ADA APA DENGAN LEMBAK?

Must Read

Geisha Jepang ritual menggoda dan kehidupannya

Geisha Jepang...  Oke!!.. Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu tentang ihkwal sosok sensasional ini.

Wanita dayak; pesona kecantikan, mitos dan faktanya

Ada banyak cerita tentang wanita dayak. Baik tentang beragam mitos dan stigma serem yang terlanjur beredar di tengah publik....

Geisha Jepang sensualitas dan kehidupannya

Siapa sich yang tidak tahu atau minimal pernah mendengar tentang wanita-wanita cantik Jepang berbalut kimono ini. Keberadaan Geisha Jepang indentik dengan...

Tari Merak Jawa Barat, Sang Penjantan Tebar Pesona

Sebagian besar masyarakat Indonesia jelas mengenal Tari Merak. Berbalut busana penuh warna, khas, dengan gerakan penuh keceriaan Tari Merak...

Komunitas Spiritual Indonesia, Membangun Spirit di Dunia Maya

Spiritual Indonesia adalah komunitas yang terbentuk secara online. Diawali dari obrolan di forum, milis, yahoo group, hingga akhirnya terbentuk...

Fakta Menarik Tentang Seragam Sekolah Cewek Jepang

Jepang adalah negara yang memiliki daya tarik kuat di mata dunia. Bukan hanya sekedar kebudayaannya, namun juga aspek lain...

EXPO2012—– TRAGEDI tragis antara warga Kecamatan Bindurian, Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu dengan aparat kepolisian yakni Polres-RL dan Brimobda Bengkulu memang telah usai. Namun diakui atau tidak, tetap meninggalkan goresan tersendiri yang akan menjadi preseden buruk kedepan.

Sebuah pertanyaan besar, ada apa dengan Lembak? Apa yang terjadi sebenarnya? Disisi lain, kemudian timbul berbagai isu dan opini yang terbentuk. Bahkan, di dunia maya internet juga timbul sebuah situs tidak bertanggung-jawab dengan nuansa provokatif  yang khusus menghujat masyarakat di wilayah tersebut. Dimana intinya menuding daerah yang mayoritas bersuku lembak tersebut ‘kampung rampok’. 

Dari informasi yang terhimpun, awal mula terjadinya bentrok tersebut dipicu kemarahan warga yang tidak senang dengan razia dadakan Polres RL di Desa Simpang Beliti, Desa Kepala Curup dan Desa Kampung Jeruk. Dimana dikatakan, sweeping tersebut juga menyita motor-motor yang memiliki surat-menyurat lengkap.  

Selain kendaraan bermotor yang diduga hasil kejahatan, sasaran yang dituju aparat penegak hukum disebutkan juga mencari pelaku penjarahan 9 ton kopi muatan Truk Diesel nopol BG 8249 LG yang berbalik di Desa Simpang Beliti, Binduriang Sabtu (17/6) dini hari sekitar 23.00 WIB.

Awalnya, senja yang merangkak menuju malam itu, puluhan personel Polres dan Brimob memasuki rumah warga satu-persatu memeriksa apakah ada motor hasil kejahatan atau kopi hasil penjarahan. Puncaknya, polisi mendapat perlawanan dari warga saat hendak mengamankan motor yang diduga hasil curanmor.

Sempat terjadi aksi fisik yang berakhir dengan penembakan terhadap 2 warga hingga menghembuskan nafas terakhir. Versi anggota Brimob yang enggan identitasnya disebut, saat kejadian itu pemilik motor memukul polisi lebih dulu sehingga sempat diamankan. Tidak terima keluarganya diamankan, puluhan warga lainnya melakukan perlawanan dengan mengeluarkan senjata tajam sehingga polisi terpaksa melepas tembakan.

Sementara itu, menurut keterangan salah seorang anggota polisi yang terluka pada sebuah media, saat itu pihaknya baru saja beranjak pulang setelah menggelar razia tersebut. Namun, setibanya di tikungan dari Desa Kepala Curup, tiba-tiba pihaknya diserang menggunakan batu yang dilempar dari atas tebing sebelah kanan jalan. Serangan ini kontan saja menghambat perjalanan mereka. Para anggota polisi mencoba menghalau para penyerang dengan menembakkan senjata ke udara. Namun tembakan ini tidak menghentikan penyerangan.

“Saat itu persis seperti hujan batu. Banyak batu yang dilemparkan ke arah kami,” tuturnya saat dirawat di IGD RSUD Curup.

Versi Kades Kepala Curup Wardani lain lagi, awalnya warga tidak melakukan perlawanan. Namun razia yang dilakukan polisi terlalu berlebihan, mulai dari membawa senjata laras panjang hingga cara memperlakukan warga dengan kasar sehingga mau tidak mau menyulut emosi warga. ‘’Jelas saja warga tidak terima karena polisi itu membawa senjata laras penjang jenis pembunuh. Bukan senjata pelumpuh,’’ kata Wardani.

Menurut Wardani, operasi tersebut unsprosedural. Sebab dalam operasi itu polisi tidak memberitahu terlebih dahulu aparat desa.

9 Ton Kopi Dijarah Warga

Sebelumnya, mobil truk Diesel Colt 120 PS nopol BG 8249 LG yang dikemudikan Edi Supriyanto (35), warga Desa Sumber Agung, Kota Lubuk Linggau, Sumatera Selatan bermuatan 9 ton biji kopi kering, dijarah warga. Kopi yang dibawa dari Curup dengan tujuan Lampung itu ludes dijarah.

Aksi penjarahan tersebut terjadi tatkala truk kuning itu terguling di kawasan Desa Simpang Beliti, Kecamatan Binduriang, Rejang Lebong (RL) berjarak 80 meter dari Jembatan Dua Simpang Beliti. Aksi penjarahan itu berlangsung Sabtu malam (16/6) pukul 23.00 WIB. Ditaksir, korban mengalami kerugian hingga Rp 1,5 miliar lebih.

Data terhimpun, sebelum truk yang dikendarai Edi ini terguling, bagian kaca sempat dilempar hingga pecah oleh oknum tak dikenal yang kesal lantaran Edi enggan menghentikan laju truk saat dicegat. Diduga pelaku yang melempar kaca truk ini adalah komplotan penodong yang kerap beraksi di jalur lintas ini.

Mendapati kaca dilempar, Edi memacu truknya dengan kecepatan tinggi bermaksud menghindar pelaku. Namun saat tiba di tikungan patah ke kiri, berjarak sekitar 100 meter dari aksi pelemparan, kembali truknya dihadang sekitar 5 orang pria yang menutup badan jalan. Tak ingin menabrak, Edi membanting setir ke kanan hingga truk terguling di siring pembatas sebelah kanan jalan dengan posisi roda menghadap ke atas. Naasnya saat truk terguling, posisi kaki dan badan Edi dan kernetnya, Din (30) terjepit kepala mobil yang penyok ke dalam.

Tak lama berselang muncul puluhan warga yang membantu kedua korban keluar dari truk. Setelah Edi dan kernetnya berhasil dikeluarkan, warga membawanya ke RSUD M Sobirin Lubuk Linggau lantaran mengalami luka cukup serius. Kondisi itulah yang mungkin dimanfaatkan penjarah untuk mengambil kopi dalam truk.

Namun, Kades Wardani mengatakan, warganya tidak terima jika dikait-kaitkan dengan penjarahan mobil truk pengangkut biji kopi yang mengalami kecelakaan di kawasan tersebut sebelumnya.
“Kalau dikaitkan dengan penjarahan mobil pengangkut kopi, saya memastikan di desa saya tidak ada penjarahan itu. Tapi kalau di desa lain, saya tidak tahu. Masalahnya, pihak kepolisian razianya langsung ke rumah-rumah warga. Sehingga memancing emosi warga dan terjadilah keributan itu,” terang Wardani kepada wartawan.

Jangan Memvonis Masyarakat Tidak Berdosa

Lembak saat ini menjadi perhatian banyak pihak. Bahkan bisa dikatakan sebagai kasus nasional. Opini negatif pun berkembang. Kedua belah pihak dalam insiden ini secara otomatis tercoreng. Kepolisian disebut melakukan operasi unprosedural dan warga Lembak mendapat predikat buruk sebagai daerah tempat bermukimnya penjarah.

Daeng Octora, salah satu tokoh masyarakat Lembak yang tinggal di Desa Kepala Curup ketika dihubungi mengatakan, hal ini harus dilihat secara bijaksana. Baginya, ketika memang ada indikasi kejahatan diwilayah tersebut memang sudah menjadi kewajiban aparat penegak hukum untuk menindaknya.

Namun, haruslah dengan cara-cara profesional. Bukan dengan cara ‘hantam kromo’. Apalagi kemudian ada kencendrungan menganggap seluruh masyarakat ada penjahat. Menurut dia, diwilayahnya, tidak sedikit pula masyarakat yang baik-baik. Di dalamnya ada pemuka agama. Termasuk tokoh masyarakat yang telah menunaikan ibadah haji.

“Tidak mungkin, jika dianggap secara keseluruhan penjahat. Itu tidak adil,” ujarnya kepada EXPO.
Disisi lain, sebelum tragedi maut tersebut terjadi, bahkan ia telah mengingatkan pihak aparat penegak hukum untuk tidak bertindak brutal. Dimana menarik sepeda motor milik warga yang mempunyai bukti kepemilikan.

“Namun saat itu, mereka tetap ngotot,” ungkap lelaki yang akrab di panggil mang Daeng ini.
Tidak hanya itu, ia pun mengaku telah mencoba meredakan emosi warga. Namun, apa mau dikata, lanjutnya, kondisi sudah benar-benar memuncak. Apalagi gerakan tersebut sipatnya massa.
Dalam hal ini, Daeng secara tegas mengatakan, jika berbicara tentang sering terjadinya tindak kriminal diwilayah tersebut, jangankan pihak luar, dirinya yang berada di dalam wilayah Lembak pun sebenarnya resah.

Menurut pendapat Daeng, kemungkinan besar pelaku tindak kriminal seperti penjarahan motor yang sering terjadi di daerah Lembak adalah ulah segelintir orang. Ia berkeyakinan penuh bukan ulah mayoritas warga. Dan hal-hal seperti ini juga sering terjadi di beberapa daerah lain.

Bahkan, bisa jadi pelaku malah bukan warga dimana lokasi tindak kriminal terjadi. Atau bisa dikatakan pendatang dari daerah lain yang memang memilih lokasi tertentu demi keamanan pelaku dalam melaksanakan aksinya.

“Jadi jangan sampai masyarakat tidak berdosa juga ikut di vonis bersalah,” ujarnya.

Ia menyarankan untuk kedepan tindakan terbaik yang dilakukan adalah melakukan penyelidikan terlebih dahulu serta melengkapi bukti-bukti yang akurat serta memiliki informasi yang tepat, baru melakukan tindakan. Jika melihat kasus yang terjadi pada operasi berbuntut bentrok tersebut hal-hal tersebut tidak terlihat. Malah ada nuansa hanya main perkiraan.

“Socrates pernah mangatakan bahwa: ‘lebih baik melepaskan seribu orang penjahat daripada menghukum seorang yang tidak bersalah,'” ujar Daeng.

Disisi lain, Daeng mengaku, ia merasa sedih ketika vonis negatif tersebut malah terkesan untuk semua masyarakat Lembak.

Zulkarnain Thaib, anggota DPRD Rejang Lebong dari partai Demokrat juga mempunyai pandang tidak jauh berbeda dengan Daeng. Menurut dia, hampir sebagian besar masyarakat menginginkan keamanan dan kenyamanan. Dan ia menilai, tidak lah layak jika menvonis seluruh masyarakat Lembak buruk. Ia yakin sangat banyak yang baik dan mempunyai jiwa yang bersih.

“Jangan karena nila setitik rusak susu sebelanga,” ujarnya dengan pepatah.

Namun, imbuhnya, ia mendukung jika ada langkah-langkah aparat penegak hukum menindak pelaku kriminal yang meresahkan. Tidak hanya yang ada di Lembak, melainkan sebenarnya diseluruh wilayah. Namun tetap mengedepankan cara-cara profesional.

“Dan itu sudah menjadi tugas aparat penegak hukum. Dan hendaknya setiap komponen masyarakat pun mendukung tugas tersebut hingga dapat tercapai secara maksimal,” ujarnya.(RED)

Berita sebelumyaPASCA BENTROK LEMBAK
Berita berikutnyaBentrok Lembak Part II

Latest News

Zaman Bupati Mian, Miliaran Anggaran Dinkes 2018 Diduga Syarat KKN

Bengkulu Utara, GC – Zaman kepemimpinan Bupati Bengkulu Utara Ir.H.Mian. Miliaran anggaran yang bersumber dari APBD tahun...

Apa itu numerologi? Dan apa hubungannya dengan ARC Bali

Numerologi adalah sistem angka untuk mengukur getaran huruf-huruf alfabet, ini dipercaya dapat mengungkap; kepribadian manusia, keinginan, pikiran, tindakan dan pengalaman. Dapat...

8 Desa Merigi Ujan Mas Minta Perbaikan Jalan, Rudi : 2020 Belum Di Anggarkan

BedahBerita.Co.Id, Ketua Kelompok Tani Genting Surian R Sumantri meminta pihak pemerintah Kabupaten Kepahiang dapat mengabulkan permohonan mereka terkait pembangunan jalan yang di...

Kasus Alkes Rejang Lebong Kembali Ke KPK

BedahBerita.Co.Id, Ishak Burmansyah Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) PEKAT Rejang Lebong saat Orasi di depan Gedung Merah Putih KPK Jakarta meneriakkan beberapa...

DID, Hutang SMI, Fee, Lahan Dan OTT Dilaporkan FPR Ke KPK Item Indikasi Korupsi

BedahBerita.Co.Id, Hari ini 1 November 2019 sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Bengkulu memasukan sejumlah laporan kasus yang tak jelas penyelesaiannya dan indikasi...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -