PASCA BENTROK LEMBAK

0
354

LEMBAK MEMBARA

EXPO2012—Senin (18/6), suasa Lembak masih terasa mencekam. Jalan nasional yang menghubung Provinsi Bengkulu dengan Sumatera Selatan tersebut putus total. Masyarakat pengguna jalan pun terpaksa mengurungkan niatnya untuk melalui jalan tersebut. Beberapa mengaku harus memutar melalui Tebing – Pagar Alam – Kepahiang, baru menuju Curup atau Bengkulu.

Sedangkan aparat Polres RL dan Brimob juga masih melakukan penjagaan ketat di sekitar titik pemblokiran menghindari terjadi bentrok yang lebih ekstrim.

Dari berbagai informasi, setidaknya ada 3 titik pemblokiran. Mulai dari simpang Desa Bengko Kelurahan Beringin Tiga, Desa Pelalo, Desa Cahaya Negeri, Kecamatan Sindang Kelingi, Dusun Gardu dan pusat pasar Desa Kepala Curup, Kecamatan Binduriang. Pemblokiran jalan dilakukan warga dengan cara menumbangkan pohon. Batu-batu besar yang sengaja dilintang di badan jalan. Termasuk kulit kopi kering yang dibakar.

Setelah membakar Pospol Taba Padang, sekitar pukul 06.30 WIB, Senin (18/6), aksi massa semakin brutal dengan membakar Truk Fuso bermuatan karet mentah. Menurut sumber, truk itu dibakar massa lantaran ngotot berupaya menerobos jalan yang diblokir warga di kawasan Desa Pelalo. Alhasil, truk ini hangus tinggal menyisakan kerangka.

Sementara polisi belum bisa berbuat banyak karena massa masih menguasai setiap titik jalan yang diblokir. Kedatangan Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Drs. Burhanuddin Andi, SH, MH cukup mendinginkan suasana, namun hingga malam pengendara dengan tujuan Bengkulu – Lubuk Linggau dan sebaliknya masih belum berani melintasi wilayah Lembak. Mereka akhirnya memutar. Menempuh jalur lain.

Pengendara memilih menghindar karena jika nekat lewat, keamanan kemungkinan tidak terjamin. Setiap pengendara yang berupaya masuk kawasan Binduriang dan sekitarnya dipalak oleh warga. Baik kendaraan yang melaju dari arah Curup maupun Lubuk Linggau. Setidaknya, belasan kendaraan jadi korban keberingasan puluhan warga yang menjaga titik pemblokiran jalan. Mulai dari mobil yang dilempar batu hingga pengendara yang diperas.

Diantaranya Joni (28), warga Jalan Teratai Tiga, Kelurahan Kebun Beler, Kota Bengkulu. Pria yang berprofesi sebagai tukang ojek ini harus merelakan Yamaha Vega warna hijau nopol BD 5196 EW disandera 20-an warga yang memblokir jalan. Tidak itu saja, dompet berisi uang Rp 600 ribu serta surat berharga turut disikat. Peristiwa itu terjadi di Desa Cahaya Negeri pukul 09.00 WIB.

Pemerasan juga menimpa Yanto (51), warga Kota Bengkulu yang mengendarai pick up membawa meubeler dari arah Curup menuju Lubuk Linggau. Uang jalan Rp 2 juta dan 2 unit handphone juga dirampas. Kedua korban sudah melapor ke Polsek Sindang Kelingi. Tetapi untuk sementara polisi hanya bisa menerima laporan.

Dari data, tercatat, korban tewas hanya 1 orang, yakni Cik Udan. Sementara 20-an korban tembak lainnya, sebagian masih menjalani perawatan di RSUD M Sobirin, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Adalah Sapri (28), warga Desa Simpang Beliti, Kecamatan Binduriang, Budiono dan Rizal, keduanya warga Desa Kepala Curup, Binduriang.

Dari pihak Kepolisian, lima yang terluka akibat dihujani batu termasuk Wapolres RL Kompol Andi Hermawan S.Ik dan anggotanya Yakni Wibowo (35) dan Yopi (37), anggota Polres RL serta Harmanto (32), anggota Brimob Curup.

Korban dari aparat kepolisian ini dilarikan ke RSUD Curup setelah mengalami luka robek dan bengkak di bagian kepala. Bahkan Kapolsek Curup, Iptu. Bayu Putra Samara nyaris disandera setelah terkepung ratusan warga yang emosi.

Hingga pukul 23.00 WIB malam (18/6) masih mencekam. Meski sempat dimediasi Dandim 0409 RL, Letkol. Inf. Yanto Kusno Hendarto, puluhan warga Lembak masih melakukan penjagaan di titik-titik jalan lintas Curup – Lubuk Linggau yang sempat diblokir.

“Tidak ada jaminan mas, kalau terjadi apa-apa di jalan cuma nambah daftar korban saja. Mending cari jalur yang aman saja.” tutur Purtomo salah seorang pengguna jalan.    

Purtomo bersama dua rekannya dari Muara Aman, Kab Lebong hendak menuju Lampung karena ada kepentingan bisnis. Mereka memilih jalur Pagaralam walaupun kalau dihitung-hitung jarak tempuhnya lebih jauh. Namun hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko, mengingat suasana di wilayah Lembak masih belum kondusif. Apalagi beredar kabar, adanya pemerasan dan penganiayaan terhadap pengguna jalan oleh warga. 

Pemerintah Daerah Rejang Lebong pun ‘galau’ dengan kondisi tersebut. Apalagi pasca bentrok, akses transportasi masih terputus. Dalam hal ini, Bupati Rejang Lebong, H. Suherman, SE, MM, memerintahkan para camat dan kades setempat melakukan upaya pendekatan kepada masyarakat. Ia berharap masyarakat tidak membuat situasi di Lembak semakin memanas dan berimbas lebih besar lagi.
Untuk itu, Suherman, meminta kepada pihak Kecamatan dan Kepala Desa bersangkutan ikut meredakan aksi massa tersebut. Ia juga mengaku sangat menyayangkan tindakan pengrusakan yang dilakukan masyarakat. Baik terhadap kendaraan operasional polisi maupun kendaraan warga yang melintas.

‘’Dalam menegakkan aturan hukum, saya minta polisi jangan tanggung. Kalau memang benar, katakan benar. Begitu juga sebaliknya. Kalau terbukti aksi yang dilakukan warga Lembak ini salah saya minta ditindak tegas. Jangan dibuat terputar-balik. Supaya masalah ini cepat terselesaikan,’’ ujar Bupati.

Disisi lain, Suherman juga meminta Kodim 0409 RL membantu Polres RL dalam mengembalikan situasi panas di Lembak menjadi kondusif kembali. Ia mengaku menyerahkan masalah ini kepada Kodim untuk masalah keamanannya.

‘’Tentu Kodim punya trik sendiri agar situasi masyarakat di Lembak kembali kondusif,’’ demikian katanya kepada Wartawan setempat.
Kesepakatan:

Hari-hari panjang dan mencekam di wilayah Lembak terus bergulir. Hingga akhirnya, sekitar pukul 16.00 WIB, Senin (18/6), difasilitasi Dandim, perwakilan warga dan tokoh masyarakat akhirnya bertemu dengan Kapolda Bengkulu Brigjen Pol Burhanudin Andi, SH, MH dan Kapolres RL, AKBP. I. Ketut Yudha Karyana, S.Ik. Mediasi ini akhirnya mencapai kesepakatan.

Di satu pihak, perwakilan warga yang diwakili 3 Kepala Desa yakni Kades Kepala Curup, Wardani, Kades Simpang Beliti, Abu dan Kades Kampung Jeruk, Zainal menyatakan siap menghentikan aksi pemblokiran jalan. Namun mereka menuntut agar 10 motor milik warga yang diamankan polisi saat melakukan operasi dari rumah ke rumah warga, dikembalikan lagi kepada warga. Sebelumnya motor-motor tersebut diamankan polisi karena diduga hasil kejahatan.

Permintaan warga itu akhirnya dipenuhi Kapolda Bengkulu dan Kapolres RL. Puluhan warga kemudian dibiarkan menjemput motor itu di Polsek Sindang Kelingi sore kemarin (18/6) pukul 16.00 WIB.
Sekitar pukul 22.00 WIB malam, petugas dan warga sudah mulai melakukan pembersihan titik-titik jalan yang diblokir. Namun demikian, pengendara belum berani melintas. Meski suasana mulai kondusif, tetapi warga masih was-was melintasi kawasan Lembak.

Untuk menuju Lubuk Linggau, pengendara dari arah Kota Bengkulu atau Curup lebih memilih melewati Kepahiang – Pagaralam. Kapolda sendiri masih memilih tinggal di RL, tepatnya di kawasan Villa Hijau, Desa Mojorejo, Kecamatan Sindang Kelingi guna memastikan kondisi benar-benar kondusif.
Sementara personel Polres RL dan Brimob Polda Bengkulu tetap disiagakan di Polsek Sindang Kelingi, lokasi terdekat dari pemblokiran jalan yang dilakukan warga di Kelurahan Beringin Tiga, Sindang Kelingi.

Menyikapi hal ini, Kapolda menegaskan, pihaknya tidak akan menarik pasukan dari titik siaga (Polsek Sindang Kelingi, red) selagi aksi blokir jalan oleh warga masih berlangsung. Pihaknya masih mengupayakan penghentian pemblokiran jalan melalui negosiasi dengan tokoh masyarakat Lembak.
Disisi lain, Dandim 0409 RL, Yanto Kusno Hendarto sendiri mengaku pihaknya sudah mulai melakukan pembersihan kayu-kayu kecil dan batu yang diserak warga di badan jalan untuk menutup akses lalu lintas.
(RED)

loading...