Puisi-Puisi Sri Sudarianti

0
356

ENGKAULAH MATAHARI

Siapakah yang memesan mendung?
ketika matahari masih riang
melukis jejak sepanjang siang
aku beringsut
menyudut
ketika busur panah hujan menghujam

masih di tempat yang sama
kupandang wajahmu dari balik jendela
mengibas-ibas kepala
lalu tertawa berderai ceria

duh, garis wajah yang kupunya
terlukis, jelas tertera

kuusap wajahku
angin menghela nafasku
lalu bisikku syahdu…
” Engkaulah Matahariku yang sesungguhnya “

Gerung, Feb ‘13

BULAN SUASA


hati laksana sumur tanpa dasar
katamu
lalu aku tengok hatiku
gelap, tak terlihat
entah

aku surut langkah
dipersimpangan waktu, rindu membeku kalah

ah
hari-hari adalah keringat
lengket
masam
karena rindu yang tak tenggelam

gerimis tak lelap, pada malam gelap
penat enggan mendekap
kuhirup nafas
rohmu terhisap

bayang-bayang penuhi kaca jendela
mendekat
penuhi selasar jiwa
lalu aku mabuk !
tubuhku terguling-guling cumbui gelisah

darah melesat
membentur dinding dan langit-langit kasat
di luar kelelawar terbang, hinggap
pada buah ranum masak

lalu bulan adalah suasa
pucat
pepohonan layu, mati tengadah
pada pijak bumi, yang tak pernah ada

Gerung, Feb ’13

Jie…-e j


kucumbui
bulan
bulat
telanjang
malam
menggelinjang
kelam
merintih
diperjamuan
ranjang
lalu
sunyi
meraup sepi
tak sendiri
tak letih
sumringah
wajah
mendekap
dialog
Cinta-Pecinta
Dua Dunia

Gerung, Feb ’13

loading...