Toleransi Beragama Ala Sule Prikitiew

Toleransi Beragama Indonesia berada di Titik Nadir

Must Read

Geisha Jepang ritual menggoda dan kehidupannya

Geisha Jepang...  Oke!!.. Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu tentang ihkwal sosok sensasional ini.

Wanita dayak; pesona kecantikan, mitos dan faktanya

Ada banyak cerita tentang wanita dayak. Baik tentang beragam mitos dan stigma serem yang terlanjur beredar di tengah publik....

Geisha Jepang sensualitas dan kehidupannya

Siapa sich yang tidak tahu atau minimal pernah mendengar tentang wanita-wanita cantik Jepang berbalut kimono ini. Keberadaan Geisha Jepang indentik dengan...

Tari Merak Jawa Barat, Sang Penjantan Tebar Pesona

Sebagian besar masyarakat Indonesia jelas mengenal Tari Merak. Berbalut busana penuh warna, khas, dengan gerakan penuh keceriaan Tari Merak...

Fakta Menarik Tentang Seragam Sekolah Cewek Jepang

Jepang adalah negara yang memiliki daya tarik kuat di mata dunia. Bukan hanya sekedar kebudayaannya, namun juga aspek lain...

Komunitas Spiritual Indonesia, Membangun Spirit di Dunia Maya

Spiritual Indonesia adalah komunitas yang terbentuk secara online. Diawali dari obrolan di forum, milis, yahoo group, hingga akhirnya terbentuk...
- Advertisement -

Indonesia adalah negara besar dengan beragam agama dan aliran kepercayaan. Dikenal sebagai bangsa yang mampu menyatukan berbagai perbedaan itu dalam sebuah bingkai dasar negara yakni Pancasila. Bahkan, nilai-nilai toleransi beragama negeri Nusantara ini, mampu menarik perhatian dunia untuk belajar.

Lalu bagaimana nilai toleransi beragama dari kacamata pelawak kondang Indonesia, Entis Sutisna, dibangun? Dalam sebuah akun halaman facebooknya, lelaki yang lebih dikenal dengan sebutan Sule Prikitiew ini, menulis tentang kisah-kisah keteladanan Nabi Muhammad dalam toleransi beragama.

Sule menulis, Kita jarang sekali mendengar kisah Nabi Muhammad yang pernah mempersilahkan rombongan orang Kristen melakukan misa di Masjid Nabawi, sebagaimana juga kita jarang mendengar Umar bin Khatab yang sembahyang di pelataran gereja.

Kita juga jarang mendengar jaminan Nabi Muhammad yang dikirimkan terhadap orang Kristen dan agama lain untuk hidup aman dan tentram tanpa diganggu.

Semua kisah-kisah diatas adalah kisah sebenarnya yang hampir sama sekali kita tidak pernah mendengarnya dan justru kita sering mendengar para ustadz atau habib yang berteriak-teriak menakuti non muslim, melarang pembangunan gereja, mengancam Ahmadiyah dan Syiah, bahkan mengkafirkan sesama muslim.

Agama itu berguna jika dia menjadi alat perekat kemanusiaan, bukan alat penebar kebencian. Agama itu tidak pernah mencapai tujuannya jika justru saling mengancam dan bersautan pedang. Adalah tugas umat beragama untuk kembali ke tujuan awal agama masing-masing. Yang Islam kembali ke rahmatallilalamin, rahmat bagi semesta. Yang Kristen kembali ke Cinta Kasih. Yang Hindu kembali ke Tri Hita Karana. Yang Buddha kembali ke 8 Jalan Kebenaran.

Perbedaan adalah fitrah adanya, perbedaan itu sudah sejak awal ada dan akan terus ada. Hal terindah yang harus kita lakukan adalah toleransi atas perbedaan-perbedaan itu. Tentu kita boleh saling mengingatkan atau berdiskusi atau bahkan mengkritik, tapi semua itu harus berdasarkan rahmatallilalamin, cinta kasih, tri hita karana, 8 jalan kebenaran. Karena di atas segala perbedaan itu, kita punya persamaan yang jauh lebih penting yaitu persamaan sebagai sesama umat manusia yang menempati planet indah bernama bumi yang harus kita jaga bersama dan kita rawat bersama.

Semoga Allah SWT memberkati kita semua dan semua manusia hidup dalam satu cinta, cinta yang menyelimuti semesta.

Toleransi Beragama Indonesia berada di Titik Nadir

Entah untuk ikut menyikapi kondisi terkini atau bukan, saat di publish pada 12 September 2014, toleransi beragama Indonesia berada di titik nadir.

Sebagian dari tokoh-tokoh agama yang sejati menjadi panutan dalam menjaga kerukunan umat, malah cenderung memantik pemicu yang dapat menimbulkan perpecahan.

Dengan jalan menghidupkan kembali esensi serta spirit toleransi beragam, kiranya masyarakat Indonesia bisa mengembalikan lagi sejatinya wajah Indonesia yang ramah dan toleran. Sehingga, hakikat agama sebagai tuntunan dalam membentuk manusia bermoral dan berahlak dapat terwujud sepenuhnya. Bukan sebaliknya, sebagai horor pemicu perpecahan.

Latest News

16 Tempat Ngopi Paling Asik di Jogja | COFFEE SHOPS YOGYA

Jika Anda mencari rekomendasi tempat ngopi paling asik di Jogja, mungkin 16 Coffee Shops ini layak untuk...

Apa itu internet marketing? Explore Strategi Pemasaran Online!

Apa itu internet marketing? Ini menjadi pembahasan paling menarik bagi para pelaku bisnis beberapa dekade belakangan ini. Strategi pemasaran online dianggap menjadi...

Tempat Wisata Malam Jogja | Tempat Nongkrong Asik

Berikut adalah rekomendasi tempat wisata malam Jogja. Cocok untuk tempat nongkrong menikmati suasana kunjungan Anda. Jogja adalah...

Apa Itu Bisnis RT RW Net? Prinsip Dasar dan Potensinya

Apa itu Bisnis RT RW Net, kenapa ia menjadi buah bibir ditengah masyarakat. Dimana mendorong sebagian besar orang, menggali lebih jauh tentang...

Perpanjangan Waktu Habis, Kontraktor Proyek GOR Segera Bayar Denda

Bengkulu Utara, GC – Pemberian kesempatan perpanjangan waktu proyek pembangunan gedung olahraga (GOR) Kabupaten Bengkulu Utara yang menelan anggaran Dana Alokasi Khusus...

More Articles Like This

- Advertisement -