Connect with us

Random

Mitos Penyakit Stroke dan Obat Stroke Medis

Published

on

Mitos Penyakit Stroke dan Obat Stroke Medis

Setiap tanggal 29 Oktober adalah peringatan hari Stroke Sedunia. Peringatan ini sudah ada sejak tahun 2006 dan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan bahayanya stroke. Stroke disebut sebagai penyakit kronis yang sulit disembuhkan. Apabila pasien menjalankan terapi dan meminum obat stroke medis maka peluang kesembuhan semakin besar.

Walaupun sudah tahu pasti bahwa stroke dapat sembuh jika mengikuti anjuran dokter. Beberapa masyarakat masih mempercayai mitos tentang penyakit stroke berikut ini. Padahal kebenaran mitos ini tidak benar.

Mengintip 11 Mitos Penyakit Stroke

Dalam masyarakat Indonesia sudah banyak mitos seputar penyakit stroke sejak dahulu. Mari mengintip 11 mitos penyakit stroke dan buktikan kebenarannya.

1. Stroke Memengaruhi Jantung

Mitos stroke dapat mempengaruhi kualitas jantung tidak perlu dipercaya. Stroke yang dialami manusia menyerang organ otak dan bukan jantung. Ingat penyebab utama stroke karena gangguan aliran darah menuju otak.

Pada beberapa pasien ada yang mengalami gumpalan darah terlepas dari jantung. Akhirnya gumpalan darah mengalir ke otak dan menyumbat arteri. Stroke seperti ini mungkin terjadi karena hasil fibrilasi atrium yang disebut dengan kelainan irama jantung. Penderita kelainan ini dapat dikontrol melalui obat pengencer darah.

2. Hanya Menyerang Orang Tua

Stroke sering kali disebut dengan menyakit tua karena cenderung menyerang orang-orang lanjut usia saja. Namun fakta menunjukkan anak muda juga dapat terserang stroke. Menurut studi dari Ikatan Dokter Indonesia, terdapat 25 persen penderita stroke berusia kurang dari 65 tahun.

Seseorang yang berusia di atas 35 tahun memiliki risiko stroke dua kali lipat. Sedangkan serangan stroke pada anak muda biasanya berhubungan dengan penyakit sel sabit. Dimana dalam kondisi tidak ada sel darah merah sehat yang mengantar oksigen.

Stroke yang menyerang anak muda juga disebabkan karena adanya kelainan pembuluh darah. Seperti  aneurisma yakni kondisi penggelembungan pada satu bagian yang lemah pada dinding pembuluh darah dan akan berkembang seiring bertambahnya usia. Adapun penyebabnya dapat dipicu karna penyalahgunaan kokain dan obat-obatan.

3. Stroke Tidak Dapat Dicegah

Rata-rata penduduk Indonesia mengira bahwa penyakit stroke tidak dapat dicegah dan tidak dapat disembuhkan. Kenyataannya faktor resiko penyebab stroke dapat dihindari. Misalnya mengontrol tekanan darah, menurunkan kolesterol tinggi, dan menghilangkan kebiasaan merokok.

Pencegahan stroke juga dapat dilakukan sejak dini. Caranya dengan mengubah gaya hidup dan menurunkan berat badan. Ada pula orang yang melakukan terapi obat-obatan agar terhindar dari stroke.

4. Tindakan Medis Mendesak Tidak Diperlukan

Ingat serangan stroke termasuk keadaan darurat medis. Apabila Anda merasakan gejala kehilangan penglihatan tiba-tiba dan kelumpuhan maka segera mengambil tindakan medis. Tujuannya agar mendapat pertolongan pertama pengobatan stroke.

5. Gejala Pertama Nyeri

Hal pertama yang dirasakan penderita stroke adalah mengalami rasa sakit. Banyak orang menganggap gejala awalnya hanya nyeri kepala. Pandangan ini salah karena stroke biasanya diawali dengan pusing luar biasa yang terjadi tiba-tiba. Apabila merasakan sakit kepala biasa, kemungkinan mengalami pendarahan subkaranoid.

6. “Menidurkan” Gejala Stroke

Mitos yang berkembang dalam masyarakat untuk menyembuhkan stroke dengan cara mati rasa atau lemas ketika gejalanya muncul. Upaya seperti ini dikatakan sia-sia. Sebab, tindakan awal yang dilakukan adalah pergi ke rumah sakit terdekat. Justru cara sesat menidurkan stroke berpotensi membuat kecacatan sel otak.

7. Menghentikan Pengobatan Setelah Sembuh

Pengobatan stroke tidak hanya dilakukan ketika mengalami serangan stroke saja. Mitos ini salah, karena setelah sembuh bukan berarti langsung berhenti meminum obat stroke medis. Pengobatan benar-benar dilakukan hingga pasien pulih. Setelah itu pasien harus memperbaiki  gaya hidup dan pola makan.

8. Stroke Bukan Keturunan

Banyak yang menganggap stroke tidak ada sangkut pautnya dengan penyakit dari keluarga atau keturunan. Padahal kenyataannya resiko penyakit stroke dapat diperoleh apabila ada keluarga terdekat yang pernah mengalaminya.

9. Pemulihan Stroke Berlangsung Cepat

Faktanya pemulihan terhadap penyakit stroke memakan waktu sampai bertahun-tahun. Pada beberapa kasus, pemulihan stroke dapat dilakukan sampai akhir hidup seseorang. Walaupun jangka waktu pemulihan dari awal terserang stroke tergolong cepat.

10. Mini-stroke Tidak Perlu Perawatan

Semua orang yang jarang melakukan latihan fisik berpotensi besar mengalami mini-stroke atau transient ischemic attack (TIA). TIA mengakibatkan adanya gumpalan darah pada bagian tertentu yang bersifat temporer atau berlangsung lama.

Mini-stroke yang terjadi menunjukkan gejala yang sama seperti penderita stroke umumnya. Biasanya orang yang terserang stroke mini akan kehilangan keseimbangan, penglihatan ganda, tidak dapat mengenali bagian tubuh, dan kelumpuhan pada satu sisi tubuh.

Semua gejala mini-stroke yang dirasakan ini dapat hilang secara alami. Tetapi, TIA tidak dapat diabaikan begitu saja. Satu dari tiga penderita TIA berpotensi mengalami serangan stroke.

11. Stroke Merupakan Penyakit Langka

Di Amerika Serikat, stroke menjadi penyakit yang menyebabkan kematian nomor 3. Bahkan, stroke sudah merenggut nyawa sekitar 160.000 orang Amerika setiap tahun. Jadi, sangat tidak masuk akal jika stroke disebut penyakit langka.

Baca juga : Jenis-jenis Stroke dan Obat Stroke Paling Ampuh

Jenis-jenis Obat Stroke Medis Dari Dokter

Walaupun penyakit stroke tergolong berat tetapi dapat diatasi.  Salah satunya dengan mengonsumsi obat stroke medis dari resep dokter. Efektifitas masing-masing obat stroke dibawah ini tergantung dari kondisi pasien.

1. Tissue Plasminogen Activator (tPA)

Tissue plasminogen activator disebut (tPA) disebut obat stroke terampuh. Bermanfaat untuk menghancurkan gumpalan darah yang ada dan menyumbat pembuluh darah. Biasanya dikonsumsi oleh penderita penyakit stroke iskemik.

Obat tPA tidak dapat dikonsumsi setiap hari, terbatas pada kondisi darurat saja. Dokter memberikan tPA dalam jangka waktu 4,5 jam setelah pasien mengalami stroke. Obat ini juga berfungsi menurunkan resiko rusaknya jaringan saraf setelah mengalami stroke.

2. Obat Pengencer Darah

Obat pengencer darah dapat dikonsumsi penderita stroke. Berikut ini jenis obat pengencer darah yang dapat digunakan.

• Antiplatelet

Untuk mencegahan terbentuknya gumpalan darah di dalam pembuluh darah. Konsumsi obat ini menyebabkan platelet sel darah tidak saling menempel. Antiplatelet yang digunakan adalah aspirin dan clopidogrel.

Biasanya bekerja optimal pada penderita stroke iskemik sekaligus memiliki riwayat sakit jantung. Setelah sembuh dari stroke, antiplatelet harus dikonsumsi dengan teratur. Supaya mencegah kembalinya serangan stroke.

• Antikoagulan

Antikoagulan merupakan obat stroke medis yang mencegah gumpalan darah. Antikoagulan juga membuat proses penggumpalan darah terhambat. Biasanya antikoagulan digunakan dalam pengobatan stroke ringan stroke iskemik. Obat antikoagulan berupa heparin dan warfarin.

3. Obat Penurun Tekanan Darah

Penyakit stroke juga diobati dengan mengonsumsi obat penurun tekanan darah. Dalam hal ini obat yang paling dianjurkan yaitu obat antihipertensi. Misalnya alpa beta blocker, ACE Inhibitor, Calcium channel blockers, dan diuretik.

4. Obat Penurun Kolesterol

Penderita kolesterol beresiko mengalami serangan stroke kronis. Mengingat stroke sering disebabkan oleh penyumbatan lemak di area pembuluh darah. Jadi, sangat direkomendasikan meminum obat stroke medis dari dokter. Contoh obat-obatan penurun kolesterol yakni  Simvastatin, Atorvastatin, Pravastatin, Lovastatin, dan Rosuvastatin.

Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Trending