Connect with us

Opini

Intuisi, Firasat dan Rahasia Kehebatannya

Published

on

INTUISI dan FIRASAT C Ronaldo dan messi

Pernahkah melihat Messi atau C. Ronaldo bermain bola? Mereka banyak melakukan keajaiban dalam mengantisipasi bola. Selalu berada pada posisi dan waktu yang tepat. Mampu membaca kemana bola liar akan menukik. Rahasianya adalah Intuisi atau Firasat..

Intuisi dan firasat merupakan kemampuan super yang dimiliki manusia. Kehebatannya, jauh melampaui nalar manusia itu sendiri. Dan ternyata, kita semua memilikinya.

Namun, ada perbedaan besar antara Intuisi dan Firasat. Sebagian besar dari kita masih sering bias dalam memahami keduanya. Bahkan terkadang sering menyamakan; saat firasat muncul, kita beranggapan itu adalah Intuisi kita. Demikian juga sebaliknya.

Memahami keduanya, adalah modal penting dalam memunculkan kemampuan istimewa tersebut. Walau, tanpa sadar pun sebenarnya kita telah mengasah salah satu dari potensi tersebut sejak kecil.

Makin tertarik bukan? Oke, sebelum artikel neuroscience ini dilanjutkan ada baiknya anda menyeduh kopi terlebih dahulu. Biar tidak mengantuk. Karena penjelasannya akan sedikit panjang. He.. he…

Apa Itu Intuisi ?

Dalam sebuah suratnya, Einstein pernah menulis kepada Dr. H.L. Gordon tahun 1949; “Intuisi tidak lain adalah hasil pengalaman intelektual sebelumnya”.

intuisi dan firasat OTAK

Sementara, Abraham Maslow dalam Teori Kebutuhan, menyebutkan: Intuisi adalah “Pengalaman puncak”.  Intuisi merupakan fakta-fakta empiris sepanjang pengalaman hidup seseorang yang kemudian mengendap dibawah kesadaran.

Mari kita kembali bicara tentang dua bintang lapangan hijau yang sudah saya sebutkan di paragraf awal tulisan ini. Messi dan C. Ronaldo.

Saya berahap anda pernah menonton bagaimana keduanya saat berakrobatik dalam setiap pertandingan sepak bola. Harus diakui, mereka adalah bintang yang hampir setiap orang di dunia mengenalnya. Bahkan hingga kepelosok desa yang tidak tercantum dalam peta dunia sekalipun, LOL.

Mereka seperti anak ajaib. Mampu bergerak mengantisipasi datangnya bola bahkan ketika bola itu sendiri baru menyentuh kaki lawan. Mereka dapat memposisikan arah gerak tubuhnya sesuai dengan kemungkinan arah gerak bola melaju.

Dan gerak antisipatif itu bahkan dilakukan, sebelum bola ditendang oleh lawan. Dan seolah telah ‘janjian’, mereka dengan bola benar-benar bertemu pada titik tertentu. Ajaib bukan?

Hukum fisika, matematika, sistem grafitasi bumi, arah mata angin, hingga kondisi suhu, yang mempengaruhi kecepatan dan arah bola yang menukik tajam dengan kecepatan tinggi dapat mereka taklukkan. Bahkan tanpa perlu berfikir!!

Mereka tidak punya waktu untuk menganalisa, kemana arah bola, walau sedetik. Jika ingin mencetak gol spektakuler dari bola liar dengan cara bersalto. Mereka mengandalkan Intuisi.

Dan inilah yang membuat mereka mampu menjebol gawang musuh tanpa terbaca oleh kiper profesional yang juga terbaik dunia.

Hebat bukan? Menurut saya, SANGAT!!… Pertanyaannya, bagaimana hal itu bisa terjadi ?

Menurut teori Dr. Larry Squire, Presiden Society of Neuroscience; ketika anda pertama kali melakukan tindakan/aktivitas berfikir untuk satu objek, atau bertingkah laku atau bersikap yang tidak sesuai dengan kebiasaan anda, proses awal ini terekam di otak akan berlangsung dalam wilayah cortex cerebral, wilayah sadar. Adanya di otak bagian luar.

Ini adalah proses belajar. Jika kemudian anda mengulang-ulang aktivitas baru tersebut, maka kegiatan itu di otak akan berpindah ke wilayah otak bawah sadar yang bersifat otomatis. Wilayah ini disebut Basal Ganglia.

Semakin sering anda melakukan sesuatu hal yang sama maka akan semakin otomatis dan semakin tidak disadari tindakan itu. Kebiasaan itu segera berubah dan lama kelamaan diperkuat.

Manifestasi proses di wilayah Basal Ganglia tersebut mewujud dalam tindakan-tindakan kita.

Sebagai contoh, ketika seseorang berada dalam posisi komandan militer. Memimpin satu batalyon tentara, sebagai seorang pengambil keputusan. Dalam hal ini, yang bersangkutan pasti sudah melewati berbagai macam proses belajar untuk sampai pada posisi itu.

Pengalaman-pengalaman selama menapaki jenjang tersebut akan mengendap di Basal Ganglia.

Proses dari mulai seleksi, menjadi prajurit, latihan-latihan, mengikuti proses simulasi tempur, terjun ke-mendan perang sebenarnya, melalui berbagai pertempuran berat, hingga kemudian mencapai posisi komandan akan menjadi sebuah pengalaman.

Ketika suatu saat dihadapkan pada posisi untuk mengambil sebuah keputusan, maka sistem akan bekerja secara otomatis dengan merujuk pada referensi-refrensi yang mengendap dalam otak bawah sadar. Sesuai dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dilewati. Yang bahkan secara sadar sudah terlupakan.

Intuisi seringkali tidak terpengaruh dengan opini sekitar. Bahkan ketika sang Komandan tempur tadi dihadapkan pada setumpuk data valid, sebagai referensi untuk pengambilan keputusan.

Seperti ketika dihadapkan pada posisi sulit, apakah harus mundur atau bertahan di medan tempur. Berdasarkan informasi yang diterima, secara kalkulasi jumlah personil dan posisi tidak menguntungkan. Sehingga berpotensi binasa.

Tapi sang Komandan mengambil keputusan berbeda. Berdasarkan naluri seorang yang memiliki pengalaman dan jam terbang, sering kali data-data dan informasi tidak dipakai sebagai rujukan.

Naluri yang datang secara otomatis berdasar pengalaman-pengalaman masa lalu yang sudah mengendap di dalam otak bawah sadar inilah yang disebut sebagai intuisi.

Keputusan yang diambil tersebut bahkan bertabrakan dengan data-data atau informasi yang disodorkan. Naluri seorang Komanda mengatakan “ada ketidaksesuaian antara data/informasi dengan naluri intelektualnya”.

Tetapi sang Komanda sendiri, juga tidak tahu pasti dimana ketidaksesuaiannya atau ketidaktepatan data/informasi yang dihadapankan padanya.

Naluri sang Komandan membimbing secara intuitif untuk mengambil keputusan, menyerang!!!…

Dan biasanya, naluri intuitif komandan benar. Ini sesungguhnya dikarenakan pengalaman-pengalaman yang telah mengendap dibawah sadarnya dan seringkali tidak lagi disadari. Karena sudah bersifat otomatis tanpa harus berfikir. Pengalaman-pengalaman bawah sadar ini sendiri tidak harus pengalaman-pengalaman intelektual. Ini secara alamiah adalah naluri hewani.

Cobalah anda bertanya dengan prajurit-prajurit terbaik yang pulang dari medan pertempuran. Mereka sering kali melakukan hal-hal yang tak terduga dan itu ternyata menyelamatkan mereka dari bahaya.

Setiap Orang Memiliki Intuisi Yang Unik

Setiap orang intuisinya berbeda dan unik. Dalam persoalan yang sama, setiap orang pasti memberi resfon yang berbeda, dalam penyelesaiannya.

Kenapa? Karena, intuisi selalu berkaitan dengan latar belakang pengalaman masa yang dipengaruhi oleh situasi, kondisi dan minat seseorang.

Seseorang dengan latar belakang pengetahuan ekonomi tidak mungkin memiliki intuisi tentang fisika, jika dia tidak memiliki latar belakang fisika. Seseorang dengan kemahiran bermain bulutangkis tidak mungkin memiliki intuisi seorang pemain sepakbola, jika dia tidak memiliki latar belakang sebagai pemain sepak bola. Seseorang dengan latar belakang fisika tidak mungkin memiliki intuisi kedokteran, jika dia tidak pernah mempelajari ilmu-ilmu kedokteran.

Dalam bidang yang sama pun, begitu. Intuisi C. Ronaldo sebagai pemain sepak bola, jelas tidak akan berfungsi sempurna ketika ia ditempatkan sebagai kiper.

Bahkan, bola yang di-over menggunakan mesin canggih dengan tingkat presisi sempurna, pada kekuatan, jarak, posisi, dan arah yang sama akan diresfon dengan cara berbeda oleh Messi dan C. Ronaldo.

Messi mungkin, akan menahan bola terlebih dahulu menggunakan dadanya, lalu secepat kilat menendangnya kearah gawang sebelum bola itu sempat menyentuh tanah.

Berbeda dengan C. Ronaldo, dia mungkin akan memutar badannya dengan kecepatan tinggi dan langsung menendang bola seperti layaknya gaya main bola Takraw. Karena, mungkin, sekali lagi mungkin, alam bawah sadarnya menyimpan memori saat dia pernah memainkan bola api di Bali.

Lalu bagaimana jika komandan militer terbaik tadi, berada di posisi kedua bintang sepak bola dunia itu? Ini juga mungkin. Serius!!…. Bola tidak akan pernah melesat ke-udara. Apalagi mengenai sang Komandan.

Karena, sebelum pemicu pada bagian belakang alat pelontar bergerak secara otomatis dengan sistem digital yang disetel 5 detik sekali mengenai sebuah tombol kecil pembuka katup udara pendorong bola itu, tersentuh. Sebuah timah panas telah menghentikannya. Engsel yang menjadi tumpuan pemicu sekaligus penahan pegas yang berfungsi sebagai pendorong lepas dari tempatnya.

“Saya tidak ingin terlihat konyol,” ujar Sang Komandan dengan nada tegas seolah ingin meloncat dari layar monitor LCD 17” milik penulis.

Memang, PS TNI sekarang sedang naik daun. Tapi dengan pakain seragam begini, jelas tidak bisa bergerak bebas. Bisa-bisa kepala yang kena. Lagian, penulis iseng banget sich, ujar sang Komandan dengan nada ketus, sambil berlalu pergi.

“Maaf pak,”

Ssstt.. santai, pembaca. Jangan terlalu serius, refresh sedikit. Kopi yang saya suruh bikin waktu diawal tadi, minum aja dulu. Ntar keburu dingin, he… he…

Pengaruh Intuisi Dalam Kehidupan

Intuisi adalah kemampuan super tidak berbatas dan melampaui nalar dari manusia itu sendiri. Ada yang menyadari dan ada yang tidak. Semakin kita menyadari tentang kekuatan intuisi, itu semakin baik untuk mengasahnya menjadi lebih hebat lagi.

Setiap saat kita selalu membuat keputusan. Kita mau kemana? Ketemu siapa? Berbicara apa? Melakukan apa? Dan lain sebagainya, adalah keputusan-keputusan yang kita ambil. Setiap keputusan yang telah diambil akan mempengaruhi kehidupan kita dimasa yang akan datang.

Kita saat ini, adalah buah dari keputusan yang kita ambil pada masa lalu. Keputusan-keputusan tersebut sebagian besar tidak kita pikirkan terlebih dahulu. Mengalir begitu saja. Dan dominan ditentukan oleh intuisi kita.

Kita ambil sebuah contoh; seorang pebisnis melakukan berbagai transaksi sering kali melibatkan intuisi. Walau program kerjanya telah terencana.

Saat berbicara dengan clien, misalnya. Mungkin awalnya, hal-hal yang ingin dibicarakan telah disiapkan sedemikian rupa. Namun kenyataannya, pembicaraan akan mengalir begitu saja, mengikuti situasi dan kondisi.

Orang yang terlatih dan memiliki pengalaman, akan lebih mampu menyakinkan clien untuk bekerjasama dengannya.

Kita tidak perlu berpikir terlebih dahulu, ketika harus menjawab pertanyaan basa-basi dari clien. Namun, awal dari basa-basi itu pulalah yang akan menentukan, bahwa pembicaran tersebut akan berlanjut menjadi lebih baik atau tidak.

Apakah para bos-bos besar mempunyai berbagai kecakapan dan keahlian yang hebat? Beberapa ada, akan tetapi sebagian besar tidak. Bahkan, tingkat kemampuannya dalam menangani pekerjaan jauh dibawah kemampuan karyawannya.

Jika anda seorang karyawan, mungkin anda pernah sebel melihat atasan anda yang terkadang terlihat tidak lebih pintar dari anda. Ya, kan? Hayoo ngaku…

Tapi perlu diketahui, mereka mempunyai intuisi yang baik dalam melakukan berbagai keputusan. Mungkin mampu menjadi negosiator yang baik untuk mendapatkan sebuah proyek atau pekerjaan yang kemudian harus melibatkan anda sebagai pekerjanya.

Dia dapat mengetahui potensi atau peluang itu ada dimana. Walau terkadang itu masih di alam ide atau imaginasi.

Itu lah intuisi!!

Tahukah anda? Orang yang banyak membaca juga memiliki intuisi yang baik dalam mengambil keputusan. Orang yang gemar membaca bukanlah penghapal. Buku yang jumlahnya ratusan halaman dengan jumlah yang mungkin juga ratusan, bukanlah untuk dihapal. Melainkan memberi siraman pengetahuan kealam bawah sadar.

Sehingga, ketika berada pada situasi dan kondisi sebagaimana yang ditulis dalam buku, maka alam bawah sadar kita akan bekerja untuk mengambil keputusan. Intuisi kita akan bekerja mengimplementasikan endapan wawasan dan pengetahuan yang ada di otak bawah sadar kita.

Itulah kenapa orang yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan pengalaman luas hidupnya akan lebih berkualitas. Karena, intuisinya bekerja dengan baik dalam mengasilkan keputusan-keputusan yang tepat.

Eit, hampir lupa. Kita belum berbicara tentang Firasat

Firasat Bukan Intuisi!

Selain naluri alamiah berupa intuisi, manusia juga memiliki naluri alamiah berupa Firasat. Keduanya adalah kemampuan super manusia yang melampaui logika.

Namun kedua memiliki perbedaan besar. Firasat tidak berkaitan dengan pengalaman-pengalaman masa lalu. Sampai saat ini, firasat masih menjadi rahasia tuhan yang belum terpecahkan oleh manusia.

Bahkan, para ahli neuroscience sendiri belum mampu menggali penjelasan ilmiah darimana datangnya firasat.

Saya pribadi menganggap, Firasat adalah; alat sensor yang dimiliki manusia untuk merasakan sensasi suatu kejadian yang tidak terikat dengan ruang dan waktu.

Tapi, firasat bukan semacam ramalan. Ada perbedaan disini. Ramalan adalah kehendak untuk mengetahui rahasia masa depan atau sesuatu berada pada lokasi tertentu. Sedangkan firasat, lebih, berupa informasi yang datang begitu saja. Baik dari masa depan atau dari tempat tertentu.

Sebagai contoh; saat tiba-tiba kita merasa ada sensasi ganjil dalam diri kita. Yang biasanya juga terhubung juga dengan sesuatu.

Seperti rasa gelisah, lalu tiba-tiba kita ingat salah seorang sahabat atau anggota keluarga kita. Dan sesaat kemudian kita mendapat kabar bahwa sahabat atau anggota keluarga kita meninggal atau mengalami musibah. Ini disebut, firasat.

Sebagian besar orang mengaku pernah mendapat firasat. Dan kemudian sinyal pertanda itu, kemudian benar-benar menjadi nyata.

Sensasi informasi yang tidak terikat ruang dan waktu ini, memiliki kadar dan kekuatan yang berbeda pada setiap manusia. Tidak sedikit pula yang tidak ingin mengakui firasat. Biasanya menepis sensasi tersebut bahwa hal itu bukanlah sebuah informasi, melainkan karena kondisi kejiwaan saja.

Bagi orang yang meyakini firasat, biasanya sinyal informasi tersebut terasa kuat. Dan sering muncul.  Sedangkan bagi yang mengabaikannya, maka tanda-tanda tersebut akan melemah. Bahkan, tidak terasa sama sekali.

Itulah kenapa, kadar kemunculan firasat antara satu dengan yang lain seolah berbeda.

Setiap manusia pasti pernah mengalami pengalaman-pengalaman yang bersifat intuitif atau firasati. Pengalaman intuitif lebih dapat dilatih kepekaannya, sedangkan firasat belum ditemukan konsepnya.

Beberapa ahli menyebutkan, firasat adalah bakat.

Saya secara pribadi berpendapat, bahwa firasat adalah kemampuan sensor manusia dalam menangkap informasi yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu. Setiap manusia memilikinya. Namun sensitifitas sensor itu akan menguat ketika kejiwaan manusia membuka diri terhadap munculnya sinyal informasi tersebut.

Firasat bisa jadi merupakan cikal-bakal indera keenam.  Tapi sejujurnya, saya sendiri belum begitu yakin.

Sumber Inspirasi : Arief Prihantoro 

Blogger dan SEO Expert di Garuda Website. Sebuah perusahaan Web Developer di Jakarta Indonesia

Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

Opini

Apa Yang Melatarbelakangi Terbentuknya Kampung Pancasila

Published

on

apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung pancasila

Desa Pancasila merupakan julukan desa yang menjadi contoh penerapan nilai-nilai Pancasila, apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung pancasila?

Istilah desa Pancasila digunakan di Kecamatan Lengkong Wetan, Kecamatan Tebing Tinggi, dan Desa Balun. Program Desa Pancasila dikembangkan dalam tiga fase, meliputi interpretasi, internalisasi, dan aktualisasi Pancasila.

Sedangkan proses implementasinya meliputi ranah sosial, budaya, dan keilmuan. Pemerintah memilih daerah yang dijadikan sebagai desa Pancasila berdasarkan tingkat toleransi beragama yang tinggi. 

Lantas apa motivasi desa Pancasila? Simak ulasan berikut untuk mengetahui lebih lanjut. 

Apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung pancasila

apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung pancasila
Sumber gambar: KELURAHAN PRINGGOKUSUMAN

Berikut ini adalah sejarah Desa Pancasila. Misalnya penerapan praktis nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat, atau sikap toleransi antar umat beragama. 

Orang dapat hidup damai tanpa konflik meskipun keyakinan agama, etnis, dan budaya mereka berbeda. Masyarakat di wilayah desa Pancasila rukun. Desa Pancasila memiliki tujuan sebagai berikut. Apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung pancasila?

Mengembangkan media pembelajaran Pancasila bagi masyarakat luas, dan meningkatkan pemahaman di antara komunitas etnis Pancasila yang berbeda.  Menanamkan nilai-nilai Bhinneka Tunggal Ika, menanamkan pemahaman bahwa seluruh rakyat Indonesia terpanggil untuk menerapkan sila pancasila. 

Menanamkan rasa bahwa seluruh rakyat Indonesia diharapkan memberikan penghormatan dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada para pemimpin bangsa, karena telah menemukan dan menciptakan Pancasila sebagai dasar negara. Sudah paham apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung pancasila?

Hasil yang diharapkan dari program desa Pancasila adalah peningkatan kecerdasan masyarakat. Pancasila akan membantu membangun pribadi yang unggul melalui proses interpretasi, internalisasi, dan aktualisasi. 

Pengembangan budaya melalui Pancasila juga akan menghasilkan kecerdasan spiritual. Perkembangan sosial akan menghasilkan kecerdasan emosional, dan perkembangan ilmiah kecerdasan intelektual. 

Berikut adalah jawaban dari “apa yang melatarbelakangi terbentuknya kampung pancasila” semoga bermanfaat.

Baca Juga: Bagaimana Karakteristik Umum Dari Teks Prosedur

(Upy/G)

Continue Reading

Nasional

SBY Ngetweet, Jokowi Datangi Proyek Mangkrak di Maluku

Published

on

By

SBY Ngetweet - Jokowi Datangi Proyek Mangkrak di Maluku

Presiden Jokowi memang suka sekali blusukan. Karena dengan begitu dia merasa selalu mendapat cerita dan masalah di lapangan, sehingga bisa langsung dicarikan solusinya.

Di sela-sela kunjungannya ke Maluku, semalam Presiden sempat berdiskusi dengan ketua dan anggota DPRD Maluku dan Kota Ambon. Salah satu hal yang paling dikeluhkan adalah krisis listrik. Baru semalam dikeluhkan, paginya Presiden merasakan sendiri mati listri selama beberapa jam.

Dari situ kemudian Presiden blusukan meninjau pembangkit listrik di Maluku. Tumpukan besi dan penuh dengan rumput seperti Hambalang. Hanya saja kali ini Presiden tak sempat geleng-geleng. Hanya menatap kosong proyek mangkrak yang seharusnya sudah dianggarkan sejak 2007 dan harusnya selesai pada 2011. Namun proyek senilai 800 milyar ini sekarang nasibnya nyaris sama seperti Hambalang.

Komentar Presiden pun nyaris sama saat geleng-geleng melihat Hambalang “Oleh karena itu saya memutuskan untuk melihat seperti apa kondisinya, apakah bisa dilanjutkan atau tidak. Tapi mengenai proses hukumnya saya belum tahu, akan saya cek dulu.”

Sementara Menteri ESDM Ignasius Jonan saat ditanya wartawan menjawab masih akan menanyakan kesanggupan PLN. Sebab memang tidak mudah untuk melanjutkan proyek mangkrak, terlebih dana yang diperlukan cukup banyak.

“Indonesia itu negara kepulauan, jadi tidak mungkin ada jaringan nasional. Bisa ada, tapi biayanya mahal dan tidak relevan. Karena itu setiap pulau harus punya pembangkit independen sendiri-sendiri,” kata Jonan.

Susahnya melanjutkan proyek mangkrak

Sebelumnya, ketika Presiden Jokowi meresmikan sebuah proyek, kerap dianggap hanya melanjutkan proyek SBY. Padahal kebanyakannya adalah proyek baru dan sebagian merupakan proyek mangkrak.

Patut menjadi catatan, bahwa melanjutkan proyek mangkrak itu bukan pekerjaan mudah. Perlu keberanian di atas rata-rata. Ini sama seperti menikahi orang yang sudah pernah bercerai (mangkrak). Perlu evaluasi, penelitian dan keberanian untuk melanjutkannya.

Sebab sebuah proyek yang belum selesai atau mangkrak, pasti memiliki masalah yang sangat serius di dalamnya. Sama seperti orang cerai, pasti ada masalah. Kalau tidak ada masalah harusnya rampung!

Contoh saja Hambalang, meski Presiden sudah pernah datang tahun lalu, menginstruksikan segera ambil keputusan dilanjutkan atau dijual alat-alat dan perabotan yang sudah terlanjur dibeli, sampai saat ini pun masih penuh perdebatan. Sebab kalau dibiarkan, negara sudah keluar uang banyak. Mau melanjutkannya masih perlu pendanaan lagi, ingin menggusur dan memanfaatkannya untuk hal lain pun perlu dana tambahan.

Begitu juga dengan pembangkit listrik di Maluku ini, pasti ada masalah serius. Beberapa bulan lalu KPK sudah menyatakan sedang mendalami satu persatu kasus mangkrak peninggalan SBY, yang salah satunya adalah pembangkit listrik di Maluku.

Entah karena masih ada masalah hukum atau perencanaannya belum selesai, yang jelas pembangkit listrik di Maluku ini sebenarnya direncanakan segera dimulai lagi pada 2016 lalu. Namun sampai sekarang belum ada yang berani menyentuh atau melanjutkannya. Memang cukup mengerikan melihat proyek senilai 800 milyar ini ternyata telah dicairkan setidaknya 71 persennya. Dan 3 kontraktor penerima dana tersebut sudah kabur sebelum pekerjaannya selesai.

Tweet SBY

Entah mengapa setiap langkah Jokowi selalu memiliki kebetulan-kebetulan yang menarik. Seperti SBY yang melakukan tour de Java karena ingin mendengar curhat masyarakat padahal terbalik, Jokowi tiba-tiba datang blusukan dan geleng-geleng di Hambalang.

SBY sempat ngetweet “Tugas pemimpin & generasi berikutnya adalah melanjutkan yang sudah baik & memperbaiki yang belum baik. Continuity & Change. *SBY*”

Kemarin SBY ngetweet, hari ini Jokowi datangi proyek mangkrak. Hahaha Luar biasa. Blusukan Jokowi melihat proyek mangkrak sangat sesuai dengan tweet SBY tentang melanjutkan dan memperbaiki. Sepertinya Presiden Jokowi dan Kapolri enggan ditanyai oleh SBY lagi.

Begitulah kura-kura.

Continue Reading

Nasional

Aksi Demo 112, Strategi Akhir SBY dan Taktik Jitu Tito

Published

on

By

Aksi Demo 112 Strategi Akhir SBY dan Taktik Jitu Tito

FUI, FPI, HTI, GNPF – MUI sedang dilanda kepanikan hebat. SBY yang sangat yakin dengan strateginya, kini mengalami kebingungan. Strategi menjegal Ahok gagal total. Demo-demo besar yang sudah dilancarkan ternyata sia-sia. Pun doa hebat dengan bumbu nasi tumpeng ala Habiburokhman agar Ahok cuti selamanya, ternyata gagal terkabul. Sabtu depan, 11 Februari, Ahok dipastikan kembali aktif menjadi gubernur.

Kalapnya SBY dilampiaskan dengan curhat lewat cuitan di Twitter. SBY pun berbalik menggunakan lagi strategi melodrama dan melankolis untuk menghantam strategi Ahok yang didukung oleh berbagai macam pihak. Pada Die Natalis Demokrat kemarin, SBY hanya bisa bernostalagia dengan bahasa teratur nan sistematis berutopi menyindir berbungkus wake up call kepada Jokowi. Sindiran lebay SBY itu hanya dijawab dengan bermain futsal oleh Jokowi bersama dengan menteri-menterinya.

Kini Jokowi dan The Invincible hand sedang tertawa terkekeh, terbahak-bahak dan termehek-mehek, menyaksikan upaya terakhir para lawan-lawan Ahok lewat rencana demo berbungkus doa dan jalan santai 112. Demo 112 dan seterusnya, sudah dicium baum amisnya oleh Tito. Bisa dipastikan bahwa Tito akan kembali menggiring demo-demo itu menjadi ucapan lantunan doa di Masjid Istiglal.

Gelombang kesadaran, rebound consciousness, terbukti telah kembali muncul dengan dukungan mengalir kepada Ahok. Pasca terpuruk di dasar jurang, Ahok secara meyakinkan telah kembali bangkit. Hal itu disebabkan oleh kegagalan SBY menggoreng elektabilitas Agus lewat survei dan penggiringan opini buruk terhadap Ahok.

Ide konyol Agus tentang kota terapung, membangun tanpa menggusur, namun terakhir menggeser sedikit, menghidupkan BLT dan seterusnya, semakin meyakinkan publik bahwa Agus adalah fotokopinya SBY. Publik mendapat kesan bahwa Agus memiliki kecenderungan seperti SBY sebagai sosok yang tidak tegas, peragu dan tak nyambung. Publik memahami bahwa dalam membuat kebijakan di DKI, sosok seperti Agus hanya akan menghasilkan kebingungan dan kegalauan birokrasi.

Agus yang gaya bicaranya  mengambang dan menghapal materi debat dilihat oleh publik DKI sebagai sosok yang tidak mampu memimpin Jakarta. Ditambah dengan calon wakilnya Sylvi yang tersangkut korupsi akan semakin membuat warga DKI menjauhi Agus dan SBY. Publik Jakarta tidak mau kalau kota mereka akan kembali menjadi kota rimba, kota mafia, kota para koruptor selama lima tahun ke depan. Oleh karena itu sampai kiamatpun, Agus tak akan menang di Pilgub DKI 2017. Agus akan tersingkir. Lalu bagaimana dengan Anies?

Kubu Prabowo yang terpaku pada kesantunan Anies tak berhasil menghapus dalam ingatan publik bahwa Anies yang tak becus menjadi menteri dipecat oleh Presiden Jokowi. Anies Baswedan yang awalnya menjanjikan dan akan dijadikan manusia yang dizalimi oleh Presiden Jokowi karena dipecat, justru makin menunjukkan diri tidak berkualitas. Ternyata Jokowi sama sekali tidak menzalimi Anies. Anies memang tidak becus dan layak dipecat.

Kualitas Anies bisa dilihat dari debat dan program-program awang-awangnya. Dalam debat Anies Baswedan gagal menunjukkan kemampuan kualitas manajerial dan intelektualitasnya dengan aneka jawaban yang hanya berupa utopi dan sindiran. Anies hanya mengambar-gemborkan subisidi dan gratis ini dan itu yang disimpulkan dengan up-grade manusia dan lukisan kampung indahnya di bantaran sungai.

Bisa dipastikan bahwa masyarakat Jakarta tidak akan tergerak hatinya memilih calon yang kemampuan manajerialnya rendah dan kalah sama Menteri Susi. Anies diyakini tidak mampu mengurusi Jakarta dengan segudang problematikanya. Hal itu bisa dilihat ketika Anies tidak becus mengurusi satu kementerian saja. Anies diyakini dan dipastikan tidak mampu menjadi Gubernur DKI Jakarta yang berhasil. Apalagi Anies melakukan blunder dengan mengunjungi dan bermesraan dengan FPI yang sarat dengan kontroversial.

Kegagalan strategi SBY untuk mengorbitkan Agus dan Prabowo untuk mengangkat Anies melawan Ahok,  menjadi semakin terperosok oleh strategi menjepit ala Tito. Tindakan tegas Tito yang didukung oleh TNI untuk menetapkan Rizieq FPI sebagai tersangka jelas telah membuat SBY gundah gulana.

Begitu cepat Rizieq FPI jatuh membumi dari euforia kemenangan yang melambung setinggi langit. Ternyata Rizieq yang dua bulan lalu melambung di langit ketujuh, dengan mudah ditetapkan sebagai tersangka penistaan pancasila. Sikap tegas Tito ini telah membuat nyali SBY ciut. Ke depan bisa dipastikan bahwa satu persatu tokoh-tokoh persekutuan gelap akan ditekuk oleh Tito.

SBYpun kini terlihat semakin panik ketika orangnya di Mahkamah Konstitusi, Patrialis Akbar  dicokok KPK. Sekarang di MK tidak ada lagi kaki tangannya yang bisa dimanfaatkan jika ada sengketa Pilkada. Maka satu-satunya skenario akhir yang ditunjukkan oleh SBY adalah aksi melodramanya sebagai sosok yang dizalimi.

Penetepan Rizieq FPI sebagai tersangka, ditambah dengan kasus heboh dahsyat kasus firza hots, plus ditekuknya Munarman dan sekarang Backhtiar Natsir dalam bidikan Tito, telah membuat warga DKI Jakarta berbalik dari jangkauan Anies. Jelas masyarakat Jakarta banyak yang tidak suka dengan FPI. Dan karena Anies telah bermesraan dengan FPI, maka warga Jakarta menjauh dari Anies.

Demo yang berbungkus doa dan jalan santai tanggal 11 Februari ke depan, bisa dipastikan akan dikendalikan penuh oleh Polri dan TNI. Apalagi demo-demo itu jumlahnya sudah jauh menyusut akan memudahkan Polri dan TNI mengawasinya. Menjelang hari pencoblosan popularitas Ahok dipastikan akan terus naik. Apalagi pada hari Sabtu mendatang, Ahok akan kembali secara resmi menjadi gubernur DKI Jakarta.

Kini kepusingan, sakit kepala, panik dan galau melanda SBY. Ternyata Ahok gagal ditahan, gagal dipenjara dan gagal dijegal. Ia kemudian hanya bisa bernyanyi lagu anak muda ‘Munajat  Cinta’ dengan refren yang diubah: ‘Tuhan kirimkan aku gubernur yang baik, Agus, eh ternyata Ahok’. Sementara demo 112 akan diteriakin dengan kencang oleh Tito dengan bunyi: ‘dilarang berdemo di masa tenang bro’.

Begitulah kura-kura.

Continue Reading

Trending