6.9 C
Alba Iulia
Rabu, April 8, 2020

China: Partner Strategis Negara-Negara Arab Teluk

Must Read

Beredar Foto Seronok di Duga Siswi SMK Kandeman Kabupaten Batang

Sekolah perlu memberikan pengawasan ketat terhadap para siswa dalam lingkungan sekolah ataupun di luar sekolah, bila ada keterkaitanya anak...

Umat Islam Diambang Kehancuran?

Belakangan ini konflik atas nama agama sering kali mencuat. Baik di dunia maupun di Indonesia. Islam menjadi salah satu...

Tari Topeng Cirebon dan Makna Dibaliknya

Tari Topeng Cirebon dengan gerakan tangan dan tubuh yang gemulai, serta iringan musik yang didominasi oleh kendang dan rebab,...
Adminhttp://www.garudacitizen.com/
Garuda Citizen truly of Indonesia » politik, hukum, sosial, wisata, budaya, dan berbagai berita peristiwa menarik dan penting untuk dibaca.

Banyak orang di Indonesia saya perhatikan salah paham dan gagal paham memahami hubungan China dengan negara-negara Arab Teluk seperti Saudi, Qatar, Bahrain, UEA, Kuwait, dan Oman. Mereka menganggap China hanya menjalin partnership dengan Iran, bukan negara-negara Arab. Ada juga yang berapologi kalau negara-negara Arab tidak mungkin menjalin relasi dengan China yang “komunis”. Sejumlah asumsi itu sama sekali tidak benar. Haqqul yaqin keliru dan hoax.

Dulu, sejak 1949, saat Mao Tse Tung dan Partai Komunis menguasai Tiongkok, kedua negara memang tidak memiliki hubungan bilateral, baik hubungan diplomatik maupun relasi bisnis karena China berada di “gerbong Soviet” yang komunis sementara negara-negara Arab Teluk, terutama Saudi sebagai komanandannya, berada di “blok Amerika” yang kapitalis.

Tetapi sejak Uni Soviet rontok pada 1989 dan wilayah kekuasaanya “mbrodoli” sejak awal 1990-an, ditambah dengan China yang melakukan reformasi kebijakan politik-ekonomi yang setengah komunis dan setengah kapitalis, Arab Teluk mulai menjalin hubungan mesra dengan China. Kini, seiring dengan ledakan ekonomi yang luar biasa di China, “Negara Panda” ini menjadi partner strategis dan “auliya” (teman setia) negara-negara Arab Teluk, dan tentu saja termasuk Saudi.

Meskipun pada 1985 terjadi pertemuan resmi tertutup antara Saudi dan China di Oman, hubungan diplomatik secara resmi antara kedua negara baru dilakukan pada tahun 1990. Meski hubungan diplomatik sudah terjadi sejak 1990 tapi baru 1999 Presiden PRC Jiang Zemin mengunjungi Riyadh yang disambut sangat hangat oleh kerajaan. Kunjungan itu menghasilkan berbagai keputusan penting kerja sama ekonomi tertutama di bidang energi dan perminyakan. Saudi membalas kunjungan kenegaraan ketika pada tahun 2006, mendiang Raja Abdullah mengadakan kunjungan bersejarah ke Beijing. Empat bulan berikutnya, Presiden Hu Jintao juga mengunjungi Saudi.

Tahun lalu, Putra Mahkota Muhammad bin Salman kembali mengunjungi PRC (China) yang disambut hangat oleh Presiden Xi Jinping. Selain China, Purtra Mahkota Muhammad bin Salman juga mengunjungi Jepang. China dan Jepang memang dua negara terbesar negara-negara tujuan ekspor bagi Saudi, selain Korea Selatan, India, dan Amerika.

Berbagai kunjungan resmi para pemimpin di kedua negara itu menghasilkan berbagai keputusan penting menyangkut kerjasama kedua negara, bukan hanya kerja sama di dunia ekonomi dan bisnis saja tetapi juga di bidang politik, kemiliteran, dan kebudayaan. Di bidang ekonomi dan perdagangan, total investasi kedua negara mencapai lebih dari $75 Milyar, melebihi hubungan dagang Saudi-USA.

Penting untuk dicatat, China adalah importir terbesar minyak dari Saudi yang mengsuplai lebih dari 20% kebutuhan energi di Negara Panda itu, dan Saudi adalah penyetok minyak terbesar bagi China. Berbagai industri papan atas Saudi termasuk Aramco (industri minyak terbesar di dunia) dan SABIC yang bergerak di Petrochemicals sudah lama beroperasi di China. Begitu pula perusahan top Tiongkok seperti Sinopec dan PetroChina Co juga beroperasi di Saudi.

Bukan hanya di bidang energi, pertambangan, dan perminyakan saja, kerja sama kedua negara terjadi hampir di semua sektor: telekomonukasi, transportasi, industri tekstil, dlsb. Hasilnya sungguh luar biasa: produk-produk China membanjiri bahkan “mengtsunami” pasar Saudi: ponsel, TV, bus, pakaian, makanan, dan pernik-pernik lain (seperti jubah, abaya, sajadah, tasbih, “boneka onta”, dan aneka “oleh-oleh kaji” semua “made in” China! Subhannallah eh salah, astagfirullah. Bahkan China kini juga berpartisipasi membangun konstruksi rel kereta api yang menghubungkan Makah dan Madinah lewat Jeddah sehingga memudahkan perjalanan haji dan umrah.

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Tari Pendet – Bali, Ciri khas dan nuansa sakralnya

Tari Pendet adalah tari yang asli berasal dari Bali. Mulai ada sejak tahun 1950 an, ada asal...

Mengapa Optimasi SEO Website Penting Dalam Strategi Konten Marketing

Optimasi SEO Website adalah cara untuk meningkatkan traffic organik. Dan ini bagian dari strategi konten marketing paling banyak dibicarakan di dunia internet.

Kabar Duka, Wakil Jaksa Agung RI Tutup Usia

Garuda Citizen – Kabar duka. Wakil Jaksa Agung Republik Indonesia (RI) Dr Arminsyah, tutup usia. Ia meninggal akibat kecelakaan tunggal di Tol...

Ini Daftar 48 Media Massa Yang Kerja Sama di DPRD BU 2019

Bengkulu Utara, GC – Anggaran publikasi media massa di sekretariat DPRD Kabupaten Bengkulu Utara (BU) tahun 2019 lalu mencapai Rp 1.743.700.000. Anggaran...

Karena Corona, Pilkada Serentak Tahun 2020 Ditunda

garudacitizen.com – Kesimpulan rapat kerja dengar pendapat Komisi II DPR RI dengan Kementrian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -