Papermoon Puppet Theatre
Awalnya, di tahun 2006, Papermoon Puppet Theatre adalah sebuah sanggar anak-anak dengan perpustakaan kecil yang terkadang melakukan pentas boneka.

Papermoon Puppet Theatre adalah teater boneka yang didirikan pada tanggal 2 April 2006. Berawal dari kegelisahan Maria Tri Sulistyani atau yang biasa disapa Ria, sebagai pendiri awal, dimana melihat dunia pendidikan seni di Indonesia, anak-anak diajari untuk meniru, tidak untuk bereksperimen dan berani mencoba hal-hal baru.

Awalnya, di tahun 2006, Papermoon Puppet Theatre adalah sebuah sanggar anak-anak dengan perpustakaan kecil yang terkadang melakukan pentas boneka.

Namun ketika gempa terjadi, jumlah anggota Papermoon menurun drastis. Akhirnya, dari sebuah sanggar anak-anak dengan banyak sukarelawan, Papermoon terpangkas menjadi hanya Ria dan Iwan Effendi, pacar yang kemudian menjadi suami Ria.

Selama ini, pentas boneka identik dengan anak-anak. Ria mengaku mendapatkan perspektif yang berbeda ketika melihat pentas teater boneka yang dibawakan di Goethe Jakarta. Mereka melihat bahwa teater boneka bisa membawakan isu-isu dewasa. Papermoon kemudian mengembangkan media teater boneka sebagai salah satu bentuk penyampaian pesan yang dapat diterima oleh semua publik, tidak hanya anak-anak.

Ada beberapa pentas seni yang dianggap oleh Ria paling berkesan selama napak tilasnya di Papermoon, yaitu Noda Lelaki di Dada Mona (2008), Mau Apa? (2009-2010), Mwathirika (2010-2013), Secangkir Kopi dari Playa (2011), dan Laki-Laki Laut (2013).

Noda Lelaki di Dada Mona adalah karya Papermoon Puppet Theatre yang pertama kalinya di tujukan untuk kalangan dewasa.

Bercerita mengenai seorang gadis bernama Mona pemilik laundry baju dan dirinya jatuh cinta dengan pelanggan. Mona adalah yatim piatu dan diasuh oleh seorang pensiunan tentara di masa 30 Septermber 1965, dengan begitu kita dapat menyimpulkan bahwa setting cerita ini mengambil tema tahun 65’.

Pada posternya, mereka pasang tanda 18+. Dan ternyata, hanya beberapa jam, langsung pemesanan tiket habis. Ini membuktikan bahwa mencoba audience baru di luar target teater boneka biasanya bisa dilakukan.

Kemudian “Mau Apa?” adalah pentas Papermoon yang paling menarik, karena bentuk pentas yang mereka lakukan adalah berbentuk interaktif, melibatkan para penonton untuk turut ambil peran dalam pentas tersebut.

Ini meninggalkan pengalaman baru bagi audience yang menonton, di mana mereka menjadi salah satu aktor pentas pula. Penonton bisa memilih mengambil tema yang mereka inginkan dan menceritakannya. Mulai dari cinta, kekuatan, kesehatan, kehidupan, uang, hingga pergi ke mekkah.

Di pentas “Mau Apa?”, Papermoon berkolaborasi dengan Anna Loewendahl (Director of Transvision Art, Australia). Pentas ini dilakukan di beberapa tempat yang berbeda yaitu pasar tradisional, pasar minggu UGM, hingga di New York. Tema yang disediakan pun berbeda sesuai dengan penontonnya.

Pentas selanjutnya ada pada tahun 2010-2013 yaitu Mwathirika yang sekali lagi berbicara mengenai tahun 65’an.

Disini, lebih menonjolkan beberapa suara untuk membangkitkan rasa emosional, dan menggunakan sistem storytelling.

Mwathirika telah tampil di “Asean Puppetry Festival” di Singapura dan di U.S Department of State Bureau of Educational and Cultural Affairs dengan tour di beberapa kota di Amerika.

Pada tahun 2011 Papermoon menampilkan “Secangkir Kopi Playa”. Mengambil tema 65’an, “Secangkir Kopi Playa” diolah dari kejadian sebenarnya, mengenai seorang pria yang menyimpan janjinya ketika dia tak bisa pulang hingga sampai saat ini hidup di Cuba. Pria ini menyimpan janjinya untuk tidak menikah dengan siapapun kecuali dengan kekasih masa lampaunya.

Menurutnya Ria, Papermoon Puppet Theatre juga sangat menghargai pengalaman penonton ketika melihat pentas mereka. Tidak hanya sekedar antri tiket, menonton, dan pulang, tapi dengan memberikan sebuah stategi meeting point yaitu para penonton tersebut akan dipertemukan di sebuah tempat, kemudian akan disediakan bus untuk menuju tempat rahasia dari tempat pentas tersebut. Ria berharap dengan strategi meeting point tersebut orang-orang akan menemukan tempat baru yang mereka sebelumnya tidak tahu, dan meninggalkan kesan tersendiri ketika melihat Papermoon.

Pentas yang terakhir adalah “Laki-Laki Laut” (2013) diadakan di ARTJOG 2013. Papermoon mulai menyadari bahwa mereka merasa “ketagihan” dengan naskah pentas yang dilakukan dengan berdasarkan penelitian mendalam.

Ini adalah format pertama pentas Papermoon Puppet Theatre yang berkolaborasi dengan koreografer tari. “Laki-Laki Laut” bercerita mengenai kumpulan cerita dari para penjelajah maritim dari berbagai mancanegara yang berusaha menemukan Nusantara.