Teroris di Dhaka Bunuh Para Sandera yang Tak Bisa Baca Al Quran

“Kalian semua tak perlu takut, kami datang ke sini hanya untuk membunuh mereka yang bukan Muslim,"

0
731
Salah satu korban serangan mematikan teroris di Dhaka, Bangladesh. (Foto: Tribune/Mahmud Hossain Opu/via REUTERS)
Salah satu korban serangan mematikan teroris di Dhaka, Bangladesh. (Foto: Tribune/Mahmud Hossain Opu/via REUTERS)

Sejumlah pria muda berpakaian rapi memasuki restoran the Holey Artisan Bakery, di wilayah Gulshan, Dhaka, Banglades, Jumat malam lalu.

Tak ada yang menduga jika sekelompok pemuda itu ternyata membawa senjata api, sejumlah bom, dan pedang.

Tak lama setelah itu, tragedi pun terjadi. Sekelompok pemuda itu lalu melakukan penyanderaan terhadap seluruh pengunjung yang sebenarnya sedang menikmati malam panjang di tempat tersebut.

Ketika penyanderaan selama kira-kira 10 jam berakhir para Minggu pagi, didapati 28 korban tewas, yang seluruhnya adalah warga negara asing dari luar Banglades.

Seorang warga Banglades yang menjadi saksi dalam peristiwa itu mengaku mendengar para penyandera mengucapkan kalimat yang mengerikan di telinga para warga asing itu.

“Kalian semua tak perlu takut, kami datang ke sini hanya untuk membunuh mereka yang bukan Muslim,” demikian kalimat yang didengar saksi mata itu, seperti dikutip laman Los Angeles Times.

Selama ini wilayah Gulshan dikenal sebagai kawasan para ekspatriat. Di sana banyak berkumpul warga asing, termasuk kantor-kantor diplomatik, hotel, dan apartemen.

Kendati demikian, warga Banglades pun bisa bisa menikmati sajian di tempat ini, termasuk di saat bulan suci Ramadhan seperti sekarang ini.

Enam penyerang tewas dalam baku tembak dengan pasukan keamanan Banglades yang melakukan upaya penyelamatan beberapa jam setelah penyanderaan.

Sementara seorang pelaku penyanderaan ditangkap hidup-hidup.

The Amaq News Agency yang terafiliasi dengan kelompok teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) pada Sabtu merilis sejumlah foto bergambar para pelaku penyerangan yang dideskripsikan sebagai warga Banglades.

Terlihat lima orang dengan senyum mengembang berpose di depan bendera ISIS. Mereka pun menyebut orang-orang ini dipersenjatai dengan pisau, parang, senapan serbu, dan granat.

Menanggapi kasus ini, Perdana Menteri Banglades Sheik Hasina Wajed dalam siaran di jaringan televisi setempat mengimbau warganya untuk meletakkan kepercayaan di tangan Pemerintah.

Dia pun menyatakan hari berkabung nasional selama dua hari ke depan, menyusul insiden serangan teroris di Dhaka.

“Kami tak menghendaki teroris hidup di Banglades,” kata Hasina.

“Saya tak mengerti apa yang mereka yakini, Muslim macam apa sebenernya mereka ini?” ungkap dia lagi.

Baca Al Quran:

Seorang saksi mata Hasnat, bercerita kepada ayahnya Rezaul Karim, para penyandera meminta semua orang yang ada di dalam restoran itu untuk membaca Kitab Suci Al Quran.

Mereka yang bisa membaca Al Quran kemudian dipisahkan dari tawanan yang lain, begitu yang disaksikan Hasnat.

Peristiwa yang menelan korban jiwa dari warga sejumlah negara, di antaranya Italia, Amerika Serikat Jepang, dan India, tentu mengundang reaksi keras.

Kementerian Dalam Negeri AS segera mengeluarkan pernyataan bahwa ada warganya yang tewas dalam serangan itu.

Mereka lalu menegaskan akan memberikan dukungan penuh kepada Perdana Menteri Hasina atas komitmen perempuan itu dalam memberantas ekstrimisme di Banglades.

Sementara, Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe langsung membentuk tim kerja yang dikirim ke Banglades untuk membantu langkah investigasi.