Seren Taun, Ritual Sakral Masyarakat Sunda Yang Sarat Makna

Simbol atau ungkapan rasa syukur terhadap kekayaan alam

0
604

Seren Taun merupakan salah satu upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Sunda pada saat panen padi setiap tahun. Sebuah ritual dengan nuansa sakral dimana didalamnya sarat akan makna.

Seren Taun merupakan symbol atau ungkapan syukur atas apa yang telah dilakukan dan diraih selama bercocok tanam. Khususnya tanaman padi.

Upacara ini berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda. Upacara adat sebagai syukuran masyarakat agraris ini diramaikan ribuan masyarakat sekitarnya, bahkan dari beberapa daerah di Jawa Barat dan mancanegara.

Salah satunya, Desa Purwabakti Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor – Jawa Barat. Sebuah desa yang masih tetap memegang teguh nilai-nilai budaya peninggalan leluhur.

“Seren Taun, mengandung pesan-pesan moral yang begitu tinggi untuk bisa menikmati. Mensyukuri dan menghormati atas semua nikmat yang telah di berikan tuhan melalui alam ini,” ungkap Mulyadi, MM selaku Kepala Desa setempat.

Menurut lelaki yang akrab dipanggil Ki Lurah ini, Seren Taun atau Sedekah Bumi adalah menyerahkan tahun yang sudah dan menerima tahun yang akan datang.

Tujuannya adalah untuk mengingatkan bahwa kita hidup di alam, maka jangan merusak alam.

“Dan, harus mensyukuri atas segala nikmat yang alam berikan. Timbal baliknya, jangan hanya bisa menanam tapi harus menjaga lewat sedekah bumi,” ujar Mulyadi.

Pesan moral Seren Tahun, menurut Ki Lurah Mulyadi;

“Kita harus bisa memberikan manfaat walaupun kecil. Tutulung kanu butuh tatalang kanu susah. Kita harus yakin ke Tuhan Yang Maha Esa. Tapi ingat, kata Tuhan jangankan minta ke Dia. Karena, tanpa di pintapun Tuhan pasti akan memberi. Karena Tuhan maha memberi dan sudah menyediakan semua untuk kita. Pintalah ke orang tua, ibu, bapak, nenek dan kakek kita. Kalau berbuat dosa ke orang tua kita bagaimana kita akan memiliki dunia,”

Ki Lurah Mulyadi, MM - Kepala Desa Purwabakti - Acara Seren Taun
Kepala Desa Purwabakti, Mulyadi, MM, (Ki Lurah) dalam salah satu rangkaian ritual Seren Taun

Sejarah Seren Taun

Istilah Seren Taun berasal dari kata dalam Bahasa Sunda. Seren yang artinya serah, seserahan, atau menyerahkan. Dan, taun yang berarti tahun. Jadi Seren Tahun bermakna serah terima tahun yang lalu ke tahun yang akan datang sebagai penggantinya.

Dalam konteks kehidupan tradisi masyarakat peladang Sunda, seren taun merupakan wahana untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala hasil pertanian yang dilaksanakan pada setiap tahunnya, seraya berharap hasil pertanian mereka akan meningkat pada tahun yang akan datang.

Lebih spesifik lagi, upacara seren taun merupakan acara penyerahan hasil bumi berupa padi yang dihasilkan dalam kurun waktu satu tahun untuk disimpan ke dalam lumbung atau dalam bahasa Sunda disebut leuit.

Ada dua leuit; yaitu lumbung utama yang bisa disebut leuit sijimatleuit ratna inten, atau leuit indung (lumbung utama); serta leuit pangiring atau leuit leutik (lumbung kecil). Leuit indung digunakan sebagai sebagai tempat menyimpan padi ibu yang ditutupi kain putih dan pare bapak yang ditutupi kain hitam. Padi di kedua leuit itu untuk dijadikan bibit atau benih pada musim tanam yang akan datang. Leuit pangiring menjadi tempat menyimpan padi yang tidak tertampung di leuit indung.

Menurut catatan sejarah dan tradisi lokal, perayaan Seren Taun sudah turun-temurun dilakukan sejak zaman Kerajaan Sunda purba. Seperti kerajaan Pajajaran. Upacara ini berawal dari pemuliaan terhadap Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dalam kepercayaan Sunda kuno. Sistem kepercayaan masyarakat Sunda kuno dipengaruhi warisan kebudayaan masyarakat asli Nusantara. Yaitu, animisme-dinamisme pemulian arwah karuhun (nenek moyang) dan kekuatan alam, serta dipengaruhi ajaran bercorak Hindu.

Masyarakat agraris Sunda kuno memuliakan kekuatan alam yang memberikan kesuburan tanaman dan ternak. Kekuatan alam ini diwujudkan sebagai Nyi Pohaci Sanghyang Asri, dewi padi dan kesuburan. Pasangannya adalah Kuwera, dewa kemakmuran. Keduanya diwujudkan dalam Pare Abah (Padi Ayah) dan Pare Ambu (Padi Ibu). Melambangkan persatuan laki-laki dan perempuan sebagai simbol kesuburan dan kebahagiaan keluarga.

Upacara-upacara di Kerajaan Pajajaran ada yang bersifat tahunan dan delapan tahunan. Upacara yang bersifat tahunan disebut Seren Taun Guru Bumi yang dilaksanakan di Pakuan Pajajaran dan di tiap wilayah. Upacara besar yang bersifat delapan tahunan sekali atau sewindu disebut upacara Seren Taun Tutug Galur atau lazim disebut upacara Kuwera Bakti yang dilaksanakan khusus di Pakuan.

Kegiatan Seren Taun sudah berlangsung pada masa Pajajaran dan berhenti ketika Pajajaran runtuh. Empat windu kemudian upacara itu hidup lagi di Sindang Barang, Kuta Batu, dan Cipakancilan.

Namun akhirnya berhenti benar pada 1970-an. Setelah kegiatan ini berhenti selama 36 tahun, Seren Taun dihidupkan kembali sejak tahun 2006 di Desa Adat Sindang Barang, Pasir Eurih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor. Upacara ini disebut upacara Seren Taun Guru Bumi sebagai upaya membangkitkan jati diri budaya masyarakat Sunda.

Di Cigugur, Kuningan, upacara seren taun yang diselenggarakan tiap tanggal 22 Rayagung-bulan terakhir pada sistem penanggalan Sunda, sebagaimana biasa, dipusatkan di pendopo Paseban Tri Panca Tunggal, kediaman Pangeran Djatikusumah, yang didirikan tahun 1840. Sebagaimana layaknya sesembahan musim panen, ornamen gabah serta hasil bumi mendominasi rangkaian acara.

Pada lingkungan masyarakat pemeluk kepercayaan Sunda Wiwitan juga tetap menjalankan upacara Seren Taun. Seperti masyarakat Kanekes, Kasepuhan Banten Kidul, dan Cigugur.

Kini setelah kebanyakan masyarakat Sunda memeluk agama Islam, di beberapa desa adat Sunda seperti Sindang Barang, ritual Seren Taun tetap digelar dengan doa-doa Islam.

Seperti di Desa Purwabakti Kecamatan Pamijahan, Bogor, Seren Taun juga kembali menjadi acara rutin yang dilaksanakan setiap tahun. Terhitung sejak tahun 2013.

Upacara Seren Taun bukan sekadar tontonan, melainkan juga tuntutan tentang bagaimana manusia senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Terlebih, di kala menghadapi suasana suka-cita ketika masa panen.

Rangkaian Ritual Upacara Seren Taun

Rangkaian ritual upacara Seren Taun berbeda-beda dan beraneka ragam dari satu desa ke desa lainnya. Akan tetapi, intinya adalah prosesi penyerahan padi hasil panen dari masyarakat kepada ketua adat.

Padi ini kemudian akan dimasukkan ke dalam leuit (lumbung) utama dan lumbung-lumbung pendamping. Pemimpin adat kemudian memberikan indung pare (induk padi/bibit padi) yang sudah diberkati dan dianggap bertuah kepada para pemimpin desa untuk ditanan pada musim tanam berikutnya.

Di beberapa desa adat upacara biasanya diawali dengan mengambil air suci dari beberapa sumber air yang dikeramatkan. Biasanya air yang diambil berasal dari tujuh mata air yang kemudian disatukan dalam satu wadah dan didoakan dan dianggap bertuah dan membawa berkah. Air ini dicipratkan kepada setiap orang yang hadir di upacara untuk membawa berkah. Ritual berikutnya adalah sedekah kue, warga yang hadir berebut mengambil kue di dongdang (pikulan) atau tampah yang dipercaya kue itu memberi berkah yang berlimpah bagi yang mendapatkannya. Kemudian ritual penyembelihan kerbau yang dagingnya kemudian dibagikan kepada warga yang tidak mampu dan makan tumpeng bersama. Malamnya diisi dengan pertunjukan wayang golek.

Puncak acara seren taun biasanya dibuka sejak pukul 08.00, diawali prosesi ngajayak (menyambut atau menjemput padi), lalu diteruskan dengan tiga pergelaran kolosal, yakni tari buyung,angklung baduy, dan angklung buncis-dimainkan berbagai pemeluk agama dan kepercayaan yang hidup di Cigugur.

Rangkaian acara bermakna syukur kepada Tuhan itu dikukuhkan pula melalui pembacaan doa yang disampaikan secara bergantian oleh tokoh-tokoh agama yang ada di Indonesia.

Selanjutnya, dilaksanakan kegiatan akhir dari Ngajayak, yaitu penyerahan padi hasil panen dari para tokoh kepada masyarakat untuk kemudian ditumbuk bersama-sama. Ribuan orang yang hadir pun akhirnya terlibat dalam kegiatan ini, mengikuti jejak para pemimpin, tokoh masyarakat, maupun rohaniwan yang terlebih dahulu dipersilakan menumbuk padi. Puluhan orang lainnya berebut gabah dari saung bertajuk Pwah Aci Sanghyang Asri (Pohaci Sanghyang Asri).


loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here