Bantaran Kali Mati Slamaran Banyak Berdiri Bangunan Liar

Masyarakat mengaku telah mengantongi izin dan membeli tanah dari pihak ketiga

Must Read

Geisha Jepang ritual menggoda dan kehidupannya

Geisha Jepang...  Oke!!.. Mungkin sebagian besar dari kita sudah tahu tentang ihkwal sosok sensasional ini.

Wanita dayak; pesona kecantikan, mitos dan faktanya

Ada banyak cerita tentang wanita dayak. Baik tentang beragam mitos dan stigma serem yang terlanjur beredar di tengah publik....

Geisha Jepang sensualitas dan kehidupannya

Siapa sich yang tidak tahu atau minimal pernah mendengar tentang wanita-wanita cantik Jepang berbalut kimono ini. Keberadaan Geisha Jepang indentik dengan...

Tari Merak Jawa Barat, Sang Penjantan Tebar Pesona

Sebagian besar masyarakat Indonesia jelas mengenal Tari Merak. Berbalut busana penuh warna, khas, dengan gerakan penuh keceriaan Tari Merak...

Komunitas Spiritual Indonesia, Membangun Spirit di Dunia Maya

Spiritual Indonesia adalah komunitas yang terbentuk secara online. Diawali dari obrolan di forum, milis, yahoo group, hingga akhirnya terbentuk...

Fakta Menarik Tentang Seragam Sekolah Cewek Jepang

Jepang adalah negara yang memiliki daya tarik kuat di mata dunia. Bukan hanya sekedar kebudayaannya, namun juga aspek lain...

Pekalongan – Sekitar tujuh bangunan rumah berdiri di atas tanah bantaran kali mati Slamaran, yang berlokasi di belakang Rumah Susun (RUSUN) Slamaran, Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara – Jawa Tengah, diduga menyalahi aturan.

Bagaimana tidak, jika secara aturan, tanah bantaran bekas kali mati tidak diperbolehkan untuk didirikan rumah tempat tinggal. Hal tersebut juga diakui oleh Koordinator Perwakilan Balai PSDA Pemali, Comal dan Tegal yang berkantor di Jln P.Diponegoro Kota Pekalongan, Rasto.

Menurut Rasto yang saat itu di damping salah satu stafnya, Suhardi, ketika dikonfirmasi mengatakan, bahwa keberadaan tanah bantaran bekas kali mati tersebut tidak masuk dalam penataan kota Pekalongan. Melainkan sepenuh menjadi asset pengawasan dan kewenangan PSDA Propinsi, dimana keberadaan tanah tersebut tidak diperbolehkan atau diperuntukan di bangun rumah tempat tinggal.

Ketika dipertanyakan bahwa fakta dilapangan saat ini telah berdiri beberapa rumah dan ditempati beberapa kepala keluarga, Rasto mengaku tidak pernah mengizinkan dan atau mengeluarkan izin sama sekali.

Tidak hanya itu, beberapa pihak dilingkungan SDA Kota Pekalongan bahkan mengaku tidak tahu-menahu mengenai keberdaan bangunan liar dimaksud. Rasto sendiri menyatakan bahwa persoalan tersebut bukan dibawah kewenangan pihaknya, melainkan dibawah kewenangan PSDA Provinsi – Jawa Tengah.

Yang membuat persoalan bertambah pelik, masyarakat yang menempati lahan diatas bantaran kali mati Slamaran dimaksud mengaku mempunyai dasar jelas. Bahkan salah satu pemilik rumah dengan tegas mengaku telah mengantongi surat izin dari pihak PSDA Comal.

“Kami tidak gratis menempati lahan ini. Kami telah membayar dan memiliki izin,” ujarnya sembari mewanti-wanti agar namanya tidak disebutkan dalam pemberitaan dan memperlihatkan surat yang diketahui adalah surat perijinan dengan kop PSDA Propinsi beralamat Comal.

Dikatakan,  pihaknya berani mendirikan bangunan dilahan tersebut karena telah membeli dari pihak ketiga senilai Rp. 7 juta rupiah. Dan tanah-tanah yang masih kosong, lanjutnya, juga siap dijual kepada yang berminat dengan harga berkisar Rp. 7 juta rupiah lebih.

“Itu sebagai ganti garapan (paculan),” ujarnya.

Lebih lanjut dikatakan bahwa, semua yang telah membangun rumah di lokasi tersebut sudah dijanjikan oleh pengelola atau pihak ketiga yang menjual, nantinya tanah tersebut bisa di sertifikatkan menjadi hak milik setelah menempati kurang lebihnya lima tahun lamanya.

Sumber lain dilapangan menyebutkan, jika melihat dari kondisi tersebut setidaknya ada dua dugaan pelanggaran. Pertama, pendirian rumah atau bangunan diatas tanah bantaran kali mati Slamaran. Dan kedua yakni, penggunaan jalan tembus yang merupakan jalan inspeksi, diperuntukan pekerjaan pabrik tambang milik Bahtiar.

Sehingga lanjut sumber, timbul sederet pertanyaan kenapa pemerintah seolah tutup mata dan tidak mengambil tindakan tegas.

Lalu kenapa bangunan-bangunan tersebut berdiri begitu saja ketika proses dan aturan belum jelas. Serta bagaimana sebenarnya aturan yang mestinya diterapkan oleh pihak PSDA Propinsi sesuai Peraturah Gubernur (Pergub)?

Kesimpulannya, ada kemungkinan terjadinya konspirasi atau permainan terselubung pihak PSDA Propinsi atau oknum yang sengaja mengeruk keuntungan pribadi di bantaran Kali Mati Slamaran?

Dan sejauh apa keterlibatan dan hubungannya dua orang yang disebut-sebut oleh pihak PSDA perwakilan provinsi di Pekalongan, yaitu mantan Kepala Kelurahan Krapyak Lor Mudakir dan satu orang warga Krapyak Lor, Ismail, dengan persoalan tanah tersebut?

Latest News

4 OPD Kepahiang Dilaporkan FPR Ke Kejagung

BedahBerita.Co.Id, Front Pembela Rakyat (FPR) melaporkan tiga Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemerintah Kabupaten Kepahiang.Atas indikasi adanya tindak...

3 Tersangka Korupsi DD Embong Sido Di Tahan

Kepahiang, garudacitizen.com - Tiga Tersangka (TSK) Korupsi Dana Desa (DD) Embong Sido Kecamatan Bermani Ilir Kabupaten Kepahiang ditahan pihak Kejari Kepahiang, setelah...

Jaksa Geledah Pemkab Dan DPRD Kepahiang, Indikasi Kasus Tanah Kantor Camat TB Karai

BedahBerita.Co.Id, Nampaknya Kasus pengadaan Lahan Tanah Kantor Camat Tebat Karai mulai serius di garap Kejaksaan Negeri Kepahiang, setelah Laporan yang di layangkan...

Spiritual Retreat, Love & Unity Tour, Indonesia 2019

Sri Bhagavan, pemimpin spritual dan pendiri International Vedanta Society yang berpusat di Kolkata, India akan berkunjung ke Indonesia pada tanggal 2-13 Desember...

Zaman Bupati Mian, Miliaran Anggaran Dinkes 2018 Diduga Syarat KKN

Bengkulu Utara, GC – Zaman kepemimpinan Bupati Bengkulu Utara Ir.H.Mian. Miliaran anggaran yang bersumber dari APBD tahun 2018 di Dinas Kesehatan (Dinkes)...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -