Sipoltak Itu Bikin Sebel, SBY Sudah Benar Pecat Ruhut Sitompul

Tamat kau poltak! Begitu bathin saya waktu itu

0
856
Sipoltak Itu Bikin Sebel, SBY Sudah Benar Pecat Ruhut Sitompul

Bismillah… Saya itu, dari tadi pagi sudah tergelitik mau ikutan nulis tentang abang aku satu ini. Itu lho… si poltak dari Medan. Pas dengar kabar pertama kali Bang Ruhut Sitompul di pecat SBY dari jabatannya sebagi juru bicara DPP Partai Demokrat (PD). Ada apa pula ini? Begitu reaksi pertama ku.

Dari dulu, saya itu sudah tahu bahwa; sudah bertahun-tahun pak SBY menahan gemas terhadap pernyataan-pernyataan abang Ruhut ku ini. Bagaimana tidak, tokoh nyentrik dimata ku itu sering kali berbicara over lapping dari posisi dan garis besar kebijakan PD. Hal itu pula yang mungkin dirasakan pak Beye.

Sudah sering pula diingatkan tetapi tidak dihiraukan, justru malah diulang-ulang. Akhirnya kesabaran pak Beye habis juga. Mungkin saking geramnya pak Beye, tak sempat pula dia suruh juru ketik bikin surat pemecatan. Lalu, melalui SMS, doski yang memang pemilik partai Demokrat itu menonaktifkan (memecat) Ruhut Sitompul dari jabatannya. Bah… berhentilah si Poltak sebagai koordinator juru bicara DPP PD dalam seketika.

“Rasain loe bang Ruhut!.. He… he..,”

Tapi bukan bang Ruhut Sitompul namanya, jika gara-gara pemecatan itu lalu mati langkah. Alih-alih langsung bungkam, ciut nyalinya dan minta maaf kepada pak Beye. Abang aku itu malah semakin menjadi. Berbunyi terus lah dia.

“Mirip Ahok. Makin digituin aku makin besar.” Begitu kata Abang Ruhut. Dan saya tahu maksudnya, makin populer lah dia dimata public. Iklan gratis, begitulah kira-kira.

SBY Sudah Benar Pecat Ruhut Sitompul

Saya tidak menyalah pak Beye jika dia geram lalu memecat Bang Ruhut. Sebagai juru bicara, ya bicaralah sesuai kesepakatan yang telah disepakati oleh organisasi.  Jangan kita menjadi juru bicara suatu organisasi, tapi bicara seenak udelnya sendiri, bahkan berseberangan dengan keputusan organisasi, tak elok rasanya dilihat pihak luar.

Abang Ruhut secara organisasi telah melukai hati rekan-rekan separtainya. Partai Demokrat dengan gaya lamanya yang selalu mengambil langkah politik pada akhir-akhir momentum, Ruhut malah curi star mendukung Ahok. Itu kan tak elok dipandang mata.

Abang Ruhut memang sering kali benar dalam mengambil langkah politik. Terbukti ia selalu berada di pihak yang menang, setiap ada pesta demokrasi. Tapi kan, tidak senasib sepenanggungan namannya, jika teman-teman lainnya berada dipihak kalah.

Pak SBY Pecat Ruhut itu sudah benar. Masa dalam satu kapal Bang Ruhut malah naik sampan dan mampir kepulau yang indah sementara teman-teman berjibaku menghadapi badai ditengah gelombang nan luas.

Masih untung pak Beye yang gagah berani pecat Ruhut Sitompul hanya dari jabatan koordinator juru bicara PD bukan menendangnya keluar dari Partai Demokrat. Bisa berabe kan? Si Poltak bisa habis keanggotaan DPR RI dan diusulkan terkena Pergantian Antar Waktu (PAW).

Seharusnya, SBY, Aku dan Kamu Belajar Dari Ruhut Sitompul.

Jujur, awalnya saya sangat tidak suka dengan Ruhut Sitompul. Apalagi waktu dia masih main filem dilayar kaya dulu. Kalo tidak salah di sinetron Gerhana. Saya lupa-lupa ingat. Rasa makin tidak suka semakin menjadi-jadi ketika tiba-tiba dia jadi anggota DPR-RI.

Dan saya makin sebel ketika dia sering bela-bela pak Beye. Sampai pasang badan segala, ketika Pak Beya masih presiden di bully-bully orang.

Pertanyaan saya, apa pula kelebihan bapak satu ini sehingga bisa jadi anggota DPR-RI. Ngomong ceplas-ceplos seperti tanpa beban. Baru sebentar masuk kedunia politik langsung tenar.  Cius… saya sebel banget dengan dia. Sebel… Sebel…  se-sebel-sebelnya.

Tapi tiap dia muncul di TV, saya tidak pula pernah ganti chanel. Malah nunggu dan bertanya-tanya, apalagi kata-katanya yang akan membuat saya tambah sebel.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, musim pun berganti musim, hingga sepuluh tahun lamanya. Dan Pak Beye harus meninggalkan kursi empuk nomor satu di Indoneisa.

Tamat kau poltak! Begitu bathin saya waktu itu. Saya memprediksi Partai Demokrat mulai runtuh dari masa kejayaannya, seiring dengan turunnya Pak Beye dari ke-Presidenan-nya. Dan runtuh pulalah si Ruhut Sitompul itu.

Saking sebelnya saya dengan si Poltak. Langkah-langkah politiknya saya pantau sedetil mungkin. Jika perlu cara bernafasnya saya perhatikan.

Dan sejak itu saya tahu, Ruhut Sitompul memang benar-benar orang politik dan akhisnya saya tahu pasti alasanya, kenapa ia bisa muncul dan bertahan dikancah perpolitikan Indonesia. Dimana sering kali tidak terbaca oleh banyak orang. Termasuk orang-orang hebat sekaliber Pak Beye,sekalipun.

Politik adalah alat memenangkan pertarungan untuk masuk dalam lingarakan kekuasaan. Politik adalah alat untuk memperjuangkan kepentingan yang biasanya, sebagian tercantum dalam visi, misi dan tujuan partai politik.

Bahasa halusnya, politik adalah alat untuk berjuang membangun bangsa ini.

Gaya politik Ruhut Sitompul jauh berbeda dengan cara berpolitik Pak Beye. Politik SBY termasuk sentimental yang seringkali membawa perasaan dalam langkah-langkahnya. Hal itu terbukti, ia tidak pernah bisa akur dengan Bu Mega, sejak dimulainya perseteruan mereka berdua.

Bang Ruhut menggunakan intuisi, prediksi serta akal sehat. Dia tahu persis harus berada dijalur mana dan berbicara apa setiap ada momentum perpolitikan. Itu lah alasan kenapa ia bisa muncul saat SBY menjadi presiden dan terus bertahan hingga SBY harus lengser.

Disaat perang besar antara Jokowi dan Prabowo dalam pemilihan Presiden. Sejak itu pula Ruhut Sitompul saya panggil Abang. He… he.. Kenapa? Karena sejak itu saya tahu Si Poltak adalah orang politik asli.

Mari kita lihat! Saat Pak Beye galau ketika harus memilih Jokowi atau Prabowo. Hingga akhirnya masuk kapal besar dan ikut karam bersama koalisi gemuk merah putih. Abang Ruhut malah terjun bebas kelautan dan memilih membonceng koalisi kurus dengan calon presidennya yang kurus pula, yaitu Koalisi Indonesia hebat.

Sebagai kader partai demokrat, kebijakan partai demokrat adalah mendukung Prabowo di pilpres 2014, tapi Ruhut malah dukung Jokowi. Eh.. tetap galau tanpa pilihan, lalu mengklaim sebagai partai penyeimbang. Begitulah kira-kira.

Dalam perang besar antara Prabowo dan Jokowi waktu itu cukup berimbang. Jadi cukup sulit untuk memprediksi potensi pemenang antara keduanya saat itu. Tapi intuisi Bang Ruhut tahu pasti ia harus berada dimana.

Dukung sosok yang peluang menangnya paling besar di pilpres/pilkada walaupun partai mendukung sosok lain. Adalah langkah tepat dalam dunia perpolitikan. Itulah alasanya kenapa selain survey independent, banyak partai juga melakukan survey. Gunanya adalah mengukur elektabilitas calon yang berpotensi menang.

Tahun 2004 dan 2009 Ruhut Sitompul mendukung SBY yang saat itu menjadi media darling dan ibu-ibu darling karena sosoknya yang gagah dan ganteng, dan SBY pun menang pilpres dan jadi presiden.

Tahun 2014 Ruhut yang kader partai Demokrat justru mendukung lawan politik PD (Jokowi) yang menjadi media darling karena sosoknya yang sederhana, jujur dan merakyat, dan Jokowi pun terpilih sebagai presiden RI 2014-2019.

Tahun 2017 Ruhut mendukung Ahok, hitung-hitungan Ruhut, melihat lawan-lawan Ahok yang kualitasnya begitu-begitu aja, jelas cukup logis. Dan abang aku itu menggunakan akal sehat dalam berpolitik. Jika bisa ikut menang, kenapa harus ikut karam hingga lima tahun mendatang.

Diyakini gara-gara dukung Ahok, ini juga merupakan salah satu alasan Ruhut dinonaktifkan sebagai koordinator juru bicara PD.

“Ahok itu orang baik. Dia pasti menang nanti,” begitu kata Bang Ruhut. Saya pun percaya prediksi si Poltak sekali ini akan benar kembali.

Lalu kenapa Pak Beye tidak setuju dan tidak mau belajar dengan langkah-langkah politik Abang Ruhut ku itu? Dan atau kenapa pula harus ikut galau masuk dalam koalisasi yang tengah sibuk mencari calon yang dianggap mampu mengalahkan Ahok.

Atau tetap tak bersikap dan mengaku sebagai partai penyeimbang dalam dunia perpolitikan yang tidak pernah seimbang.

Apa karena ada alasan dendam juga? Sebagaimana pernyataan Sandiaga Uno yang mengemban salah satu misi dan tugas untuk membalaskan dendam politik Partai Gerindra kepada Ahok.

Atau ikut-ikutan sebel karena Ahok ngomongnya pedas tanpa sopan santun?

Banyak lho.. contoh orang-orang yang tidak siap berpolitik hingga tumbuh dendam kesumat dan berkarat. Lalu emosional hingga seringkali mengambil langkah salah dan konyol. Lalu merugikan diri sendiri. Termasuk gagal move on seperti banyak dibicarakan orang dimedia social.

Ah.. berpolitik kok begitu. Sentimentil dan terbawa perasaan. Bisa ikut karam lagi lho pak…