6.9 C
Alba Iulia
Rabu, April 1, 2020

Ada Pantai Kuta di Pelosok Pacitan » Pasir Putih Pantai Watu Karung

Semak belukar dan terjalnya gunung batu Desa Watu Karung menjelma menjadi surga, surga pelancong begitu juga surganya pecinta surfing.

Must Read

Beredar Foto Seronok di Duga Siswi SMK Kandeman Kabupaten Batang

Sekolah perlu memberikan pengawasan ketat terhadap para siswa dalam lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah, bila ada keterkaitanya anak...

Umat Islam Diambang Kehancuran?

Belakangan ini konflik atas nama agama sering kali mencuat. Baik di dunia maupun di Indonesia. Islam menjadi salah satu...

Tari Topeng Cirebon dan Makna Dibaliknya

Tari Topeng Cirebon dengan gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab,...
Adminhttp://www.garudacitizen.com/
Garuda Citizen truly of Indonesia » politik, hukum, sosial, wisata, budaya, dan berbagai berita peristiwa menarik dan penting untuk dibaca.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 Km dari kota Pacitan, akhirnya sampai juga di Desa Watu Karung. Sebenarnya ada rambu dari papan, rambu jalan sedang diperbaki. Tapi setelah tanya salah satu warga di sekitar rambu, katanya bisa dilewati dan alasan ini membuat nekat.

“Maaf mas… jalan ke pasir putih sedang dikeruk pakai alat berat, bila pengin ke sana beserta mobil, harus jalan kaki 150-an meter…” kata petugas tiket.

“Jauh mas?” tanya saya lagi

“150 meter mas, mobil taruh di selatan lapangan ini saja aman..” katanya sambil menunjuk ke lapangan yang disarankan.

Lapangan yang saban hari dipakai bongkar muat para nelayan Pantai Watu Karung sekaligus merupakan pasar ikan (TPI).

Sebenarnya saya tidak gampang percaya pada orang tentang jarak saat di daerah beginian, seringnya orang bilang, ‘cuma itu lo… deket situ…. habis itu belok…. ‘ Karena yang ditunjuk ‘situ’ seringkali terlihat dekat namun harus menuruni lembah dan menaiki bukit. Wakakaka!

Ada Pantai Kuta di Pelosok Pacitan  » Pasir Putih Pantai Watu Karung

Akhirnya saya turun dan segera menenteng tas kamera. Tampak alat berat mengepras jalan, jalan sedang dikeruk biar landai. Mirip memotong gunung karena dari sisi timur (tempat saya berjalan) dan barat lebih rendah. Jalan yang di keras sepanjang 150-an meter. Wakakaka tadinya saya berharap 150 di balik gunung batu yang dikepras adalah pantai.

“Jalan ke pantai pasir putih sebelah mana ya..” tanya saya pada para pekerja pengerasan.

“Mas terus saja jalan, setelah ada gapura nanti belok kiri 500 meter… nah di situ pantainya…” jawabnya sambil nunjuk-nunjuk. Benar 150 kata penjaga tiket, wakakaka.. Nambah angka nol-nya satu. 150 ternyata 1500.

Watu Karung Mirip Kuta Bali

gundukan bukit berbatu ini memisahkan dua pantai yang sebelah barat cocok untuk sunset pantai watu karang pacitan
gundukan bukit berbatu ini memisahkan dua pantai, yang sebelah barat cocok untuk sunset, sedangkan yang timur untu sunrise. Tampak pula bangunan baru yang teratur dan modern untu menginap

Setelah melewati gundukan yang dikepras saya melewati perkampungan, perkampungan yang datar mirip kota kecil. Rumah-rumahnya sederhana. Berkali-kali berpapasan dengan bule, semakin mendekati pantai nampak homestay dan vila dengan gaya modern tidak berkonsep seperti homestay di pantai-pantai Pacitan lainnya.

Di Watu Karung ini lebih rapi, mirip-mirip bangunan di Kuta Bali. Begitu juga bangunan-bangunan di bibir pantai juga rapi, tapi tidak seperti pantai-pantai lainnya di wilayah Pacitan.

Pedagang minuman dan persewaan toilet hanya ada satu tempat, benar-benar rapi. Mungkin panjang pantai tak seberapa.

“Hello…” kata bule yang sedang membawa peralatan surfing ketika berpapasan.

Mereka bersama para bule lainnya menuju ke air. Sementara bule-bule lainnya asyik nongkrong di penginapan yang menghadap ke laut. Penginapan yang dilengkapai kolam renang kecil di bibir pantai, terlihat mini bar, juga tampak puluhan bule sedang asyik bercengkerama sambil menikmati minuman.

Pantai Watu Karung Pacitan - berpasir puih mirip pantai Kuta Bali 3

Sementara yang lainnya berjemur sambil bermalasan.  Saya merasa asing, merasa ini bukan Pacitan. Sedikit sekali orang lokal yang terlihat, perkampungan di bibir pantai ini jauh dari angan saya. Jujur lebih indah dan teratur baik bangunan serta pedagang maupun fasilitas toiletnya.

“Mas bangunan-bangunan indah ini milik siapa?” tanya saya pada lelaki yang menawarkan menginap.

Tapi dia hanya menggeleng. “Nginap di sini mahal mas… di atas 3 juta, kalau pengin murah di tempat saya di dekat gapura masuk 200-an sudah AC dan Wi-fi…” tawarnya.

“Ini milik siapa mas?” tanya saya lagi

“Pokoknya bukan milik orang sini,” jawabnya singkat serasa ingin menghentikan pertanyaan saya.

Kontras sekali terasa bangunan yang di sekitar jalan dibanding di sekitar pintu masuk ataupun di bibir pantai. Konon dulu orang-orang luar Pacitan membeli tanah-tanah di sekitar pantai.

Dulu tanah-tanah berbatu ini tidak produktif, ditanami singkong saja sulit. Konon tanah-tanah disini dibeli murah, dibeli mengatasnamakan orang asli Pacitan tapi yang mendanai orang-orang luar Pacitan. Tapi entahlah, orang-orang hanya menggeleng atau menjawab bukan milik orang desa ini, ketika ditanya.

Surganya pencinta surfing

Pantai Watu Karung Pacitan - berpasir puih mirip pantai Kuta Bali 2

Semak belukar dan terjalnya gunung batu Desa Watu Karung menjelma menjadi surga, surga pelancong begitu juga surganya pecinta surfing. Saban hari tampak bule pecinta surfing berlalu-lalang di pantai yang antara cekungan barat dan timur tak lebih dari 1 Km.

Ombak berbuih, pantai berpasir putih, air yang jernih dijamin bisa menghilangkan letih.

Sebenarnya ada 2 jalan besar ke tempat ini, satu lewat timur satu jalan dengan Pantai Serau, sedangkan satunya lagi dari barat jalannya satu jalur dengan Pantai Klayar. Jalan yang terakhir ini lebih landai dan lebar. Dan ini seharusnya yang saya pilih kemarin, agar tidak terlalu jauh berjalan kaki menuju pantai.

Gegap gempita rakyat sekitar menyesuaikan kondisi. Desa terpencil tersebut berangsur menjadi kota di tengah hutan. Begitu mata pencaharian buruh tani yang turun temurun berangsur dikesampingkan.

Tapi masih terasa gagap, mereka serasa menjadi penonton di kampungnya sendiri. Mereka rata-rata berjualan di jalan besar, berjualan cindera mata.

Sebagian lagi menjadi nelayan, mereka bekerja sama dengan nelayan Jawa Barat-an yang melaut di laut Pacitan. Tampak perahu-perahu nelayan bertuliskan Garut dan bernama khas Sunda.

Tapi biar bagaimanapun, kehadiran orang luar Pacitan ini berdampak baik untuk orang sekitar Desa Watu Karung. Keahlian mencari ikan bertambah maju dengan datangnya nelayan Jawa Barat, katanya.

Pantai Watu Karung Pacitan - berpasir puih mirip pantai Kuta Bali hotel-hotel
hotel-hotel yang rapi dan tertata, menambah keindahan

Sarana dan prasarana pun terus dikejar oleh pemerintah daerah. Jalan-jalan dikepras dan dilebarkan, jalan-jalan diperhalus, jalan-jalan baru dibuka agar terkoneksi dengan pantai atau tempat wisata lainnya.

Apapun yang terjadi, inilah adalah risiko. Risiko kemajuan jaman, resiko jaman keterbukaan. Jangan ditanya lagi siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan. Siapkan diri untuk menghadapi globalisasi agar tidak asing di tempat sendiri.

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Karena Corona, Pilkada Serentak Tahun 2020 Ditunda

garudacitizen.com – Kesimpulan rapat kerja dengar pendapat Komisi II DPR RI dengan Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) dan...

Menkeu RI Hentikan Proses Lelang Barang Jasa DAK Fisik 2020

GARUDACITIZEN.COM – Upaya mencegah dan menanggulangi wabah penyeberan virus corona atau Covid-19. Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Sri Mulyani Indrawati, mengeluarkan surat edaran...

Paripurna LKPJ 2019, Bupati Sinjai Siap Terima Kritikan dan Saran

Sinjai, GC – Bertempat di ruang rapat paripurna gedung DPRD Kabupaten Sinjai. Bupati Andi Seto Ghadista Asapa, SH,LLM, dihadapan 30 anggota DPRD...

DPRD dan Pemkab Sinjai Sepakat Bangun kios Pasar Darurat

Sinjai, GC - Hasil rapat Komisi gabungan DPRD dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai, sepakat Membangun Kios Pasar Darurat sebanyak 24 Yunit, Selasa...

FPTI RL Gelar Kompetisi Panjat Tebing NGORBIT 2020

GarudaCitizen - Sebagai bentuk rasa syukur atas selesai dibangunnya sarana prasarana wall panjat tebing di area sport centre Dataran Tapus, Bermani Ulu...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -