Profile Bando Amin: Sang enterpreneur Bengkulu (1)

2
560
hadi lempe

Siapa yang tak kenal dengan sosok yang satu ini, khususnya di Provinsi Bengkulu dan sekitarnya. Adalah DR, Drs. H. Bando Amin C Kader MM, Bupati Kepahiang dua priode. Selain itu, ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh pendidikan dan seorang enterpreneur sukses.

Namun, jika saat ini ia bisa terbilang sukses bukan berarti itu didapatkan dengan cuma-cuma. Banyak pejuangan dan kerja keras harus dilaluinya. Ia, boleh dikatakan memulai segala sesuatunya dari NOL Besar.

Pria yang dilahirkan di sebuah desa terpencil dan berkutat dengan berbagai persoalan ekonomi ini, memulai secara bertahap, sejengkal demi sejengkal untuk meraih kesuksesan. Dan saat ini, buah dari proses panjang yang ia lalui, selain sebagai Bupati yang mampu membawa Kabupaten Kepahiang menuju pentas nasional, juga dikenal sebagai pengusaha sukses, sebagai pemilik dua kampus megah di Provinsi Bengkulu.

Apa rahasianya? Berikut tulisan tentang perjalanan panjang seorang putra desa yang terlahir dari keluarga miskin dan sempat berjibaku menghadapi musim paceklik yang terjadi setiap tahun di desa Kembang Seri – Muara Langkap Kecamatan Bermani Ilir Kabupaten Kepahiang – Provinsi Bengkulu.

Oleh : Dedi Ariko  

Bando Amin, dulu bukan siapa-siapa. Dia adalah bocah desa, sama seperti anak-anak yang lain dan banyak terdapat di berbagai pedesaan di Indonesia. Lahir dari keluarga sangat sederhana, jika tidak mau dikatakan miskin.

Ayahnya bernama H. Akader dan ibundanya bernama Siti Asia. Keduanya adalah orang tua yang buta huruf alias tidak pandai membaca. Kondisi ini adalah wajar terjadi di desanya, yang tepat berada di perbatasan Provinsi Bengkulu dengan Sumatera Selatan. Desa Kembang Seri – Muara Langkap, tepat berada di bibir perbatasan. Berbatasan langsung dengan Desa Simpang Perigi yang termasuk dalam wilayah Sumatera Selatan.

Kondisi desa pada masa ia dibesarkan disana, sekitar tahun 50-an atau 5 tahun setelah Indonesia Merdeka, Desa Muara Langkap – Kembang Seri, masih sangat memprihatinkan. Faktor ekonomi adalah masalah utama penduduk disana. Termasuk keluarganya.

Bando Amin lahir pada 30 November 1951 di desa tersebut.  Kehidupan yang keras, menjadi bagian penting yang menempa dirinya hingga kemudian ia terlahir sebagai sosok yang tangguh dalam menghadapi berbagai hal.

Sebagai bocah desa, Bando Amin merupakan sosok yang berani bermimpi dan menetapkan cita-citanya setinggi langit. Jauh melebihi kapasitasnya sebagai orang kampung nun jauh dipelosok. Tanpa listrik, tanpa dukungan ekonomi yang baik, bahkan bisa dikatakan tanpa harapan yang pasti.

Maklum, di desanya, jangankan untuk berani bermimpi terlalu muluk, bisa hidup hari itu dan esok adalah kondisi yang harus disyukuri.

Mungkin sebagian masih ingat tentang sebuah kasus besar di desanya dan sekitarnya tentang kelangkaan pangan. Dimana masyarakat terpaksa mengkonsumsi “Gadung”, sejenis umbi-umbian yang cukup berbahaya. Karena mengandung racun. Sehingga untuk dapat dikonsumsi harus diolah sedemikian rupa.

Menyadari akan kondisi yang serba sulit tersebut, Bando Amin kecil bukannya berdiam diri atau menerima nasib begitu saja. Kekuatan besar impiannya dengan dibalut kenekatan, membuat dia memutuskan merantau dan meninggalkan kampung halamanya tercinta.

Tidak jelas kemana arah tujuan yang pasti. Namun saat itu, yang ada dipikiran adalah keluar dari kampung dan melangkah menuju kota. Dan waktu itu, mengikuti kata hati, ia memutuskan untuk mengarahkan tujuannya ke Ibu Kota Indonesia yakni Jakarta.

Langkah awal yang akan menjadi proses panjang dan mengubah hidupnya memang harus dibayar dengan penderitaan yang luar biasa pahit. Dan hal ini akan ditulis pada bagian lain.

Bando Amin saat ini, oleh banyak masyarakat di Provinsi Bengkulu dikenal sebagai seorang enterpreneur pendidikan. Awal tahun 1990-an, dia merintis LPTK di Simpang Skip yang hanya memiliki tak lebih 10 komputer. Pelan tapi pasti, di bawah sentuhan tangan dingin Bando, semua berkembang.

LPTK yang semula hanya tempat kursus komputer, meningkat status menjadi Diploma 1, berkembang lagi menjadi D-III Amik Remox di Tapak Paderi.

Dalam waktu bersamaan Bando juga mendirikan Akademi Keuangan Perbankan (Akubank), Akper Karya Husada dan Akademi Teknologi Pertanian (ATP) di Jalan Meranti Sawah Lebar, yang kemudian bermetamorfosis menjadi Universitas Dehasen (Unived) sekarang.

Tidak terasa sudah 17 tahun berlalu, sekarang Unived sudah menjelma menjadi universitas besar dan berstandar Internasional. Senin (12/8) siang, Bando Amin mengundang khusus Pemred RB Zacky Antony, SH, MH dan wartawan serta fotografer RB untuk melihat langsung kemajuan yang dicapai Unived.

Sang bupati rela naik turun tangga, memasuki setiap ruangan yang ada di kampus berlantai empat tersebut. Lantai paling atas disulap menjadi lapangan futsal yang disewa untuk umum Rp 150 ribu per jam. “Kalau untuk RB cukup Rp 100 ribu,” promosi Bando.

Pemred RB Zacky Antony sempat diajak langsung oleh Bando Amin untuk mencoba bermain futsal. Sebelum melihat lapangan futsal, Bando memperkenalkan setiap ruangan yang semuanya terlihat lux. Mulai ruangan koperasi di lantai dua, ruangan apartemen di setiap lantai yang mewah. “Nanti kalau ada tamu dari Jakarta, bisa menginap di sini,” katanya.

Saat berada di ruangan apartemen tersebut, tak ada bedanya seperti berada di sebuah hotel mewah. Tampak dalam apartemen tersebut, satu set kursi dan meja kaca tebal, televisi, springbed empuk. Semua tertata dengan rapi.

Bando juga memperkenalkan ruang kuliah S2 (Magister) dan S3 (Doktor) yang bisa teleconference antara mahasiswa dengan dosen di Jakarta. Ruangan kuliah ini juga sangat mewah , selain dilengkapi pendingin udara (air conditioner), juga dilengkapi layar televisi di kiri dan kanan depan, kursi kuliah juga bukan kursi biasa, meja tulis yang licin mengkilat, setiap kursi mahasiswa dilengkapi mini mikrofon. “Di ruangan ini, kita berteleconference dengan Presiden SBY,” kata Bando yang didampingi sejumlah stafnya.

Fasilitas lain yang diperlihatkan adalah kantin terbuka di lantai dua dengan fasilitas free wi-fi , ruang perpustakaan yang dilengkapi 10.000 judul buku secara online, ruang laboratorium komputer yang berisi tak kurang 200 komputer keluaran terbaru. Di bagian belakang kampus juga sudah tersedia panggung rigging untuk aktifitas mahasiswa, ada pula fasilitas panjat dinding.

“Skala international itu tidak  hanya dari segi materi pendidikannya saja, tapi juga termasuk fasilitas yang ada di dalamnya,” ungkap Bando. Menurut Bando, resep untuk membangun pendidikan swasta adalah bekerja keras dan harus dipadukan dengan entrepreneurship.

Bersambung

Note: Banyak peristiwa besar dan hal-hal besar yang dihadapinya. Mulai dari menjadi pengusaha kecil air mineral, hingga perjuangan politik dan memiliki pengalaman sebagai anggota MPR – RI. Dalam proses perjalanan hidupnya, ia pun manusia yang melalui berbagai hal-hal kecil sebagai orang kecil. Seperti, menjadi buruh pabrik, Office Boy, bertahan hidup di rantau tanpa pekerjaan yang pasti.

“Saya masih ingat, bagai mana saya harus berpikir keras untuk memutuskan membeli nasi lalu tanpa ongkos pulang kekontrakan atau bisa pulang tapi harus lapar. Pengalaman tentang bagaimana es cincau yang mampu menunda rasa lapar dan lainnya,” ujar Bando.

Tidak hanya itu, di masa saat ini,  tentang bagaimana ia harus menghadapi badai besar kekuatan politik yang berupaya menjegal karier politiknya. Tudingan miring dan berbagai hal yang berupaya merusak citra kesuksesannya sebagai Bupati.

Dan hal ini akan ditulis secara tuntas pada tulisan-tulisan selanjutnya.

loading...