SBY Curhat di Twitter lagi, Ada Unsur Provokasi, Licik dan HOAX?

Setelah Memfitnah Jokowi, SBY Nasehati Maruf Amien, Sempurna!

0
83
curhat sby - twetter
Banner BPKAD

Mendengar konpres SBY dua hari yang lalu, saya mendadak ingin ‘muntah’. Terutama pernyataan bahwa SBY mengaku mendapat informasi bahwa sebenarnya Jokowi ingin bertemu dengannya, namun dilarang oleh dua tiga orang di sekelilingnya.

“Tetapi, dilarang dua, tiga, orang di sekeliling beliau. Dalam hati saya, hebat juga yang bisa melarang Presiden kita untuk bertemu sahabatnya yang juga mantan Presiden,” ucap SBY. Hoeeeek.

Oke, dengan ini penulis ingin menganalisis secara logis dan pasti apakah pernyataan SBY ini benar atau hanya hoax belaka.

Tuduhan yang dilontarkan SBY ini sebenarnya bukan yang pertama kalinya. 6 Februari 2016, SBY mengatakan, “Saya masih ingat kalau tidak salah dulu sekian bulan lalu, ketika saya sekali-sekali melepas twitter, ada pihak yang tidak suka, ada elemen lingkar kekuasaan yang tidak nyaman bahkan mengirim pesan kepada saya,” kata SBY.

Saat itu Johan Budi sebagai juru bicara menanggapi santai. Bahwa Presiden Jokowi senang menerima kritik dari siapapun, termasuk dari SBY. Dari situ kemudian SBY menjawab lagi, bersyukur kalau ternyata Presiden Jokowi masih mau dikritik.

Sekarang, SBY lagi-lagi menuduh ada dua, tiga orang di sekeliling Jokowi yang melarang bertemu dengan SBY. Sama seperti tuduhan Februari 2016, SBY tidak bisa menyebut namanya siapa. Yang penting fitnah tetap jalan. Dan tujuannya adalah menjelek-jelekkan, memfitnah Jokowi bukan Presiden yang memiliki kuasa penuh, sehingga bisa diatur-atur oleh dua, tiga orang. Tujuan yang sangat buruk, meski disampaikan dengan senyum menyeringai.

Kalau dulu SBY menuduh ada yang elemen lingkar kekuasaan yang tidak nyaman dikritik bahkan mengirimi pesan, tujuannya adalah ingin mencitra burukkan bahwa pemerintahan Jokowi tidak mau mendengar kritik. Lagi-lagi, alurnya sama, disampaikan dengan senyum, santun dan sangat licik sekali.

Tapi begini, boleh menganggap saya salah dan sinis. Silahkan. Namun saya akan menantang logika waras kalian semua untuk berpikir dan menafsirkan pernyataan SBY yang ini: tetapi, dilarang dua, tiga, orang di sekeliling beliau. Dalam hati saya, hebat juga yang bisa melarang Presiden kita untuk bertemu sahabatnya yang juga mantan Presiden.

SBY bukan sahabat Jokowi

Selain tukang klaim statistik, SBY rupanya juga tukang klaim hubungan sosial. Ngaku-ngaku sahabat. Mirip mantanmu yang mendadak minta putus tanpa alasan yang jelas, lalu mengaku ingin sahabatan denganmu. Hingga akhirnya sahabatan yang musuhan.

Pernah ada mantan yang jadi sahabat lalu masih telpon-telponan? Tidak ada. Kalaupun ada, mungkin di bumi datar sana. Namun di bumi bulat, tidak ada istilah sahabat yang seperti itu.

Jika SBY mengaku Jokowi adalah sahabatnya, seharusnya tidak susah bagi SBY untuk menelpon Jokowi. Bagaimanapun SBY adalah Presiden ke 6 Indonesia yang berkuasa selama 10 tahun. Masa seorang sahabat sampai tidak bisa menelpon sahabatnya? Itu sahabat apa sahabat yang musuhan versi mantan?

Kalau saya jadi SBY, sungguh terhina sekali kalau sampai saya tidak punya akses ke Presiden Jokowi. Apa yang kurang dari SBY? Presiden 10 tahun, saat ini masih sebagai pimpinan partai, tapi tidak bisa komunikasi dengan Jokowi? helloow

Sampai harus konpres dan menyampaikan secara terbuka ingin bertemu dan bicara blak-blakan. Astagaaa benar-benar jadi teringat mantan yang ingin blak-blakan. Setelah tahu kita punya aset milyaran, sukses dan mapan, mantan malah ingin curhat blak-blakan. Hahahaha bukan pengalaman saya.

Jokowi tak tergoda mantan

Cerita SBY dan konpresnya menjadi lebih menarik karena kemudian direspon oleh Jokowi, meskipun Jokowi sebenarnya hanya menjawab pertanyaan wartawan.

“Kan saya sudah sampaikan bolak-balik, waktunya akan diatur, tetapi kalau ada permintaan,” jawab Jokowi. Presiden kemudian mencontohkan bahwa dirinya pernah merima BJ Habibie dan Try Sutrisno yang merupakan mantan Presiden dan wakil Presiden.

Artinya ini jelas, jika SBY mau bertemu Jokowi, dia harus membuat surat resmi. Tertib. Tapi jika SBY tidak mau membuat surat resmi, sampai lebaran kuda Jokowi tak akan temui SBY. Sebab sepertinya Jokowi merasa tidak perlu menemui SBY dan tidak perlu memanggilnya. Untuk apa memanggil SBY kalau memang tidak ada perlunya. Lagipula untuk apa bertemu dengan orang yang berkali-kali memfitnah dan membuat masalah?

Menasehati ulama

Ini yang terbaru. Kemarin SBY menasehati agar Maruf Amien bisa sabar dan tegar. Kembali menyelipkan fitnah “dimata-matai” yang katanya sasaran sebenarnya bukan Maruf Amien. Sebagai Pakar Mantan, saya lihat SBY ini memang sudah akut. Dia ini siapa sampai mau menasehati Maruf Amien? yang kita lihat selama ini yang tidak tegar adalah SBY. Dikit-dikit curhat. Tapi malah menasehati orang yang tidak pernah curhat. Hahaha

Begitulah kura-kura.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here