‘Jerit Tangis’ Dibalik Pabrik Semen Terbesar Dunia – Indocement

“40 Tahun Lebih Tanah Kami Diserobot Dan Dikuasai PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk”

2
2383
PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk

Setidaknya ada 4 hektar milik Suhendar dan ratusan Hektar tanah lainnya milik warga Desa Lulut Kecamatan Klapa Nunggal Kabupaten Bogor – Jawa Barat yang statusnya masih dalam sengketa.

Sebagaimana dikatakan Suhendar, tokoh masyarkat desa setempat, dia telah berjuang setidaknya 40 tahun untuk menuntut keadilan dan memperjuangkan haknya. Namun karena keterbatasan eknomi dan pemahaman tentang hukum, membuat pihaknya berada diposisi korban tidak berdaya.

Kasus Indocement
Kiri: Jeffry Lengkong Ketua Umum LSM Pajajaran Muda, Kanan: Suhendar tokoh masyarakat desa Lulut – Klapa Nunggal Kabupaten Bogor – Jawa Barat

“Tanah kami dengan sewenang-wenang diserobot dan dikuasai oleh PT. Indocement. Kami telah melakukan berbagai upaya, namun nampaknya segala sesuatu seolah berpihak kepada mereka. Kami hanya bisa menjerit dan menangis meratapi nasib,” ungkap Suhendar miris.

Menurut Suhendar, baik dari bukti-bukti, hingga sejarah tanah maupun dari pengakuan saksi setingkat Kepala Desa, serta hasil verifikasi yang telah dilakukan oleh Pihak Pemda Kabupaten Bogor bersama BPN, Polres Dan Kodim setempat,  tanah seluas 4 hektar yang masuk dalam wilayah yang dikuasai PT. Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. tersebut, jelas merupakan miliknya.

Namun, entah bagaimana, kemudian pihak Indocement dengan kemampuannya, mampu memanipulasi data. Sehingga, mereka memiliki surat bukti kepemilikan berupa sertifikat. Dan secara hukum diakui syah dibawah kekuasaan mereka.

Memang, lanjut Suhendar, pihak Indocement memiliki bukti pembelian tanah. Namun, mereka membeli tanah ke orang lain, bukan kepada pihaknya selaku pemilik tanah. Dan dalam administrasi, tanah yang dibeli Indocement lokasinya tidak sesuai dengan tanah miliknya yang dapat dibuktikan dalam buku letter C yang tercatat di pemerintahan.

“Tapi, mereka bersikukuh dengan bukti pembelian dan sertifikat tidak syah tersebut. Kami rakyat kecil tidak berdaya. Tapi kami tidak akan pernah rela dan akan terus berjuang, sampai kapan pun,” tegas Suhendar.