Connect with us

Sosial Budaya

Tari Merak Jawa Barat, Sang Penjantan Tebar Pesona

Published

on

Sebagian besar masyarakat Indonesia jelas mengenal Tari Merak. Berbalut busana penuh warna, khas, dengan gerakan penuh keceriaan Tari Merak bahkan mampu menarik perhatian dunia.

Tari merak merupakan tarian tradisional khas Jawa Barat. Tarian ini menceritakan tentang burung merak jantan yang menampilkan keindahan pesona ekornya yang panjang dan berwarna-warni. Gerakan mengambarkan menarik perhatian sang betina.

Ciri kostum yang berwarna-warni sangat mencerminkan khas burung merak. Daya tarik tarian ini, adalah kombinasi gerak dan kostum yang dikenakan penari. Bagian sayap yang dipenuhi dengan payet dan dapat dibentangkan, membuatnya terlihat mewah dan menarik.

Mahkota yang berhiaskan kepala merak yang disebut siger akan bergoyang-goyang setiap penari menggerakkan kepalanya.

Tarian ini ditarikan oleh kaum wanita. Mungkin pertimbangannya, gerakan gemulai yang di inspirasi burung merak, lebih cocok diperankan oleh wanita. Walau, sejatinya tarian ini tentang merak jantan yang menarik perhatian betina.

Tari Merak merupakan ragam tarian kreasi baru. Tarian ini, pertama kali diangkat ke pentas oleh Seniman Sunda Raden Tjetje Somantri.

Raden Tjetje Somantri adalah saeorang pelopor tari kreasi Jawa Barat yang juga merupakan pendiri Badan Kebudayaan Djawa Barat (BKDKB) dan Badan Kebudayaan Indonesia (BKI).

Tjetje Somantri lahir di Bandung pada tahun 1891 dari ibu Nyi Raden Siti Munigar, gadis ningrat asal Bandung, serta ayahnya bernama Raden Somantri.

Pendidikan yang dilaluinya adalah HIS dan MULO di Bandung. Pernah meneruskan ke MOSVIA tetapi tidak sampai tamat. Belajar tari Tayub pertama kali di Kabupaten Purwakarta pada tahun 1911, dari R. Gandakusumah (Aom Doyot). Juga belajar tari wayang dari Aom Menin, Camat Buah Batu di Bandung.

Asal usul tari merak

Asal usul Tari Merak dibuat karena adanya ketertarikan  Raden Tjetje Somantri kepada hewan merak yang indah.

Kostum yang digunakan, menggambarkan bentuk dan warna bulu-bulu merak; hijau biru dan/atau hitam. Ditambah lagi sepasang sayapnya yang melukiskan sayap atau ekor merak yang dapat dikembangkan. Gambaran merak bakal jelas dengan memakai mahkota yang dipasang di kepala setiap penarinya.

Tarian ini biasanya ditarikan berbarengan, biasanya tiga penari atau bisa juga lebih yang masing-masing memiliki fungsi sebagai wanita dan laki-lakinya.Iringan lagu gendingnya yaitu lagu Macan Ucul biasanya. Dalam adegan gerakan tertentu terkadang waditra bonang dipukul di bagian kayunya yang sangat keras sampai terdengar kencang, itu merupakan bagian gerakan sepasang merak yang sedang bermesraan.

Dari sekian banyaknya tarian yang diciptakan oleh Raden Tjetje Somantri, mungkin tari Merak ini merupakan tari yang terkenal di Indonesia dan luar negeri.

Tidak heran kalau seniman Bali juga, diantaranya mahasiswa ASKI Denpasar menciptakan tari Manuk Rawa yang konsep dan gerakannya hampir mirip dengan tari Merak.

Tari Merak Bali

Tari Merak Angelo Bali | Photo: aprilgojer

Tarian ini biasanya ditarikan berbarengan, biasanya tiga penari atau bisa juga lebih yang masing-masing memiliki fungsi sebagai wanita dan laki-lakinya. Iringan lagu gendingnya yaitu lagu Macan Ucul biasanya. Dalam adegan gerakan tertentu terkadang waditra bonang dipukul di bagian kayunya yang sangat keras sampai terdengar kencang, itu merupakan bagian gerakan sepasang merak yang sedang bermesraan.

Tari Merak merupakan kesenian tari yang berasal dari tanah Pasundan. Sejarah tari merak jawa barat itu sendiri diciptakan oleh Raden Tjetjep Somantri pada tahun 1950-an dan dibuat ulang oleh dra. Irawati Durban pada tahun 1965 .

Dalam Sejarahnya, tari merak jawa barat, banyak yang salah kaprah. Dimana mengira jika tarian ini bercerita tentang kehidupan dan keceriaan merak betina, padahal tarian ini bercerita tentang pesona merak jantan yang terkenal pesolek untuk menarik hati sang betina.

Sang jantan akan menampilkan keindahan bulu ekornya yang panjang dan berwarna-warni untuk menarik hati sang betina.

Gerak gerik sang jantan yang tampak seperti tarian yang gemulai untuk menampilkan pesona dirinya yang terbaik sehingga sang betina terpesona dan melanjutkan ritual perkawinan mereka.

Setiap gerakan penuh makna ceria dan gembira, sehingga tarian ini kerap digunakan sebagai tarian persembahan bagi tamu atau menyambut pengantin pria menuju pelaminan. Bahkan untuk pentas ke mancanegara.

Garuda Citizen truly of Indonesia » politik, hukum, sosial, wisata, budaya, dan berbagai berita peristiwa menarik dan penting untuk dibaca.

Sosial Budaya

Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda Indonesia

Published

on

Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Generasi Muda Indonesia

Di zaman modern ini, jenjang pendidikan yang tinggi tidak menjamin seseorang juga memiliki pendidikan karakter yang baik. Cukup banyak orang yang memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi bersikap layaknya orang yang berpendidikan rendah atau bahkan tidak berpendidikan.

Dan yang paling buruk adalah mereka yang notabene memiliki latar belakang pendidikan yang tinggi. Mereka ini kerap ‘membodohi’ orang lain yang mereka anggap lebih rendah dari segi kepintaran. 

Idealnya, mereka yang memiliki kapasitas dan value pendidikan yang baik seharusnya juga memiliki pendidikan karakter yang baik. Mereka harus mampu memanfaatkan ilmu yang mereka miliki tersebut. Ilmu itu bisa untuk ‘merangkul’ masyarakat umum, terutama masyarakat yang dari segi pendidikan relatif kurang, dengan melalui berbagai cara.

Misal melalui LSM, NGO, dan komunitas. Atau yang sekarang sedang marak, yaitu dengan menjadi figur. Figur ini kita harapkan dapat bergerak di bidang kemasyarakatan, politik, dll untuk mendongkrak kualitas hidup masyarakat. 

Seperti pepatah yang mengatakan ‘bagaikan padi. Semakin tua, semakin berisi, semakin merunduk’. Pepatah ini seolah ingin menyampaikan bahwa semakin kita berilmu, kita seharusnya semakin rendah hati. Sangat penting juga bagi kita untuk dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk. Hendaklah juga kita menjadi pribadi yang bijak. Nah, nilai-nilai semacam ini lekat dengan yang namanya pendidikan karakter.

Definisi Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter adalah pendidikan yang didesain untuk membantu membentuk kepribadian seseorang dengan cara menekankan pada budi pekerti. Dengan harapan budi pekerti ini dapat menghasilkan output berupa sikap jujur, tingkah laku yang baik, hormat dengan orang lain, menghargai orang lain, tanggung jawab, dan output positif lainnya (Thomas Lickona).

Di Indonesia sendiri mungkin kita sering menyebutnya dengan pendidikan nilai. Pendidikan nilai ini meliputi nilai-nilai luhur yang sebenarnya telah ada dan melekat pada budaya bangsa kita. 

Pendidikan karakter semacam ini sebaiknya mulai diperkenalkan sejak dini. Usia dini seseorang akan lebih mudah untuk memberi input yang positif, termasuk input yang ada kaitannya dengan nilai budi pekerti.

Selain itu kita dapat ‘menyisipkan’ sedikit nilai-nilai budi pekerti saat kelas sedang berlangsung. Kita bisa mengajarkan mereka tentang baik dan pentingnya nilai budi pekerti dari sikap dan perbuatan yang kita contohkan kepada mereka.

Dengan cara ini anak-anak ini tidak hanya mengetahui soal nilai budi pekerti secara teoritis saja. Hal lainnya adalah secara nyata mendapatkan apa yang sudah kita contohkan di hadapan mereka. 

Signifikansi

Signifikansi dari pendidikan karakter cukup banyak. Dan yang paling nyata adalah tumbuhnya pribadi yang berkualitas baik dari segi intelegensi maupun emosi.

Dari segi emosi, seseorang dengan bekal pendidikan karakter yang baik cenderung akan menjadi pribadi yang tumbuh dengan baik. Mereka memiliki rasa simpati, empati, dan toleransi yang tinggi.

Selain itu akan tumbuh nilai-nilai positif dalam dirinya. Nilai kejujuran, kedisiplinan, kerja keras, dan sikap terbuka; Sebuah sikap yang wajib ada dengan nilai menghargai segala hal yang mungkin tidak seragam dengan pendapatnya. 

Baca juga: Kenali Obat Stroke Tradisional Ampuh dan Mudah Didapatkan

Sudah sewajarnya berbagai tindakan kriminal ataupun peristiwa-peristiwa kelam yang memicu perpecahan dapat kita tekan apabila sebagian besar masyarakat kita memiliki bekal pendidikan karakter yang cukup. Yang ada kita hidup harmonis dan saling menghargai. 

Pendidikan Karakter Sebaiknya Melibatkan Siapa?

Untuk mengimplementasikannya seperti yang diharapkan, kita perlu melibatkan banyak pihak. Sebut saja individu itu sendiri, pemerintah, lingkungan sosial, dan keluarga. Semua pihak ini jika berjalan secara bersama dan harmonis, kita sebut sistem. Sistem yang berjalan dengan baik tentu akan memberi pengaruh yang signifikan pada proses pemberian pendidikan ini. 

Keluarga sebagai basis pendidikan juga perlu memperkenalkan inti dari pembentukan karakter secara perlahan pada anak-anak sejak dini. Orang-orang dewasa dalam sebuah keluarga dapat memberi mereka contoh dan kebiasaan yang baik.

Ini adalah bekal awal bagi siswa untuk menerima pendidikan karakter dengan cakupan yang lebih luas nanti ketika mulai menginjak bangku sekolah dan ketika terjun ke dalam lingkungan sosial dan dunia kerja. 

Demikian artikel singkat ini sudah kami persembahkan bagi generasi muda, terutama anak-anak. Masih ada informasi menarik lainnya seputar pendidikan yang bisa Anda akses di situs academia.co.id kesayangan kami.

Continue Reading

Daerah

Anggaran 1,9 Milyar Disinyalir Harga Rumah Adat Hanya 400 Juta, Jika Benar Kemana Sisanya?

Published

on

KEPAHIANG BB – Pembangunan Rumah Adat Milik Kabupaten Kepahiang yang hampir menelan angka nyaris 2 milyar tersebut diduga hanya seharga 400 juta. Hal ini didapat dari pengakuan pekerja pada rumah adat tersebut. GM yang beralamat di Ogan Ilir Sumatera Selatan selaku tukang dalam pekerjaan mengaku pihaknya saat itu hanya mengambil jasa tukang saja dimana untuk permeternya 1,2 juta.
” Kalau untuk pembuatan Rumah Adat Kepahiang itu berukuran 8 x 12 meter dan kami saat itu hanya mengambil upah tukang saja sekitar 120 jutaan lah, karena kayunya sudah di siapkan oleh pak YM, dan kayu yang digunakan adalah kayu jati dan juga kayu lain, dicampur,” jelasnya.

Sementara itu menurut GM jika memesan bangunan serupa dari mereka hanya seharga 300 juta untuk kayu jenis kulim dimana kayu kulim kualitas dan harganya nyaris sama dengan kayu jati.
” kalau untuk kayu kulim dan jati itu mungkin sama harganya, untuk ukuran sebesar Rumah Adat kepahiang dengan bangunan sama persis sekitar 300 juta terima kunci,” jelas GM.
Melihat keterangan tukang tersebut kemana kelebihan anggaran yang mencapai 1 Milyar lebih tersebut?

Sementara itu Kadis PUPR Rudi sihaloho mengatakan terkait kerusakan yang terjadi pada rumah adat tersebut akan menjadi tanggung jawab bersama untuk memperbaikinya.
” Kalau soal kerusakan yang terjadi sekarang itu nanti akan kita cek dan perbaiki,” ujar Rudi.

Saat ditanya apakah rumah adat tersebut sudah di serah terimakan Rudi menegaskan bahwah bangunan tersebut sudah diserah terimakan ke Dikbud, namun anehnya tidak ada aktifitas apapun hingga hari ini.

Hal yang sama sebenarnya pernah diberitakan pada tahun 2018 tak lama setelah rumah adat tersebut selesai dibangun, kala itu bangunan rumah adat sudah mengalami kerusakan di beberapa tempat, dan Kadis PUPR saat itu juga memberikan Statemen yang sama bahwa akan di cek dan diperbaiki. Tapi kenyataannya hingga diberitakan kembali pada tahun 2020 ini kerusakan belum sama sekali diperbaiki malah bertambah parah.

Di saat yang sama waktu itu Anggota DPRD Kepahiang Hariyanto S.Kom juga pernah mengatakan bangunan Rumah adat dan juga bangunan TIC tersebut saat di bangun seperti sangat tergesa gesa dengan lahan tempat membangun hanya berstatus pinjam pakai.
“aneh dari awal, dibangun dengan dana besar, dengan kesan terburu buru, di tanah bukan milik daerah dan kemudian dibiarkan begitu saja, bangunan permanen di bangun di tanah pinjaman,” ujar Hariyanto.

Baca Juga : https://bedahberita.id/2020/10/18/telan-dana-hampir-2-milyar-terindikasi-3-tahun-rumah-adat-terbengkalai/

Lanjut Hariyanto apapun alasan Dinas Dikbud dan PUPR, hal ini tidak bisa di benarkan, ini bisa merugikan negara, bangunan tersebut mulai rusak, lokasi sudah di penuhi semak belukar. Belum lagi karena gelap bangunan tersebut sudah di jadikan tempat anak anak muda mojok dan bermesraan.
“Selain itu anak anak muda juga mulai mabuk mabukan menghisap lem di dalam bangunan, benar pintu terkunci, tapi jendela terbuka, belum lagi bangunan dan lingkungan sekitar dalam kondisi gelap, jadi sangat menunjang menjadi tempat maksiat nantinya,” sesal Hariyanto.

Hariyanto meminta dinas terkait segera memanfaatkan bangunan bangunan tersebut.
“saya berharap kawan kawan Parpora segera manfaatkan Rumah Adat dan Gedung TIC tersebut, kalau cuma alasan belum serah terima itu alasan tidak masuk akal. Memangnya sesulit apa proses serah terima antar OPD tersebut yang sama sama anak buah Bupati. Itukan cuma administrasi atau pun kalau masih hak Dinas PUPR ya tolong dimanfaatkanlah jangan sampai berlarut larut dan salah manfaat seperti sekarang ini,” katanya saat itu (2018). Tapi faktanya hingga hari ini belum ada pergerakan sama sekali.(bcp)

Continue Reading

Sosial Budaya

Jaringan Sosial Pemain Togel dalam Kultur Kemiskinan

Published

on

jaringan sosial togel

Beberapa jenis judi yang disediakan oleh bandar judi atau bandar slot, termasuk togel di banyak negara sudah dilarang. Permainan taruhan ini dinilai memberikan efek negatif bagi pemainnya. Sedangkan bagi masyarakat miskin sendiri, relasi antar pemain togel membuat kultur perjudian semakin langgeng. Jaringan sosial togel menjadi kuat lantaran beberapa faktor.

Togel sudah banyak dikenal sejak lama. Permainan judi dengan cara bertaruh angka ini sangat mudah dimainkan. Sehingga banyak orang yang mencoba peruntungan di dalamnya. Padahal tak menutup kemungkinan bahwa pemain togel akan semakin rugi.

Sudah banyak ditemukan kasus yang menyatakan bahwa togel membuat orang menjadi bangkrut. Beberapa kasus terbaru juga ditemukan bahwa pemain togel ini justru menyelewengkan dana sosial untuk taruhan.

Motif yang negatif ini memperlihatkan bagaimana togel memberikan dampak yang buruk bagi pelakunya. Maka tak mengherankan jika banyak pemain togel yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan uang taruhan.

Sebagai masyarakat yang hidup berdampingan dengan orang lain, togel di beberapa tempat menjadi bagian di dalamnya. Togel bisa tumbuh dan berkembang pada masyarakat yang mendukungnya secara tidak langsung.

Bagaimana hal ini kemudian bisa terjadi? Padahal di berbagai daerah kegiatan togel menjadi barang terlarang.

Masyarakat Miskin sebagai Pembentuk Relasi Jaringan Sosial Togel

Permainan judi togel pada awalnya muncul di tengah masyarakat menengah ke bawah. Ini terjadi karena judi jenis ini sangat sederhana dan tidak perlu media seperti di kasino. Masyarakat miskin yang terhimpit masalah ekonomi memiliki keinginan untuk memperoleh uang dengan cepat.

Sehingga ketika bandar togel masuk ke dalam lingkungannya, mereka akan bersuka cita dengan harapan bisa menang. Beberapa kebijakan negara di masa pemerintahan orde baru pernah melegalkan togel. Togel saat itu berbentuk SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah).

Pelegalan togel ini disambut baik oleh banyak orang, khususnya kalangan menengah ke bawah. Togel saat itu menjadi barang taruhan yang menarik sekaligus dianggap menguntungkan. Padahal keuntungan terbesarnya dipegang oleh bandar togel.

Ketika kebijakan ini dihilangkan, masyarakat masih diam-diam melakukan togel. Ini karena ada efek kecanduan yang membuat seolah-olah togel sangatlah menguntungkan. Efek psikologis ini kemudian menjamur di masyarakat hingga sekarang.

Perkembangan togel di masyarakat ini kemudian membentuk jaringan sosial. Jaringan sosial ini merupakan koneksi nonformal yang tidak langsung terbentuk. Biasanya ini disebabkan hubungan pertemanan atau kekerabatan.

Relasi yang kemudian muncul dapat disebut sebagai hubungan patron-klien. Bandar judi bisa disebut sebagai kelompok patron, atau yang menyediakan togel. Sementara pemainnya menjadi klien dalam keterlibatan togel.

Hubungan tersebut merupakan hubungan horizontal. Artinya hubungan pemain togel dengan bandar adalah memiliki kedudukan yang setara.

Sedangkan untuk hubungan vertikal biasanya menggunakan kekuatan atau power. Kekuatan yang dimaksud adalah penyedia jaringan keamanan dalam bermain togel. Dalam perjudian, seperti togel, tidak asing jika melibatkan pihak ketiga.

Pihak ketiga yang dimaksud adalah orang yang memiliki kuasa. Misalnya oknum militer yang menjadi backing dalam bisnis togel ini.

Kekuatan ini lah yang kemudian menjadi budaya togel, khususnya di lingkungan miskin. Pengaruh kuat dari dalam dan luar semakin menguatkan kebiasaan bermain togel pada masyakarat. Sehingga togel sulit untuk dihapuskan.

Fenomena Jaringan Togel dalam Kacamata Teori Sosial

Togel menjadi barang yang sudah tidak asing lagi. Meski banyak ditolak oleh banyak orang, beberapa kelompok masih hidup bersama togel. Banyaknya penolakan terhadap togel ini kemudian menjadikannya sebagai masalah sosial.

Lalu bagaimana masyarakat kemudian memandang hal yang menyimpang ini? Bagi lingkungan yang mayoritas menolak togel, tentu saja memandangnya sebagai hal negatif. Tetapi, bagi lingkungan yang dihidupi dengan judi dan togel ini menjadi persoalan berbeda.

Dalam kacamata teori sosial, salah satunya adalah fenomenologi, memandang bahwa togel terjadi karena ada motif di baliknya. Togel di masyarakat yang kemudian membentuk suatu jaringan sosial memperlihatkan dua sisi.

Fenomenologi memandang bahwa apa yang terjadi memiliki arti ganda. Dapat berupa arti objektif empiris serta subjektif. Sehingga jika melihat fenomena togel, bisa dilihat mengapa jaringan sosial pada togel bisa terbentuk.

Dalam beberapa motif yang mendorong masyarakat bermain togel, salah satunya adalah kemiskinan. Pemaknaan kemiskinan dalam togel juga memiliki dua sisi yang berbeda.

Baca juga: Representasi Togel dalam Kemiskinan Masyarakat

Bagi kelompok yang putus asa, bermain togel dianggap mampu menyelamatkan perekonomian. Sedangkan faktanya, dengan bermain togel, justru kemiskinan akan semakin parah.

Jaringan Sosial Togel pada Lingkup Masyarakat Miskin

Keberadaan togel yang menyasar kelompok menengah ke bawah membuat sedikit khawatir. Pasalnya, kelompok ini merupakan kelompok yang rentan secara finansial. Harapan mereka dengan bermain togel adalah menjadi kaya. Sedangkan yang terjadi justru sebaliknya.

Lingkaran kemiskinan akan terus menjangkiti kelompok yang bergabung pada togel. Sehingga jaringan sosial yang ada dalam ranah togel semakin besar. Semakin besar jaringan yang terbentuk, maka semakin sulit pula togel diberantas.

Masyarakat miskin ini membutuhkan jalan untuk keluar, meski tak menutup kemungkinan dari kelompok atas juga terlibat togel. Semakin banyak masyarakat yang menggantungkan diri pada togel, maka semakin dalam juga mereka terperosok dalam kemiskinan.

Continue Reading

Trending