TEMANGGUNG – Semilir angin sepoi-sepoi mengiringi langkah ratusan warga yang tinggal di ketinggian lempeng Gunung Sumbing, Dusun Tanggulangin, Desa Tanggulanom, Kecamatan Selopampang, Kabupaten Temanggung, yang hendak menggelar ritual nyadran.

Prosesi itu dimulai bersamaan dengan terbitnya matahari, di mana warga berjalan berarak dari perkampungan menuju pepunden Kiai dan Nyai Tanggul. Warga mengusung tenong berisi berbagai macam uba rampe seperti ingkung ayam dan jajan pasar.

Kiai Tanggul dipercaya merupakan cikal bakal desa yang dulu mbubak alas untuk permukiman. Barisan paling depan adalah gunungan besar berisi tumpeng nasi kuning, hasil bumi, uang kertas, dan daun tembakau.

Gunungan yang disebut Tumpeng Agung itu sebelum di bawa ke pepunden, terlebih dahulu diarak mengelilingi desa. Gunungan merupakan simbol perwujudan rasa syukur masyarakat akan karunia Tuhan Yang Maha Esa, akan berlimpahnya hasil bumi, terutama komoditas pertanian berupa tembakau.

Setelah itu gunungan pun di letakkan dan masyarakat duduk berderet dari pinggir permukiman hingga sekitar pepunden. Dipimpin pemuka agama, lantunan doa-doa Islami pun dipanjatkan. Tak berapa lama isi dari gunungan itu diperebutkan warga.

Kepala Dusun Tanggulangin, Mujiyono (57) menjelaskan, ritual sadranan yang berlangsung di area makam pepunden atau leluhur ini merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun menjelang datangnya bulan Ramadan, atau tepatnya pada pertengahan bulan Ruwah dalam kalender masyarakat Jawa.

“Sadranan ini diikuti oleh seluruh warga.

Acara utamanya dilakukan di sekitar makam Eyang Kyai dan Nyai Tanggul. Mereka mengirimkan doa kepada para leluhur yang pertama kali membuka pemukiman di desa ini,”ujarnya.

Selain mengirim doa kepada arwah leluhur, prosesi ini juga memiliki beberapa tujuan penting. Antara lain membersihkan hati dan jiwa masyarakat menjelang datangnya bulan Ramadan. Kemudian momentum berdoa bersama agar hasil panen dan kehidupan masyarakat di tahun mendatang jauh lebih baik.

Puncak acara semua warga tanpa terkecuali melakukan kembul bujana atau makan bersama masakan yang telah mereka bawa dari rumah. Tak jarang mereka bertukar makanan, sebagai wujud kebersamaan dan kerukunan hidup bermasyarakat.(Arintoko)

loading...