Hati-hati Bu Sri Mulyani…! Nanti banyak musuh

bukan tidak mungkin nasibnya akan sama seperti Sudirman Said

0
305

Melihat sepak terjang Sri Mulyani, mengingatkan saya pada Rizal Ramli. Saat pertama masuk ke kabinet kerja langsung bikin rame, sesuai dengan tagline tidak resmi Presiden Jokowi.

Bedanya, sampai saat ini Sri Mulyani jauh lebih terukur dibanding Rizal Ramli. Sehingga apa yang diucapkan benar-benar sesuai data, kongkrit. Saya ingat saat Rizal Ramli menolak blok Masela dibangun di laut, sangat berisik. Meskipun akhirnya Jokowi tidak jadi membangun di laut, namun itu berkat data pertimbangan dari Archandra. Sementara Rizal Ramli hanya cuap-cuap di media.

Sri Mulyani berbeda. Sejak awal langsung memangkas 133 triliun anggaran. Pemangkasan ini meliputi anggaran kementerian dan lembaga serta transfer dana untuk daerah.

Namun aksi fantastisnya tersebut malah dijadikan bahan adu domba. Seolah menampar Presiden Jokowi yang dinilai tidak bisa megelola keuangan dan sebagainya. Padahal pemangkasan dilakukan untuk efisiensi, dan itu sudah atas instruksi Presiden Jokowi. Pemangkasan, efisiensi dan berhemat adalah sesuatu yang sangat ditekankan oleh Presiden sejak awal dilantik. Dimulai dari mencabut subsidi BBM sampai pemangkasan anggaran kementerian sudah pernah dilakukan sebelum kedatangan Sri Mulyani. Selengkapnya sudah saya tulis di http://seword.com/ekonomi/menkeu-pangkas-anggaran-tampar-jokowi-ini-jawaban-pakar-mantan/

Satu hal yang membuat Sri Mulyani jadi mirip Rizal Ramli adalah pergerakannya yang sangat leluasa, tidak hanya duduk di pos Menteri Keuangan dalam adat menteri-menteri sebelumnya. Sri Mulyani blusukan ke pelabuhan New Priok bersama Menteri KKP Susi Pudjiastuti.

“Ini adalah wajah bea cukai yang baik. Saya ingin wajah yang baik di segala lini. Masih banyak pelabuhan yang harus dijaga,” ujar Sri Mulyani saat memeriksa barang ilegal sitaan Ditjen Bea Cukai. Berupa 166.475 kg amonium nitrat, 10 kontainer Frozen Pasific Mackarel dari Jepang, satu kontainer Frozen Squid dari China, dan 71.250 ekor bibit lobster.

“Dalam waktu dekat, saya akan membicarakan kasus ini kepada pemerintah Malaysia. Ini sudah terjadi dalam kurun waktu 5 tahun terakhir dan ini sangat merugikan perairan kelautan Indonesia,” ujar Sri Mulyani di New Priok, Jakarta.

Ini menjadi fokus Sri Mulyani karena amonium nitrat merupakan bahan baku bom ikan. Selama ini sudah berhasil merusak 70% terumbu karang di Indonesia. Lihatlah betapa Sri Mulyani kini sudah ikut mengurusi laut Indonesia bersama Susi Pudjiastuti.

Sri Mulyani juga menjadi orang yang berada di barisan terdepan untuk menyelesaikan masalah pajak google. “Saya lihat saja di negara-negara lain kompleksitas pemungutan pajak dari aktivitas ekonomi seperti ini, akan kita sikapi. Dan kalau kita merasa perlu ada forum internasional untuk menteri keuangan-menteri keuangan bisa sepakat sehingga tidak memiliki interpretasi sendiri, ya kita akan bawa.”

“Ditjen pajak akan menggunakan pasal yang ada, kita punya wadah untuk mendiskusikan hal itu. Kalau sepakat atau tidak sepakat, ada peradilan pajak,” pungkas Sri Mulyani.

Pergerakan Sri Mulyani mungkin akan terus meluas. Pengalamannya sebagai direktur bank dunia sampai jajaran dewan IMF membuatnya seperti lebih mudah menangapi kasus-kasus internasional, meskipun bukan bagian dari prioritas tugas Menkeu.

Politik adu domba

Kinerja positif Sri Mulyani yang ikut masuk dalam ikhtiar menyelesaikan banyak permasalahan, hampir pasti menjadi sasaran empuk untuk materi adu domba. Cepat atau lambat, Sri Mulyani akan dianggap matahari kembar dalam pemerintahan Jokowi.

Saya berpikir buruk seperti itu mengingat Sri Mulyani sudah coba dijadikan materi adu domba oleh Sapi Fachri, pimpinan DPR yang tak punya partai karena sudah dipecat atau dikeluarkan. Fachri menyanjung Sri Mulyani sekaligus menyimpulkan Jokowi tidak tau mengurus keuangan. Padahal apa yang dilakukan oleh Sri Mulyani merupakan efek  dukungan penuh dari Jokowi yang memberinya ruang untuk bergerak leluasa.

“Saya pulang ke Indonesia enak banget punya Presiden Pak Jokowi. Tadinya saya pikir kerjaannya berat banget, tapi sebagian besar sudah dikerjakan Presiden. Jadi saya pembantu Presiden,” tutur Sri Mulyani pada suatu kesempatan.

Jika Rizal Ramli gagal berkontribusi, maka Sri Mulyani sampai saat ini masih sangat produktif dan aktif membantu mendorong negara ini ke arah yang positif. Rizal Ramli sangat disukai oleh orang-orang KW, karena pergerakannya tak memperbaiki namun hanya bersuara kritis tak terukur tentang kebijakan Presiden. Sementara Sri Mulyani kemungkinan besar akan menjadi musuh orang-orang yang merasa terganggu.

Bagaimanapun Sri Mulyani bukan Susi. Terlalu banyak celah dan opini publik yang bisa dengan mudah dibentuk untuk menyerangnya. Sehingga bukan tidak mungkin nasibnya akan sama seperti Sudirman Said, diserang opini kanan kiri dan mengganggu emosinya.

Sebaiknya Sri Mulyani lebih mengontrol diri untuk tidak masuk di semua lini. Karena kita masih ingin melihat Sri Mulyani tetap eksis di kabinet kerja. Jika terlalu menggebrak, saya khawatir musuhnya jadi terlalu banyak dan itu malah akan mengganggunya.

Begitulah kura-kura…

BPKAD
Benner PUPR Bengkulu Utara copy
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here