Habib Novel Menilai Meme ‘Fitsa Hats’ Penghinaan Terhadap Ulama

0
218
Habib Novel Chaidir Hasan Bamukmin melaporkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke Polda Metro Jaya.
Habib Novel Chaidir Hasan Bamukmin melaporkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke Polda Metro Jaya. Photo: Tribunnews

Sekretaris Jenderal DPP Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta Novel Chaidir Hasan Bamukmin, menjadi bahan ejekan di media sosial terkait ucapan ‘Fitsa Hats’.

Pria yang akrab disapa Habib Novel ini mengetahui banyaknya meme yang beredar di media sosial yang mengolok-olok. Menurut dia, ini penghinaan terhadap ulama.

“Banyak macam-macam. Iya, meme salah satunya. Kami dapat dari laporan-laporan saja dari media sosial,” ujar Novel kepada wartawan, ditemui di Mapolda Metro Jaya, Kamis (5/1/2017).

Menurutnya, ejeken itu merupakan suatu bentuk penghinaan terhadap pemuka agama. Ia pun mempermasalahkan hal tersebut.

“Ini penghinaan terhadap ulama,” ujarnya ketus.

Novel yang didampingi penasihat hukum dari ACTA, Nurhayati, kemarin melaporkan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok ke Mapolda Metro Jaya.

Laporan dibuat karena Ahok diduga telah mengucapkan pernyataan bermakna pelecehan terhadap Novel.

Gubernur DKI Jakarta non-aktif itu menyebut ada saksi yang malu pernah bekerja di Pizza Hut. Sehingga, saat diperiksa untuk kepentingan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Ahok, Novel disebut sengaja mengubah nama Pizza Hut menjadi Fitsa Hats.

Fitsa Hats, Salahkan Penyidik

Sekjen DPP Front Pembela Islam (FPI), Habib Novel Chaidir Hasan mengakui kalau dirinya pernah bekerja di perusahaan waralaba asal Amerika Serikat, Pizza Hut.

Namun, dia mengatakan untuk salahnya pengetikan saat Berita Acara Pemeriksaan adalah kesalahan penyidik.

Ia menjelaskan, berkaitan dengan kesalahan penulisan Pizza Hut menjadi ‘Fitsa Hats’ di Berita Acara Pemeriksaan (BAP) itu merupakan kesalahan dari pihak kepolisian yang mengetik BAP tersebut.

“Jadi kan saya ini di BAP kan saya tinggal jawab, yang ketik polisi, memang yang ketik sekarang mendekati masa pensiun yang nggak ngerti, nggak paham penulisan Pizza Hut yang sebenarnya,” ucap dia saat dihubungi di Semanggi, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (4/1).

Ia mengatakan, kalau dirinya tidak pernah mencatat secara langsung, ia hanya menjawab pertanyaan dari pihak penyidik saja.

“Bukan (mencatat sendiri), kita disidik nggak ada penanganan sendiri,” ujar dia.

Dia pun heran kenapa polisi tidak memeriksa kembali BAP tersebut, sehingga kesalahan itu bisa masuk ke meja pengadilan.

Padahal, dalam BAP harus ditandatangani oleh saksi pelapor. “Dari (BAP) enam lembar itu ada yang nggak diteliti, sampai masuk kemeja pengadilan,” pungkasnya.

Selanjutnya, Novel berencana akan melaporkan balik mengenai pernyataan terdakwa kasus dugaan penistaan agama, Basuki Tjahja Purnama alias Ahok yang menyebut dirinya malu pernah bekerja di Pizza Hut karena dipimpin oleh orang non muslim.

“Itu fitnah. Iya rencananya kita akan rapatkan dulu, perlu atau tidaknya kita laporkan balik,” kata Novel.

Menanggapi hal ini, Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Agus Andrianto membantah itu adalah kesalahan penyidik.

“‎Itu bukan salah penyidiklah. Kan setelah BAP diketik, penyidik minta yang bersangkutan untuk membaca ulang. Apabila yang bersangkutan tidak mengoreksi, maka penyidik tidak berani mengubah,” tegas Agus Andrianto saat dihubungi, Rabu (4/12/2016).

Jenderal polisi bintang satu ini menjelaskan, dalam prosedur standar saat BAP, saksi atau tersangka yang selesai diperiksa, akan diminta membaca kembali BAP-nya.

Apabila ada yang dikoreksi, maka akan diubah sesuai koreksian yang dilakukan oleh yang bersangkutan. Apabila tidak ada yang ‎diubah, selanjutnya diminta tanda tangan.

“‎Selesai BAP kan yang bersangkutan diminta koreksi, dia harusnya baca ulang,” jelas Agus Andrianto.

Ditanya apakah ini kesalahan dari Novel yang tidak teliti membaca BAP, Agus menjawab pihaknya tidak mau menyimpulkan.

“Saya tidak bilang ini (dia) salah. Dia kan baca lagi, ya berarti sudah benar paham. Penyidik tidak akan mengubah yang dia tidak koreksi. Dan kalau sudah ditanda tangan, penyidik tidak boleh mengubah,” paparnya.

Sebelumnya, menanggapi kesalahan penulisan itu, Novel menyatalan itu merupakan kesalahan dari pihak kepolisian yang mengetik BAP tersebut.

“Jadi saya di-BAP, saya tinggal jawab. Yang mengetik polisi yang memang sekarang mendekati masa pensiun, AKP Tarmadi, yang tak mengerti, tak paham penulisan PH (Pizza Hut) yang sebenarnya,” tuturnya.

Saat diperiksa untuk kepentingan BAP, kata Novel, pemeriksaan dilakukan selama 10 jam, mulai pukul 10.00 hingga 20.00 WIB. Namun, setelah di-BAP, kata dia, penyidik tak mengubah penulisan ‘Fitsa Hats’.

“Dari enam lembar itu ada yang tak diteliti, sampai masuk ke meja pengadilan,” bebernya.

Soal ini, Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama menyebut ada saksi yang malu kerja di Pizza Hut, tetapi sengaja diubah jadi Fitsa Hats. Saksi itu adalah Novel.

Mantan Bupati Belitung Timur itu menilai, pengubahan nama tempat bekerja Novel mungkin karena yang bersangkutan merasa malu bekerja di perusahaan milik orang Amerika Serikat.

Novel menilai ucapan itu merupakan fitnah, dan dia akan melaporkan balik Ahok ke Bareskrim Mabes Polri.

“Di sinilah, jadi fitnah. Saya akan melaporkan lagi, nih. Jadi dituduh saya sengaja menyembunyikan PH,” cetusnya. (*)

loading...