Toleransi Beragama Ala Sule Prikitiew

Toleransi Beragama Indonesia berada di Titik Nadir

0
1051
Toleransi Beragama Ala Sule Prikitiew
Sule Prikitiew | Photo: okezone

Indonesia adalah negara besar dengan beragam agama dan aliran kepercayaan. Dikenal sebagai bangsa yang mampu menyatukan berbagai perbedaan itu dalam sebuah bingkai dasar negara yakni Pancasila. Bahkan, nilai-nilai toleransi beragama negeri Nusantara ini, mampu menarik perhatian dunia untuk belajar.

Lalu bagaimana nilai toleransi beragama dari kacamata pelawak kondang Indonesia, Entis Sutisna, dibangun? Dalam sebuah akun halaman facebooknya, lelaki yang lebih dikenal dengan sebutan Sule Prikitiew ini, menulis tentang kisah-kisah keteladanan Nabi Muhammad dalam toleransi beragama.

Sule menulis, Kita jarang sekali mendengar kisah Nabi Muhammad yang pernah mempersilahkan rombongan orang Kristen melakukan misa di Masjid Nabawi, sebagaimana juga kita jarang mendengar Umar bin Khatab yang sembahyang di pelataran gereja.

Kita juga jarang mendengar jaminan Nabi Muhammad yang dikirimkan terhadap orang Kristen dan agama lain untuk hidup aman dan tentram tanpa diganggu.

Semua kisah-kisah diatas adalah kisah sebenarnya yang hampir sama sekali kita tidak pernah mendengarnya dan justru kita sering mendengar para ustadz atau habib yang berteriak-teriak menakuti non muslim, melarang pembangunan gereja, mengancam Ahmadiyah dan Syiah, bahkan mengkafirkan sesama muslim.

Agama itu berguna jika dia menjadi alat perekat kemanusiaan, bukan alat penebar kebencian. Agama itu tidak pernah mencapai tujuannya jika justru saling mengancam dan bersautan pedang. Adalah tugas umat beragama untuk kembali ke tujuan awal agama masing-masing. Yang Islam kembali ke rahmatallilalamin, rahmat bagi semesta. Yang Kristen kembali ke Cinta Kasih. Yang Hindu kembali ke Tri Hita Karana. Yang Buddha kembali ke 8 Jalan Kebenaran.

Perbedaan adalah fitrah adanya, perbedaan itu sudah sejak awal ada dan akan terus ada. Hal terindah yang harus kita lakukan adalah toleransi atas perbedaan-perbedaan itu. Tentu kita boleh saling mengingatkan atau berdiskusi atau bahkan mengkritik, tapi semua itu harus berdasarkan rahmatallilalamin, cinta kasih, tri hita karana, 8 jalan kebenaran. Karena di atas segala perbedaan itu, kita punya persamaan yang jauh lebih penting yaitu persamaan sebagai sesama umat manusia yang menempati planet indah bernama bumi yang harus kita jaga bersama dan kita rawat bersama.

Semoga Allah SWT memberkati kita semua dan semua manusia hidup dalam satu cinta, cinta yang menyelimuti semesta.

Toleransi Beragama Indonesia berada di Titik Nadir

Entah untuk ikut menyikapi kondisi terkini atau bukan, saat di publish pada 12 September 2014, toleransi beragama Indonesia berada di titik nadir.

Sebagian dari tokoh-tokoh agama yang sejati menjadi panutan dalam menjaga kerukunan umat, malah cenderung memantik pemicu yang dapat menimbulkan perpecahan.

Dengan jalan menghidupkan kembali esensi serta spirit toleransi beragam, kiranya masyarakat Indonesia bisa mengembalikan lagi sejatinya wajah Indonesia yang ramah dan toleran. Sehingga, hakikat agama sebagai tuntunan dalam membentuk manusia bermoral dan berahlak dapat terwujud sepenuhnya. Bukan sebaliknya, sebagai horor pemicu perpecahan.