Dekorasi Janur yang banyak di kenal “Kembar Mayang” di Magelang kini semarak dalam festival “Penjor”

 

MAGELANG – Festival Penjor digelar di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB), Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Minggu (17/4/2016).

Penjor ( Kembar Mayang dan Umbul Umbul ) adalah seni kreasi merangkai janur (daun kelapa muda) yang biasanya menjadi hiasan umbul-umbul di yang di pasang pinggir jalan maupun dekorasi pelaminan pesta pernikahan.

Ratusan penjor itu berdiri menghiasi concourse Manohara Hotel, taman Ashsobya, hingga halaman sekitar Candi Buddha terbesar di dunia itu.

Penjor tersebut merupakan hasil kreasi dari sejumlah warga yang mewakili 20 desa di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

Kepala Divisi Administrasi dan Keuangan PT TWCB Aryono Hendro Malyanto menjelaskan, festival yang baru pertama kali digelar ini merupakan salah satu rangkaian penutup dari Musyawarah Nasional (Munas) ke-9 Forum Humas BUMN yang di gelar di Jakarta, 15-17 April 2016.

“Kami ingin mengangkat kembali penjor ini menjadi seni dan budaya masyarakat.

Sebab, belakangan penjor sudah jarang dipakai, bergeser dengan hiasan yang modern untuk umbul-umbul maupun pelaminan,” kata Hendro, Minggu pagi.

Menurut Hendro, di Jawa, penjor memang biasa dipakai untuk hiasan pelaminan pada pesta pernikahan saja.

Berbeda dengan di Pulau Bali yang hampir setiap hari di setiap rumah memasang penjor meskipun kecil. “Penjor perlu dilestarikan agar masyarakat dan generasi mendatang tetap bisa menikmati seni janur ini,” kata dia.

Selain menjadi hiasan, penjor-penjor karya warga Borobudur itu pun dilombakan. Sebelumnya para peserta sudah mendapat pelatihan kreasi merangkai janur sehingga mereka bisa langsung “unjuk gigi” pada festival kali ini.

“Kegiatan ini juga sebagai tindak lanjut arahan Presiden Jokowi, yang meminta agar potensi wisata Candi Borobudur ditingkatkan dengan penyelenggaraan kegiatan yang bersifat seni dan budaya,” ujar Hendro.

Pihaknya pun berharap melalui festival ini menjadi inspirasi masyarakat Borobudur dan sekitarnya untuk terus berkarya dan berkreasi demi memajukan Pariwisata Borobudur.

Muhdi (60) salah satu peserta Festival Penjor 2016, mengaku bangga bisa ikut dalam festival ini. Menurut dia festival ini menjadi wadah para pembuat penjor untuk menyalurkan bakat seninya.

Muhdi sendiri menjadi anggota tim peserta perwakilan dari kelurahan Karangrejo, Kecamatan Borobudur. Ia kerap diminta membuat penjor untuk pelaminan pesta pernikahan di desanya.

“Kegiatan ini bagus, bisa mewadahi kami yang bisa membuat penjor. Apalagi ada pelatihannya sehingga bisa menambah ilmu dan kreatifitas,” ucap dia.

Menurut Muhdi, tidak mudah membuat penjor dan hiasan lainnya seperti kembar mayang, tuwuhan, pajekan dan kipas dari janur. Selain butuh latihan dan kreatifitas, juga dibutuhan kerja tim yang kompak.(Arintoko)

loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here