Pengalaman bertemu tuhan II, Melalui agama sulit bertemu Tuhan

Takutnya saya dikatakan sombong. Cie.. cie.. yang sudah ketemu Tuhan. Sombong bingitz...

6
1766
pengalaman bertemu tuhan 2

Setelah saya meluncurkan tulisan pertama, “Pengalaman Bertemu Tuhan”. Di media sosial saya mendapat cukup banyak like. Senang juga sich. Walau saya tidak tahu itu tulus atau tidak.

Ah.. jangankan saya, Tuhan pada banyak kelompok agama saja senang dipuji. Sehingga dipercaya memberi imbalan surga kepada mahluknya yang suka memberi puja-puji. Hmm….

Ada banyak komentar dengan beragam pendapat. Dari beberapa yang sepakat, tidak sedikit pula yang kontra. Tapi itu bukan masalah. Sejatinya manusia memang unik dengan cara berfikir yang unik pula. Walau terlihat sama, pasti ada beda. Alias tidak sama persis.

Termasuk dalam mendevinisi tentang Tuhan. Lihat saja dalam menyebut nama Tuhan. Entah Tuhan-nya satu, atau memang Tuhan banyak. Yang jelas di bumi ini, ada beberapa nama Tuhan yang saya ketahui. Kenapa bisa berbeda? Itu pertanyaan menarik.

Saya tidak ingin membahas tentang nama-nama Tuhan. Tapi penomena nama Tuhan lah yang perlu dicermati.

Sebagian besar percaya bahwa Tuhan di bumi ini satu. Walau terdiri dari berbagai aliran kepercayaan atau agama.  Saya ingin mengambil contoh dari beberapa agama besar dunia. Seperti Hindu, Budha, Kristen, dan Islam. Dalam Islam sendiri, beberapa agama besar tersebut diakui sebagai Agama  yang Tuhannya sama.  Tapi dalam nama Tuhan ada perbedaan.

Apakah Tuhan yang memperkenalkan diri kepada manusia tentang namanya? Atau kira-kira seperti ini visualisasinya; “Hai manusia, Aku adalah Tuhan mu. Nama saya ….”

Entah anda, saya kira tidak begitu konsepnya. Tuhan tidak pernah menyebutkan namanya. Tapi manusialah yang menetapkan nama Tuhan itu. Dengan anu atau anu.

Lalu, manusia pula yang mendevenisi kehendak Tuhan.  Serta sifat-sifat ke-Tuhanan.  Hal ini pulalah yang kemudian menjadi alasan sifat Tuhan itu terlihat berubah dari zaman-kezaman. Dari kelompok ke kelompok. Dari satu aliran dengan aliran lain.

Ah… sebelum dilanjutkan. Sangat penting untuk membaca tulisan pertama. Agar tidak salah persepsi.

Baca :  Pengalaman bertemu tuhan, terungkap siapa umat pilihan Tuhan itu

Saya tunggu disini.

Tidak percaya adanya Tuhan (Atheis)

Dari banyak komentar pada tulisan pertama. Ada satu komentar yang cukup mengelitik untuk saya bahas secara khusus.

Inilah komentar itu; “Orang filsafat ya? waduh mas, kalau mengartikan Tuhan dari akal manusia, ya lama2 jadi atheis anda… karena itu banyak orang filsafat itu atheis”

Sejujurnya saya tidak tahu, apakah tulisan saya jenis filsafat atau malah jenis dongeng sebelum tidur. Serius…

Ringkasnya, ingin saya jawab begini; Lha.. wong saya nulis pengalaman bertemu Tuhan. Kenapa lalu saya jadi tidak percaya Tuhan. Sementara sekian banyak orang yang belum bertemu Tuhan saja, hingga saat ini percaya setengah mati bahwa Tuhan itu ada. Bahkan siap bersaksi segala.

Tapi, jawaban diatas, tidak saya tulis. Takutnya terlalu kasar. Khususnya bagi yang percaya Tuhan, walau dari cerita orang ke orang. Atau dari kitab-kitab suci yang konon dipercaya bahwa itu turun langsung dari Tuhan.  Melalui post kilat super cepat. Melebihi kecepatan jasa pengiriman barang profesional dizaman modren saat ini seperti JNE.  Hmm…

Takutnya saya dikatakan sombong. Cie.. cie.. yang sudah ketemu Tuhan. Sombong bingitz…

Sejauh ini saya tidak atheis. Saya tetap Theis. Cuma mungkin konsepnya saja berbeda. Tuhan bagi saya sangat penting sebagai simbol penghubung manusia dengan kesadarannya. Dimana akhirnya tidak men-Tuhan-kan mitos dan tahyul.

Tuhan bagi saya mewujud melalui kesadaran manusia itu sendiri. Dan tentu dalam bentuk nilai-nilai kebaikan. Jika buruk, maka itu bentuk simbolnya Iblis alias Syaiton. Kira-kira begitu.

Itulah kenapa saya menggambarkan pada tulisan diatas, wujud dari kesadaran manusia jaman dulu dengan sekarang berbeda. Zaman dulu perbudakan misalnya, dianggap benar. Dan berbeda dengan zaman sekarang. Sehingga Tuhan zaman dulu dengan sekarang terkesan sangat berbeda.

Tuhan zaman dulu tidak kenal HAM. Sementara zaman sekarang, HAM itu sejalan dengan kehendak Tuhan.

Mari kita lihat keluar sana, kondisi dunia saat ini. Begitu banyak kasus bom bunuh diri atau teroris atas nama agama. Bagi kesadaran para pelaku, hal tersebut adalah benar. Karena mereka yakin, itulah yang dikehendaki Tuhan mereka. Saking yakinnya bahwa itu kehendak Tuhan, nyawa mereka siap dikorbankan.

Tapi, bagi kesadaran saya, bom bunuh diri atau teroris bukanlah kehendak Tuhan. Tuhan saya, ingin dunia ini damai. Perbedaan suku, bangsa, bahasa, agama, pemikiran, kesadaran, bukan sebuah persoalan. Karena sejatinya manusia memang berbeda.

Dengan bertemu konsep Tuhan, membuat cinta pada Tuhan tidak cinta buta. Tidak, berteriak-teriak memekikkan namanya, lalu menyembelih orang lain yang tidak sejalan. Hmm…

Tuhan tidak bernama dan tidak berada dimana-mana

Ya… Tuhan tidak bernama. Kreatifitas manusialah yang menetapkan nama Tuhan. Sesuai dengan tempat, situasi kondisi, dimana Tuhan itu ditemukan. Itulah kenapa nama Tuhan di dunia ada bermacam-macam. Dengan berbagai devenisi pula.

Bahkan, jika manusia tidak ada dimuka bumi. Tuhan pun tidak ada sama sekali. Tidak pula ada yang akan membahas tentang kehendak Nya. Tuhan muncul dari akal dan fikiran manusia itu sendiri.

Saya tidak tahu dengan mahluk hidup lain. Hewan misalnya. Tapi yang jelas ketika diperhatikan, mereka tidak ada kasak-kusuk mau mendirikan rumah ibadah atau semacam ritual untuk pemujaan terhadap Tuhan. Mereka hanya asik dengan kehidupan sendiri. Mengandal insting untuk bertahan hidup, seksual, dan sedikit bermain. Cuma itu. Sepertinya, tidak memikirkan sorga dan neraka. Hmm…

Tuhan juga tidak peduli dengan kehidupan manusia. Semua hanya berjalan sesuai dengan sistem hukum alam. Tidak ada pertolongan-pertolongan khusus. Bahkan terhadap orang-orang yang katanya memperjuangkan kehendak-kehendak Tuhan sekalipun. Tidak pula peduli dengan rumah-rumah yang dibangun manusia untuk Tuhan. Dibakar manusia, ya pasti terbakar.

Baca : Tuhan tidak peduli lagi dengan tanah suci?

Para pemberontak hukum dunia (teroris) yang berjuang untuk dan atas nama Tuhan pun, doski  tidak perduli. Yang ditembak mati, ya mati. Yang pinter menyelamatkan diri ya selamat. Yang konyol, ya modar.

Tuhan bahkan tidak peduli dengan do’a-do’a panjang maupun pendek, manusia.  Yang tidak usaha, ya tidak dapat apa-apa. (tentang konsep do’a akan dijelaskan secara terpisah)

Tidak juga peduli dengan perang-perang para nabi zaman dulu. Siapa yang kuat dengan strategi jitu, menang. Lemah, ya kalah. Sesuai dengan hukum alam.

Kenapa Tuhan ada? Hmm…

Tuhan ada karena manusia lah yang pada prinsifnya mempunyai kepentingan terhadap keberadaan Tuhan. Manusia lah yang memikirkan Tuhan. Memunculkan Nya. Membuat dunia ini penuh dengan tanda-tanda yang dimaknai sebagai keberadaan Tuhan.  Menyusun kehendak dan sifat-sifatnya.

Tanpa percaya dan meyakini keberadaan Tuhan pun manusia pada dasarnya akan tetap hidup dan berkembang. Sesuai hukum alam. Dan disini pun Tuhan tidak peduli.

Tidak hanya itu. Keberadaan Tuhan pun, ditetapkan oleh manusia sendiri. Ada kepercayaan yang menggambarkan Tuhan berada di Arsy, alam ini, itu dan lain-lain. Suka-suka manusia.

Semua merasa percaya dan yakin dengan itu. Dan ajaibnya lagi, sebagian memiliki pengalaman bertemu. Setidaknya merasakan bukti keberadaan Tuhan. Sesuai dimana dan bagaimana proses mencari Tuhan masing-masing dilakukan.  Dimana-mana Tuhan ada. Hmm…

Seperti ketika; meditasi, tafakur, kontemplasi, merenung, zikir, wirid, semadhi di goa-goa, dalam gedung, di hutan, sembahyang, sujud menghadap batu, patung, gambar, melihat matahari, bulan, dalam gelap, sendiri, ramai-ramai. Dan lain sebagainya, sebagainya. Apapun agama, kepercayaan dan cara.

Pada titik tertentu, ketika memulai proses keinginan bertemu Tuhan. Maka disana akan ditemukan.

Dan memang begitu konsep keberadaannya. Tuhan, ada didalam kesadaran manusia itu sendiri. Untuk saat ini, saya belum mau mengatakan bahwa; kesadaran manusia itulah Tuhan itu.

Cara bertemu Tuhan

Dari tulisan awal, saya mengatakan; banyak jalan untuk bertemu Tuhan. Cara tersulit melalui agama.

Kalau dengan cara berseloroh, saya akan mengatakan. Jika ingin bertemu Tuhan melalui agama, ya harus mati dulu. Soalnya, pada beberapa kepercayaan agama, Tuhan berada di surga VIP. Artinya, jika masuk surga kelas ecek-ecek pun, berarti belum tentu bertemu Tuhan.

Kenapa? Karena agama memang bukan tentang cara bertemu Tuhan. Sebagian besar agama hanya mengajarkan tentang bagaimana cara mempercayai adanya Tuhan. Tanpa perlu membuktikan keberadaannya. Jika tidak percaya, maka bukan orang beragama namanya. Hmm…

Jika pun ada yang bertemu Tuhan, maka itu adalah para tokoh-tokoh agama. Mungkin, seperti nabi-nabi, utusan-utusan, atau yang memang sudah terpilih.

Atau manusia yang memutuskan untuk naik ke level hakikat/makrifat. Dan ini tidak banyak yang menyarankan. Biasa, takut tersesat.

Makanya orang beragama tidak banyak yang bertemu Tuhan. Dan tidak pula ada upaya untuk bertemu Tuhan. Alih-alih ketemu, malah bisa dianggap sesat nantinya. Soalnya, nanti devenisi Tuhan nya malah berbeda dengan agama. Sesuai dengan kesadaran pribadi masing-masing.

Yang penting tidak masuk neraka, itu sudah cukup. Hmm…

Manusia sekarang juga sebenarnya harus berterimakasih dengan Nabi Muhammad. Dimana menetapkan bahwa Islam agama terakhir dan Muhammad Nabi terkahir. Menurut Islam ini ketetapan Tuhan.

Coba, jika tidak. Begitu banyak agama akan bermunculan setiap musim atau zaman. Begitu banyak pula nabi-nabi yang hadir dari berbagai penjuru dunia. Karena akan selalu ketemu kehendak-kehendak Tuhan melalui kesadaran manusia yang terus berkembang.

Bisa-bisa kita para manusia disibukkan olah agama yang terlalu banyak. Atau malah repot, akibat terjadi pertikaian para nabi baru yang berebut umat dan klaim paling benar. Karena lahir dalam satu zaman. Hmm…

Ini saja, walau dianggap sesat oleh agama yang sudah lebih lama bercokol di dunia, tetap masih ada agama baru dan nabi-nabi baru.

Dan untungnya lagi, tidak banyak negara yang masih ingin memobilisasi kehendak-kehendak Tuhan melalui agama. Bisa-bisa perang agama terus jadinya dunia. Ya… karena semua merasa paling berhak mengatur dunia melalui nilai-nilai kebenaran masing-masing.

Bertemu Tuhan adalah tentang bagaimana memahami konsep Tuhan itu sendiri. Memikirkan Nya. Semua upaya adalah jalan untuk bertemu dengan Tuhan. Keinginan yang kuat akan membuka jalan-jalan itu menjadi lebih terlihat jelas.

Bersambung: Selanjutnya akan dibahas tentang rahasia penciptaaan. Kekuatan Tuhan. Kekuatan Do’a. Dan kunci keajaiban-keajaiban.

6 KOMENTAR