Connect with us

Seni Tari

Kehangatan yang Ditampilkan Tari Sekapur Sirih Khas Jambi

Published

on

Jambi merupakan salah satu propinsi di Indonesia. Memiliki banyak warisan budaya yang menarik untuk diulas, salah satunya ialah kesenian tarinya. Salah satu tarian tradisonal Jambi yang cukup populer ialah Tari Sekapur Sirih.

Tari Sekapur Sirih sendiri merupakan tarian yang kerap digunakan untuk menyambut tamu kehormatan yang datang ke Jambi.

Tarian ini diartikan sebagai sikap saling terbuka dari masyarakat daerah Jambi dalam memberi sambutan dan menerima tamu yang datang ke wilayahnya.

Tak hanya itu saja, melalui tarian tradisional ini dapat terlihat jika perasaan bahagia serta rasa syukur ketika menyambut para tamu itu selalu tampak.

Hal ini membuat tarian khas Jambi ini kerap digunakan daerah-daerah lainnya untuk menyambut para tamu kehormatan yang datang ke wilayanya.

Ingin lebih jelas mengenal tentang tarian khas Jambi ini? Simak ulasan berikut selengkapnya.

Baca artikel kebudayaan lainnnya juga;

Fungsi Tarian Sekapur Sirih dan Asal Usulnya

Tarian Sekapur Sirih ini diciptakan oleh seorang seniman kelahiran Jambi yang sangat populer di masanya bernama Firdaus Chatap.

Di tahun 1962, seniman tersebut memperkenalkan tarian ini ke khalayak luas, khususnya di wilayah Jambi. Diawal kemunculannya tarian ini memiliki gerakan dan alunan musik pengiring yang masih dasar.

Seiring waktu berjalan, banyak seniman lain yang tertarik dengan keunikan Tari Sekapur Sirih yang kemudian ikut mengembangkan gerakannya. Serta memberi sentuhan tambahan musik pengiring hingga jadilah Tari Sekapur Sirih yang menarik seperti sekarang ini.

Tarian khas Jambi ini sendiri diciptakan sebagai tarian untuk penyambutan tamu yang datang.

Sebagai bentuk kebahagiaan dan rasa syukur atas kedatangan sang tamu ke daerahnya.

Mulanya tarian ini hanya banyak dipentaskan  di wilayah Jambi dan sekitarnya. Tapi seiring kepopulerannya yang makin meningkat, Tari Sekapur Sirih kini banyak menyebar ke daerah lain dan digunakan sebagai tarian persembahan untuk menyambut tamu-tamu kehormatan.

Tari Sekapur Sirih Jambi

Pertunjukan Tarian Sekapur Sirih

Sama seperti tarian tradisional yang ada di Indonesia pada umumnya, Tari Sekapur Sirih juga memiliki banyak komponen pendukung dalam pagelaran tariannya. Mulai dari penari hingga kostum sang penari dan yang lainnya. Berikut komponen dalam pertunjukan tarian Sekapur Sirih, diantaranya.

# Penari

Tarian Sekapur Sirih ini mulanya hanya ditarikan oleh penari perempuan dengan karakter tarian yang elegan dan luwes. Namun kadang agar menambah kemeriahan tarian, penari laki-laki pun ditambahkan dalam formasi tarian tersebut sebagai penari pendukung. Formasi dalam tarian Sekapur Sirih biasanya berjumlah 12 orang, penari perempuan berjumlah 9 orang sedangkan penari laki-laki berjumlah 3 orang penari.

Penari laki-laki tersebut nantinya berperan menjadi pengawal yang membawakan payung untuk para penari utamanya, yakni para penari perempuan yang berbusana cantik dengan busana adat khas Jambi. Para penari akan melenggak-lenggok menari seirama dengan lantunan musik yang ditabuh dan menciptakan pertunjukan seni tari yang memukau dan semarak. Sedang untuk pola susunan dalam barisan tarian biasanya fleksibel dan disesuaikan dengan acara maupun tempat pemantasan tarian Sekapur Sirih khas Jambi.

# Kostum para Penari

Para penari yang mementaskan tarian khas Jambi ini memakai busana adat khas Jambi yakni baju kurung serta kain songket yang menjadi salah satu kain khas Jambi. Busana tersebut membuat tarian yang dibawakan terlihat begitu cantik dan semakin meriah. Tak salah memang, karena tarian ini digunakan sebagai tari penyambutan tamu.

Selain busana yang khas, para penari juga memakai beberapa aksesoris tambahan dan hiasan kepala yang unik, seperti sanggul yang disebut lipat pandan, lalu kembang goyang dan juga sunting beringin. Sedang untuk aksesoris yang dikenakan para penari terdiri dari gelang, pending, teratai, dan juga selendang.

# Musik Pengiringan Tarian

Seperti kebanyakan tarian tradisional, Tari Sekapur Sirih pun di dalam pementasannya juga diiringi berbagai alunan musik tradisional khas Jambi. Lirik yang mengiringi tarian pun juga menggunakan bahasa daerah setempat yang memiliki makna penuh kegembiraan atas kehadiran para tamu untuk singgah.

Beberapa alat musik yang kerap digunakan dalam mengiringi tarian ini ialah gendang, gong, akordion, biola, gambus, dan juga rebana. Semua alat musik tersebut menciptakan komposisi nada yang menjadi tumpuan ketukan irama tarian yang membuatnya makin elok.

#Gerakan Tari

Gerakan dalam Tari Sekapur Sirih ini diawali dengan gerakaan melenggang oleh para penari wanita dengan gerakan luwes nan gemulai dan menuju panggung pentas utama. Lantas diikuti dengan gerakan sembah tinggi, gerakan ini memiliki makna sebagai bentuk rasa hormat pada seluruh penonton atau tamu yang hadir.

Lalu disusul gerakan selanjutnya yakni merentang kepak yang dilakukan dengan kompak oleh seluruh penari. Dilanjutkan kemudian gerakan seperti sedang bersolek yang lantas ditutup dengan gerakan memutar bersama secara serentak oleh penari. Tak lupa juga ketika menari, senyum simpul selalu menghias wajah para penari sehingga menciptakan suasanya yang makin ceria.

Atribut Pendukung Para Penari

Tak hanya tarian dan kostumnya yang menarik, pagelaran Tari Sekapur Sirih ini juga didukung beberapa atribut pendukung yang membuat tarian makin istimewa. Berikut atribut pendukung dalam tarian Sekapur Sirih.

# Cerano

Atribut pertama yang wajib ada dan sangat penting dalam Tari Sekapur Sirih ialah Cerano. Atribut ini merupakan point of view dalam pementasan tarian khas daerah Jambi tersebut. Cerano sendiri merupakan sebuah kotak yang merupakan sebuah tempat untuk meletakan kapur sirih. Para penari akan menyuguhkan cerano ini pada para tamu yang datang dan meminta para tamu tersebut untuk mencicipinya. Hal ini dinaknai secara simbol sebagai penyambutan dari penari pada para tamu yang hadir.

# Payung

Atribut selanjutnya ialah payung. Atribut tersebut dibawakan oleh para penari laki-laki yang digunakan untuk mengawal para penari perempuan saat tarian pembuka dilakukan. Para penari laki-laki sambil membawa payung akan mengawal langkah para penari perempuan dan memayungi mereka hingga ke panggung atau tempat pementasan. Setiap penari laki-laki tersebut akan melangkah perlahan sesuai gerakan para penari perempuann sambil membawa payung  memayungi langkah para penari perempuan.

# Keris

Selanjutnya ada keris, atribut ini digunakan oleh penari laki-laki sebagai pelengkap kostum tarinya. Tanpa aksesoris ini para penari laki-laki akan berkurang wibawanya dan membuatnya seolah tak lengkap.

Terbayang bagaimana gagahnya para penari laki-laki dalam mengawal para penari perempuan di tarian Sekapur Sirih. Tentu akan sangat menarik untuk disaksikan.

Demikian tadi ulasan menarik tentang keunikan Tari Sekapur Sirih yang merupakan tarian tradisional khas Jambi. Dengan begitu kita bisa lebih mengenal sisi lain dari tarian tradisional tersebut yang memiliki banyak komponen dan atribut untuk membuat tariannya makin lengkap dan semarak.

Seperti itulah tradisi masyarakat Jambi ketika menyambut tamu dan memuliakannya. Hal tersebut memiliki makna yang dalam, yakni mengajarkan untuk selalu memuliakan dan memberikan sambuan yang hangat pada setiap tamu.

Seni Tari

Keistimewaan Tari Gambyong – Jawa Tengah

Published

on

Keistimewaan Tari Gambyong – Jawa Tengah

Tari Gambyong – Jawa Tengah adalah jenis tari klasik yang digunakan dalam sebuah pertunjukan atau dalam penyambutan tamu. Tari ini biasanya hampir selalu ada dalam acara adat masyarakat Jawa. Apa saja keistimewaan Tari Gambyong, asal mula dan cara menarikan tarian ini? Berikut penjelasan singkatnya.

Apa yang Membuat Tari Gambyong Istimewa?

Ciri tari Gambyong adalah kostum tari yang dikenakan dalam pertunjukan selalu memiliki nuansa warna kuning dan hijau. Warna ini dipilih karena menunjukkan simbol kesuburan dan kemakmuran rakyat.

Tari ini menggunakan sampur dalam pertunjukannya. Sampur merupakan selendang atau tali panjang yang diikatkan di bagian perut sang penari. Penggunaan sampur ini dikaitkan dengan kelembutan yang dimiliki oleh para wanita.

Selain itu, sebelum memulai pertunjukkan tari, acara selalu dibuka dengan memainkan gendhing Pangkur. Jika Anda masyarakat Jawa, tentu sudah tidak asing dengan gendhing Pangkur ini. Irama kendang menyatu selaras dengan gerakan penari yang luwes.

Tari ini juga memiliki karakteristik yang sangat menonjolkan kerakyatan, sehingga tari ini juga masuk dalam jenis tari pergaulan masyarakat. Dalam berbagai variasi, tarian ini juga disebut dengan istilah Tari Tayub. Jenis tari ini sangat berkaitan dengan taledhek atau tledek atau ledek.

Ciri khas lain dari tari ini adalah adanya keluwesan dari penari wanita yang terkesan erotis. Penari tunggal wanita akan menarikan tarian ini dengan gerakan yang tregel dan luwes sesuai dengan irama dari iringan pola kendang yang terdengar rumit.

Kapan Tari Ini Dibuat?

Tarian ini dikenalkan oleh K.R.M.T Wreksodiningrat ke dalam pihak keraton saat masa Pakubuwana IX pada tahun 1861-1893. Saat dibawa ke dalam keraton, tarian ini dimainkan oleh para pesinden atau penari waranggana.

Setelah mengetahui tarian ini, pihak dari keraton Mangkunegaran membuat jenis baru dari modifikasi tarian ini. Jenis tari Gambyong yang baru pun tercipta dengan nama tari Gambyong Pareanom. Jenis baru ini dibawakan pada tahun 1950 oleh Nyi Bei Mintoraras.

Perkembangan tari Gambyong terus berlanjut sejak tari ini ditetapkan sebagai tari penyambutan tamu di daerah Jawa Tengah. Saat itu Gubernur Jawa Tengah, H.Ismail, menetapkan tari ini sebagai adat untuk menyambut tamu.

Sejak saat itu, tari Gambyong terus berkembang dan memiliki berbagai ragam modifikasi seperti tari Gambyong Mudhatama, Gambyong Dewandaru, Gambyong Campursari, Gambyong Ayun-ayun, Gambyong Pangkur dan Gambyong Gambirsawit.

Baca juga: 10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Dari Mana Tari Gambyong Berasal ?

Tari Gambyong berasal dari Provinsi Jawa Tengah tepatnya di daerah Surakarta. Tarian ini hidup dalam kehidupan masyarakat Jawa Tengah yang luwes menghadapi berbagai macam tuntutan kehidupan. Tari ini juga menjadi salah satu bukti betapa kaya masyarakat Jawa akan adat budaya.

Berapa Jumlah Penari Tari Gambyong?

Tari Gambyong adalah tarian yang awalnya dipertunjukkan dalam upacara ritual pertanian masyarakat Jawa Tengah. Namun, seiring perkembangannya tarian ini digunakan sebagai upacara penyambutan tamu dan memeriahkan pesta pernikahan masyarakat Jawa.

Pada awalnya, tarian ini hanya dimainkan oleh satu orang penari perempuan. Lalu tarian ini dimainkan sekitar 3 sampai 5 orang dalam pertunjukkan. Menurut kepercayaan, tarian ini harus dimainkan oleh penari dengan jumlah yang ganjil. Seiring berjalannya waktu, jumlah penari disesuaikan dengan kebutuhan. Tidak hanya berpusat pada 3 atau 5 orang, tapi jumlahnya lebih banyak.

Bagaimana Tari Gambyong Dipertunjukkan?

Mengawali tarian ini, dimainkan musik pengiring yang menggunakan kendang. Biasanya yang dimainkan sebelum tarian ini dimulai adalah gendhing Pangkur. Musik pengiring tarian ini merupakan inspirasi dari gendhing Tayub khas dari daerah Blora, Jawa Tengah.

Musik pengiring ini biasanya dimainkan oleh 8 orang laki-laki. Alat musik yang digunakan pun tidak sembarangan, hanya alat musik tertentu yang bisa dijadikan pengiring. Diantaranya dalah gong, kendang, peking, kenong, kempul, simbal, drum dan saron.

Musik pengiring ini digunakan untuk mengiringi nyanyian yang biasanya dinyanyikan oleh sinden yang eksotik. Nyanyian yang didendangkan pun harus menggunakan bahasa Jawa. Lirik bahasa Jawa dipilih untuk iringan tarian ini karena masyarakat akan lebih mudah menerima pesan yang disampaikan jika menggunakan bahasa daerah sehari-hari.

Tarian ini memiliki 3 gerakan bagian, yaitu bagian awal, bagian isi dan bagian akhir. Dalam istilah tari Jawa, gerakan ini biasa disebut dengan maju beksan, beksan serta mundur beksan.

Pusat gerakan tarian ini berada pada kaki, lengan, badan dan kepala. Gerakan tangan dan kepala yang selaras serasi dengan irama musik pengiring, merupakan pola yang utama dalam gerakan tari ini.

Pandangan mata harus mengikuti setiap gerakan tangan atau jari-jari tangan yang meliuk-liuk dengan luwes. Selain itu, gerakan kaki juga terlihat nampak lembut dipadukan dengan irama yang menghanyutkan.

Demikian uraian singkat mengenai tari Gambyong. Tari Gambyong adalah salah satu budaya daerah yang memiliki nilai estetika yang tinggi. Tarian ini harus selalu terjaga karena termasuk dalam budaya daerah serta kekayaan bangsa yang harus dilestarikan. Jadi, tidak ada salahnya bagi Anda untuk mempelajari kekayaan budaya ini.

Continue Reading

Seni Tari

Tari Pendet – Bali, Ciri khas dan nuansa sakralnya

Published

on

Tari Pendet adalah tari yang asli berasal dari Bali. Mulai ada sejak tahun 1950 an, ada asal mula mengapa tari yang seharusnya menjadi sesembahan sakral pada upacara religi ini menjadi tari selamat datang. Simak hal-hal menarik tentang tari Pendet berikut.

Apa Saja Properti yang Digunakan Pada Pementasan Tari Pendet?

Hanya ada satu properti yang digunakan pada tari Pendet. Namanya adalah Bokor, Bokor ini berupa nampan kecil yang pinggirannya telah dihias dengan janur. Tak hanya dihias pinggirannya saja, di dalam Bokor juga diberi berbagai macam bunga. Bokor ini harus selalu dibawa selama tari Pendet ditarikan.

Untuk kostum, ada beberapa bagian pakaian sekaligus yang digunakan oleh penari tari Pendet. Diantaranya ada kemben prade, tapih, sabuk prade, stagen, serta selendang. Selendangnya diletakkan di pundak penari.

Sedangkan untuk bagian rambutnya, akan diikat pusung gonjer dan dihias beberapa bunga sekaligus. Bunga-bunga yang digunakan antara lain bunga cempaka, bunga mawar, bunga jepun, dan bunga kamboja.

Selain kostum dan hiasan bunga pada rambut, para penari tari Pendet juga menggunakan aksesoris seperti anting-anting, kalung, dan gelang yang khas. Kemudian para penari tari Pendet juga dirias dengan make up yang sangat mempertegas garis muka. Selain supaya garis mukanya terlihat lebih jelas, mereka juga menggunakan subeng.

Bagaimana Sejarah Tari Ini?

Source: flickr.com

Tari Pendet adalah tari yang tadinya hanya dilakukan pada saat pemujaan saja, tepatnya di tempat beribadah umat Hindu di Indonesia (Pura). Sebab, tari ini memang tadinya bertujuan untuk melakukan penyembahan kepada dewata yang sedang turun ke alam dunia. Namun demikian, seiring berkembanhnya waktu tari ini beralih fungsi sebagai tari penyambutan tamu. 

Pendet sendiri diartikan sebagai persembahan yang mana bentuknya sebuah tarian. Karena hal ini, tari Pendet bukanlah tapi dengan gerakan yang perlu dikuasai dengan latihan intensif. Bisa dikatakan gerakan pada tari ini hanyalah mengikuti gerakan.

Gadis-gadis muda yang menafikan tari ini mengikuti gerakan dari wanita yang lebih tua, yang mana lebih senior dan bisa menjadi contoh yang baik. Tari Pendet yang ditarikan oleh putri biasanya dipentaskan setelah tari Rejang di halaman pura.

Tari ini memiliki gerakan lebih dinamis dibandingkan dengan tari Rejang. Tari ini ditarikan dengan menghadap ke arah suci dan penontonnya menggunakan pakaian upacara masing-masing. Penari juga menggunakan kostum khusus dan beberapa properti yang telah disebutkan di atas.

Di Mana Asal Tari Pendet?

Tari Pendet berasal dari Bali, Indonesia. Pernah ada kontroversi terkait ditunjukkannya tari ini dalam media televisi yang mana telah membekaskan sentimen Anti-Malaysia sejak kejadian tersebut. Pada tahun 2009 lalu, salah satu channel televisi bernama Discovery Channel Singapura mempertontonkan tari Pendet.

Negara Malaysia mengaku tidak bertanggung jawab atas kejadian tersebut karena iklan tersebut bukan dari negaranya.  Kemudian Singapura telah mengirimkan surat baik ke Malaysia dan ke Indonesia.

Surat yang berisi pengakuan tanggung jawab penuh atas penayangan iklan yang berisi tari Pendet, tari yang berasal dari Indonesia. Sejak penayangan iklan ini pula muncul sentimen Anti-Malaysia yang masih terasa hingga sekarang.

Kapan Tari Ini Ditarikan?

Ciri khas tari Pendet adalah waktu dipentaskannya. Di atas telah disebutkan bahwa tari Pendet tadinya dipertunjukkan pada upacara sakral, namun sekarang ini juga sering dipertunjukkan pada penyambutan.

Acara-acara yang membutuhkan penyambutan di Bali sudah biasa dipentaskan pula tarian ini. Contohnya pada acara Asian Games yang diadakan di Jakarta beberapa tahun lalu, di acara yang mengundang banyak tamu dari luar negeri itu telah dipentaskan tari Pendet.

Siapa Pembuat Tari Ini?

Pembuat atau koreografer dari tari Pendet adalah I wayan Rindi. Tari Pendet ini tadinya dibuat untuk upacara sakral yang mengandung religius tinggi. Seiring berkembangnya waktu, seniman-seniman tari di Bali menjadi tari Pendet inj sebagai tari penyambut atau tari ‘selamat datang’. Oleh para seniman tari di Bali, disetujui bahwa tahun 1950 adalah tahun lahirnya tari Pendet. 

Berapa Jumlah Penarinya?

Jumlah penari tari Pendet adalah lima orang aslinya, yang mana berasal dari apa yang dikembangkan oleh I Wayan Beratha pada tahun 1961 lalu. Tadinya tari Pendet ini ditarikan hanya empat orang, namun sejak tahun 1961 itu I Wayan Beratha menambahkan satu orang sehingga menjadi lima orang.

Meski begitu, tari Pendet ini tetap bisa ditarikan oleh lebih dari lima orang. Contohnya pada Asian Games yang pernah bertempat di Indonesia. Saat itu dipentaskan tari Pendet dengan sekitar 800 penari. 

Meskipun pernah ada kontroversi antara Indonesia dengan Malaysia tentang tari Pendet – Bali ini. Namun authentic nya tari ini tidak akan pudar. Anda juga bisa menonton pementasan tari ini ketika ada acara-acara yang membutuhkan penyambutan. 

Continue Reading

Seni Tari

Tari Remong Jawa Timur dan ciri khasnya

Published

on

Salah satu tari yang biasa dipentaskan di festival kesenian daerah adalah tari Remong Jawa Timur. Tari ini memiliki unsur cerita kepahlawanan dan memiliki ciri khas yang unik. Kenal lebih dalam tari Remong dengan bahasan berikut.

Baca juga: 10 Kesenian Tari Tradisional Indonesia

Apakah Cerita yang Disampaikan Pada Tari Remong?

Asal mula tari Remong tak bisa dilepaskan dari penari jalanan yang ada di Jombang dahulu kala. Ya, memang sebelum zaman modern sekarang ini di Jombang terkenal ada banyak penari jalanan. Tari Remong dibuat oleh salah satu penari jalanan di Jonbang dengan cerita di dalamnya.

Cerita dari tari Remong ini adalah tentang pangeran yang sedang berada di medan perang. Tak dijelaskan secara pasti apa saja yang dilakukan pangeran tersebut di medan perang, namun ada fokus utama dari ditunjukkannya tari ini.

Tari ini menunjukkan sisi maskulinitas seorang laki laki yang mana diperagakan sedang berada di dalam medan pertempuran. Dengan demikian, jelas bisa disimpulkan bahwa tari ini hanya bisa ditarikan oleh seorang laki-laki saja. 

Namun seiring berkembangnya waktu, ada perubahan yang terjadi pada tarian ini. Baik itu soal penarinya maupun fungsinya. Tadinya tari Remong ini berfungsi untuk mengiringi pertunjukkan Ludruk. Hal ini telah tercatat dalam sejarah tari Remong yang terpercaya. Untuk sekarang ini, memang tari Remong masih digunakan untuk pengiring Ludruk, namun ada hal lainnya yang membuat tari ini juga dipentaskan.

Di Mana Tari Ini Berasal?

Tari Remong berasal dari daerah Jombang, Provinsi Jawa Timur. Lebih tepatnya lagi tari ini berasal dari desa di Jombang yang bernama Desa Ceweng, di Kecamatan Diwek, Jombang.

Festival kesenian daerah, sambutan tamu dari luar Jombang atau luar Jawa Timur, sambutan kenegaraan, dan event-event penting lainnya kerap kali membutuhkan pementasan tari Remong. Seiring berkembangnya waktu pula, tari Remong yang tadinya hanya ditarikan oleh laki-laki kini tak lagi sedemikian rupa.

Kapan Tari Ini Dipentaskan?

Seperti yang telah dibahas pada poin sebelumnya, yang mana menjelaskan bahwa tari Remong telah beralih fungsi tanpa meninggalkan fungsi lamanya. Tari Remong hingga saat ini tetap digunakan sebagai iringan dalam pertunjukkan Ludruk. Namun, tari Remong juga biasa dipentaskan ketika festival kesenian daerah, pertunjukkan, penyambutan tamu daerah dan kenegaraan, dan lain-lain.

Berapa Jumlah Penari Tari Remong?

Tari Remong sebenarnya biasa ditarikan oleh satu orang penari saja. Namun boleh-boleh saja jika ditarikan lebih dari satu orang.

Tari Remong saat ini dianggap lebih garang apabila ditarikan oleh perempuan. Ini mengapa muncullah tari Remong Putri. Tari Remong Putri ini juga biasa disebut sebagai tari Remong gaya perempuan atau tari Remong gaya banci.

Meski kini penari tari Remong sudah beralih gender, namun tetap ada perbedaan yang menyertainya. Kostum yang dipakai penari perempuan tari Remong berbeda dengan kostum penari tari Remong laki-laki.

Baca juga seni tari berikut ini:

Siapa Penemu Tari Remong?

Tari Remong Jombangan dibuat oleh Ali Markasa, sedangkan tari Remong Boletan diciptakan oleh Mbah Bolet Sastra Amenan.

Tari Remong adalah tari yang bernuansa kepahlawanan, sebab cerita yang dipertunjukkan dari tari ini adalah seorang pangeran yang sedang berjuang dalam medan pertempuran. Sedangkan untuk jenis, tari Remong termasuk dalam jenis tari laki-laki gagah. 

Bagaimana Tari Ini Dipentaskan?

Bisa dikatakan ciri tari Remong terletak pada gerakan kaki yang dinamis, gerakkan kaki menjadi fokus utamanya. Dalam serangkaian gerakannya, tari ini lebih banyak menggerakkan kaki seperti hentakkan atau loncatan.

 Gerakan kaki rancak dan dinamis semakin didukung saja dengan kostum yang digunakan, yaitu sebuah gelang dengan lonceng-lonceng di kaki penari. Dengan demikian, saat penari menghentakkan kakinya maka akan terdengar bunyi-bunyi lonceng. 

Tak hanya kaki saja, tari ini juga akan membuat penonton tercuri perhatiannya pada sampur penari. Sebab penari juga akan memainkan sampur (selendang) yang dipakainya. Ekspresi wajah, kuda-kuda, dan anggukan kepala juga ditonjolkan pada tarian ini sehingga membuat tari ini semakin atraktif ketika dipentaskan. 

Ada beberapa gaya busana dalam pementasan tari Remong. Diantaranya ada busana Remong putri, busana gaya Jombangan, busana gaya Malangan, busana gaya Sawunggaling, dan busana gaya Surabayan. Masing-masing gaya busana ini menjadikan kostum yang dipakai penari sedikit berbeda satu sama lain. 

Busana untuk Remong putri, penarinya akan menggunakan satu sampur atau selendang yang diletakkan di bahu. Selain itu, juga memakai sanggul, kain rapak yang akan menutupi pinggang sampai lutut, dan ditambah lagi kain berwarna hitam yang menutupi dada. Sedangkan pada busana Jombangan, penari laki-laki akan menggunakan rompi. Serta pada busana Sawunggaling penarinya menggunakan kaos.

Tari Remong – Jawa Timur memang dikenal sebagai hiburan serta budaya yang masih sangat kental di daerah Jombang. Hingga saat ini muncul kreasi-kreasi baru pada tari ini, tanpa harus meninggalkan kekhasan yang dimiliki tari ini.

Continue Reading

Trending