Puisi: Adi Mochtar

0
356

CERMIN

hujan lebat tadi, Magrib pun basah
listrik padam, cuma dua pelita terangi senda
mereka lucu, pelita hati belahan jiwa
dingin sejak tadi, bahkan ajak kantukku merajut mimpi
padahal Isya baru saja berlalu
tapi usia kian beranjak
hm….. kenangku
kini mereka telah lama mati
terkubur masa yang bosan merampung titah betitah
dikubur masa hidup dan matinya
sungguh sia-sia
bertahun berlalu memang tak terungkit lagi jati diri
masa sungguh telah melupakan
masa telah meleburnya dengan kancah peradaban
bahkan karakter bernilai tidak lagi keharusan
padahal pikiranya melampaui jaman
lantas, apa yang masih bisa diharap
pena tak setajam dulu
rambut pun telah memutih
raga kian letih
sakit segampang datangnya semahal perginya
kantuk kian jadi
menari di pelupuk mata
raga kian letih
jiwa kian pasrah
sungguh tak banyak yang bisa diharap
sebab negeri ini tidak mampu menghargai

JATUH

hari gerah bidang pengap

tumben mentari melalak girang

tersungging tawakan secercah kasmaran

“amboi, rupanya kau haus juga”

tersentak, bibirnya ranum terkatup

lentik jemari menyangga dadu melitik sudut yang memar

“hauskan dia”

amboi sicentil bertanya hati kecut tqak karuan

mata bening pendam sejuta angan

jerit tertahan gerangan kubalut luka

masihkan percaya dari kejatuhan

amboi, berat kubalik tapak tangan

berat senyum menabur benih

untuk menyambut salam yang hangat

kembalilah! kembalilah!

pulang! pulanglah!

jangan tinggalkan daku

mata bening memar di mata

mata bening memar di hati

tak ada sicentil senyumlah lagi

tak ada ranum bibirnya lagi

tak ada kerling binarnya lagi

B U M

pelabuhan tak lagi berfungsi

‘bum’ menyebutnya

tempat bersandar kapal besi

besar sekali, tongkang pun kecil bila dibanding

bila kapal besi tiba dari berlayar

kami pun teriak:

minta’ canting

minta’ canting

mintak canting

tapi aku tak pernah diberi

bahkan aku takut melihatnya

sebab ia besar sekali

teriakannya pun nyaring

siang itu derasnya pasang

kami telanjang mengayuh ke ‘bum’

lewati gerattak batu menakutkan

sungguh usianya lebih tua darimu

lebarnya cukup dua oto lewat

mungkin seratus meter panjangnya

satukan seberang kampungku

ADI MOCHTAR, nama pena dari Asmayadi kelahiran 10 November 1968, di Dusun Tumok, Sambas. Karya-karyanya telah dipublikasikan di beberapa media lokal maupun nasional. Beberapa diantaranya juga terangkum dalam Antologi Puisi bersama JEPIN KAPUAS RINDU PUISI (DKKB, 2000), TALI RASA TIGA URAT (Sanggar KIPRAH FKIP UNTAN), PENYAIR KOTA HANTU BICARA TENTANG TUHAN DAN KEADILAN (Sanggar KIPRAH FKIP UNTAN, 1994), ANUGERAH KHATULISTIWA (Literer Khatulistiwa, 2011). Pernah menjdi Ketua Sanggar KIPRAH FKIP (1988-1989). Saat ini mengabdi sebagai guru dan Kepala TU di SMP Mujahidin Pontianak. Alamat sekarang, Jalan Sungai Raya Dalam, Kompleks Korpri Blok T/389, Kab. Kubu Raya, Kalimantan Barat.