Interpretasi Mimpi: Apa Arti Mimpi?

0
34
Arti Mimpi

Sementara ada banyak teori untuk menjelaskan mengapa kita bermimpi, belum ada yang sepenuhnya memahami makna yang sebenarnya. Apalagi, bagaimana menafsirkan arti mimpi.

Mimpi bisa misterius, memahami arti mimpi kita, bisa sangat membingungkan.

HTTPS://EDMODO.ID/

Isi mimpi kita bisa bergeser tiba-tiba, menonjolkan unsur-unsur aneh, atau menakuti kita dengan citra menakutkan. Fakta bahwa mimpi dapat menjadi begitu kaya dan menarik adalah apa yang menyebabkan banyak orang percaya bahwa pasti ada makna mimpi kita.

Beberapa peneliti terkemuka, seperti G. William Domhoff, berpendapat, bahwa mimpi kemungkinan besar tidak memiliki tujuan yang nyata. Meskipun demikian, penafsiran mimpi telah menjadi semakin populer. Sementara penelitian belum menunjukkan tujuan untuk mimpi, banyak ahli percaya bahwa mimpi memang memiliki makna.

“‘Makna’ berkaitan dengan koherensi dan hubungan sistematis dengan variabel lain, dan dalam hal itu, mimpi memang memiliki makna,” kata Domhoff dalam sebuah wawancara dengan Daily Mail. “Lebih jauh, mereka sangat ‘mengungkapkan’ apa yang ada di pikiran kita.

“Kami telah menunjukkan bahwa tujuh puluh lima hingga seratus mimpi dari seseorang memberi kami potret psikologis yang sangat baik dari individu itu. Beri kami seribu mimpi selama beberapa dekade dan kami dapat memberi Anda gambaran tentang pikiran orang yang hampir individual dan seakurat sidik jarinya. “

Freud: Mimpi sebagai Jalan Menuju Pikiran yang Tidak Sadar

Dalam bukunya “The Interpretation of Dreams,” Sigmund Freud menyarankan bahwa isi mimpi terkait dengan pemenuhan keinginan. Freud percaya bahwa isi nyata dari sebuah mimpi, atau gambaran aktual dan peristiwa-peristiwa dari mimpi itu, berfungsi untuk menyamarkan isi laten atau keinginan tak sadar si pemimpi. Freud juga menggambarkan empat elemen dari proses ini yang ia sebut sebagai “pekerjaan impian”:

  • Kondensasi: Banyak ide dan konsep yang berbeda terwakili dalam rentang satu mimpi. Informasi dipadatkan menjadi satu pemikiran atau gambar.
  • Pemindahan: Unsur kerja mimpi ini menyamarkan makna emosional dari konten laten dengan membingungkan bagian-bagian penting dan tidak penting dari mimpi.
  • Simbolisasi: Operasi ini juga menyensor ide-ide yang ditekan yang terkandung dalam mimpi dengan memasukkan objek yang dimaksudkan untuk melambangkan konten laten dari mimpi.
  • Revisi sekunder: Selama tahap akhir dari proses bermimpi ini, Freud menyarankan bahwa elemen-elemen aneh dari mimpi ditata ulang untuk membuat mimpi itu dapat dipahami, sehingga menghasilkan isi nyata dari mimpi tersebut.

Jung: Pola Dasar dan Ketidaksadaran Kolektif

Sementara Carl Jung berbagi beberapa kesamaan dengan Freud, ia merasa bahwa mimpi lebih dari ekspresi keinginan yang tertekan. Jung menyarankan bahwa mimpi mengungkapkan ketidaksadaran pribadi dan kolektif dan percaya bahwa mimpi berfungsi untuk mengkompensasi bagian dari jiwa yang terbelakang dalam membangunkan kehidupan.

Jung juga menyarankan bahwa arketipe seperti anima, bayangan, dan animus sering diwakili benda simbolis atau tokoh dalam mimpi. Simbol ini, ia percaya, mewakili sikap yang ditekan oleh pikiran sadar.

Tidak seperti Freud, yang sering menyarankan bahwa simbol spesifik mewakili pikiran bawah sadar tertentu, Jung percaya bahwa mimpi bisa sangat pribadi dan yang menafsirkan mimpi-mimpi ini melibatkan mengetahui banyak tentang pemimpi individu.

Hall: Mimpi sebagai Proses Kognitif

Calvin S. Hall mengusulkan bahwa mimpi adalah bagian dari proses kognitif di mana mimpi berfungsi sebagai “konsepsi” unsur-unsur kehidupan pribadi kita. Hall mencari tema dan pola dengan menganalisis ribuan buku harian mimpi dari para peserta, yang akhirnya menciptakan kode kuantitatif sistem yang membagi apa yang ada dalam mimpi kita menjadi beberapa kategori.

Menurut teori Hall, menafsirkan mimpi membutuhkan pengetahuan:

  • Tindakan si pemimpi dalam mimpi
  • Benda-benda dan tokoh-tokoh dalam mimpi
  • Interaksi antara pemimpi dan karakter dalam mimpi
  • Pengaturan, transisi, dan hasil mimpi

Namun, tujuan akhir dari interpretasi mimpi ini bukan untuk memahami mimpi itu, tetapi untuk memahami si pemimpi. Penelitian oleh Hall mengungkapkan bahwa sifat-sifat yang ditunjukkan orang ketika mereka bangun adalah sama dengan yang diungkapkan dalam mimpi.

Domhoff: Mimpi sebagai Refleksi Hidup Bangun

G. William Domhoff adalah peneliti mimpi terkemuka yang belajar dengan Calvin Hall di University of Miami. Dalam penelitian skala besar pada konten mimpi, Domhoff telah menemukan bahwa mimpi mencerminkan pikiran dan kekhawatiran kehidupan terjaga pemimpi.

Domhoff menyarankan model neurokognitif mimpi di mana proses bermimpi hasil dari proses neurologis dan sistem skema. Konten mimpi, ia menyarankan, hasil dari proses kognitif ini.

Mempopulerkan Interpretasi Mimpi

Sejak 1970-an, penafsiran mimpi telah semakin populer. Buku Ann Faraday tahun 1974 “The Dream Game” menguraikan teknik dan ide yang dapat digunakan siapa pun untuk menafsirkan mimpi mereka sendiri. Saat ini, konsumen dapat membeli berbagai buku yang menawarkan kamus mimpi, panduan simbol, dan tips untuk menafsirkan dan memahami mimpi.

Penelitian mimpi pasti akan terus tumbuh. Namun, ahli mimpi G. William Domhoff merekomendasikan bahwa “… kecuali jika Anda menemukan impian Anda menyenangkan, menarik secara intelektual, atau menginspirasi secara artistik, maka jangan ragu untuk melupakan impian Anda.” Yang lain, seperti Cartwright dan Kaszniak, mengusulkan bahwa penafsiran mimpi sebenarnya dapat mengungkapkan lebih banyak tentang penafsir daripada tentang makna mimpi itu sendiri.

Bagaimana Bias Mempengaruhi Interpretasi Mimpi

Peneliti Carey Morewedge dan Michael Norton telah mempelajari mimpi lebih dari 1.000 orang dari Amerika Serikat, India, dan Korea Selatan.Apa yang mereka temukan adalah bahwa beberapa mahasiswa yang berpartisipasi dalam penelitian percaya bahwa impian mereka hanyalah otak. Menanggapi stimulasi acak. Sebaliknya, sebagian besar mendukung pendapat Freud bahwa mimpi mengungkapkan keinginan dan dorongan yang tidak disadari.

Namun, apa yang mereka temukan adalah bahwa bobot dan pentingnya orang yang melekat pada mimpi mereka sangat tergantung pada bias mereka. Orang lebih cenderung mengingat mimpi negatif jika mereka melibatkan orang yang sudah tidak mereka sukai. Mereka juga lebih cenderung menganggap serius mimpi positif jika melibatkan teman atau orang yang dicintai.

Dengan kata lain, orang termotivasi untuk menafsirkan mimpi mereka dengan cara yang mendukung keyakinan mereka yang sudah ada tentang diri mereka sendiri, dunia, dan orang-orang di sekitar mereka. Para peneliti menemukan bahwa hal-hal seperti bias konfirmasi dan bias mementingkan diri sendiri dapat memengaruhi bagaimana orang merespons mimpi mereka sendiri.

Karena orang cenderung menganggap mimpi mereka dengan serius, para peneliti menyarankan, mimpi-mimpi ini juga bisa menjadi sesuatu dari ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya. Jika Anda bermimpi bahwa Anda akan gagal ujian, Anda mungkin kurang termotivasi untuk belajar atau bahkan menjadi sangat stres sehingga Anda berprestasi buruk.

Mimpi mungkin atau mungkin tidak memiliki makna, tetapi kenyataan tetap bahwa menafsirkan mimpi telah menjadi hobi populer. Beberapa orang bahkan mendasarkan keputusan hidup utama pada isi impian mereka.