Kebudayaan Poliandri / Berbagi Istri Juga Ada Di Tibet

0
4669
kebudayaan poliandri tradisi unik di dunia

Kebudayaan Poliandri memang masih susah untuk di percaya. Berbagi istri biasa dikenal dengan istilah poliandri. Pernahkah terbayang untuk membagi istri syah anda untuk saudara? Aneh? Tapi itu ada. Berikut tentang Kebudayaan Poliandri di Tibet.

Sebelumnya, baca juga : Tradisi poliandri ternyata ada di dunia dan Tradisi Unik Poliandri di India

Kebudayaan Poliandri mungkin hal yang cukup tabu bagi masyarakat kita, khususnya di Indonesia. Bentuk poliandri persaudaraan sangat sederhana. Yakni dua, tiga, empat, atau lebih saudara bersama-sama memiliki “istri” yang sama.

Istri yang dimaksudkan adalah wanita meninggalkan rumahnya untuk datang dan tinggal bersama mereka. Secara tradisional, pernikahan diatur oleh orang tua, untuk anak-anak, terutama perempuan, memiliki sedikit hak atau tidak sama sekali untuk menentukan kepada siapa dia akan menikah.

Mungkin saat ini sudah banyak perubahan yang terjadi, tetapi masih dianggap tabu jika seorang anak menikah tanpa persetujuan orang tua mereka. Upacara perkawinan dibedakan berdasarkan pendapatan, wilayah dan dan jarak usia antara semua saudara, semua saudara berhak untuk duduk bersama sebagai calon pengantin namun hanya satu pria yang dianggap formal untuk melakukannya dan biasanya saudara tertualah yang melakukannya. Usia saudara memainkan peran penting dalam menentukan hal ini: saudara sangat muda hampir tidak pernah berpartisipasi dalam upacara pernikahan yang sebenarnya ‘’meskipun mereka biasanya bergabung dengan pernikahan ketika mereka mencapai masa remaja mereka’’.

Kakak tertua biasanya dominan dalam hal kewenangan, yaitu dalam mengelola rumah tangga, tetapi semua saudara berbagi pekerjaan dan berpartisipasi sebagai mitra dalam masalah seksual. Pria dan wanita Tibet  tidak menemukan aspek seksual dari pasangan berbagi seperti menganggap hal ini kurang pantas, menjijikkan, atau skandal, dan sudah menjadi kewajiban bagi istri untuk memperlakukan semua saudara suaminya  sama dengan cara dia memperlakukan suaminya sendiri.

Tidak ada upaya untuk menghubungkan anak-anak biologis kepada saudara tertentu, dan seorang saudara tidak menunjukkan sikap pilih kasih terhadap anaknya bahkan jika dia tahu bahwa dia adalah ayah kandung anak tersebut, anak-anak sama-sama memanggil ayah dan paman mereka sebagai “bapak”.

Kebudayaan Poliandri menghancurkan banyak pendapat tabu tentang seksual di Negara-negara barat dan sering membuat heran orang luar.

Namun penduduk lokal melihat peristiwa ini sebagai sesuatu hal  yang biasa dan menguntungkan.

Ketika saudara berhubungan seks dengan iparnya maka tak ada rasa cemburu dari suami iparnya itu karena mereka beranggapan bahwa Jika dia cemburu, maka dia akan pergi dan menikahi orang lain.

Kehidupan di Tibet sederhana, namun berat. Sanitasi jarang, dan pelayanan kesehatan modern hampir tidak ada. Setiap hari kaum perempuan harus bekerja memecahkan batu di bukit yang tandus atau memanen tanaman di bawah matahari terik.

Kebudayaan Poliandri memungkinkan terjadinya pembagian pekerjaan antara dua saudara laki-laki, satu untuk mengurus hewan ternak, satu untuk membantu istri di ladang, dan satu untuk bergabung dalam karavan dagang.

Banyak yang melihat praktik ini sebagai keberlangsungan hidup, ada faktor keamanan buat para perempuan sehingga ada yang akan menjaga mereka setelah satu suami meninggal.

Kebudayaan Poliandri adalah tentang menjaga keluarga tetap bersatu saat kehidupan menjadi keras, Dengan banyak saudara laki-laki, rumah tangga menjadi lebih kuat dan anak-anak akan punya kesempatan yang lebih baik di masa depan. Itulah pandangan masyarakat Tibet tentang berbagi istri menurut mereka.

loading...