6.9 C
Alba Iulia
Rabu, April 1, 2020

Akankah populasi berlebih & kelangkaan sumber daya mendorong budaya kanibalisme?

Must Read

Beredar Foto Seronok di Duga Siswi SMK Kandeman Kabupaten Batang

Sekolah perlu memberikan pengawasan ketat terhadap para siswa dalam lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah, bila ada keterkaitanya anak...

Umat Islam Diambang Kehancuran?

Belakangan ini konflik atas nama agama sering kali mencuat. Baik di dunia maupun di Indonesia. Islam menjadi salah satu...

Tari Topeng Cirebon dan Makna Dibaliknya

Tari Topeng Cirebon dengan gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab,...
Adminhttp://www.garudacitizen.com/
Garuda Citizen truly of Indonesia » politik, hukum, sosial, wisata, budaya, dan berbagai berita peristiwa menarik dan penting untuk dibaca.

Budaya kanibalisme itu adalah fakta. Dan terjadi dalam kehidupann sosial manusia. Kendati secara umum, peradaban manusia mengganggap hal itu tabu. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Termasuk sistem keyakinan.

Profesor Stanford Paul Ehrlich, menjadi berita utama bulan lalu. Ketika, dia mengatakan kepada wartawan, bahwa; kelebihan populasi dan kelangkaan sumber daya, pada akhirnya akan mendorong manusia yang lapar ke kanibalisme.

Kedengarannya, seperti sensasional. Dan itu adalah ide lama: Antropolog Marvin Harris berpendapat dalam Cannibals and Kings 1977, bahwa kanibalisme secara historis memfasilitasi ekspansi populasi manusia. Dengan menyediakan sumber protein yang penting.

Ada beberapa sejarah; dalam peradaban manusia, tentang budaya konsumsi tubuh manusia yang damai .

~ Cannibalism

Kanibalisme, tidak selalu tentang kecenderungan buruk (seperti sepasang saudara laki-laki Pakistan yang dikirim ke penjara minggu lalu. Karena memasak anak laki-laki dalam kari). Atau, keadaan sulit apokaliptik (seperti para korban kecelakaan pesawat Andes 1972 yang selamat, dengan enggan memakan jenazah penumpang yang meninggal).

Banyak masyarakat Amazon, Afrika, dan penduduk asli Amerika, secara tradisional mempraktikkan kanibalistik. Dalam ritual kamar mayat yang damai.

Pada 1980-an dan 90-an, antropolog Amerika Selatan, Aparecida Vilaca mempelajari fenomena “endocannibalism,” atau makan “orang dalam” – anggota keluarga atau komunitas yang sama — di antara orang-orang Wari di Amazon Brasil. Hingga misionaris Kristen menghapuskannya, pada tahun 1960-an.

Endocannibalism tampil sebagai salah satu ritual paling penting, dalam penguburan Wari. Vilaca menarik perbedaan kontras, antara endocannibalisme dan “exocannibalism,” atau makan “orang luar”: musuh yang ditangkap dalam perang. Dan orang asing yang berkeliaran di wilayah suku.

Sang Wari memakan orang luar dengan senang hati. Memanggang mereka. Dan memakannya dengan rakus. Dengan tangan mereka. Sama seperti mereka, akan menghabiskan banyak pembunuhan.

(Dalam sebuah buku baru, Savage Harvest, jurnalis Carl Hoffman, mengklaim bahwa Michael Rockefeller — putra Wakil Presiden Nelson Rockefeller — menjadi korban eksocannibalisme. Ketika, ia mencari benda-benda untuk museum seni primitif ayahnya, di New York City.)

Bagi Wari ‘ mereka bukan budaya kanibalisme

Vilaca sendiri tidak menyaksikan kanibalisme penguburan, tetapi ia bergabung dengan Wari. Dan berbicara dengan orang-orang yang pernah melakukannya. Secara tradisional, ketika seorang anggota Wari meninggal, kerabat orang yang meninggal akan menghabiskan beberapa hari, untuk mengumpulkan masyarakat; Pada saat pemakaman berlangsung, jenazah mulai membusuk di dalam ruangan yang lembab.

Anggota keluarga orang yang meninggal, kemudian akan meratap dengan histeris. Ketika non-kerabat memotong tubuh. Akhirnya, non-kerabat, akan dengan hati-hati memakan potongan kecil daging manusia. Menggunakan tongkat kecil. Sebagai peralatan. Dan tidak menunjukkan tanda-tanda kenikmatan.

Bagi Wari, memakan orang mati, menandakan bahwa almarhum telah benar-benar keluar dari dunia kehidupan. Dan pelepasan roh, orang mati, memungkinkannya untuk menjadi bentuk mangsa yang dapat dimakan (a white-lipped pecary) .

Bagi Wari ‘, ritual-ritual ini dan perbedaan, antara orang dalam-orang luar, adalah penting. Karena mereka tidak menganggap orang luar, sebagai orang yang sepenuhnya. Dan karena mereka memakan kerabatnya yang mati, hanya setelah mereka diubah menjadi sesuatu yang “lain,” Mereka tidak menganggap diri mereka penganut budaya kanibalisme.

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Karena Corona, Pilkada Serentak Tahun 2020 Ditunda

garudacitizen.com – Kesimpulan rapat kerja dengar pendapat Komisi II DPR RI dengan Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) dan...

Menkeu RI Hentikan Proses Lelang Barang Jasa DAK Fisik 2020

GARUDACITIZEN.COM – Upaya mencegah dan menanggulangi wabah penyeberan virus corona atau Covid-19. Menteri Keuangan (Menkeu) RI, Sri Mulyani Indrawati, mengeluarkan surat edaran...

Paripurna LKPJ 2019, Bupati Sinjai Siap Terima Kritikan dan Saran

Sinjai, GC – Bertempat di ruang rapat paripurna gedung DPRD Kabupaten Sinjai. Bupati Andi Seto Ghadista Asapa, SH,LLM, dihadapan 30 anggota DPRD...

DPRD dan Pemkab Sinjai Sepakat Bangun kios Pasar Darurat

Sinjai, GC - Hasil rapat Komisi gabungan DPRD dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sinjai, sepakat Membangun Kios Pasar Darurat sebanyak 24 Yunit, Selasa...

FPTI RL Gelar Kompetisi Panjat Tebing NGORBIT 2020

GarudaCitizen - Sebagai bentuk rasa syukur atas selesai dibangunnya sarana prasarana wall panjat tebing di area sport centre Dataran Tapus, Bermani Ulu...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -