Hadiri Sidang Tanwir di Bengkulu, Jokowi Jawab Soal Isu Hoak

0
220
Jokowi Buka Sidang Tanwir Muhammadiyah di Bengkulu

Bengkulu, GC – Jumat (15/2/2019) sekitar pukul 08.30 pagi, presiden Jokowi tiba di Bengkulu. Kedatangan presiden Joko Widodo (Jokowi) kali ini bertujuan menghadiri sekaligus membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Sidang Tanwir Muhammadiyah ke-51 tahun yang dilaksanakan pada tanggal 15 hingga 17 Februari 2019.

Sidang Tanwir Muhammadiyah ke-51 tahun 2019 yang bertemakan beragama yang mencerahkan tersebut, berlangsung di Balai Raya Semarak Bengkulu dan dihadiri 140 utusan muhammadiyah serta ribuan undangan.

Dalam sambutannya, Presiden menyebutkan selama empat setengah tahun masa pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla, pembangunan infrastruktur merupakan salah satu program yang gencar dilaksanakan.

Pembangunan infrastruktur itu, kata Jokowi, dianggap akan meningkatkan konektivitas dan merangsang daya saing antar daerah di seluruh Indonesia. Program ini bagian dari implementasi mewujudkan keadilan bagi seluruh rakyat indonesia.

“Kita harus gencar melakukan pembangunan infrastruktur. Bagai mana kita dapat bersaing jika infrastruktur kita masih seperti ini. Kenapa kita melakukan pembangunan trans di papua, karena inilah bentuk keadilan masyarakat indonesia. Perlu kita ketahui, Papua itu merupakan bagian dari Negara indonesia,”jelas Jokowi.

Presiden Jokowi Jawab Isu Soal Antek Asing, PKI, dan Kriminalisasi Ulama

Selain itu, Jokowi pun menjawab isu-isu miring yang sering menerpanya. Seperti, isu masalah PKI, antek asing, dan kriminalisasi ulama. “Ini saya menjawab, bukan marah ya, mohon maaf lho,” ujarnya.

Soal antek asing, Presiden Jokowi mempertanyakan antek asing yang mana? Ia menjelaskan, justru dibawah pemerintahan yang dipimpinnya telah mengambil alih 100 persen Blok Mahakam yang sebelumnya dikelola oleh Total & Inpec (perusahaan Jepang dan Perancis), dan diserahkan penuh kepada Pertamina.

“Mereka mengatakan Presiden jokowi itu antek asing, Saya pikir antek asing yang mana. Justru di bawah kepemimpinan saya, pemerintah mengambil alih 100 persen Blok Mahakam dan langsung diserahkan ke pertamina,”cetus Jokowi.

Masa Kepemimpinan Jokowi, 51,2% Freeport Diambil Alih BUMN Indonesia

Demikian juga dengan Blok Rokan yang sudah 90 tahun lebih dikelola perusahaan Amerika Serikat (AS) Chevron. Pada tahun 2018 masa kepemimpinan Jokowi, juga sudah dikelola 100 persen oleh Pertamina. Bahkan Freeport sejak akhir 2018 lalu, saham mayoritasnya (51,2 persen) juga sudah diambil alih oleh BUMN Indonesia, PT Inalum dari Freeport McMoran.

“Tidak ada yang namanya isu antek asing-antek asing. Tapi dalam 4,5 tahun ini isu yang berkembang justru antek asing, Presiden Jokowi itu antek asing, antek asing-antek asing,” keluh Presiden.

Presiden Jokowi mengingatkan, sangat tidak mudah mengambil alih pengelolaan sumber daya alam yang sudah sejak dulu dikelola oleh perusahaan asing. Ia menunjuk contoh, mengambil Freepot misalnya ada intrik politiknya, baik nasional maupun internasional.

“Kalau mudah, kalau gampang, sekali lagi, negosiasi enggak usah sampai 4 tahun, mungkin sebulan dua bulan sudah rampung,” terang Presiden seraya menambahkan, perlu 4 (empat)  tahun negosiasi karena tarik-menarik sama kuat karena tambang Chevron itu minyaknya merupakan terbesar di Indonesia, dan Freeport itu  tambang tembaga dan emas termasuk yang terbesar di dunia.

Untungnya, lanjut Presiden, di  Blok Rokan itu deposit minyaknya masih gede. Demikian juga Freeport, tembaga dan emasnya juga masih banyak. Jadi saat diambil alih, sambung Presiden, insya Allah tidak ada ruginya.

PKI Lahir Tahun 1961, Umur Jokowi Masih 4 Tahun. Adakah PKI Balita?

Kemudian mengenai isu PKI, Presiden Jokowi menegaskan, dirinya dilahirkan pada tahun 1961, sementara PKI dibubarkan tahun 1965. Artinya, umurnya masih 4 tahun. “Ya kalau ada yang menuduh Presiden Jokowi itu PKI, berarti dulu ada PKI Balita,” ujarnya.

Saat dijawab demiikian, Presiden Jokowi mengemukakan, larinya ke yang lain, orang tuanya, bahkan kakek neneknya. Padahal, Presiden mengingatkan sangat gampang sekali, mudah sekali zaman keterbukaan seperti ini.

“Dicek saja, masjid di dekat orang tua saya, cek. Masjid di dekat kakek nenek saya, cek. Gampang sekali.  Itu di Solo. Atau utusan Pak Rektor UMS untuk ngecek. Sangat mudah sekali sekarang ini. Tidak ada yang ditutup-tutupi hal-hal seperti itu,” tegas Presiden seraya menyampaikan keprihatinannya dengan berita bohong (hoaks) di media sosial (medsos) yang memuat foto seolah dirinya sedang berada di samping DN Aidit (tokoh PKI) saat berpidato pada 1955.

“Tahun 1955, saya belum lahir. Saya belum lahir tapi kok saya sudah di dekat dia. Gambar-gambar seperti ini ribuan banyaknya. Waktu saya diberi tahu oleh anak saya, saya lihat di hanpone saya, ya kok mirip saya,” sambung Presiden.

Menurut Presiden, gambar-gambar seperti ini yang sekarang ini banyak meresahkan, banyak menyebabkan kita tidak cerah, dan isu-isu seperti ini terus digoreng menjelang bulan politik 2 bulan lagi.

JOKOWI : Negara Ini Negara Hukum, Semua Sama Dihadapan Hukum

Sementara terkait dengan isu kriminalisasi ulama, Presiden Jokowi menegaskan, negara kita ini negara hukum, semuanya sama di hadapan hukum. Kalau ada gubernur, menteri, bupati, ketua atau anggota dewan, insinyur, dokter bermasalah dengan hukum, tambah Presiden, ya pasti aparat hukum akan menindaklanjutinya.

Presiden menilai, yang namanya kriminalisasi kalau orang tidak punya masalah, orang tidak bermasalah kemudian disel. “Itu kriminalisasi. Itu silakan datang ke saya, akan saya urus kalau ada yang seperti itu,” tegas Presiden.

Tetapi kalau mempunyai masalah hukum dan harus berhadapan dengan aparat hukum itu karena ada sesuatu kesalahan, Presiden Jokowi menegaskan, ya memang harus dijalani.

Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menkominfo Rudiantara, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir, dan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah.(Red)

loading...