak hanya sebagai tari klasik atau tari tradisional saja, melainkan ada sebagai tari purba. Tari ini berasal dari Sumatra Utara, tepatnya di sekitaran Danau Toba. Sedangkan daerah yang berada di sekitaran Danau Toba antara lain Samosir, Tapanuli Utara, Toba Samosir, dan Humbang Hasundutan.

Tari ini pada dasarnya bukanlah tari hiburan, namun tari untuk seremongnial atau upacara adat.  Cukup berbeda dengan tarian lainnya yang mungkin gerakannya merupakan serangkaian kisah. Di tari Tor Tor ini gerakannya adalah sebuah media komunikasi, komunikasi yang seharusnya terjalin di antara partisipan upacara.

Sebelum tari ini ditarikan, tuan rumah akan mengadakan upacara khusus terlebih dahulu. Upacara khusus tersebut bernama Tua ni Gondang yang mana membuat ada istilah bahwa tari Tor Tor tak bisa dipisahkan dengan musik gondang.

Tari ini ditarikan bersamaan dengan upacara adat, dalam upacara adat tersebut disebutkan beberapa permintaan. Setelah permintaan selesai diucapkan maka ada ritme khusus dari musik gondang tadi.

Lalu upacara adat seperti apakah yang disertai oleh tari ini? Upacara adat yang dilakukan warga sekitar Danau Toba ini adalah upacara untuk menyampaikan batin kepada roh leluhur dan pada tamu-tamu yang dihormati di upacara tersebut. Disinilah tujuan dari tari ini ditarikan, yaitu untuk menunjukkan rasa penghormatan tersebut.

9. Tari Piring – Sumatera Barat

Tari Piring juga disebut sebagai tari Piriang di Sumatera Barat. Sebutan lain tersebut berasal dari bahasa Minangkabau. Ciri khas dari tari ini sesuai dengan namanya, yaitu sebuah piring yang mana akan dimainkan oleh penari saat dipentaskannya tari ini. Gerakan-gerakan dari tari Piring memang mayoritas memainkan piring, namun beberapa gerakannya juga diserap dari gerakan silat Minangkabau atau yang biasa disebut dengan silek. 

Piring yang dimainkan adalah dua piring yang diletakkan di telapak tangan. Tak hanya itu, tangan dengan piring ini digerakkan dengan cepat supaya tidak jatuh disertai dengan didatangkannya piring atau cincin yang berada di dua jari penari.

Akhir dari pementasan tari ini pun juga cukup unik atau khas, setelah piring dimainkan di telapak tangan di akhir piring tersebut akan dipecahkan dengan cara dilempar ke lantai. Tidak berhenti disitu, setelah pecah penari akan menari di atasnya.

Jumlah penari yang menarikan tari dari Solok ini selalu ganjil, bisa tiga orang penari namun juga bisa tujuh orang penari. Pakaian atau kostum yang digunakan sangat khas, yaitu identik dengan warna cerah seperti kuning keemasan atau merah cerah. 

Mulanya, tari ini ditarikan sebagai bentuk ucapan rasa bersyur kepada para dewa. Sebab mereka meyakini bahwa dewa lah yang memberikan mereka hasil panen yang melimpah. Ritual untuk rasa syukur ini diwujudkan dengan membawa sesaji makanan di atas piring. Sehingga sudah jelas mengapa sebuah piring digunakan sebagai properti pada tari ini.

10.  Tari Saman – Aceh

Tari Saman otentik berasal dari kalangan suku Gayo, Aceh. Beberapa upacara adat dan upacara keagamaan membuat tari ini dipentaskan. Salah satunya adalah ketika diperingatinya hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Tarian ini juga diiringi dengan nyanyian, yang mana bahasanya menggunakan bahasa suku Gayo. Telah terdaftar di UNESCO, tari ini dibuat dan dikembangkan oleh seorang ulama populer bernama Syekh Saman.

Awal mula dibuatnya tarian ini bertujuan sebagai dakwah atau penyampaian suatu pesan dan ajaran. Ada hal yang dicerminkan dalam tari ini, antara lain sebuah kekompakan, pendidikan, kebersamaaan, kepahlawanan, serta keagamaan.

Tari ini diawali dengan sebuah pembukaan, pembukaan yang melakukan ini diisi oleh seorang orang tua yang memberikan nasihat-nasihat kepada para penonton sekaligus para pemain.  Jumlah penari pada tari Saman tidak sembarangan, yaitu hanya dibatasi delapan sampai sepuluh orang saja.

Dengan dua orang diantara mereka akan menyanyi sekaligus memberikan aba-aba. Tadinya memang tak bisa sembarangan jumlah penarinya, namun seiring berkembangnya waktu jumlah penari pada tari ini bertambah karena adanya keyakinan semakin banyak penari semakin semarak. 

Ditunjuk seorang syaikh untuk mengatur gerakan pada tari ini, orang yang sama juga bertugas menyanyikan syair sebagai pengiring tarian ini ketika dipentaskan. Syair-syair yang dinyanyikan ini berasal dari lagu Saman.

Continue Reading

Seni Tari

Keistimewaan Tari Jaipong – Jawa Barat

Published

on

Tari Jaipong – Jawa Barat adalah tari yang menjadi ikon kesenian di Provinsi Jawa Barat, tepatnya dari Bandung. Tari ini ada dengan latar belakang, namun juga ada sebagai latar belakang tari-tari lainnya. Ada beberapa hal dari tari ini yang membuatnya lebih istimewa dibandingkan dengan tari-tari lainnya. Apakah keistimewaannya, bagaimana asal mulanya, dan bagaimana dipertunjukkannya akan dibahas berikut.

Apa yang Membuat Tari Jaipong Lebih Istimewa Dari Tari Lainnya?

Ciri tari Jaipong membuat tari dari Jawa Barat ini cukup spesial dibanding tari lainnya. Tari Jaipong dikenal sebagai tari kreasi baru yang dilatarbelakangi adanya bentuk budaya yang sudah lebih dulu ada seperti Ronggeng dan Pamorogan. Ronggeng dan Pamorogan sendiri fungsinya untuk upacara adat. 

Oleh sebab itu, gerakan dari tari Jaipong ini berasal dari budaya-budaya yang telah ada sebelumnya. Adapun gerakan pada tari ini dipengaruhi oleh pencak silat, Ronggeng, Kliningan, dan seni ketuk tilu. 

Gugum Gumbira selaku pembuat tari Jaipong, setelah membuat tari Jaipong juga me gembangkan tari Jaipong ini hingga membentuk tari-tari lain. Tari-tari tersebut diantaranya tari Kawung Anten, tari Iring-Iring Daun Puring, tari Kuntul Mangut, tari Pencung, Sonteng, Setra Sari, dan Toka-Toka.

Kapan Tari Ini Dibuat?

Tahun tepatnya tari ini dibuat kurang diketahui. Namun bisa dipastikan bahwa koreografer tari ini membuatnya dan mempublikasikannya sekitar tahun 1960 an.

Istimewanya tari Jaipong lainnya adalah manfaat yang bisa diambil dari pertunjukkan tari ini sendiri. Tari ini dipertunjukkan sebagai hiburan masyarakat sehingga semua orang yang melihatnya merasa terhibur. Setelah terhibur, mereka akan lebih mudah dalam berkomunikasi dengan penonton lainnya. Inilah mengapa tari Jaipong disebut sebagai hiburan dan ajang berkomunikasi. Keunikan ini juga membuat tari Jaipong dianggap sebagai ikon kesenian dari Jawa Barat.

Siapa Koreografer Tari Ini?

Koreografer dari tari Jaipong adalah seorang seniman yang berasal dari Bandung. Nama beliau adalah Gugum Gumbira.

Di Mana Tari Jaipong Berasal?

Tari Jaipong yang mana tergolong dalam tari kreasi baru adalah tari yang berasal dari Bandung, Jawa Barat. Lebih tepatnya lagi tari Jaipong berasal dari kalangan masyarakat suku Sunda. 

Berapa Jumlah Penari Tari Ini?

Tari Jaipong adalah tari yang bisa ditarikan dengan jumlah penari yang berbeda-beda, bisa sekedar dua orang saja atau berpasangan bisa juga ditarikan banyak orang sekaligus. Sebab, tari Jaipong sendiri dipertunjukkan dengan empat jenis. Antara lain penari rampak berpasangan, penari rampak sejenis, penari berpasangan laki-laki dan perempuan, serta penari tunggal.

Pada penari tunggal jumlah penarinya hanya satu, dan jika itu berpasangan maka penarinya ada dua. Sedangkan di jenis lainnya, tari ini biasa ditarikan oleh tiga sampai lima orang. Namun tak menutup kemungkinan penarinya lebih dari lima.

Bagaimana Tari Jaipong Dipertunjukkan?

Tari Jaipong dipertunjukkan atau ditarikan dengan jumlah orang yang telah ditentukan sebelumnya. Penentuan ini tentu saja atas dasar apa jenis tari yang akan ditarikan, apakah itu rampak sejenis, rampak berpasangan, atau rampak tunggal. Jumlahnya bisa berbeda namun gerakannya tetap sama.

Tari ini ditarikan dengan empat gerakan utama. Diawali dengan gerakan pembuka atau bukaan, gerakan-gerakan selanjutnya atau pancungan, pemberhentian atau ngala, dan terakhir adalah gerakan mincit. 

Penari yang menarikan tari ini harus bisa berekspresi ceria dan semangat, namun tetap bersikap sederhana. Ketika dipentaskan, ada yang menggunakan pola atau ibung pola ada juga yang tanpa pola.

Tari Jaipong ini juga biasa ditarikan untuk acara-acara penting nasional. Misalnya saja pada upacara adat, hiburan pada hari kemerdekaan Indonesia, atau saat menyambut tamu dari luar negeri. Kostum penari tari Jaipong dibagi menjadi tiga, diantaranya ada sampur, sinjang, dan apok. Sampur adalah selendang berwarna yang diletakkan di leher penari.

Biasanya berwarna hijau atau merah. Sampur ini harus ada sebab hampir setiap gerakan, penari akan memainkan selendang ini. Sinjang adalah celana panjang berwarna yang dipakai penari. Saat ditampilkan tak hanya sebagai celana saja, biasanya juga diberi kain penutup lagi yang ada coraknya. 

Sedangkan apok adalah baju atasan untuk penari. Pembukanya menggunakan kancing dan diberi hiasan bordir bunga di beberapa bagiannya, terutama di sudut pakaian.  Untuk pengiring, aslinya ada beberapa alat musik sekaligus yang dipakai. Namun di zaman sekarang ini sudah banyak digunakan pemutar audio. Adapun alat musik yang digunakan antara lain kecapi, kecrek, gong, rebab, dan gendang.

Itulah beberapa poin yang perlu diketahui dari tari Jaipong – Jawa Barat. Ada sebagai tari yang memiliki ke khas an, juga ada dengan sejarah awal mula. Apalagi tujuan pementasan tari dari Bandung ini baik dan gerakannya juga menghibur.

Continue Reading

Seni Tari

Keunikan Tari Reog Ponorogo yang Spektakuler

Published

on

Tari Reog Ponorogo merupakan salah satu seni tradisional yang berasal dari Kabuaten Ponorogo, Jawa Timur.

Tarian ini selalu digelar di area terbuka karena formasi penarinya yang banyak. Selain itu tarian tersebut juga kerap ditampilkan sebagai hiburan rakyat.

Tariannya dipercaya memiliki unsur magis yang membuat tari Reog begitu menarik.

Penari utama dalam gelaran tari Reog ini memakai topeng yang sangat besar mirip kepala singa dan berhiaskan bulu merak di bagian atas.

Selain itu juga diiringi beberapa penari yang memakai topeng serta membawa kuda lumping. Ingin tahu lebih dalam tentang keunikan tari Reog ini? Simak ulasan berikut selengkapnya.

Sejarah Reog dan Asal Usul Kisahnya

Menurut cerita yang populer di masyarakat, ada beberapa versi tentang Reog dan Warok serta asal usulnya.

Cerita yang cukup populer ialah tentang kisah pemberontakan Ki Ageng Kutu, abdi kerajaan Majapahit ketika Bhre Kertabhumi berkuasa sekitar abad ke 15.

Pertunjukan tari Reog dibuat oleh Ki Ageng Kutu sebagai simbol perlawanan dan juga sindiran pada sang raja yang tak berkutik karena pengaruh sang permaisuri yang bersal dari Tiongkok yang begitu kuat.

Versi Tari Reog Ponorogo

Versi lain dari tarian Reog Ponorogo yang kini banyak berkembang ialah kisah tentang Raja Klono dari Ponorogo yang ingin melamar seorang putri Kediri, bernama Dewi Ragil Kuning, tetapi di tengah jalan ia dihadang Raja Singa Barong yang juga dari Kediri.

Raja Singa Barong ini bersama merak dan singa, sedang dari Kerajaan Ponorogo, ada Raja Klono serta Bujang Ganong, yang dikawal oleh beberapa warok yang memiliki ilmu hitam yang hebat dan mematikan(di dalam tarian, warok digambarkan dengan pria yang berpakaian hitam-hitam).

Seluruh tarian Reog ini menggambarkan peperangan antara dua kerajaan besar yakni Kerajaan Ponorogo dan Kerajaan Kediri yang saling adu kekuatan ilmu hitam. Bahkan di dalam tariannya beberapa penari kerap mengalami  “kerasukan” ketika sedang membawakan tariannya.

Pagelaran Seni Reog

Tari Reog modern umumnya digelar dalam banyak acara, misalnya saja seperti acara pernikahan, khitanan, serta peringatan hari besar Nasional. Kesenian tari Reog sendiri terdiri dari 2 hingga 3 rangkaian tarian pembuka. Berikut diantaranya.

#1 Tarian Warok

Tarian pertama umumnya dipentaskan oleh 6 sampai 8 pemuda dengan gagah dan berpakaian serba hitam, serta wajah yang dipoles dengan warna merah menyala. Para penari tersebut menggambarkan karakter singa yang pemberani.

#2 Tarian Jaran Kepang

Lalu rangkaian berikutnya, dibawakan oleh 6 sampai 8 pemudi sambil menaiki kuda(Jaran Kepang). Di pagelaran tari Reog tradisional, biasanya penari ini dibawakan oleh laki-laki namun memakai pakaian wanita. Rangkaian tarian tersebut dikenal dengan jathilan atau tari jaran kepang, tarian ini berbeda dengan kesenian tari Kuda Lumping.

#3 Tarian Ganongan

Selanjutnya ialah tarian Ganongan atau Bujang Ganong, yang biasanya dibawakan oleh seorang anak kecil yang menari dengan adegan yang lucu dan menghibur.

#4 Tarian Inti

Setelah rangkaian tarian pembuka tersebut selesai dibawakan, baru kemudian ditampilkan adegan inti dari tari Reog. Tarian inti ini sendiri tergantung kondisi  dan situasi acara di tempat tari Reog digelar.

Ketika acaranya berupa acara pernikahan, maka cerita inti adegan tarian akan berhubungan dengan cerita percintaan. Sedangkan untuk acara lainnya biasanya menyuguhkan cerita pendekar.

#5 Tarian Penutup

Sebagai penutup dalam rangkaian tari Reog, biasanya akan ditutup dengan adegan Singa Barong. Tarian ini dibawakan seorang penari yang meggunakan topeng raksasa dengan bentuk seperti kepala singa yang bermahkota bulu merak.

Topeng tersebut memiliki berat mencapai 50 hingga 60 kg, dan dibawa dengan digigit oleh sang penari menggunakan giginya. Tentu tak banyak penari yang bisa membawa topeng Singa Barong ini karena bebannya yang berat dan hanya bisa dilakukan dengan latihan yang rutin dan tirakat.

Baca juga seni tari lainnya;

Tari Reog Ponorogo dan Tokoh-tokoh di dalamnya

Keunikan yang dimiliki tarian khas Ponorogo ini ialah tokoh-tokoh yang ada di dalam tarian tersebut. Setiap tokoh memiliki karakter unik dan memiliki sisi magis yang begitu kental. Berikut tokoh-tokoh dalam tarian Reog, diantaranya.

#1 Jathil

Karakter yang pertama ialah Jathil, tokoh ini digambarkan sebagai prajurit berkuda. Sedangkan Jathilan merupakan gerakan tarian yang dibawakan tokoh tersebut yang menggambarkan ketangkasan para prajurit yang tengah berlatih dari atas kuda.

Gerakan tarian Jathilan ini biasanya dibawakan secara berpasangan. Mulanya karakter Jathil ini dibawakan oleh penari pria dengan perawakan halus dan lebih mirip wanita.

Namun belakangan, dengan alasan agar lebih feminim peran karakter ini dimainkan oleh penari wanita.

#2 Warok

Karakter selanjutnya ialah Warok, nama Warok sendiri asal kata dari “wewarah”, maknanya ialah seseorang yang memiliki tekad suci, mampu memberi tuntunan serta perlindungan yang tanpa pamrih.

Warok sendiri merupakan tokoh “wong sugih wewarah” atau orang yang banyak memiliki wewarah. Maknanya, ketika seseorang yang memerankan tokoh Warok karena ia mampu memberikan petunjuk pada orang lain tentang arti hidup yang lebih baik.

Karakter Warok bagi masyarakat Ponorogo sudah sejak dulu menjadi bagian penting hingga mendarah daging, dan diwariskan turun temurun oleh nenek moyang.

#3 Barongan atau Dadak merak

Karakter utama dan paling dominan dalam rangkaian seni tari Reog ialah Barongan atau Dadak merak, karakter tersebut berupa topeng raksasa yang terdiri dari dua bagian.

Diantaranya Kepala Harimau atau caplokan yang tersusun dari kerangka kayu, bambu dan rotan yang ditutup menggunakan kulit dari Harimau Gembong.

Lalu Dadak merak, yang tersusun dari kerangka rotan dan bambu sebagai alas untuk menempatkan bulu merak.

Sehingga menggambarkan seperti burung merak yang tengah memekarkan bulunya yang cantik serta untaian tasbih atau manik-manik.  

Kemudian ada Krakap, yang berupa kain beledru berwarna hitam yang disulam dengan monte, dan menjadi aksesori untuk menuliskan identitas dari grup Reog tersebut.

Dadak merak ini sendiri memiliki panjang hingga 2,25 m dan lebar 2,30 m, dengan berat hampir 50 kg bahkan lebih.

#4 Klono Sewandono

Karakter selanjutnya ialah Raja Klono atau lebih dikenal dengan sebutan Klono Sewandono, ia adalah seorang raja yang sakti mandraguna dan memiliki pusaka yang sangat sakti berupa cemeti yang memiliki sebutan Pecut Samandiman.

Karakter sang Raja yang gagah berani digambarkan melalui gerakan tari yang penuh wibawa sekaligus lincah.

#5 Bujang Ganong atau Ganongan

Karakter berikutnya ialah Bujang Ganong atau Ganongan yang juga kerap disebut Patih Pujangga Anom merupakan karakter yang kocak, energik sekaligus memiliki keahlian bela diri yang tinggi.

Di setiap pagelaran selalu di tampilankan oleh dua orang anak-anak dengan gerakan yang lincah dan lucu.

Demikian tadi sekilas informasi tentang keunikan tarian asal Ponorogo yakni Tari Reog yang melegenda dan penuh nuansa mistis yang kental.

Kesenian Tari Reog Ponorogo ini termasuk salah satu kesenian tari yang kolosal yang menggabungkan antara seni tari yang indah dan atraksi spektakuler topeng raksasa Singa Barong.

Tarian daerah menjadi salah satu warisan budaya yang sangat penting untuk dilestarikan agar bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Seni Tari

Tari Merak dan Keindahannya yang Unik

Published

on

Tari Merak

Tari Merak adalah salah satu tarian khas daerah Jawa Barat. Seni tari daerah ini cukup populer di Indonesia.

Memang, jika berbicara soal seni dan budaya asli Indonesia, tentu tak akan ada habisnya. Setiap daerah selalu punya seni dan budaya yang sangat menarik untuk dikulik dan dipelajari lebih dalam.

Ya, itu tadi, salah satunya Tari Merak. Seni agung yang punya daya tarik eksotik khas nusantara.

Berbeda dengan tarian tradisional, Tari Merak merupakan tarian kontemporer yang terinspirasi dari gerak dan laku burung Merak yang cantik.

Tarian populer ini merupakan karya seorang seniman berbakat berdarah Sunda bernama Raden Tjetjep Soemantri.

Meski bukan tarian tradisional, namun kepopulerannya, bahkan membuat tarian ini menjadi salah satu tarian khas daerah.

Sekarang, mari kita simak ulasan lengkap mengenai Tari Merak berikut ini.

Baca juga seni tari lainnya:

Sejarah Tari Merak

Tari Merak ini merupakan tarian yang cukup terkenal, berasal dari Jawa Barat yang kental akan budaya Sunda. Tarian ini lahir sekitar tahun 1950, yang digagas oleh  seorang seniman tari berdarah Sunda yang sangat berbakat bernama  Raden Tjetjep Soemantri.

Tarian tersebut diciptakan karena terinspirasi dari tingkah polah seekor burung yang memiliki bulu yang cantik, yakni burung merak.

Tingkah sang burung merak jantan, ketika ingin memikat sang betina, membuat sang burung mengepakan ekornya, hingga mengembang dengan cantik.

Hal inilah yang kemudian dituangkan dalam seni gerak tari yang kemudian terkenal dengan sebutan Tari Merak.

Namun, seiring perkembangan jaman, Tari Merak pun mengalami banyak perubahan dari sisi gerak tarinya.

Kini dalam pagelarannya, Tari Merak lebih sering dibawakan dengan berpasangan. Setiap penari akan memainkan peran sebagai burung merak betina atau jantan. Dan tariannya, akan diiringi oleh iringan gending macal ucul.

Sehingga akan membuat tarian semakin terlihat semarak, mempesona dan menjadi salah satu tarian daerah yang kerap muncul di pagelaran tingkat nasional.

Ciri Khas Tarian Merak

Selain gerakannya yang terinspirasi dari tingkah polah burung merak, tarian Merak juga memiliki beberapa ciri khas yang membuatnya semakin unik dan menarik.

Salah satu ciri khas dari Tari Merak ialah kostum atau busananya yang sekilas tampak seperti bulu-bulu Merak.

Setiap kostum  yang dikenakan penari memiliki motif yang terinspirasi dari bulu merak yang cantik, karena mengilustrasikan keindahan burung merak tersebut.

Seperti biru, hitam dan juga hijau misalnya. Kostum tersebut juga dilengkapi sepasang sayap mirip seekor burung merak ketika sedang mengepakan ekornya.

Lalu juga dilengkapi dengan hiasan kepala berupa mahkota yang dikenakan perari perempuan.

Selain itu gerakan dalam tarian tersebut juga ditarikan secara berpasangan, setiap penari memerankan burung jantan dan betina.

Fungsi Tari Merak

Tari Merak kerap ditampilkan dalam pementasan terutama untuk acara penyambutan tamu kehormatan. Tetapi, tarian ini juga kerap tampil dalam acara hajatan. Tari Merak juga memiliki banyak fungsi, berikut diantaranya.

  • Dipentaskan sebagai rangkaian persembahan untuk menyambut para tamu kehormatan, misalnya dalam acara atau ritual tertentu.
  • Tari ini juga kerap ditampilkan dalam acara pernikahan khususnya dalam adat Sunda.
  • Dipentaskan dalam rangkaian menyambut tamu rombongan pengantin pihak laki-laki ketika akan menuju pelaminan.
  • Sebagai sarana memperkenalkan kekayaan budaya tradisional Indonesia ke kancah internasional

Properti Tari Merak

Meriah dan spetakulernya Tari Merak tak lepas dari properti yang digunakan. Dan ini merupakan komponen utama yang mendukung kesuksesan pementasan sebuah kesenian tari.

Terlebih lagi, properti yang digunakan dalam Tari Merak ini terbilang cukup banyak, dari mulai  kostum hingga aksesori yang harus dikenakan para penari.

Properti dalam pementasan Tari Merak sendiri terbagi menjadi 3 b penting, yakni kepala, badan dan bawahan, seperti berikut diantaranya;

# Properti untuk Bagian Kepala

Properti untuk bagian kepala pada penari Tari Merak ada beberapa bagian, yaitu Mahkota, hiasan telinga serta hiasan sanggul.

Bagian pertama yakni mahkota, pada bagian ini kerap disebut dengan siger dan menjadi aksesori wajib yang harus dipakai penari.

Aksesori ini dihiasi dengan taburan manik-manik serta payet dengan beragam warna yang membuatnya makin cantik. Sehingga membuat siger tersebut terlihat glamour dan “wah” saat dipakai sang penari.

Selanjutnya ada hiasan telinga yang menjadikan penari terlihat makin anggun. Jika diperhatikan lebih dalam aksesori ini mirip seperti aksesori yang kerap terlhat di pewayangan.

Hiasan telinga tersebut disebut dengan sesuping yang menjadi pelengkap aksesori agar penari makin mempesona. Lalu ada hiasan sanggul, yang dikenakan di bagian belakang rambut para penari.

Aksesoris ini sendiri seperti menggambarkan seekor burung jantan, dan kadang dikenal dengan sebutan garuda mungkur.

#Properti untuk Bagian Badan

Sama seperti properti untuk bagian kepala, properti untuk bagian badan ini juga terdiri dari tiga bagian dan biasanya melekat di tubuh sang penari. Berikut beberapa jenis properti tersebut.

  • Bagian pertama ialah penutup dada yang biasanya menutupi bagian dada penari dan terlihat seperti kemben. Kemben ini berupa kain dan dililitkan ditubuh penari yang menutupi bagian dada hingga ke perut bagian bawah. Kadang kemben ii juga dilengkapi tali pengaman supaya tidak gampang jatuh saat dipakai ketika menari. Kain kemben ini memiliki warna dan jenis yang sangat beragam yang disesuaikan dengan kebutuhan.
  • Bagian selanjutnya ialah Apok. Properti ini ialah aksesoris penutup dada yang bentuknya seperti kalung namun terbuat dari kain yang dihiasi bordir bermotif khas yang sangat cantik. Aksesori ini dikenakan di leher dan menutupi bagian dada penari yang membuatnya terlihat anggun dan elegan.
  • Bagian lainnya ialah Sayap. Aksesori ini dibuat mirip seperti sayap burung merak yang dikepak-kepakan saat menarikan tarian Merak tersebut. Dan aksesoeri ini merupakan aksesori inti yang membuatnya berbeda dengan tarian jenis lain. Selain sayap ada juga sabuk yang berguna sebagai penutup sampur sekaligus pinggang para penari.

#Properti untuk Bagian Bawahan

Baian terakhir dari properti untuk penari Tari Merak ialah bagian bawahannya. Kostum ini biasanya menggunakan kain bermotif yang dibuat serasi dengan semua komponen kostum penari.

Aksesoris  yang ada di kostum ini disesain begitu mirip dengan bulu burung merak yang cantik termasuk pernak-pernik ornamennya. Untuk semakin menambah kemegahan kostum penari Tari Merak, ditambahkan aksesoris pendukung berupa kilat bahu dan juga gelang.

Demikian tadi informasi menarik tentang tarian daerah asal Jawa barat yakni Tari Merak. Meski bukan tarian tradisional, namun kepopulerannya bahkan sudah mendunia dan menjadi salah satu tarian yang banyak digemari.

Keindahan serta kelincahan para penari membuat tarian yang dibawakan secara berpasangan ini begitu mempesona. Sehingga akan sangat rugi jika kekayaan budaya daerah ini dibiarkan begitu saja tanpa dilestarikan oleh generasi milenial saat ini. Agar kekayaan budaya kita tetap terjaga, mari kita jaga bersama untuk generasi penerus bangsa. Semoga bermanfaat.

Continue Reading

Seni Tari

Tari Gantar Dayak, Khas dan Penuh Mitos

Published

on

Tari Gantar Dayak, Khas dan Penuh Mitos

Di Kalimantan Timur ada sebuah tarian yang cukup populer, khususnya di wilayah Kabupaten Kutai Barat. Yaitu Tari Gantar Dayak.

Tari ini merupakan sebuah tarian pergaulan muda mudi. Milik suku Dayak Tunjung dan Dayak Benuaq.

Tarian khas suku Dayak ini, menggambarkan kegembiraan dan keramah-tamahan. Biasanya, digunakan untuk menyambut tamu yang disegani dan dihormati. Dalam pagelaran, para tamu kemudian diajak turut serta menari bersama. 

Tari Gantar

Mitos dalam Sejarah Tari Gantar

Seperti halnya tarian tradisional dari daerah lain, Tari Gantar pun memiliki mitos yang mengiringi kemunculannya.

Mitos ini sejak dahulu sangat dipercaya oleh suku Dayak Benuaq dan juga Dayak Tunjung.

Diceritakan bahwa Tari Gantar Lahri dari sebuah cerita yang berasal dari sebuah negeri di atas awan, Negeri Dewa nayu.

Negeri tersebut diyakini menjadi tempat tinggal para Dewa Nirwana disebut Oteng Doi. Di dalam negeri Oteng Doi (negeri para dewa), suatu ketika, terjadi sebuah peristiwa yang buruk yang melibatkan keluarga dewa. Yakni Oling Bayatn dan Oling Besi.

Dewa tersebut memiliki dua orang putri yakni Dewi Bela dan Dewi Ruda.

Keluarga dewa tersebut hidup damai hingga datang seorang dewa yang berniat jahat bernama Dolonong Utak Dolonong Payang.

Sang dewa Dolonong Utak tersebut membunuh Oling Besi demi mempersunting istri Oling Besi. Kejadian tersebut terjadi langsung di depan mata kedua putri Oling Besi dan sang istri yang takut akhirnya menerima ajakan menikah tersebut.

Namun kedua putri Oling Besi tidak dapat menerimanya dan memendam dendam.

Hari pun berganti hari, Putri Oling Besi kini pun sudah dewasa dan menyusun rencana untuk melenyapkan Dolonong Utak yang menikahi ibu mereka.

Sampai suatu ketika, terlaksanalah keinginan untuk melenyapkan Dolonong Utak ketika sedang beristirahat dengan memakai sumpit.

Setelah tahu bahwa Dolonong Utak sudah tak bernyawa kedua putri tersebut lantas menari-nari dan bersuka cita atas peristiwa tersebut.

Kejadian tersebut akhirnya diketahui oleh manusia yang memiliki kemampuanuntuk berhubungan dengan dunia Dewa, orang tersebut bernama Kilip.

Karena hal tersebut, Dewi Bela dan Dewi Ruda mendatangi Kilip supaya tak menceritakannya pada dewa-dewa yang ada di Negeri Oteng Doi. Kilip pun mengajukan syarat bahwa kedua dewi harus mengajarinya tarian yang kedua dewi tersebut lakukan.

Selain itu Kilip juga mendapatkan tongkat dan sepotong bambu, dan diberilah nama tarian tersebut dengan tari Gantar yang bermakna tongkar (sumpit).

Awal Mula Tarian Gantar Dayak

Tari Gantar dulunya hanya dibawakan ketika ada upacara adat, khususnya untuk perayaan upacara tanam padi. Dalam tarian Gantar ada sebuah properti yang kerap digunakan sebagai pelengkap tarian yaitu sebuah tongkat kayu dan bambu.

Tongkat tersebut digunakan untuk mebuat lubang pada tanah untuk menanam benih, sedangkan bambu digunakan sebagai tabung benih yang menyimpan padi sebelum siap ditanam.

Gerakan kaki ketika menarikan tarian ini mengilustrasikan  bagaimana menutup lubang tanah setelah diinjak menggunakan tongkat.

Para muda-mudi pun menarikan tarian ini dengan bersuka cita dengan penuh harapan supaya panen nanti akan mendapatkan hasil yang berlimpah.

Tari ini umunya dibawakan secaran bergantian oleh suku Dayak Benuaq dan juga suku Dayak Tunjung.  

Versi lain menyebutkan jika Tari Gantar ini dulunya merupakan salah satu tarian yang sakral. Dan hanya boleh dibawakan ketika menyambut para pemuda pulang dari medan perang.

Tarian ini digunakan sebagai tarian suka cita menyambut kedatangan para pemuda tersebut. Sehingga tarian Gantar ini ditarikan para gadis-gadis yang masih remaja.

Properti tongkat yang kerap digunakan dalam tarian ini merupakan sumpit. Hiasannya, diberi tengkorak musuh yang dikalahkan oleh pemuda yang membawanya dan digantungkan di tongkat tersebut. Sedang properti bambu kecil digunakan sebagai peraga untuk melengkapi gerak tariannya.

Baca juga seni tari lainnya; Kehangatan yang Ditampilkan Tari Sekapur Sirih Khas Jambi

Gerakan dalam Tari Gantar

Gerakan dalam Tari Gantar yang saat ini sering kita lihat di beberapa acara merupakan serangkaian gerakan tari yang mengalami beberapa proses penggarapan yang membuatnya terlihat semakin menarik.

Gerakan dalam tarian ini sendiri didominasi oleh gerakan kaki. Mulanya gerakan dalam Tari Gantar terbagi menjadi 3 macam, berikut diantaranya.

1. Gantar Rayat

Jenis gerakan dalam Tari Gantar yang satu ini menggunakan hanya satu alat saja yaitu Gantar sebuah kayu atau tongkat panjang yang diujung tongkat atau kayu tersebut diikatkan dengan sebuah tengkorak manusia yang kemudian dibungkus menggunakan kain merah yang dihiasi olehIbus.

Setiap penari menari dengan berkeliling sembari menyanyi dan dipinggang para penari tersebut diikatkan mandau. Ketika para penari tidak memegang tongkatnya, mereka pun mengelewai  gerakan seperti melambaikan tangan yang sesuai irama.

2. Gantar Busai

Sedang gerakan dalam tarian yang satu ini penari membawa sepotong bambu berisi biji-bijian dengan menggunakan tangan kanan. Sedang tangan kiri yang kosong digunakkan untuk melambai-lambai sesuai dengan irama.

Bambu tersebut biasanya berukuran  50cm yang diberi gelang berjumlah dua belas supaya menimbulkan bunyi gemerincing ketika digerakkan.

Jumlah gantar atau bambu yang digunakan disesuaikan dengan jumlah penari yang ikut dalam tarian tersebut.

Para penari tersebut menari dengan berkelompok, kadang juga ada yang “Ngloak” atau menari sambil saling memupuk muka penari lain menggunakan pupur basah.

3. Gantar Kusak dan Senak

Jenis Tarian yang satu ini, para penarinya memakai dua alat tari yakni Senak dan Kusak dan dipegang masing-masing  tangan saat menari.

Kedua alat ini berupa tongkat dan bambu yang didalamnya berisi biji-bijian agar menimbulkan bunyi yang nyaring. Kusak dipegang dengan tangan kanan dan telapak tangan membuka dengan siku ditekuk.

Senak umumnya berukuran antara 1 hingga 1,5 m, sedang Kusak biasanya berukuran 30cm dan diisi biji-bijian lalu ujungnya ditutup dengan penutup yang disebut Ibus.

Jenis tari Gantar Kusak dan Senak inilah yang saat ini lebih dikenal dan mengalami perkembangan baik dalam gerak, pola gerak lantai, level penggarapan, hingga iringan tari yang kemudian disesuaikan dengan kondisi maupun situasi yang ada saat ini.

Sekarang  ini Tari Gantar kerap difungsikan sebagai tari penyambutan tamu kehormatan yang datang, terutama wilayah kabupaten Kutai Barat.

Baca juga: Pesona kecantikan, mitos dan fakta Wanita Dayak

Busana yang Dikenakan Penari

Tata busana para penari wanita dalam Tari Gantar umumnya menggunakan kostum serta  atribut yang unik. Misalnya saja seperti baju atasan, ta’ah, serta hiasan kepala. Berikut selengkapnya.

1. Baju atasan

Para penari tari Gantar biasanya memakai baju atasan dengan model blus tanpa lengan dengan hiasan rumbai-rumbai yang dipasang dipinggiran lengan bajunya, sedang bentuk leher baju tersebut berbentuk bundar dengan kancing di bagian depan.

Bahan baju tersebut biasanya menggunakan kain tenun ulap doyo atau kain polos. Kain tenun ulap doyo ini di dapat dari suku Dayak Benuaq yang berada di Tanjung Isuy.

Jika tak ada kain tersebut, penari juga bisa menggantinya dengan kebaya panjang maupun setengah lengan yang terbuat dari kain tenun.

2. Ta’ah

Busana bawahan yang dikenakan para penari Gantar biasa menggunakan kain Ta’ah atau Sela selebar 2 kali lingkar pinggang sang penari tersebut.

Kain tersebut dihiasi  dengan uang logam, kadang juga di setiap pinggirannya ditempelkan kain perca yang berwarna-warni. Sedang bahan bisa menggunakan kain polos maupun kain tenun doyo.

3. Hiasan kepala

Selanjutnya di bagian kepala para penari menggunakan hiasan kepala yang disebut Labung. Hiasan ini dihiasi dengan ukiran khas yang diikatkan diseputar kepala.

Selain itu, para penari juga kerap memakai seraung yang merupakan sebuah topi lebar dengan hiasan di bagian atas lalu ditambah rumbai-rumbai berjuntai di pinggiran topi tersebut.

Tambahan aksesori lainnya, para penari kerap memakai kalung dan juga gelang yang terbuat dari manik-manik atau batu.

Demikian tadi informasi menarik tentang Tari Gantar, tarian khas suku Dayak dari Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Sebagai warga negara yang baik tak cukup hanya mempelajari budaya dan adat istiadat di daerah kita masing-masing tetapi juga ikut melestarikan dan menjaganya.

Supaya generasi penerus bisa menikmati kekayaan budaya yang ada di daerah nusantara ini. Semoga bermanfaat.

Continue Reading
Advertisement

Trending