Lurah GA Bantah Kasat Reskrim Mengatakan Mangkir Dari Panggilan

0
207

Bengkulu Utara,(GC) – Syaiful, salah seorang lurah Gunung Alam (GA) Kecamatan Kota Arga Makmur membantah atas keterangan Kasat Reskrim Polres Kabupaten Bengkulu Utara disalah satu media yang mengatakan dirinya mangkir dari panggilan polisi saat dipanggil sebagai saksi dalam kasus dugaan perbuatan cabul ketua panwascam kota Arga Makmur berinisial IWN beberapa bulan yang lalu.

Syaiful yang saat ini juga selaku Kasek Panwascam kota Arga Makmur dengan awak media mengaku, terkait atas kasus dugaan perbutan cabul yang telah dilaporkan oleh salah seorang eks staf ketua panwascam berinisial LZA beberapa bulan yang lalu, hingga saat ini yang katanya dari penyidik pihak kepolisian dirinya selaku saksi, tidak pernah menerima panggilan, baik secara tertulis maupun lisan dari pihak kepolisian Polres Bengkulu Utara

“Saya tidak pernah menerima panggilan baik tertulis maupun melalui pesan atau lisan dari pihak Polisi, bagaimana bisa saya dikatakan mangkir, dan ini apa dasarnya,”bantah Syaiful saat dihubungi salah seorang awak media melalui Via Hand Pone Nya, Rabu ( 31/10/2018).

Syaiful Mangatakan, jika memang ada pemanggilan dari pihak kepolisian, tentu selaku ASN yang tunduk dengan aturan, dirinya dipastikan akan memenuhi panggilan dari aparat penegak hukum tersebut. Namun sangat disayangkan, hingga sekarang sedikitpun belum ada dari pihak kepolisian Polres Bengkulu Utara menyampaikan panggilan terhadap dirinya. Sehingga atas keterangan dari Kasat Reskrim yang mangatakan dirinya mangkir dari panggilan pihak kepolisian tersebut tidak benar.

“Saya yang dikatakan mangkir dari panggilan polisi itu tidak benar, saya selaku ASN ini punya atasan (Sekda), saya pasti dapat teguran keras dari atasan saya jika saya melawan hukum alias mangkir dari panggilan polisi. Bahkan saya juga tidak tahu statusnya apa saya dipanggil,”terangnya.

Ketika disinggung sajauh mana dirinya (Syaiful, Red) selaku Kasek Panwascam mengetahui atas kasus dugaan perbuatan cabul yang melibatkan ketua Panwascam kota Arga Makmur berinisial IWN tersebut ?…tampaknya syaiful agak berbelat-belit menjawab pertanyaan yang dilontarkan salah seorang awaka media itu. Padahal sebelumnya, Syaiful pernah sempat mengaku dan menceritakan dihadapan kuasa hukum LZA, bahwa dia selaku kasek panwascam pernah ada menerima pengaduan  LZA yang mengeluh atas perlakuan IWN yang diduga tidak senonoh selaku atasannya tersebut.

Bahkan, saat itu syaiful juga menceritakan pernah membodohi LZA ketika menuruti kehendak IWN untuk diajak pergi ke kota Bengkulu. Karena Menurut Syaiful, Kota bengkulu bukan wilayah pekerjaannya lagi.  Namun demikian, Syaiful juga salut dengan LZA yang dapat menjaga dirinya dari aksi perbuatan tidak senonoh yang diduga nyaris dilakukan oleh IWN.

“Saya pernah mengatakan bodoh sama LZA, kenapa saya katakan bodoh? sebab, LZA mau saja diajak jalan-jalan sama atasannya hingga keluar daerah (Kota Bengkulu), padahal  itu diluar wilyah pekerjaan. Itu saja sudah jelas-jelas sebagai atasannya salah, karena LZA itu hanya staf yang kerjanya hanya pramusaji di kantor, dan bukan tenaga teknis lapangan,” Beber Syaiful.

Sementara Kapolres BU AKBP Ariefaldi Warganegara, S.Ik melalui Kasat Reskrim AKP Jufri, S.Ik ketika dikonfirmasi oleh wartawan terkait bantahan dari Syaiful yang mengaku tidak pernah menerima panggilan dari penyidik kepolisian tersebut mengatakan, melalui pengacara LZA selaku korban dugaan perbuatan cabul, pihak penyidik kepolisian sudah dua kali menyampaian pemanggilan terhadap Syiful.

“Sudah kita panggil, dan pemanggilan itu kita sampaikan pesan secara lisan kepada pihak pengacara LZA agar Syaiful dapat segera datang untuk diminta keterangannya selaku saksi. Namun, jika dalam waktu dekat ini dia juga tidak mau datang, akan kita lakukan jemput paksa,” singkat Kasat Reskrim ketika dikonfirmasikan oleh salah satu awak media.

Disisi lain, pengacara korban dugaan perbuatan cabul, Julisti Anwar, SH dalam hal ini mengaku tidak pernah menerima titipan atau pesan dari pihak kepolisian , baik secara lisan maupun secara tertulis atas pemanggilan yang ditujukan untuk Lurah Gunung Alam.

“Sejauh ini kami tidak pernah menerima titipan surat pemanggilan dari polisi untuk syaiful. Kalau memang ada titipan dengan kami, pasti akan kami sampaikan dengan disertai ada bukti tanda terima. Kemudian sebenarnya secara aturan hukum, kami selaku pengacara korban dugaan perbuatan cabul tidak ada kapasitas memberi atau menyampaikan pemanggilan dari pihak kepolisian yang gunanya untuk melakukan proses penyidikan adanya suatu kasus atau laporan masyarakat kepada pihak kepolisian,”demikian tutur Listi.(Ben)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here