Geisha Jepang sensualitas dan kehidupannya

Geisha Jepang di Negaranya sendiri justru sesuatu yang tabu untuk dibicarakan

0
992
Geisha Jepang-sexy-geisha-tips-seksual
Banner BPKAD

Siapa sich yang tidak tahu atau minimal pernah mendengar tentang wanita-wanita cantik Jepang berbalut kimono ini. Keberadaan Geisha Jepang indentik dengan ‘penghibur’ dan beberapa malah berasumsi bahwa mereka semacam PSK (Pekerja Seks Komersial).

Geisha Jepang sensualitas dan kehidupannya 2Geisha Jepang di Negaranya sendiri justru sesuatu yang tabu untuk dibicarakan, walau semua orang di dunia tahu tentang keberadaan GEISHA itu.

Kenapa tabu? Karena pemahaman Geisha suka disalah artikan oleh sebagian orang. Bahwa, ya itu tadi, Geisha Jepang itu selalu dengan konotasi yang negatif.

Tapi yang jelas, Geisha memang menarik untuk dibahas. Dibalik lemah gemulai gerakannya, memang tersimpan sisi misteri yang mengundang hasrat untuk dijelajah, baik sisi cerita keberadaannya maupun hal-hal yang berkenaan dengan pesona sensualitasnya.

Sejarah Geisha Jepang

Sejarah geisha dimulai dari awal pemerintahan Tokugawa, di mana Jepang memasuki masa damai dan tidak begitu disibukkan lagi dengan masalah-masalah perang. Memang, Geisha identik sebagai wanita penghibur pada masa itu. Namun, mereka dituntut untuk memiliki keahlian khusus.

Seorang calon geisha jepang harus menjalani pelatihan seni yang berat selagi usia dini. Berlatih alat musik petik Shamizen yang membuat calon geisha harus merendam jarinya di air es. Berlatih alat musik lainnya juga seperti tetabuhan kecil hingga Taiko.

Tidak hanya itu, Gisha juga harus berlatih seni tari yang menjadi kunci kesuksesan seorang geisha, karena geisha papan atas umumnya adalah penari. Tari Topeng Noh yang sering dimainkan oleh geisha dihadirkan bagi masyarakat kelas atas. Berbeda segmennya dengan pertunjukkan Kabuki yang lebih disukai rakyat jelata.

Apa Itu Geisha Jepang

Geisha (bahasa Jepang: 芸者 “seniman”) adalah seniman-penghibur (entertainer) tradisional Jepang. Kata Geiko digunakan di Kyoto untuk mengacu kepada individu tersebut.

Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak.

Di Kansai, istilah “geiko” (芸妓) dan geisha pemula “maiko” (舞妓) digunakan sejak Restorasi Meiji. Istilah “maiko” hanya digunakan di distrik Kyoto. Pengucapan ˈgi ʃa (“gei-” – “key”) atau “gadis geisha” umum digunakan pada masa pendudukan Amerika Serikat di Jepang, mengandung konotasi prostitusi.

Di Republik Rakyat Cina, kata yang digunakan adalah “yi ji,” yang pengucapannya mirip dengan “ji” dalam bahasa Mandarin yang berarti prostitusi. Geisha belajar banyak bentuk seni dalam hidup mereka, tidak hanya untuk menghibur pelanggan tetapi juga untuk kehidupan mereka.

Rumah-rumah geisha (“Okiya”) membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian melatih mereka. Semasa kanak-kanak, geisha seringkali bekerja sebagai pembantu, kemudian sebagai geisha pemula (maiko) selama masa pelatihan.

Intinya bahwa Geisha itu bukan wanita penghibur, PSK, ataupun ladies Escort yang bisa dibawa tidur oleh kaum adam, tetapi justru awal mulanya mereka ada karena tuntutan karir dan zaman bahwa wanita bisa juga sebagai entertainer.

Setelah 100 tahun sejak Geisha ada , ketidakpastian mengenai Keberadaan Geisha sendiri mulai bergeser sedikit demi sedikit. Di Jepang banyak sekali kaum adam saat itu (suami) yang tidak puas dengan rumah tangganya, nah karena kehebatan Geisha yg bisa menghibur, menari, melawak dan menyanyi maka tidak heran banyak kaum para suami/lelaki yang ingin mencari Geisha sebagai pasangan hidupnya. Dan inilah salah satu contoh pergeseran Geisha yang tadinya mereka adalah entertainer sejati menjadi buruan kaum adam yang sifatnya hanya pelarian dari kenyataan hidupnya.

Pakaian/Tata Busana Geisha Jepang

Ditahun 1930, seorang Geisha tampil bak supermodel, cantik, anggun, mempunyai tubuh yang seksi dan juga masih menghormati adat istiadat kuno jepang. Dan uniknya, wanita Geisha sangat menutupi bagian auratnya yang bisa mengundang nafsu kaum adam. Ini terlihat dari pakaian para geisha (kimono). Dan yang terbuka hanya bagian leher belakang yang berbentuk V. Semakin panjang bentuk V-nya kebawah berarti sang Geisha semakin provokatif.

Tahukan anda ? Memakai Kimono tidak semudah yang kita bayangkan. Ternyata baju kimono memiliki 12 lapisan. Dan itu harus sesuai dengan masing-masing setelannya !! Setidaknya, perlu waktu 1 Jam lebih untuk mengenakan Kimono secara sempurna.

Dan setelah kimono terpakai si wanita harus menyesuaikan gerakannya. Untuk menentuka Geisha Muda dan Geisha Senior, lihat saja warna kerahnya. Jika warna kerahnya Merah berarti Geisha Muda, dan jika kerah warna putih berarti Geisha Senior.

Soal Rambut, Geisha kadang memakai wig atau juga rambutnya di bentuk dengan cara me-wax agar lebih mengembang. dan yang perlu dihindari adalah terlalu sering mencuci rabut ataupun menyisir rambutnya yg bisa mengakibatkan kerontokan rambut ataupun ramput tidak dapat mengembang. Dan dalam hal ini, mereka keramas hanya 2 kali dalam sebulan.

Ketrampilan yang harus dimiliki seorang Geisha Jepang

  1. Kemampuan menari tradisional
  2. Kemampuan Menyanyi
  3. Kemampuan berkomunikasi
  4. Kemampuan Melawak

Kerahasian yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Geisha Jepang pada saat dia menghibur dan mereka harus pandai merahasiakan hal tersebut :

  1. Tidak boleh terlihat sedih, apalagi menangis
  2. Tidak boleh menerima dan memberi cinta
  3. Tidak boleh memilih cinta
  4. Tidak boleh terlihat emosional apalagi melakukan kekerasan

Kenapa? Karena yang dilarang sifatnya adalah sesuatu hal yang suci yang diberikan tuhan kepada manusia yaitu CINTA.

Jadi , Geisha itu bukan seorang PSK. Mereka adalah pekerja seni sejati, melestarikan kebudayaannya, menghibur dan membuat orang lain bahagia. Tapi kalau dilihat apa yang dikorbankan bagi seorang Geisha agar bisa menghibur sungguh ironis dan tidak seimbang.

10 Fakta Tentang GEISHA Jepang

Geisha Jepang dan sisi sensualitasnya

Dalam proses sejarah panjang keberadaan Geisha ada beberapa fakta mengenai mereka. Mungkin, beberapa pernah menonton film ‘MEMOIRS OF GEISHA’ sebuah kisah tentang perjalanan hidup seorang wanita yatim piatu yang terpisah dengan kakak kandungnya, dan akhirnya dididik untuk menjadi seorang Geisha ternama. Berikut fakta-fakta itu:

  1. Honko/Geisha

Pertama kita harus tahu, sebenarnya profesi geisha itu tidak selamanya dilakoni oleh para perempuan Jepang. Dan memang benar ternyata kaum lelaki Jepang pun ada yang memilih menjadi geisha sebagai profesinya. Lelaki yang menjadi geisha disebut sebagai Honko, mereka pun mengerjakan sebagaimana yang dilakukan oleh para geisha, menari, berdiskusi, bernyanyi dan menemani tamunya di restoran, bar, dan rumah teh. Dan berdasarkan catatan bahwa geisha pertama, adalah seorang lelaki.

  1. Geisha Jepang Pelaku Seni

Arti sebenarnya dari geisha itu sendiri adalah pelaku seni, seniman atau seniwati. Namun banyak masyarakat dunia yang menganggap profesi geisha tidak bedanya dengan pelaku prostitusi (PSK). Jika kita mencarinya di mesin pencarian google, maka akan ditemukan sebuah pengertian yang menyatakan bahwa geisha adalah perempuan Jepang yang dilatih untuk menghibur para pria dengan cara berbincang-bincang, menari dan bernyanyi.

Bahkan jauh di masa lalu, para geisha dipaksa melakukan sebuah upacara yang disebut dengan mizuage. Sebuah upacara menyambut datangnya masa dewasa bagi seorang perempuan. Selama upacara berlangsung para maiko (geisha yang masih dalam pendidikan) dijual kepada penawar tertinggi untuk melepaskan masa gadisnya. Meski demikian upacara tersebut dianggap sakral dan para maiko tetap dihormati.

  1. Geisha Jepang Tanpa Identitas (Anonimus)

Kita boleh tahu tentang ciri dan cerita tentang Geisha. Namun mereka sengaja diciptakan sebagai wanita misterius. Menjadi seorang geisha adalah menjadi seorang yang tidak dikenal, dan hal demikian disampaikan dalam sesi pendidikannya. Para geisha diharuskan menyembunyikan semua yang merujuk pada identitas mereka, seperti nama, alamat rumah dan sebagainya. Meskipun tamu itu benar-benar seorang terhormat.

  1. Aurat Gisha Jepang

Seorang geisha yang sedang melayani tamu dengan membuatkan minuman teh akan menarik kimononya, sehingga keindahan kulit lengannya dapat dilihat oleh lelaki yang menjadi tamunya. Perilaku tersebut adalah sebuah simbol sensualitas ataupun godaan yang akan dinikmati oleh tamunya, dan itu memang diharuskan.

  1. Stigma Geisha Jepang

Seperti semua tentang geisha adalah hal yang negatif, padahal banyak hal yang tidak bisa dibayangkan dari seorang geisha terutama dalam kacamata budaya. Keberadaan dan sikap mereka sangat ekslusif, maka tak heran orang-orang akan mengatakan hal apapun di luar kebenaran. Bahkan dengan adanya geisha versi modern, yang konsepnya jauh dari ajaran geisha sebenarnya, merubah semua nilai-nilai luhur geisha sebagai pelaku seni.

  1. Kimono Geisha Jepang yang Didesain Khusus

Karena geisha adalah seorang yang memiliki berbagai keterampilan, bahkan untuk kimono saja mereka membuatnya sendiri. Meskipun banyak kimono yang dijual di toko-toko pakaian, Tentu saja buatan mesin, namun mereka selalu menjahitnya sendiri dengan kain yang terbuat dari sutra. Kimono tersebut tidak akan mereka ganti, selama menjadi seorang geisha. Selain itu untuk merias wajah, mereka menghabiskan dua jam lamanya untuk membuat wajah dan penampilan mereka cantik dan menarik.

  1. Okiya Geisha Jepang

Para geisha bekerja di sebua tempat yang disebut dengan Okiya, dan dibina oleh seorang okasan (nyonya rumah). Namun meskipun mereka bekerja keras menemani para tamu bahkan menjaga dan mengurus rumah para kliennya, upah mereka masuk ke kantung saku okasan. Uang tersebut akan disimpan dan digunakan untuk merawat rumah para geisha (okiya) serta menjaga kelangsungan bisnisnya.

  1. Maiko dan Hangyoku (geisha muda)

Maiko adalah sebutan untuk geisha muda atau perempuan yang sedang menjalani pendidikan untuk menjadi seorang geisha Jepang di Kota Kyoto. Namun di Tokyo perempuan muda ini dikenal dengan sebutan hangyoku. Untuk membedakan keduannya adalah, para hangyoku memakai kimono yang lebih panjang dengan motif bervariasi sehingga terlihat lebih modis. Sementara para maiko sebaliknya, mereka memakai kimono yang sama satu sama lain, bahkan tanpa motif yang ada dikainnya sekalipun.

  1. Geisha Jepang Tidak Boleh Menjalin Ikatan Cinta

Untuk mengatakan nama dan daerah asal mereka saja para geisha tidak diperbolehkan, apalagi menjalin hubungan asmara dengan seorang lelaki. Mereka baru boleh menjalin hubungan asmara dan menikah ketika sudah tidak lagi berprofesi sebagai geisha, atau pensiun.

  1. Racun Dalam Riasan Wajahnya Geisha Jepang

Tragis, mereka merias wajah agar terlihat putih dengan bedak yang mengandung timah. Unsur kosmetika berbahaya itu baru diketahui ketika sebuah penelitian dilakukan di era Meiji.

Itulah 10 Fakta tentang Geisha. Dibalik kemisteriusannya, dibalik gemulai gerakannya, dibalik makeup dan baju kimononya yang tertutup rapat, disana pula daya tariknya. Geisha memang mampu memberi pesona bahkan kepada dunia.

Baca juga seni bercinta Geisha Jepang

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here