garuda indonesia dan sejarahnya 2-min

Garuda Indonesia adalah maskapai penerbangan nasional Indonesia. Saat ini, setidaknya tercatat terbang ke lebih dari 40 tujuan domestik dan 36 tujuan internasional. Tidak hanya itu, Garuda Indonesia juga meraih penghargaan bergengsi tingkat dunia. Yaitu, sebagai Maskapai Penerbangan Regional Terbaik di Dunia yang diberikan oleh Skytrax.

Saat ini Garuda Indonesia membawa lebih dari 25 juta penumpang setiap tahunnya. Dan terus bertambah

Asal nama Garuda Indonesia

Sejarah penerbangan komersial Indonesia dimulai saat bangsa Indonesia sedang mempertahankan kemerdekaannya. Penerbangan komersial pertama menggunakan pesawat DC-3 Dakota dengan registrasi RI 001 dari Calcutta ke Rangoon dan diberi nama “Indonesian Airways”. Dilakukan pada 26 Januari 1949. Pada tahun yang sama, 28 Desember 1949, pesawat tipe Douglas DC-3 Dakota dengan registrasi PK-DPD dan sudah dicat dengan logo “Garuda Indonesian Airways”. Terbang dari Jakarta ke Yogyakarta untuk menjemput Presiden Soekarno. Inilah penerbangan yang pertama kali dengan nama Garuda Indonesian Airways.

Jadi, cikal bakal nama Garuda Indonesia terjadi pada tanggal 25 Desember 1949. Saat itu, wakil dari KLM yang juga teman Presiden Soekarno, Dr. Konijnenburg, menghadap dan melapor kepada presiden di Yogyakarta. Bahwa KLM Interinsulair Bedrijf akan diserahkan kepada pemerintah sesuai dengan hasil Konferensi Meja Bundar (KMB). Dimana meminta kepada Soekarno memberi nama bagi perusahaan tersebut. Karena, pesawat yang akan membawanya dari Yogyakarta ke Jakarta nanti akan dicat sesuai nama itu.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Soekarno menjawab pertanyaan tersebut dengan mengutip satu baris dari sebuah sajak bahasa Belanda gubahan pujangga terkenal. Yaitu, Raden Mas Noto Soeroto di zaman kolonial yang berisi, “Ik ben Garuda, Vishnoe’s vogel, die zijn vleugels uitslaat hoog boven uw eilanden. Secara bebas artinya; “Aku adalah Garuda, burung milik Wisnu yang membentangkan sayapnya menjulang tinggi di atas kepulauanmu”.

Maka pada tanggal 28 Desember 1949, penerbangan bersejarah menggunakan pesawat DC-3 dengan registrasi PK-DPD milik KLM Interinsulair terbang membawa Presiden Soekarno. Dengan rute tujuan dari Yogyakarta ke Jakarta untuk menghadiri upacara pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS) dengan nama Garuda Indonesian Airways.  Nama “Garuda Indonesia” diberikan oleh Presiden Soekarno untuk maskapai penerbangan pertama Indonesia waktu itu.

Larangan terbang menuju Eropa

Kecelakaan Garuda Indonesia GA-200Dalam proses perjalanannya, Garuda Indonesia juga melalui proses cukup sulit. Dimulai terbang untuk pertama kalinya di tahun 1949.

Pada tahun 2007, maskapai ini bersama dengan maskapai Indonesia lainnya (termasuk anak perusahaan Garuda Indonesia, Citilink), dilarang terbang menuju Eropa. Hal ini terjadi karena kejadian yang menimpa pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-200.

Penerbangan GA-200 meledak ketika terperosok saat melakukan pendaratan Jakarta-Yogyakarta. Garuda Indonesia GA-200 saat itu membawa 133 penumpang, 1 pilot, 1 copilot, dan 5 awak kabin. Pilot pesawat adalah Kapten Marwoto Komar. Jumlah korban tewas adalah 22 orang (21 penumpang dan 1 awak pesawat).

Kebangkitan Garuda Indonesia

garuda indonesia dan sejarahnya upload

Namun setahun kemudian, maskapai ini menerima sertifikasi IATA Operational Safety Audit (IOSA) dari IATA.  Menunjukkan bahwa, Garuda Indonesia telah memenuhi standar keselamatan penerbangan Internasional.

Pengalaman pahit tersebut membuat maskapai Garuda Indonesia melakukan banyak pembenahan. Dari perbaikan layanan dan meningkatnya kualitas layanan, Garuda akhirnya menjadi pemenang kategori “World’s Most Improved Airline” dari Skytrax.

Sehingga, 1 Juni 2010 menjadi hari bersejarah bagi Garuda Indonesia. Maskapai tersebut, kembali membuka rute Amsterdam. Dilaksanakan menggunakan Pesawat Airbus A330-200 dengan perhentian di Dubai.

Tidak hanya itu, berbagai prestasi pun kembali diraih. Pada bulan Juni 2012, maskapai penerbangan ini  mengadakan perjanjian kerjasama dengan klub sepak bola Liverpool FC, Inggris. Kini merupakan sponsor global untuk Liverpool FC.

Tahun 2013, Garuda Indonesia mendapat dua penghargaan dari Skytrax yaitu “World Best Economy Class” dan “World Best Economy Class Seat”.

Pada pertengahan tahun 2014, Garuda Indonesia mendapat penghargaan “World’s Best Cabin Crew”. Pada tanggal 5 Maret 2014, Garuda Indonesia resmi bergabung dengan aliansi SkyTeam sebagai anggota ke-20 yang peresmiannya berlangsung di Denpasar, Bali.

Pada tanggal 30 Mei 2014, Garuda Indonesia melayani rute ke Amsterdam dengan nonstop menggunakan pesawat Boeing 777-300ER. Garuda Indonesia memiliki kabin terbaru dari semua armada. Pada tanggal 8 September 2014, Garuda Indonesia memperpanjang rute penerbangannya menuju London. Pada tanggal 11 Desember 2014, kembali mendapat Anugerah penghargaan sebagai maskapai “berbintang 5” sedunia dari Skytrax, dan menjadi anggota dari 7 maskapai dunia yang mendapat penghargaan tersebut.

Layanan Garuda Indonesia

garuda indonesia partners-single-sky

Seiring semakin meningkatnya permintaan jasa industri penerbangan. Perusahaan tersebut terus mengembangkan jaringan penerbangan hingga ke kota-kota pertumbuhan ekonomi dan wisata baru. Baik di wilayah Barat dan Timur Indonesia.

Tahun 1980: Sepanjang tahun 1980-an, perusahaan melakukan revitalisasi dan restrukturisasi berskala besar untuk operasi dan armadanya. Hal ini mendorong perusahaan untuk mengembangkan program pelatihan yang komprehensif untuk awak kabin dan awak darat Garuda Indonesia dan mendirikan fasilitas pelatihan khusus di Jakarta Barat dengan nama Garuda Indonesia Training Center.

Tahun 1990: Armada Garuda Indonesia dan kegiatan operasionalnya mengalami revitalisasidan restrukturisasi besar-besarandi sepanjang tahun 1980-an. Hal ini menuntut Perusahaan merancang pelatihan yang menyeluruh bagi karyawannya dan mendorong Perusahaan mendirikan Pusat Pelatihan Karyawan, Garuda Indonesia Training Center di Jakarta Barat.

Tahun 2000: Seiring dengan upaya pengembangan usaha, di awal tahun 2005, Garuda memiliki tim manajemen baru, yang kemudian membuat perencanaan baru bagi masa depan Perusahaan. Manajemen baru Garuda Indonesia melakukan evaluasi ulang dan restrukturisasi Perusahaan secara menyeluruh dengan tujuan meningkatkan efisiensi kegiatan operasional, membangun kembali kekuatan keuangan yang mencakup keberhasilan Perusahaan dalam menyelesaikan restrukturisasi utang, menambah tingkat kesadaran para karyawan dalam memahami pelanggan, dan yang terpenting memperbarui dan membangkitkan semangat karyawan Garuda Indonesia.

Tahun 2010: Penyelesaian seluruh restrukturisasi utang Perusahaan mengantarkan Garuda Indonesia siap untuk mencatatkan sahamnya ke publik pada 11 Februari 2011. Perusahaan resmi menjadi perusahaan publik setelah penawaran umum perdana atas 6.335.738.000 saham Perusahaan kepada masyarakat. Saham tersebut telah dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 11 Februari 2011 dengan kode GIAA. Salah satu tonggak sejarah penting ini dilakukan setelah Perusahaan menyelesaikan transformasi bisnisnya melalu kerja keras serta dedikasi berbagai pihak. Per 31 Desember 2013, struktur kepemilikan saham perusahaan sebagai emiten dan Perusahaan publik adalah Negara Republik Indonesia (69,14%), karyawan (0,4%), investor domestik (24,34%), dan investor internasional (6,12%).

Untuk mendukung kegiatan operasionalnya, perusahaan memiliki 5 (lima) Entitas Anak yang fokus pada produk/jasa pendukung bisnis Perusahaan induk, yaitu PT Abacus Distribution Systems Indonesia, PT Aero Wisata, PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia, PT Aero Systems Indonesia, dan PT Citilink Indonesia. Dalam menjalani kegiatan operasionalnya, Perusahaan didukung oleh 7.861 orang karyawan, termasuk 2.010 orang siswa yang tersebar di Kantor Pusat dan Kantor Cabang.

Garuda Indonesia, pada Januari 2015, mengoperasikan 134 pesawat yang terdiri dari 2 pesawat Boeing 747-400, 11 pesawat Airbus A330-300, 11 pesawat Airbus A330-200, 5 pesawat Boeing 737 Classic (seri 300/500), 76 pesawat Boeing 737-800NG, 15 pesawat CRJ1000 NextGen, 8 pesawat ATR72-600, 6 pesawat Boeing 777-300ER, dan 30 pesawat Citilink yang terdiri dari 24 pesawat Airbus A320-200, 5 pesawat Boeing 737-300 serta 1 pesawat Boeing 737-400.

Selain melayani penerbangan di rute-rute tujuan yang dioperasikan, saat ini Garuda Indonesia juga melaksanakan perjanjian “code share” dengan 14 maskapai internasional.

Selain itu, pada tanggal 5 Maret 2014, perusahaan secara resmi bergabung dengan aliansi global, SkyTeam, sebagai bagian dari program perluasan jaringan internasionalnya. Dengan bergabung bersama SkyTeam, penumpang dapat terbang ke 1.064 tujuan di 178 negara yang dilayani oleh semua maskapai anggota SkyTeam dengan lebih dari 15.700 penerbangan per hari dan akses ke 564 lounge di seluruh dunia.

Sebagai bagian dari upaya Perusahaan untuk terus meningkatkan layanan kepada pengguna jasa, Garuda Indonesia memperkenalkan layanan khas “Garuda Indonesia Experience”. Dimana menghadirkan kerahmahtamahan, budaya, dan segala hal terbaik dari Indonesia. Melalui kelima panca indera, yaitu sight, sound, taste, scent, dan touch. Untuk diimplementasikan dalam layanan pre-journey, pre-flight, in-flight, post-flight, dan post-journey.