LEMBAK MEMBARA

0
390

TNI sedang melakukan pengamanan di wilayah Lembak
Suasana penutupan jalan oleh masyarakat Lembak

EXPO 2012 —– Sebuah tragedi maut akibat bentrok antara masyarakat dan aparat kepolisian. Lembak membara, demikian masyarakat menyebut insiden ini. Namun persoalan ini, tidak dapat dilihat dari satu sisi. Banyak faktor yang menjadi penyebab. Perlu solusi dan pemikiran yang bijaksana dalam penyelesaiannya. Yang jelas, pada dasarnya tidak ada yang mau hal itu terjadi. Baik masyarakat maupun pihak aparat.

 Minggu Sore (17/6), Lembak khususnya di desa Kepala Curup Kecamatan Sindang Kelingi Kabupaten Rejang Lebong – Bengkulu memang berbeda dari hari biasanya. Bagaimana tidak, ketenangan tiba-tiba pecah oleh kedatangan serombongan aparat berseragam polisi dan Brigadir Mobil (Brimob) bersenjata lengkap mengenderai belasan mobil memasuki wilayah tersebut.

Hal ini, jelas sangat mengagetkan masyarakat setempat. Selain mobil operasional milik polisi dan brimob juga terlihat mobil truck.

Jangankan masyarakat, Kepala Desa sebagai kepala pemerintah di desa tersebut pun, menurut sumber, tidak mendapat pemberitahuan terlebih dahulu. Awalnya, ada yang menduga-duga gerakan tersebut merupakan tugas rahasia yang dilakukan aparat negara untuk sebuah pengungkapan kasus besar.

“Seperti teroris misal,” ungkap  Oki warga setempat.

Namun dugaan tersebut meleset jauh. Bukan teroris, bukan pula penangkapan gembong penjahat besar sejenis resedivis berbahaya atau semacamnya. Ternyata mereka lah yang menjadi target operasi tersebut.  Rumah-rumah merekalah yang menjadi tujuan aparat bersenjata itu.

Seperti diceritakan oleh sumber yang terlibat langsung, tindakan yang dilakukan aparat itu kemudian mereka ketahui ternyata adalah  sweeping yang dilakukan kesatuan Polda Bengkulu menindak lanjuti hasil operasi yang di laksanakan sebelumnya. Sweeping yang dibantu satuan Brimob itu, bertujuan untuk mencari atau menemukan kendaraan roda dua yang diduga hasil tindak kejahatan. Yang menurut aparat banyak terdapat diwilayah Lembak.

Suasana sore yang bergerak memasuki senja itu benar-benar membuat warga setempat panik dan gerah. Pasalnya, menurut sumber, tindakan yang dilakukan ke rumah-rumah warga menjaring sekitar 150 kendaraan roda dua dan disinyalir kendaraan yang mempunyai kelengkapan surat-menyurat pun ikut di amankan.

“Persoalannya, hal ini sudah diluar batas etika. Malah, rombongan itu mengeladah hingga kekamar-kamar masyarakat. Disisi lain, tidak prosedural,” ungkap Oki sumber EXPO langsung dari tempat kejadian.

Tidak hanya itu, lanjut sumber, sepeda motor dinas milik Kepala Desa pun ikut disikat oleh aparat tersebut. Bahkan, ketika dipertanyakan pun para abdi negara itu secara tegas mengatakan segala urusan nanti diselesaikan dikantor.  Diperlakukan demikian, spontan masyarakat protes dan tidak terima. Namun pihak aparat juga tetap ngotot dengan tindakannya.

Melihat kondisi yang semakin memanas, lanjut sumber, beberapa tokoh masyarakat termasuk aparat desa setempat sempat mengingatkan agar operasi tersebut sebaiknya dihentikan. Apalagi hari sudah mulai mendekati malam. Disisi lain, sepeda motor yang diambil dari warga ini sudah banyak diambil pihak kepolisian.

“Namun saat itu, mereka tetap ngotot dan mengatakan akan terus melanjutkan operasi tersebut hingga tuntas,” ungkap sumber.

Sehingga terjadi percekcokan dan terus memanas.  Karena tidak jelas duduk persoalannya, serta merasa tidak bersalah dan haknya dirampas, warga lantas menghadang rombongan tersebut. Sehingga terpiculah ledakan emosi dari kedua belah pihak yang kemudian memuncak hingga terjadi bentrok.

“Tindakan yang dilakukan oleh polisi dengan menggledah rumah-rumah tersebut yang membuat masyarakat marah, apalagi motor-motor yang surat-suratnya lengkap juga di amankan oleh polisi, jelas kami tidak terima.”. Lanjut sumber tadi.

Bentrok yang kemudian mengarah pada fisik tersebut tidak bisa dielakkan lagi. Korban pun berjatuhan dari kedua belah pihak. Desingan peluru dari mongcong senjata aparat untuk menghalau  tidak membuat gentar massa yang telah naik pitam. Mereka terus bergerak menghadang laju kenderaan rombongan aparat tersebut. Apalagi ketika korban mulai berjatuhan.

Darah yang mengalir akibat ditembus timah panas membuat warga semakin menggeragas dan nekat. Rentetan bunyi senjata api seolah hanya angin lalu. Mobil polisi pun dilempari dengan berbagai benda keras yang didapat dipinggir jalan, dari berbagai penjuru.  Sekejap, suasana berubah mencekam seperti medan perang.

Mobil polisi yang berhasil lolos dari hadangan masyarakat di Desa Kepala Curup ternyata tidak bisa bernapas lega begitu saja.  Dalam perjalan terus mendapat hadangan dari warga. Bahkan setelah memasuki desa berikutnya, ernyata wagra desa disana pun telah siap menghadang dengan garang. Sumber menyebutkan,  melihat serombongan polisi tersebut lolos, serta merta warga langsung menelpon kerabatnya didesa berikutnya.

Titik utama penghadangan terjadi di desa Tanjung Beringin Tiga. Bahkan, sebelumnya di Desa Pelalo juga terjadi bentrokan hebat. Rombongan kesatuan polisi dan brimob tersebut akhirnya benar-benar tidak berdaya menghadapi amukan massa yang semakin menggila. Tidak ayal lagi, mobil yang menjadi kenderaan oprasional sweeping tersebut dibakar masyarakat hingga hangus yang kemudian hanya meninggalkan kerangka.

Massa semakin brutal. Hari minggu berdarah yang ditutup malam itu ternyata tidak membuat emosi warga berakhir. Emosi nampaknya telah membakar jiwa sebagian besar masyrakat Lembak. Kegelapan yang menyelimuti wilayah tersebut, apalagi listrik yang pada malam itu juga mati, benar-benar membuat suasana semakin mencekam dan menyeramkan.

“Suasana kacau. Listrik mati,” hanya itu informasi yang didapat EXPO dari Gandi warga desa Palak Curup yang dapat dihubungi malam itu melalui telephone cellular.

Kondisi tersebut terjadi hingga sekitar pukul 00.00 WIB. Namun emosi warga sendiri belum berakhir.
 

Selongsong Peluru yang dinampakkan masyarakat

Untuk meluapkannya, masyarakat kompak memblokir jalan utama pengubung provinsi Bengkulu dengan Kota Lubuk Linggau yang melintasi wilaya lembak tersebut. Kontan akses transportasi tersebut tertutup total bagi masyarakat umum. Sementara aparat ke amanan malam itu tidak dapat berbuat banyak.

Emosi masyarakat meluber, beberapa pengguna jalan raya yang nekat menerobos ikut menjadi korban tidak berdosa. Terkena getah bentrokan maut itu. Beberapa dianiaya dan barang-barangnya dirampas.

Beberapa korban melaporkan kejadian tersebut kepada polisi terdekat. Namun apa yang bisa diperbuat. Suasana telah menjadi lain. Kekalapan warga membuat aparat hanya bisa menerima laporan tanpa bisa berbuat apa-apa untuk sementara.

Ujungnya malam yang berganti pagi, ternyata bukan berarti tragedi tersebut surut. Suasana masih mencekam dan jalan raya yang biasa nya ramai oleh pengguna, hari itu (18/6) lengang dan mengerikan. Yang terlihat hanya beberapa kenderaan bermotor milik warga setempat dengan wajah yang rata-rata beringas.(RED)



loading...