Aroma penyimpangan di penyaluran dana Bansos Kabupaten Lebong

Dengan kata lain ditemukan adanya penerima bansos fiktif.

Must Read

Geisha Jepang ritual menggoda dan kehidupannya

Geisha Jepang...  Oke!!.. Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu tentang ihkwal sosok sensasional ini.

Wanita dayak; pesona kecantikan, mitos dan faktanya

Ada banyak cerita tentang wanita dayak. Baik tentang beragam mitos dan stigma serem yang terlanjur beredar di tengah publik....

Geisha Jepang sensualitas dan kehidupannya

Siapa sich yang tidak tahu atau minimal pernah mendengar tentang wanita-wanita cantik Jepang berbalut kimono ini. Keberadaan Geisha Jepang indentik dengan...

Tari Merak Jawa Barat, Sang Penjantan Tebar Pesona

Sebagian besar masyarakat Indonesia jelas mengenal Tari Merak. Berbalut busana penuh warna, khas, dengan gerakan penuh keceriaan Tari Merak...

Komunitas Spiritual Indonesia, Membangun Spirit di Dunia Maya

Spiritual Indonesia adalah komunitas yang terbentuk secara online. Diawali dari obrolan di forum, milis, yahoo group, hingga akhirnya terbentuk...

Fakta Menarik Tentang Seragam Sekolah Cewek Jepang

Jepang adalah negara yang memiliki daya tarik kuat di mata dunia. Bukan hanya sekedar kebudayaannya, namun juga aspek lain...

Lebong-  Soal dugaan penyimpangan yang terjadi pada penyaluran dana bansos tahun anggaran 2013 senilai Rp. 5 milyar, sepertinya menarik untuk disikapi.

“Sebab, kendati telah lama dilakukan penyelidikan oleh Polres Lebong, namun hingga kini terhadap dugaan penyimpangan itu masih belum ditemukan jawaban,” ujar sumber.

Dikatakan, hal ini pula kemudian menimbulkan pertanyaan besar di benak publik. Tak sedikit yang beranggapan kalau Polres Lebong tak serius untuk mengungkap dugaan korupsi yang terjadi.

Padahal, pada praktiknya, penyaluran bansos saat itu diduga kuat sarat dengan penyimpangan. Semua berawal dari mekanisme penyaluran bansos yang tak wajar.

“Sebut saja soal penggunaan ‘kwitansi bodong’ saat serah terima bantuan yang langsung disalurkan kepada pemohon bantuan,” lanjut sumber.

Penggunaan kwitansi yang tidak disertakan nominal (tidak tertera jumlah bilangan dan tertulis), diduga kuat kerap terjadi saat serah terima bantuan. Hal ini pun pernah dialami oleh beberapa penerima bansos.

Ar, adalah salah satunya. Saat itu ia mengajukan permohonan bantuan kepada pemerintah untuk biaya pengobatan anaknya.

Menurut pengakuannya, saat menerima bansos, ia menandatangani kwitansi yang tidak disertakan nominal. Ar sempat bertanya kepada oknum bendahara perihal “kwitansi bodong” itu. Oknum bendahara itu pun berdalih kalau kwitansi itu akan ditulis nanti. Adapun jumlah bantuan yang diterima Ar adalah Rp.1 juta.

Selain dugaan penggunaan kwitansi bodong. Temuan pemeriksaan BPK – RI atas LKPD kabupaten Lebong TA 2013,l menyebutkan bahwasannya penyaluran bansos TA 2013 tidaklah taat kepada peraturan perundangan yang berlaku.

Seperti mekanisme penyaluran bansos yang tak wajar, dimana pada pelaksanaanya, penyaluran bansos tidak melalui persetujuan Bupati Lebong.

Yang lebih merisaukan, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan terhadap penerima bansos juga ditemukan adanya penerima bantuan yang tidak pernah menerima bansos dan menandatangani kwitansi serah terima.

Dengan kata lain ditemukan adanya penerima bansos fiktif.

Ditahun anggaran berikutnya yaitu TA 2014, terhadap alokasi bansos, kembali berhembus aroma penyimpangan. BPK kembali menemukan sejumlah permasalahan yang nyaris saja sama.

Lagi-lagi, terhadap alokasi bansos kembali menjadi temuan pemeriksaan. Bahkan terhadap alokasi bansos TA 2014 berindikasi merugikan keuangan daerah senilai Rp. 375.500.000.

Kendati demikian halnya, namun tetap saja pihak Polres Lebong yang telah lama melakukan proses penyelidikan soal dugaan kecurangan yang terjadi pada alokasi bansos, belum mampu menyeret pelakunya ke meja hijau.

Bahkan ada kesan kalau penyelidikan yang dilakukan jalan ditempat.

Publik pun beranggapan kalau Polres Lebong seolah masih memberikan “toleransi” kepada oknum yang diduga telah melakukan dugaan penyimpangan itu.

Terlebih bila oknum di DPPKAD tersebut masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan bupati. (Henry Ayesha)

Latest News

Pertarungan melawan ‘Berita HOAX’ di Indonesia

Indonesia benar-benar gagap, berada ditengah perkembangan dunia tehnologi saat ini. Media sosial dan berbagai sistem, yang memungkinkan...

Ada banyak jenis kanibalisme, selain orang makan orang

Mungkin Anda sedikit gugup atau hanya sekedar kebiasaan, lalu mengigit kuku. Meskipun ini mungkin tampak seperti tindakan yang tidak berbahaya, itu bisa...

Menyibak rahasia konspirasi hening pembunuhan massal Indonesia [PKI]

Pengantar - Tidak ada yang benar-benar tahu, kecuali mereka pelaku sejarah. Namun, pernah tercatat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, tentang pembantaian...

Lahan Pulau Dua Enggano Diduga Dijual Oknum Secara Ilegal

Bengkulu, GC - Terkait soal dugaan lahan pulau dua yang dijual oleh oknum yang tidak bertanggung jawab secara ilegal. Kapala Dinas Kelautan...

Momen Spektakuler Festival Tabut Bengkulu 2019 Berakhir

Bengkulu, GC - Perayaan Tabut muharam digelar selama 10 hari berturut-turut di Provinsi Bengkulu sejak malam satu suro atau malam satu muharam...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -