Ratu Ayu dan Puisi-Puisinya

karakter puisinya selalu mengikuti ‘mood’ dari seorang wanita yang selalu berubah-ubah.

0
803
Ratu Ayu Neni Saputra

Sebuah puisi yang dilepas begitu saja di media sosial, yang digoreskan seorang wanita yang saya kenal beberapa tahun lalu. Dari beberapa puisinya, mengalami perubahan warna begitu dinamis seiring dengan perjalanan waktu.

Sebagai pribadi, saya selalu menebak-nebak dengan satu kesimpulan pasti. Warna dan karakter puisinya selalu mengikuti ‘mood’ dari seorang wanita yang selalu berubah-ubah. Terpengaruh oleh alam sekelilingnya. Terpengaruh oleh suasana hatinya.

Namun karena itu pula lah pusisinya selalu penuh warna baru. Ia menciptakan mata rantai puisi yang dinamis. Goresan katanya, melompat dan menari mengiringi gerak langkah si penciptanya. Kadang penuh emosi, kadang bersilmut sedih, kadang membara, kadang kocak, dan terus berubah begitu.

Di kalangan teman-teman penulisnya, ia di panggil Ratu Ayu. Sebelum itu, ia juga memperkenalkan dirinya bernama Neni Saputra.

Kenapa ada kata “Saputra”, padahal jika dia wanita, seharusnya Saputri atau minimal Neni Putri. Untuk itu, kembali secara pribadi saya lupa dan tak berencana untuk menanyakannya. Saya lebih asik dengan puisi-puisi Sang ibu rumah tangga yang tinggal di Kota Cirebon – Jawa Barat itu.

Jika anda tertarik dengan puisi atau sekedar mempertanyakan kasus “SAPUTRA” itu, mungkin bisa menyambangi langsung akun facebooknya; Ratu Ayu (Neni Saputra).

Berikut adalah puisi yang saya katakan pada paragraf awal tadi. Cobalah untuk ikut menebak kondisi hatinya saat ia menulis puisi ini. Dan kita tunggu puisi selanjutnya, dan kemudian menebak lagi, menebak lagi, begitulah seterusnya.

puisi ratu ayu neni saputra

RAHIM PUISI

Lembut senyummu membentuk pelangi dimataku

Untaian kata mengasah seluruh kata

Kalimat demi kalimat kau lahirkan sepenuh jiwa

Membuatku selalu dahaga keindahan yg kau ciptakan

Hingga airketuban ku reguk dari rahim puisimu

Agar terbasahi seluruh nalar dan logikaku

Rindumu membuatku candu

Memijar cahaya purnama

Sementara aku hanya memandang

Tanpa dapat menjamah sempurna

 

CPH, 2011
Dari kumpulan puisi perempuan
Ratu Ayu

loading...