Senjata Penghancur Massal Itu Bernama Hoax..

0
687
Senjata Penghancur Massal Itu Bernama Hoax..
Foto : [ viral di media seorang bocah di suriah tertidur di antara kuburan kedua orang-tuanya yang terkena bom pasukan pemerintah. Ternyata hanya sinetron yang di setting dengan apik ]

Belum hilang dari ingatan kita tentang photo bocah di Suriah tertidur di antara kuburan kedua orang-tuanya yang terkena bom pasukan pemerintah. Sempat menjadi viral diberbagai media sosial. Photo yang menyedot simpati publik itu ternyata HOAX. Alias, hanya sinetron yang di setting dengan apik.

Untuk apa? Ya untuk sebuah kepentingan tertentu. Yang jelas, jika dilihat dari caranya, sepertinya termasuk strategi ‘busuk’ dengan target pasar manusia yang memang gampang terprovokasi.

Bahkan dimata penulis kritis Denny Siregar, HOAX sangat berbahaya. Sama berbahayanya dengan senjata penghancur massal. Berikut penuturannya tentang HOAX sebagaimana ia tulis dalam salah satu status facebooknya. 

Senjata Penghancur Massal Itu Bernama Hoax..

Sebenarnya contoh mencari simpati melalui penderitaan anak2 bukan merupakan barang baru di negara berkembang termasuk Indonesia.

Coba lihat di pinggir2 jalan. Seorang ibu menggendong balita di terik matahari dan mengemis meminta uang. Pasti trenyuh kan ? Dan secara otomatis tangan kita terulur untuk memberikan lebih dari yang biasanya kita beri.

Padahal sesungguhnya menggunakan balita atau anak2 dalam mengemis adalah bagian dari trik untuk mendapatkan uang. Banyak terbongkar bagaimana balita itu disewa sebagai “aktor cilik” menjadi peran pembantu. Lebih dramatis dan lebih mengharu biru.

Bahkan di India lebih sadis. Balita bisa dipatahkan kedua kaki dan tangannya demi meraih lebih banyak simpati. Pernah nonton film Slumdog Millionare ? Dimana seorang anak matanya diberi lelehan besi panas supaya buta. Dengan kebutaannya, maka ia diharapkan mendapat lebih banyak uang bagi kelompok preman yang mengkoordinir pengemis.

Pesan dramatis itu bukan hanya ada di jalan2 tapi juga di medan perang…

Anak2 dan orang terluka dijadikan sebagai alat propaganda. Selain situasi mereka akan menaikkan rating pada media internasional dengan sudut pengambilan gambar yang seru, situasi mereka yang menyedihkan juga dijadikan alasan untuk membenci kelompok tertentu.

Menyedihkan ?

Ow, jangan tertipu. Keterbatasan sudut pandang kamera bisa menentukan kemana anda berpihak. Begitu juga ketersediaan aktor dan aktris sebagai penunjang drama.

Perang di Suriah adalah drama terbesar dan terkompleks di abad ini. Bukan saja banyak yang kebingungan siapa yang benar dan siapa yang salah, perang Suriah adalah perang propaganda terbesar yang dibangun media.

Selain ada perebutan kekuasaan terhadap pemerintahan yang sah, disana ada media2 internasional seperti Al-Jazeera yang men-dramatisir keadaan dengan menampilkan perang lebih seru dari situasi sebenarnya. Ban2 dibakar dan asapnya yang hitam membumbung dieksploitasi sebagai “pemboman terhadap satu rumah yang berisi keluarga”.

Diluar media, ada juga LSM HAM seperti White Helmets yang menyediakan aktor dan aktris dengan “darah dan balutan luka” ala sinetron Raam Punjabi. Selain untuk menaikkan rating media, sinetron ini ditayangkan untuk mendapatkan donasi internasional dan like, shares untuk mendapatkan auto surga. Gambar dan video terbaru yang menjadi viral adalah “Anak kecil terluka yang duduk dii kursi oranye”.

Satu pola yang sama, drama itu diciptakan untuk mendiskreditkan pihak tertentu, dan dalam hal Suriah untuk membunuh karakter Bashar Assad Presiden Suriah.

Jika akal mau sedikit bekerja, perhatikan keanehannya, bagaimana bisa Bashar Assad mengusir ISIS dari wilayah yang diduduki sekaligus di waktu yang sama membantai warganya yang ia lindungi ?

Tapi sinetron itu harus terus tayang, kalau perlu LSM penyedia aktor seperti White Helmets mendapat Nobel Perdamaian, sebagai penguat.Tujuannya mencari simpati dunia bahwa betapa kejamnya Bashar Assad terhadap rakyatnya sendiri, jauh lebih kejam dari ISIS yang menyerang negaranya. Dan ketika simpati dunia didapat, maka didapatlah restu PBB untuk menyingkirkan Assad.

Mirip dengan penyingkiran Saddam Hussein dengan alasan memiliki senjata pemusnah massal, yang akhirnya dianulir sendiri oleh AS dan sekutunya.

Kasihan memang rakyat Suriah. Selain diserang dari luar dengan senjata berat, mereka juga harus berperang melalui media sosial untuk melawan hoax dan propaganda media internasional.

Secangkir kopi pagi dan kita harus terus bertanya dalam hati, “bagaimana jika ini terjadi di Indonesia ?”

Seruputtt….

Sama seperti postingan "anak di Suriah yang terluka dan duduk di kursi oranye" adalah akting semata. Si anak yang tidak tahu apa2 dijadikan aktor untuk dijual kepada dunia dengan provokasi kekejaman Bashar Assad Presiden Suriah. Video ini terbongkar waktu chaos di Mesir oleh para pendukung Mohammed Morsy...
Sama seperti postingan “anak di Suriah yang terluka dan duduk di kursi oranye” adalah akting semata. Si anak yang tidak tahu apa2 dijadikan aktor untuk dijual kepada dunia dengan provokasi kekejaman Bashar Assad Presiden Suriah. (Photo Denny Siregar)

Video ini terbongkar waktu chaos di Mesir oleh para pendukung Mohammed Morsy…

loading...