Wanita Malam part 3 # Margarita dan si Mbak

Tapi saya berharap malam ini saya tidak sedih. Walau saya sendiri tidak tahu kenapa saya harus bersedih.

0
4184
Wanita Malam part 3 # Margarita dan si Mbak
Wanita Malam part 3 # Margarita dan si Mbak (photo ilustrasi)

INTRO : Jum’at, 18 September 2015, ini hari selanjutnya pertemuan saya dengan sang Wartawan. Setelah pertemuan sebelumnya. Sejauh ini saya sendiri masih heran, tentang alasan dan motivasi cerita ini di tulis. Yang jelas mengalir begitu saja.

Dalam janji, sang Wartawan menunggu di stasiun Gambir, sekitar jam 11.00 WIB siang. Namun saya sangat terlambat karena terjebak macet. Akhirnya, mungkin karena bosan menunggu, dia meminta saya menyusul ke Malioboro Spa & Hotel. Saya pun meng iya kan. Tempat itu tidak begitu jauh dari rencana awal.

Sejujurnya saya bukan mengeluh menghadapi kemacetan kota Jakarta. Karena memang kesehariannya begitu. Namun persoalannya, jam sudah telah menunjukkan pukul 11.56 WIB. Hmm.. pasti si Wartawan kurus itu kesal.

Untuk sedikit mengobati hatinya, saya upload photo-photo dimana saya terjebak macet parah ke beberapa akun media sosial. Tweeter, Facebook, Instagram, hingga BBM. Saya yakin, dari salah satu media sosial tersebut dia online. Karena memang seluruh akun saya terkoneksi dengannya.

Sambil melihat mobil-mobil yang berdesakan, pandangan saya sesekali menatap layar LCD Handphone. Berharap ada respon atau apalah. Namun ternyata tidak…

Thanks to Nano Suratno, sorry gak bisa mampir ke Kota, Hehe.. dan terimakasih juga untuk saran si Kelelawar, Ngaco!!, suruh turun dari mobil trus jalan kaki (grrrgh).

Benar saja, sesampai di Malioboro Spa & Hotel sang Wartawan telah memasang wajah yang kurang mengenakkan.

“Kemana saja sich,” terdengar suaranya ketus.

“Macet,” jawab saya.

“Lah… Dari dulu juga macet,”

“He he… sorry,”

“Ok.. kita akan lama di sini,”

——————————————————————————————– //

Wanita Malam part 3 # Margarita dan si Mbak
Wanita Malam part 3 | Jalan Gajah Mada

Wanita Malam part 3 » Orang bijak mengatakan, jika ada hanya dua manusia dewasa berlainan jenis ‘bukan muhrim’ maka ketiganya pasti ada setan.

Nah bagaimana dengan kami saat ini, sudah lebih separoh dari malam dihabiskan hanya berdua. Mungkinkah secara diam-diam ‘setan’ sudah gentayangan disekitar kami?

Mungkin ada benarnya… Yang jelas  menurut saya, faktor terpenting yang mendominasi adalah naluri alami manusia itu sendiri. Sex atau sentuhan-sentuhan sesama manusia memang menjadi kebutuhan dasar jiwa manusia. Atau juga bisa disebut sebagai kebutuhan fisiologis.

Sama dengan keinginan manusia untuk diakui keberadaanya. Termasuk pujian juga merupakan kebutuhan dasar manusia.

Yang jelas  menurut saya, faktor terpenting yang mendominasi adalah naluri alami manusia itu sendiri. Sex atau sentuhan-sentuhan sesama manusia memang menjadi kebutuhan dasar jiwa manusia. Atau juga bisa disebut sebagai kebutuhan fisiologis. Sama dengan keinginan manusia untuk diakui keberadaanya. Termasuk pujian juga merupakan kebutuhan dasar manusia.

Potensi kebutuhan itu akan semakin terpicu dan mendesak ketika hal itu terpikirkan. Ia akan semakin kuat dan memaksa untuk dipenuhi.

“Masih betah disini?” suara si Wartawan terdengar mengalahkan suara musik. Tepat di sisi saya… bahkan aroma alcohol bernuansa lemon dari jenis Cointreau  tercium dan berhembus hangat disekitar leher saya.

Ruangan karaoke ini sebenarnya cukup luas untuk kami berdua saja. Selain perangkat sound system dengan layar LCD 32 Inch, juga dilengkapi sofa yang kapasitasnya bisa sekitar 5 orang lebih.

Kalau dipikir-pikir, luas juga tempat setan nya, ya.. Soalnya, kami berdua sebenarnya hanya mengambil tempat untuk jatah satu orang. Kami duduk dalam posisi cukup rapat apalagi jika dibanding dengan luasnya tempat.

Ada tiga alasan kenapa kami duduk begitu rapat, mungkin. Pertama kalau berjauhan, kami tidak bisa sambil ngobrol. Lagian tidak asikkan ngobrol harus teriak-teriak untuk mengalahkan bunyi sound system. Kedua, soal adanya pihak ketiga yang diatas namakan setan tadi. Ketiga soal kebutuhan dasar manusia.

Menurut saya, kebutuhan dasar manusia cenderung lebih dominan berperan. Jika perlu setan yang berada disekitar di usir saja. He…

Ngobrol? Itu adalah bagian dari kebutuhan dasar manusia.

Ketika kita ngobrol apalagi di dengar, ada sebuah kebutuhan yang terpenuhi. Mencurahkan isi hati, sebenarnya sangat diperlukan. Termasuk orang seperti kami, wanita malam yang oleh banyak orang dinilai salah.

Mungkin, Ini pula salah satu alasan kenapa cerita tentang saya, ingin ditulis dan mau diwawancara oleh si wartawan ini.

Seandainya semua orang tau dan menyadari bahwa setiap orang ingin dihargai, ingin diakui, dan ingin didengar. Termasuk orang seperti saya, atau pegawai kecil, petugas parkir, pengemis, bahkan orang-orang yang dianggap bodoh sekali pun. Maka damai lah dunia.

“Gimana?”

Suara si wartawan kembali terdengar, saat ini semakin dekat bahkan dengan berbisik pun saya dapat mendengar ucapannya. Jika dilihat dari posisi duduk, sebenarnya kami sudah setengah berpelukan. Hanya saja tidak saling berhadapan.

Jika sudah saling berhadapan, berarti hanya tinggal selangkah lagi menuju kebutuhan dasar manusia yang lain. Yaitu seks.

Saya tahu, kedekatan kami saat ini bukan bagian dari rencana atau direncanakan. Ini adalah reflek. Demikian juga arah pikiran.. yang semakin cenderung mengarah kesana. Dan secara perlahan biasanya menuntut pemenuhan.

Saya tidak tahu apa yang tengah dipikirkan si wartawan. Tapi saya yakin, dengan bergulirnya proses waktu kemungkinan akan mengarah pada seks. Wartawan juga manusia, ia juga mempunyai naluri dan kebutuhan dasar itu.

Belum sempat saya menjawab, pintu ruangan kami diketuk. Lalu pintu terbuka, wajah petugas karaoke langsung terlihat. Ditangan nya segelas minuman yang terlihat telah bercampur dengan es, langsung disodorkan dengan si wartawan.

Kami langsung tahu dari petugas karaoke, minuman itu dari seorang pejabat daerah yang berada disamping ruangan kami. Dan saya juga jadi tahu, kenapa si Wartawan memilih menunggu saya di Malioboro. Ternyata, sang Wartawan juga punya janji dengan pejabat tersebut.

“Tadi mereka menawarkan kita bergabung di room yang sama. Tapi saya memilih terpisah. Supaya kita bisa lebih bebas bercerita,” ujar Wartawan.

Ah… pejabar, kontraktor, politikus, wartawan, aktifis, walau tidak semua , memang  sangat dekat dengan dunia seperti ini. Dan saya pun merasa cukup mengenal cara hidup mereka.

Kesuksesan dan duit,  memang membuka peluang untuk membayar mahal indahnya dunia malam. Dunia dimana segala sesuatunya dipenuhi dengan berbagai kebutuhan dasar manusia kendati semu. Sex dan fantasi petualangan yang tidak mungkin didapat di rumah.

Kedekatan saya dengan mereka membuat terkadang seolah mata saya ada diruang sidang Paripurna atau diruang-ruang tender mega proyek. Yang membuat saya tahu bagaimana sebuah kekuatan politik mampu mengalahkan tajamnya hukum.

Harus begitu… demikian dikatakan salah seorang politikus. Sebab, aturan dan produk hukum pada dasarnya diciptakan oleh orang-orang politik. Jabatan tertinggi sebuah Negara pun dikuasai oleh politik. Politik pula yang mampu menerobos benteng-benteng yang dibuat oleh kaum birokrat. Bahkan, birokrat yang telah mencapai karier tertinggi pun sebagain besar lari kedunia politik.

Lalu kenapa sebagian dari orang politik terlihat seolah jadi pecundang kaum birokrat? Karena dapat dipastikan ia tidak paham dengan politik. Tidak paham dengan system kerja kekuatan politik itu sendiri. Karena politik adalah pemahaman tentang kekuatan pengaruh dari cara berpikir. Semakin tinggi daya jangkau pikiran seseorang, maka semakin kuat potensinya untuk mempengaruhi orang lain.

Sehingga tidak heran, satu orang politik mampu menggerakkan separuh atau lebih massa dari suatu wilayah untuk kepentingannya. Dan banyak pula orang politik yang mengaku bukan orang politik, tapi kekuatan pengaruhnya mampu mendominasi orang-orang yang terlihat sebagai orang politik.

Jujur saya malas berpikir tentang politik, cenderung serius dan njilimet. Apalagi akhir-akhir ini, sebagian besar masyarakat Indonesia seolah terbawa arus politik. Setiap hari, setiap saat, pembicaraan bernuansa politik selalu terjadi.

Bahkan, di media sosial pun, politik menjadi pembahasan yang tidak ada henti-hentinya. Ach… jadi inget temen-temen FB saya yang suka berbicara politik, hehe.. Ujung-ujungnya, ya adu argument. Dan semua mempunyai alasan pembenaran.

Saat seperti ini, jelas berpikir tentang politik bukanlah hal yang tepat.

Apalagi dengan kondisi saat ini, pengaruh suasana dan alkohol membuat ingin rilex dan mendapat sentuhan-sentuhan lebih dari orang yang disukai. Tapi perlu diketahui, orang-orang politik sebagian besar akan dikalahkan oleh sentuhan kelembutan. Dan itu ada di wanita.

Tidak jarang diktator dan politik ulung akan terlihat seperti balita yang merengek-rengek dihadapan orang-orang seperti kami. Sipat kekanakan dan keluguannya sebagai manusia akan terlihat. Dan tidak lebih dari orang biasa ketika atribut dan pakaiannya telah berserakan dilantai. Bahkan terkadang terlihat lucu, karena beberapa diantaranya gendut-gendut. He he….

Ah… betapa senangnya ia ketika diakui sebagai orang hebat. Bahkan akan terlihat lebih bangga diakui kehebatannya  diranjang dibanding ketika dikatakan hebat sebagai orang politik dengan prestasi pencapaianya.

“Mau?” si Wartawan menyodorkan minuman pemberian pejabat yang sedang asik dengan acaranya di ruangan samping kami.

Ini spesial, Margarita. Cukup enak, apalagi aromanya, lanjut si Wartawan.

“Margarita?”

“Ya,” jawab si Wartawan.

“Siapa yang bikin?”

“Gak tau. Jangan cerewat. Minum saja, he he.. he..”

“Saya suka Margarita,”

“Sama”

Aha… lemon lagi. Aroma yang paling saya suka. Dan rasanya sangat enak. Pasti yang meraciknya sang ahli.

Saya jadi ingat kota kecil Curup, Kabupaten Rejang Lebong – Bengkulu. Tempat dimana masa remaja dihabiskan. Disana kami suka membuat margarita sendiri. Memang tidak sesempurna ini rasanya, tapi lumayanlah.

Di Curup, hanya ada satu yang mengerti dan bisa membuat kombinasi minuman Margarita. Itu pun ia dapat pengalaman ketika masih jadi bartender ketika masih di Jakarta. Ia tinggal di bilangan dwi tunggal salah satu sudut kota Curup.

Saya jadi terkenang, dengan saya sebut saja mbak. Wanita yang cukup keras dengan sorot mata yang tajam. Ia adalah single parent (kurang keren kalau janda, hehe). Ia pernah kerja sebagai bartender di Jakarta. Dan dari sanalah ia mengenal Margarita. Dan kami pernah minum bersama dirumahnya.

Menurut saya, ia pejuang. Ia membesarkan anak-anaknya sendiri. Penuh tantangan dan pengorbanan. Walau sebagian orang menganggapnya salah, ketika mengambil sisi-sisi kehidupan yang berhubungan dengan dunia malam.

Tapi saya yakin, ia pahlawan dimata anak-anaknya yang saat ini bahkan telah mengapai cita-citanya. Yang jelas ia adalah wanita tangguh dimata saya. Terkadang saya tahu, air mata sering menetes ditengah keceriaannya.. Ia tidak pernah mengeluh. Apalagi mengutuk hidup. Menurut dia, hidup harus terus berlanjut. Ia dedikasikan hidupnya untuk orang-orang yang dicintainya. Dan disanalah nikmat kehidupanya.

Walau dia tidak peduli dengan kehidupannya sendiri. Terombang-ambing oleh pusaran dunia malam.

Margarita, menurut si Mbak, adalah koktail yang terdiri dari tequila atau bisa juga Cointreau, Patron Citrónge, Curacao biru,  dicampur dengan Triple Sec dan jeruk limau atau jus jeruk, biasanya disajikan dengan garam pada pinggiran gelasnya. Ini adalah koktail tequila berbasis paling umum di Amerika Serikat. Minuman ini disajikan dengan dikocok bersama es, (Frozen Margarita), atau tanpa es (Straight up).

Standar pembuatan Margarita menurut daftar resmi koktail IBA adalah 07:04:03. Dimana Margarita harus mengandung sekitar 50% tequila, 29% Triple Sec, 21% air jeruk nipis atau lemon segar.

“Osa… kamu pasti suka yang ini,” demikian suatu ketika si Mbak menawarkan racikan Margaritanya.

Margarita yang dibuat dengan pemanis tambahan, menurut si Mbak, Margarita dapat dicampur pemanis seperti sirup gula sederhana atau polos. Bisa juga dengan air jeruk nipis botol atau campuran asam (masing-masing berisi gula). Margarita juga dapat dibuat dengan mencampurkan atau dicampur dengan buah-buahan seperti jeruk nipis, lemon, ceri, raspberry, stroberi, semangka, mangga, jeruk, atau blueberry.

Rasanya?…, membuat saya lupa berapa teguk atau gelas yang saya minum. Yang jelas, saya waktu itu terpaksa bermalam di rumah si Mbak alias mabuk berat.

Suatu saat, demikian si Mbak pernah berjanji, jika punya duit lebih, kita akan racik dengan rasa Liqueur. Tapi saat ini kami jarang ketemu lagi, ia sibuk dengan kehidupanya, dan saya mengikut mozaik yang entah akan mempertemukan saya dengan siapa dan dimana.

“Kamu mabuk?” si Wartawan bertanya.

“Sedikit.”

“He.. he… memang sudah banyak minum,”

“Ini Margarita gimana?,”

“Jangan saya sendiri, kamu bantu minum.”

Si Wartawan dari tadi sudah terlihat tidak berminat untuk menyanyi setelah tiga lagu pertama. Wonderful tonightnya Eric Clapton , Sailing lagu nya Rod Stewart, terus yang terakhir lagu Pelangi di Matamu milik Jamrud. Saya hanya satu lagu, itu pun  tidak selesai. Ku Cari Jalan Terbaik versi rilis ulang Yuni Shara. Sisanya kami hanya menikmati musik.

Entah kenapa saya ingin bersandar. Dan si Wartawan tidak terlihat keberatan bahunya menjadi penopang.

“Saya capek,” kata itu keluar begitu saja dari mulut saya.

“Why?” Tanya si Wartawan dengan mata seolah ingin melihat jauh kedalam relung hati saya.

“Hidup saya terlalu berat,”

“Ah.. seluruh hidup kita ini semua berat. Tergantung versi dan bagaimana kita menjalaninya,”

“Kamu enak.. jadi Wartawan. Saya??”

“Jadi Wartawan juga bukan pekerjaan gampang,”

“Terkadang saya ingin hidup seperti kebanyakan wanita lain. Tanpa perjuangan, dicintai seorang lelaki dengan tulus tanpa syarat. Di persembahkan berbagai hal yang saya impikan,”

“Suatu saat. Yakinlah..”

“Bisa apa??”

“Don’t worry, tuhan bukan milik satu orang, atau satu Negara, atau satu golongan, atau suatu kaum. Tuhan milik semua orang. Termasuk milik kamu, saya, presiden, Gubernur, orang baik-baik atau penjahat sekalipun. Dan dia akan memberikan apa yang benar-benar diinginkan mahluknya. Tapi harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh dan konsisten. Karena tuhan akan mendengar setiap do’a mahluknya. Seperti ustad ya… kotbah ditengah malam, he.. he..,”

Tuhan itu maha adil, demikian menurut si Wartawan. Jika tidak percaya akan keadilan  terhadap hukum alam maka berarti kita tidak percaya adanya tuhan.

“Saya ingin di peluk,”  kata itu terlontar dari mulut saya dan jujur itu dari hati.

Sekali lagi saya katakan, dipeluk adalah sebuah kebutuhan dasar manusia yang sering kali tidak disadari. Dipeluk adalah sebuah hubungan interaksi manusia yang membuat seorang wanita nyaman dan di lindungi.

Ada satu hal yang sangat saya ketahui. Dalam kondisi pengaruh alkohol, manusia sering kali lebih jujur dan berbicara polos. Biasanya, kita tidak akan mampu untuk berpolitik dalam menyampaikan keinginan. Lebih sering  dengan kata-kata apa adanya. Termasuk ketika kita membenci seseorang maka secara otomatis akan terlontar begitu saja. Emosi akan meluap dengan bebas tanpa kontrol penuh.

Ketika saya ingin dipeluk maka hal itu pun akan terucap begitu saja. Soal siapa si Wartawan bukan persoalan. Munkin bukan pengaruh pihak ketiga si setan tadi. Tapi naluri keinginan yang terucap dalam kondisi separuh dari kesadaran terendam oleh alkohol.

Tidak terlalu susah bagi si Wartawan untuk menjangkau dan merengkuh seluruh tubuh saya dalam pelukannya. Dan memang dari tadi kami duduknya cukup rapat. Saya tenggelam dalam sebuah kehangatan yang memicu syaraf-syaraf mengendor dan itu lah yang membuat terasa nyaman itu.

“Masih ingin bercerita?” si Wartawan mempererat rengkuhannya.

“Belum,”

“Trus?,”

“Tolong perlakukan saya seperti pacar atau orang yang kamu sayangi. Please..,” Si Wartawan diam.

“Malam ini saja. Atau saya akan sedih..,”

Sebenarnya saya sudah terbiasa sedih. Sedih teramat sangat ketika menghitung duit di pagi hari sendiri di kamar hotel setelah melayani laki-laki dimalam harinya. Atau sedih ketika mengingat sudah seberapa jauh menghilangnya harapan untuk dicintai laki-laki yang dicintai. Ought… kak Riky, dimana kamu kini. I miss you…

Tapi saya berharap malam ini saya tidak sedih. Walau saya sendiri tidak tahu kenapa saya harus bersedih.

“Maaf.. kamu keberatan ya?” Tanya saya.

Si Wartawan masih diam.

Hanya tangannya menyibak helai-helai rambuk yang menjuntai diwajah saya. Ia tidak bicara. Tapi matanya terlihat meneduhkan. Ternyata dia tidak pelit dengan rasa sayang.

“Kamu masih mencitai Riky mu itu ya??” Si Wartawan bertanya.

“Tidak mungkin,”

“Kenapa?”

“Ia tidak mungkin bisa jadi milik saya,”

“Setelah Riky?”

“Om Jay,”

Oh.. ya.. Om Jay sebenarnya bukan bernama Jay seperti saya sering memanggilnya. Sorry saya tidak akan menyebut nama asli dan dimana dia tinggal dan bekerja. Ia sosok pengusaha sukses di kota Bengkulu. Tapi sebenarnya ia kelahiran Kepahiang. Ada beberapa usaha yang ia jalankan. Mulai dari penyediaan material bangunan hingga ke pelaksanaan proyek. Beberapa orang hebat baik dari dunia birokrasi, aparat,  maupun politik banyak yang dekat denganya.

Ini pula yang membuat saya banyak kenal dengan orang-orang hebat. Walau agak sedikit dirahasiakan, saya sering ikut dalam pertemuan-pertemuan mereka. Tapi rata-rata di Jakarta. Soalnya menurut Om Jay di sana lebih bebas untuk bicara dan mengatur berbagai kepentingan bisnis.

Berbicara disini menurut saya, Om Jay melakukan lobi-lobi dan sisanya service plus. Malah kalau dinilai, proses lobi terkadang hanya memakan waktu tidak lebih dari lima menit. Duduk memesan Black Coffee atau Espresso di lobi hotel.

Ini pula yang kemudian membuat saya terbiasa ngopi dan menjadi pengopi berat. Tapi saya sesekali juga suka memesan Café latte atau cappuccino. Kadang yang manis-manis seperti Café Mocha atau Chocolate. Om Jay selalu Espresso.

Terus ngobrol basa-basi sebentar, setelah itu langsung ke inti. Biasanya, yang dibicarakan nilai proyek, lokasi, waktu tender, dan system pengamanan. Terus soal fee keuntungan. Dan biasanya lagi, langsung deal. Karena Om Jay adalah orang yang tidak pernah bermasalah dengan duit. Ia terlihat mempunyai sumber duit dari mana-mana.

Saya jadi tahu, orang kaya cenderung jadi semakin tambah kaya. Kenapa? Sumber duit dan modal lebih sering ditawar kepada orang-orang kaya. Termasuk Bank, yang berupaya agar bisa memberi pinjaman kepada orang seperti  Om Jay.

Setelah itu, langsung menginjak ke acara entertainment atau hiburan. Jika sudah di Jakarta pilihan untuk itu sangat banyak. Om Jay sering kali mengajak saya menginap di hotel Oasis Amir di bilangan Senen Raya. Hotel bintang-4 yang memiliki sekitar 250 kamar itu sering kali menjadi tempat pertemuan-pertemuan kami.

Om Jay adalah panggilan special saya padanya. Sebenarnya, Jay berasal dari Giant tokoh film kartun Doraemon. Anak nakal yang suka menjahili Nobita Cs. Apa hubungan Giant dengan om Jay? Tidak ada, hanya suka-suka saja.

“Sekarang Om Jay mu itu dimana?” si Wartawan bertanya.

“Eit… jiwa investigasi nya jalan terus,”

“He.. he…,”

“Boleh tahu?”

“Takut ngasih tahu kamu. Nanti kamu tulis. Om Jay walau hebat dan kaya tapi ia Sekretaris Jendral PSTI-I,”

“PSTI-I itu apa?” Si Wartawan masih dengan nada menyelidik.

“Om Jay itu Sekjend. Persatuan Suami Takut Istri – Indonesia, he.. he..’”

“Ha… ha.. ha..,”

Entah mengapa tangan saya tiba-tiba mempererat pelukan, menengadah, dan berupaya berada lebih dekat lagi. Si Wartawan berupaya merunduk, hangat napasnya menerpa wajah saya. Sedetik kemudian bibirnya mendarat di kening saya.

Ciuman kasih sayang.

Oh.. my god, si Wartawan meluluskan permintaan saya untuk diperlakukan sebagai pacar atau orang yang disayanginya. Yah… kendati saya sudah sering berhadapan dengan lelaki, sering kali tanpa dasari rasa kasih.

Berbeda dengan malam ini, rasanya lebih dari cukup. Karena rasa itu sebenarnya termasuk langka bagi saya.

Saya tidak bicara hanya memejamkan mata ketika ciuman itu merambat sedikit turun dimata saya. Geletar hebat dan jantung saya sontak berdegub kencang. Rasa yang luar biasa menyelebungi setiap helai jaringan syaraf dan mengencangkan aliran darah yang terasa memenuhi setiap pembuluh yang menjadi saluran peredarannya.

Tiga faktor untuk melangkah ke pemenuhan kebutuhan dasar manusia sudah ada. Pertama, dua manusia dewasa berlainan jenis dan setan pun seharusnya sudah pergi jauh. Kedua, suasana remang dan waktu yang sudah merambat melampaui puncaknya malam. Ketiga pengaruh alkohol yang membuat manusia menjadi apa adanya dimana akan jujur ketika berkeinginan.

Dan sebagai manusia dewasa di kondisi seperti ini, saya menginginkan itu.

Dan si Wartawan adalah manusia biasa di depan seorang wanita, sekali lagi saya katakan, saya cantik dan menarik, mempunyai aura seorang wanita dengan bentuk tubuh yang indah.

Malam ini, sebenarnya sudah terlalu panjang waktu berlalu sebagai proses untuk melangkah ke hal-hal yang lebih. Apalagi bagi orang seperti saya. Wanita malam.

Tapi jujur ini berbeda, saya merasakan tahapannya seolah saya baru terlahir kembali dan baru mengenal sentuhan seorang lelaki. Adrenalin saya berpacu mengikuti gerakan lembut yang dilakukan si Wartawan memenelusuri lengan saya dengan jarinya. Namun seolah kekuatannya melebih deburan ombak di sore hari. Kencang dan ganas.

“Jangan di sini,” ucap saya.

Si Wartawan tahu dan tidak perlu dibahas, kami sepakat.

Menurut si Wartawan, Malioboro Hotel & Spa adalah hotel sekelas bintang 3 sekaligus tempat pijat kesehatan Spa & Shiatsu. Bukan sembarang SPA, SPA Malioboro yang berada di lantai dasar juga menyediakan layanan plus-plus, antara lain tarian striptease baik di bar atau di kolam renang (whirlpool) yang dilaksanakan setiap malam mulai jam 21.00 WIB, body massage, mandi kucing dan 3 some or many some.

“Tergantung seberapa kuat uang yang dibawa pengunjung,” ujar Wartawan.

Kami beranjak. Si Wartawan kembali menyempatkan ciumannya di kening saya. Dilubuk hati saya yang terdalam berucap terimakasih.

bersambung…

Wanita Malam part 3 adalah sebuah cerita fiktif jika ada nama, tempat, suasana yang sama itu agar ceritanya asik saja.
loading...