Cerita pendek : Bayang-bayang Mengganjal

0
520
Cerita Pendek Kematian
Cerita pendek : Bayang-bayang Mengganjal | Photo ilustrasi

Cerita pendek : Sepenggal cerita penuh makna tentang kehidupan dan kematian yang menjadi bayang-banyang terasa sangat dekat.

Karya Muhammad Indra Desa Durian Depun, Kecamatan Merigi, Kabupaten Kepahiang – Bengkulu

Andi tersontak dari tidurnya. Menoleh ke kiri. Anak dan istrinya tertidur pulas. Khawatir mereka terjaga, Andi perlahan melepaskan selimut penutup tubuhnya. Duduk di sisi ranjang. Kedua telapak tangan menangkup sisi ranjang. Tertunduk sembari melepas nafas panjang.

Andi menuju kamar mandi. Menekan saklar lampu di sisi pintu. Membuka keran air dan membasuh wajah. Mengambil handuk yang menggantung dan mengusapkan ke wajah. Di tatapnya lekat cermin di hadapannya. Dalam. Sedalam galau pikirannya.

Mendengus lirih nafasnya. Berulang kali dilakukan—menatap dalam bayangan di cermin, dan menunduk sesaat. Ditatap kembali cermin, seakan-akan tidak melihat dirinya. Seperti ada yang lain. Tapi lupa siapa itu. Hantu? Ah bukan. Bukan hantu. Ada sesuatu. Ia tahu. Sangat mengenalnya. Tapi, Akh, selalu sesat pikirannya tatkala ingin diungkapkan. Terjerumus dalam lautan lupa ketika sadar menyapa. Sialan. Benar-benar sialan. Siapa ya dia?

Seperti yang dialami tadi. Benda hidup berwarna hitam sangat besar memenuhi pandangan, tergeletak bebas di atas tubuhnya. Semakin lama semakin berat terasa. Menggumpal dan membebani. Gelisah, gundah menghampiri. Mendengus-dengus kesesakan. Udara terasa enggan menghampiri. Jantung malas berdetak. Darah tak ingin melangkah dan berputar. Tangan terkekang kuat. Kaki bergerak-gerak di tempat. Tubuh menggeliat-geliat tapi tak berpindah tempat. Sesak. Padat. Penat.

Ranjang berderak-derak akibat pergumulan itu. Tubuh ingin meronta dan melepaskan diri. Tapi tiada daya mengempas benda hitam besar dan hidup itu. Memenuhi pandangan. Jangankan berteriak meminta tolong berharap ada yang bisa membantu memindahkan beban itu dari atas tubuhnya, menghirup udara saja sulit.

Kian menyengal. Sampai-sampai mengucapkan kalimat Laailaahaillallaah saja Cuma mampu dieja di dalam hati. Sumbang terucap. Tak sama dengan di hati. Kalimat tauhid yang diejanya dengan tidak benar itu telah mengantarkannya ke alam nyata.

Andi mendengus. Ia ulangi lagi menyimak makhluk di dalam cermin. Lekat. Ia lupa. Siapa sebetulnya tadi yang menyambanginya. Kenal. Tahu. Tapi mengapa tidak mampu mengutarakannya di dunia sadar. Mengapa pula sampai seperti itu. Dia juga tidak tahu.

Sejak pertemuan malam itu, tidak jarang ia bersua dengan kejadian serupa tetapi di tempat dan kondisi berbeda. Bayangan itu menjumpainya saat sedang mengontrol para pekerja di proyek pembangunan di salah satu kota besar tempatnya tinggal. Sebuah kayu panjang sebesar paha terjatuh tepat menancap di hadapannya. Persis di ujung sepatu. Andi terkesiap. Pandangannya gelap. Hening pikirannya. Detak jantung dan peredaran darah berhenti. Kuduk berkeriap. Alam sadar mencelat. Ia tertindih benda besar, hitam, menutupi seluruh pandangan dan jasadnya.

Bayangan tesebut menyapanya kembali. Sebuah kereta api melintas di hadapannya menyentuh bemper depan mobilnya. Bember tersebut mencelat berputar berkali-kali di udara. Menghasilkan bunyi bergerentang saat bertumbukan dengan tiang listrik. Ia tak kuasa membiarkan kenyataan meninggalkan dirinya. Bayangan itu sekejap telah melumat dirinya. Ia tidak pinsan, tetapi merasakan begitu berat beban menindihnya. Menghentikan semua kemampuannya.

Pertemuannya dengan bayangan itu tidak bisa dihitung lagi dengan jari. Sampai-sampai lupa detail kejadian demi kejadian. Ia tidak mengerti apa maksud semua itu. Apa pesan tersirat dari perjumpaan tersebut. Dan juga ia tak mampu bercerita kepada siapapun, agar ia mendapatkan bantuan jalan keluar atau segelintir saran dari hasil ceritanya. Ia tidak mampu bercerita, menggambar, dan menjelaskan apa gerangan yang sedang menerpa.

Ia tidak mampu bercerita bukan tidak mau. Tetapi tiap kali ia mencoba, selalu gagal, sebab bayangan itu tiba-tiba muncul dan pergumulan mereka berulang lagi. Selalu begitu. Tidak mampu ditemukan obatnya. Dari apotik-apotik di kota-kota manca negara telah digeledahnya. Namun sia-sia, kemampuannya terbatas tak mampu menjewantahkan penderitaan apa yang dialaminya.

Laksana tercebur di lumpur hidup di tengah hutan belantara. Dikelilingi lintah-lintah penghisap darah. Kian ia bergerak semakin dirinya terlumat. Perlahan tapi pasti. Dirinya terus terperosok. Mengeluarkan suara sama artinya menggerakkan anggota tubuhnya. Yang juga membuat dirinya semakin dalam tercelup dalam lumpur.

Atau terkubur tapi dalam keadaan hidup. Peti mati membungkusnya tanpa cahaya sedikitpun. Matanya terbentur pada warna hitam. Tidak setitik celah harapan memberikan asa untuk bebas dari kungkungan. Semakin kuat meronta, udara semakin sesak dihirupnya.

***

Tidak bisa dimengerti, mengapa begini. Haus. Sangat haus sekali. Panas. Kuminta air seluas lautan untuk mengusir rasa panas dan haus. Tapi sia-sia. Direndam sekalipun di dalam air bah, rasa haus itu bukannya pergi. Malah sebaliknya, mencengkeram kuat sekuat melawannya.

Kakiku panas. Mengapa seperti dibakar. “Mengapa kalian membakar kakiku?” Hening. Tidak ada yang menjawab. Kuayun-ayunkan kaki, berharap panas pergi. Sia-sia, “Aduh.”

Sekejap panas itu berubah menjadi betotan kuat. Terasa sesuatu masuk melalui kuku kaki. Melesat ke lutut. Menjalar kuat ke pusar. Merambat hebat ke jakun. Dan…kepala seperti ditarik kebelakang. Tiba-tiba sesuatu lepas tertinggal.

Begitu cepat. Rentetan peristiwa yang sulit untuk diurai dengan cerita dan tinta. Saat panas dan dahaga menyerang, terlihat pemandangan yang belum pernah terlihat selama hidup. Seperti alur-alur sungai berbaris. Aliran yang tidak berisi air, tetapi api. Panas. Mungkin hal itu yang menyebabkan timbulnya haus dan panas luar biasa. Terus mendekat. Menjilat.

Ketika panas berubah menjadi betotan kuat, rasa sakit teramat sangat. Seperti dipotong-potong dalam keadaan hidup-hidup. Geletak-geletuk bunyi parang mencincang. Darah dan daging tidak tahu posisi. Berserakan.

“Hai,” suara itu lepas dalam ruang kosong. Memandang insan sedang terbaring di bawah sana. Terbaring dengan ekspresi penuh perlawanan. Kelelahan dan kalah dalam pertempuran. Terlentang dengan pandangan kosong. Posisi tubuh seperti diatur. Mulut menganga.

Sekejap aku teringat seseorang yang tidak asing lagi. Wajah itu begitu lekat kukenal. Bahkan berjumpa setiap hari. Pikiran terbentur ruang hampa. Teringat seseorang yang kerap berjumpa. Bahkan setiap detik. Setiap menit bersamanya. “Itu kan diriku?”

Aku terkejut. Mengapa pula aku berayun-ayun di sini. Bahu tercekal sesuatu yang tidak terlihat. Seperti balon karbit yang terus melayang ke udara. Tinggi dan meninggi. Diri terus tertarik ke atas. Meronta. Mencoba melepas cekalan bahu. Sia-sia. Tenaga penarik ini ribuan lebih kuat dari tenagaku.

“Mau kemana kau membawaku?” Hampa. Mengapa suaraku. Tak terdengar seperti dulu lagi. Tidak ada jawaban. Berulang-ulang kucoba melafalkan kalimat itu. Percuma.

Berdenyet bunyi pintu di buka menyadarkanku. Di mana aku? Mengapa tubuhku terikat di sini? Tubuh terbentang dengan ikatan di tiap lengan dan kaki. Dalam posisi berdiri. Mengapa tubuh ini sakit semua. Nyilu di sana-sini. Tulang-tulang terasa berserakan.

Perlahan mata kubuka. Perih. Mata sakit seperti direkat lem. Lem darah. Sulit membuka lebar. Melalui samar-samar pandangan yang terhalang kelopak mata lebam, kucoba mencari tahu apa gerangan yang terjadi.

Belum sempat melihat siapa gerangan melalui samar pandangan, seketika sebuah benda membentur kepalaku. Kuat sekali. Pecah seperti piring di lempar ke lantai. Berserakan kepalaku. Aneh. Mengapa bersatu lagi? Dan lagi.

Dalam keadaan terus dihujani benturan keras ke tubuh, kucoba sekuat tenaga melihat. Mereka. Ya. Mereka yang sering menjumpaiku waktu itu. Menindih tubuh waktu aku tidur bersama anak dan istri, menyelimuti seluruh tubuh waktu kayu sebesar paha jatuh tepat di depan kaki dari tempat proyek yang kuawasi, menghimpit kuat tatkala bember depan mobilku terpental disambar kereta api, dan…ahk… tak mampu lagi ingatan ini mengurai semuanya.

“Kami sudah mengingatkanmu berulang kali!” suara itu tajam menusuk telingaku. Lantang. Merobek-robek. “Tapi kau tidak memahami.”

Tiap kata yang diuntainya laksana ribuan duri berhamburan menembaki tubuhku. Sakit. Sakit yang tidak pernah kualami. Hancur berkeping-keping. Mereka mengatakan kata-kata itu. Aku memahaminya. Tapi pemahamanku terlambat. Aku sadar sesadar-sadarnya. Bahwa aku sudah tidak berada di kehidupanku dulu lagi.

Aku tidak ada kuasa lagi membeli hukum. Menghilangkan pasal undang-undang. Menghubungi pengacara agar terbebas dari tuntutan. Menyuap para hakim agar lepas dari pengadilan. Menyogok wartawan agar tidak diberitakan. Membayar preman untuk pemaksaan. Bernegosiasi dengan para sipir agar dibebaskan. Ya. Aku tidak mampu lagi.

Durian Depun, Merigi, Kepahiang, 2013