Menjawab Tuduhan Fuckri Hamzah Anjing Sinting! “Judulnya Serem”

0
165
Menjawab Tuduhan Fuckri Hamzah Anjing Sinting!

Ga usah kaget sama judul yang seperti itu, saya sudah berkali-kali mempertimbangkannya.

Saya ingin cerita tentang politisi pimpinan DPR bernama Fuckri Hamzah dari PSK. Beberapa bulan yang lalu Fukcri Hamzah sudah dibehentikan dari PSK. Seharusnya, secara otomatis Fuckri tidak lagi menjadi pimpinan DPR. Sebab DPR merupakan lembaga mewakili rakyat atas nama partai politik. Namun sampai saat ini Fuckri Hamzah belum mau berhenti dari DPR.  Kan sinting!

Sebenarnya saya sudah lupa atau maklum dengan Fuckri Hamzah. Mungkin hikmahnya, dia adalah contoh manusia yang tak tau malu. Ini mirip kamu yang dipecat oleh atasan di kantor tempat bekerja, tapi kamu tidak mau dan tetap bekerja di situ. Tetap menuntut gaji karena sudah bekerja.

Tapi semalam saya mendapat video ucapan-ucapan Fuckri Hamzah di ILC yang sangat menyesakkan. Sehingga saya jadi kembali muak dengan Fuckri Hamzah, dan puncaknya membuat artikel penuh amarah di seword.com ini. Padahal sejak beberapa hari lalu saya sudah coba kurangi caci maki. Tapi kali ini harus saya tumpahkan lagi, sebab harus ada orang yang membalas Fuckri Hamzah. Harus ada. Sementara KPK atau Presiden Jokowi yang dilecehkan itu tidak akan menjawab dengan marah.

Fukcri Hamzah jelas menuding KPK itu sinting. Kita tidak boleh percaya dengan KPK, sebab penangkapan Irman Gusman adalah konspirasi politik. Menurut Fukcri Hamzah, kasus Irman Gusman mirip LHI ketua umum PSK. Tidak ada bukti. Jebakan. Menjatuhkan demi kepentingan politik.

Fukcri Hamzah menuding Presiden Jokowi penakut karena dua kali membatalkan revisi UU KPK. Fuckri menyebut Jokowi batal merevisi karena ketua KPK akan mengundurkan diri kalau direvisi. Fuckri mempermasalahkan soal kewenangan penyadapan, menurutnya tidak boleh. Karena semena-mena.

Dan poin terakhir dari pernyataan Fuckri Hamzah adalah soal Sumberwaras, Reklamasi dan relawan Teman Ahok yang tidak diurus oleh KPK. Fuckri Hamzah menilai Teman Ahok menerima 30 milyar dan harus diproses. KPK tidak mau memproses Sumberwaras padahal sudah cukup dua alat bukti.

Itu yang saya catat dari pernyataan Fuckri Hamzah, pimpinan DPR yang tidak punya partai, atau sebut saja DPR independen.

Fukcri Hamzah ini sangat cerdas dalam memainkan opini publik. Mantan orator mahasiswa yang suka demo-demo. Jadi maklum kalau kader-kader PSK bisa sangat suka dengan Fuckri. Saya saja saat melihat dan mendengar orasi Fuckri Hamzah, sempat terpengaruh.

Atas dasar pemutar balik fakta dan menuduh macam-macam, maka wajar kalau AM Fatwa, Ketua Badan Kehormatan DPD, sampai bilang “saudara Fuckri Hamzah ini menuduh macam-macam, bilang KPK sinting, coba anda bilang saya sinting, saya lempar mic ini!” Ucapnya diiringi tepuk tangan peserta ILC. Saat itu AM Fatwa meminta waktu bicara namun Fuckri Hamzah terus memotong.

Tapi begini, Fukcri Hamzah ini memang spesialis melawan opini publik. Semasuk akal apapun kasusnya, akan jadi tidak masuk akal kalau Fuckri sudah bicara dengan segala kesintingannya yang sangat uassu. Untuk itu, perlu otak A+ untuk bisa melihat kebodohan-kebodohan yang disampaikan oleh Fuckri Hamzah. Mari kita bahas.

Fuckri Hamzah tidak percaya KPK, sampai sekarang masih membela LHI. Padahal dalam persidangan sudah jelas bahwa LHI bersalah karena melakukan hubungan transaksional dengan pengusaha daging sapi demi fee. Saya sangat bersyukur dan berterima kasih pada Artidjo Alkostar karena menambah hukuman LHI dari 16 tahun menjadi 18 tahun penjara saat mengajukan banding.

”Perbuatan terdakwa selaku anggota DPR yang melakukan hubungan transaksional telah mencederai kepercayaan rakyat banyak, khususnya masyarakat pemilih yang telah memilih terdakwa menjadi anggota DPR RI,” ujar Artidjo. Sangat kalem namun telak, khas orang-orang keturunan Sumenep Madura.

Jadi kalau kemarin Fuckri Hamzah masih membela LHI, sebenarnya dia mempermalukan diri sendiri. Fakta pengadilan sudah jelas. Coba saja dia bilang hakim Artidjo sinting karena memperberat hukuman LHI, saya jamin hari ini Fuckri Hamzah sudah bermasalah. Entah masalah hukum atau adat.

Kemudian soal Jokowi tidak mau UU dan kewenangan KPK direvisi, sudah benar. Rakyat Indonesia mendukung penuh sikap Presiden Jokowi. Kita tidak mau KPK dilarang menyadap. Kita tetap ingin KPK punya kewenangan menangkap dan menyidik tanpa ijin. Iyalah, masa mau nyadap dan nyidik pake surat ijin dulu? seng genah ae.

Bahwa Jokowi bilang “nanti dulu” itu hanya bahasa halus khas Jawa. Diplomatis. Karena Jokowi tidak mau mempermalukanmu secara langsung. Kalau Presiden Jokowi tidak sabaran seperti SBY, orang seperti Fuckri Hamzah ini pasti sudah mendekam di penjara seperti Zainal Maarif. Tidak susah bagi Jokowi untuk mendatangi Polda Metrojaya dan melaporkan Fuckri Hamzah. Mudah sekali. Tapi Presiden Jokowi lebih memilih bekerja dan melupakan semua hal buruk yang diarahkan padanya.

Sempat juga Fuckri Hamzah membandingkan dengan Presiden Filipina yang memberi deadline pemberantasan narkoba. Kata Fuckri, Jokowi juga harus punya deadline pemberantasan korupsi. Bukan malah tidak tau kapan mau diselesaikan. “Kalau saya jadi eksekutif, korupsi saya selesaikan dalam setahun!” Katanya mantap. Para kader PSK yang otaknya F- itu pasti langsung tersanjung, salut. Padahal mereka lupa satu hal, Presiden Filipina mengatasi narkoba dengan memberikan kewenangan tembak mati di tempat bagi pengedar narkoba, tanpa perlu diadili.

“Perintah saya adalah tembak di tempat untuk membunuh kalian. Saya tak peduli soal hak asasi manusia dan kalian sebaiknya percaya itu,” lanjut Duterte, Presiden Filipina.

Hanya dalam sebulan, 400 orang tewas ditembak mati. 4,400 orang tersangka ditahan. Dan 500,000 orang menyerahkan diri ke polisi karana takut mati.

Jadi kalau Fuckri Hamzah membandingkan dengan Duterte yang memiliki deadline pemberantasan narkoba dan ingin Jokowi punya deadline pemberatasan korupsi, apakah itu artinya Fuckri Hamzah setuju jika Jokowi juga memberi kewenangan tembak mati di tempat bagi koruptor? Pasti tidak setuju. Malah Fuckri Hamzah akan kembali menggonggong macam-macam. Sebab si anjing sinting ini hanya ingin menyalahkan Jokowi.

Kalau saya sebagai rakyat jelata, sangat setuju koruptor ditembak mati. Kalau yang OTT tembak mati di tempat saja, untuk mempersingkat waktu dan menghemat anggaran. Dalam setahun pasti banyak yang kapok korupsi, atau malah mengundurkan diri dari DPR, DPD, MPR dan pejabar publik lainnya. Bahkan mungkin banyak yang akan menyerahkan diri ke Polisi. Tapi para politisi itu pasti tidak setuju. Inilah itulah. Dan pasti akan mengancam Jokowi lengser. Ujungnya, negara ini konflik karena rakyat pasti membela Jokowi.

Lalu yang terakhir soal Sumberwaras, kata Fuckri Hamzah KPK tidak mau menindak, tidak mau bekerjasama dengan BPK. Ya gimana mau bekerjasama, wong BPK nya titik-titik. Menentukan posisi tanah saja salah. Soal Teman Ahok menerima 30 milyar? Itu kan kata majalah Tempe. Kemudian reklamasi tidak diurus? Jare sopo njing? Itu Sanusi dari Gerindra sudah tersangka kok masih bilang tidak ditindak? Dasar sinting!

Sekali lagi, saya menuliskan semua ini dengan caci maki karena saya tau KPK, Jokowi, Badan Kehormatan DPD tidak akan mau menanggapi Fuckri Hamzah. Saya menanggapi Fuckri Hamzah agar dia tau bahwa ada orang lain yang bisa balik mencacinya. Saya menulis ini agar para kader-kader PSK itu sadar bahwa junjungannya si Fuckri Hamzah ini anjing sinting.

Terakhir, saya minta maaf pada Presiden Jokowi karena tidak bisa sopan dalam menulis. Saya tidak menganut api harus dilawan dengan air agar padam. Saya menganut api harus dilawan dengan api, supaya kita tau bahwa ada sesuatu yang memang seharusnya hangus terbakar. Ya seperti Fuckri Hamzah ini, daripada kita siram dan selamatkan, sementara apinya sudah besar dan meresahkan, mending bakar sekalian biar hangus.

Begitulah kura-kura.


loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here