Mumi Perawan Inca Menderita Infeksi Paru Sebelum Dikorbankan

Must Read

Geisha Jepang ritual menggoda dan kehidupannya

Geisha Jepang...  Oke!!.. Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu tentang ihkwal sosok sensasional ini.

Wanita dayak; pesona kecantikan, mitos dan faktanya

Ada banyak cerita tentang wanita dayak. Baik tentang beragam mitos dan stigma serem yang terlanjur beredar di tengah publik....

Geisha Jepang sensualitas dan kehidupannya

Siapa sich yang tidak tahu atau minimal pernah mendengar tentang wanita-wanita cantik Jepang berbalut kimono ini. Keberadaan Geisha Jepang indentik dengan...

Tari Merak Jawa Barat, Sang Penjantan Tebar Pesona

Sebagian besar masyarakat Indonesia jelas mengenal Tari Merak. Berbalut busana penuh warna, khas, dengan gerakan penuh keceriaan Tari Merak...

Komunitas Spiritual Indonesia, Membangun Spirit di Dunia Maya

Spiritual Indonesia adalah komunitas yang terbentuk secara online. Diawali dari obrolan di forum, milis, yahoo group, hingga akhirnya terbentuk...

Fakta Menarik Tentang Seragam Sekolah Cewek Jepang

Jepang adalah negara yang memiliki daya tarik kuat di mata dunia. Bukan hanya sekedar kebudayaannya, namun juga aspek lain...

Mumi Perawan Inca berusia 15 tahun yang dikorbankan 500 tahun lalu ternyata memendam rahasia. Remaja itu sedang menderita infeksi bakteri paru-paru pada saat kematiannya. Hal ini berdasarkan laporan para ilmuwan Rabu (25/7) sebagaimana dirilis Oleh Joseph Castro, LiveScience Contributor.

Para peneliti sudah menganalisis protein selaput, dan bukan DNA, dari si Perawan dan mumi Inca remaja lain yang meninggal di saat bersamaan.

Mumi anak laki-laki usia 7 tahun.
Mumi anak laki-laki usia 7 tahun.

Dalam dekade terakhir, teknik DNA memang terbukti berguna untuk memecah misteri-misteri kuno seperti bagaimana Raja Tut mati. Tetapi teknik ini masih memiliki kekurangan, misalnya menemukan bukti bahwa parasit yang menyebabkan malaria di sistem tubuh Raja Tut bukan berarti si Raja Mesir ini menderita gejala-gejala malaria. Lingkungan sekitar juga dapat merusak sampel DNA jika para peneliti tidak hati-hati.

Di sisi lain, menganalisis sampel protein, yang bisa lebih terlindung dari pencemaran lingkungan, memunculkan perangkat informasi yang berbeda. “Sebagai ekspresi DNA, protein menunjukkan apa yang dihasilkan tubuh pada saat individual diambil sampelnya, atau dalam kasus kami, pada saat kematian,” kata peneliti kasus ini Angelique Corthals, antropolog forensik di City University of New York kepada LiveScience. Secara khusus, protein bisa memberi informasi apakah sistem kekebalan tubuh sedang aktif untuk melawan penyakit.

Dalam studi mereka, Corthals and kolega-koleganya mengambil sapuan mulut dari dari dua mumi Inca Andes, seorang anak laki-laki usia 7 tahun dan “si Perawan”, dan sampel dari jubah si anak laki-laki yang berdarah. Dua mumi belia ini ditemukan pada 1999 dan awalnya terkubur di puncak gunung api Argentina Llullaillaco, dengan ketinggian 6739 meter di atas permukaan laut, setelah dikorbankan untuk ritual persembahan.

Mumi anak usia 6 tahun yang juga ditemukan dan diduga tersambar petir.
Mumi anak usia 6 tahun yang juga ditemukan dan diduga tersambar petir.

Riset-riset lalu menemukan bahwa anak laki-laki dan gadis muda ini digemukkan dulu sebelum persembahan. Makanan yang mereka makan adalah diet khas petani berupa kentang dan berbagai sayur-sayuran, lalu setahun sebelum persembahan mereka mulai diberi makanan elite seperti daging llama kering dan tepung jagung.

Setelah dipersembahkan, suhu yang membeku secara alami mengawetkan lemak di tubuh mereka.

“Yang saya ingin lihat adalah dari mana asal darah yang ada di pakaian mumi dan bibir mereka,” kata Corthals. “Tapi ternyata kami menemukan lebih banyak jawaban dari yang kami perkirakan sebelumnya.”

Arkeolog juga menemukan mumi ketiga, gadis usia 6 tahun, bersama dengan dua mumi di atas. Mumi ini tampaknya tersambar petir, sehingga sampelnya mungkin terkontaminasi. Oleh karena itu, Corthals dan timnya tidak mengambil sampel dari mumi ketiga ini.

Infeksi paru-paru ditemukan

Para peneliti menggunakan teknik yang mereka sebut ‘shotgun proteomic’. Mereka menaruh sampel ke sebuah alat beranama spectrometer massa, yang kemudian memecah sampel protein tersebut ke beberapa bagian rantai asam amino. Sebuah perangkat lunak kemudian membandingkan bagian-bagian ini dengan protein manusia yang sudah ada untuk menentukan, apa saja protein yang ada di sampel. “Anda tidak bisa menggunakan teknik ini untuk organisme yang tidak kita miliki genomnya secara lengkap,” kata Corthals.

Mereka menemukan bahwa profil Si Perawan cocok dengan pasien pengidap infeksi pernapasan kronis. X-ray yang kemudian diambil dari paru-parunya juga menunjukkan infeksi paru-paru. Untuk mengetahui apakah Si Perawan memiliki sesuatu dalam tubuhnya yang mengandung infeksi, para peneliti mengubah analisis DNA dan menemukan bukti bakteri dari genus Mycobacterium, yang biasanya menyebabkan infeksi trakhea pernapasan bagian atas dan tuberculosis.

Model statistik menemukan bahwa bacterium tersebut jatuh pada kelompok penyebab TB, meski spesiesnya belum diketahui, mungkin karena DNA-nya belum diurutkan.

Sementara si anak laki-laki Llullaillaco tidak memiliki penyakit atau bakteri patogen.

Riset ini menunjukkan bahwa ‘shotgun proteomic’ memiliki peran penting dalam menentukan penyakit atau kematian dalam kasus arkeologi, medis, atau kriminal. Menurut Corthal, metode ini juga mungkin bisa digunakan untuk menentukan bakteri patogen mana yang menjadi pembunuh utama saat beberapa infeksi terjadi bersamaan.

Kini Corthals ingin mengetahui apakah teknik ini dapat digunakan pada sampel-sampel yang tidak terjaga dengan baik, seperti materi tengkorak atau mumi Mesir.

Berikutnya, teknik pengenalan protein ini akan digunakan di luar bidang arkeologi. “Saya rasa penggunaan terbesarnya akan terjadi di bidang ilmu forensik kriminal,” kata Corthals.

Studi terbaru ini dijelaskan mendetail secara online di jurnal PLoS One.

Latest News

Jaksa Geledah Pemkab Dan DPRD Kepahiang, Indikasi Kasus Tanah Kantor Camat TB Karai

BedahBerita.Co.Id, Nampaknya Kasus pengadaan Lahan Tanah Kantor Camat Tebat Karai mulai serius di garap Kejaksaan Negeri Kepahiang,...

Spiritual Retreat, Love & Unity Tour, Indonesia 2019

Sri Bhagavan, pemimpin spritual dan pendiri International Vedanta Society yang berpusat di Kolkata, India akan berkunjung ke Indonesia pada tanggal 2-13 Desember...

Zaman Bupati Mian, Miliaran Anggaran Dinkes 2018 Diduga Syarat KKN

Bengkulu Utara, GC – Zaman kepemimpinan Bupati Bengkulu Utara Ir.H.Mian. Miliaran anggaran yang bersumber dari APBD tahun 2018 di Dinas Kesehatan (Dinkes)...

Apa itu numerologi? Dan apa hubungannya dengan ARC Bali

Numerologi adalah sistem angka untuk mengukur getaran huruf-huruf alfabet, ini dipercaya dapat mengungkap; kepribadian manusia, keinginan, pikiran, tindakan dan pengalaman. Dapat...

8 Desa Merigi Ujan Mas Minta Perbaikan Jalan, Rudi : 2020 Belum Di Anggarkan

BedahBerita.Co.Id, Ketua Kelompok Tani Genting Surian R Sumantri meminta pihak pemerintah Kabupaten Kepahiang dapat mengabulkan permohonan mereka terkait pembangunan jalan yang di...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -