Antara Kisah Pencari Emas Lebong dan Tugu Monas

0
680
Antara Kisah Pencari Emas Lebong dan Tugu Monas
Emas Yang Berada di Tugu Monas Jakarta Berasal Dari Emas Lebong
Antara Kisah Pencari Emas Lebong dan Tugu Monas
Penambang Emas Sedang Mengolah Hasil Tambang

GARUDA CITIZEN – Emas, benda itu memang luar biasa. Mampu membuat mata dan hati terasa berbeda. Logam mulai yang senantiasa di damba, khususnya kaum hawa. Perhiasan yang mampu memberi nilai lebih bagi pemakainya. Prestise tentu saja akan naik karenanya.

Lalu siapa pula warga Indonesia yang tidak pernah mendengar Tugu Monumen Nasional atau biasa disebut Monas. Tugu yang berdiri gagah dan kokoh itu menjulang tinggi seolah hendak merengkuh angkasa dengan puncaknya. Disana, juga terpatri berkilogram lapisan emas menguning dan berkilau ketika diterpa sinar matahari.

Antara Kisah Pencari Emas Lebong dan Tugu Monas
Lubang Kacamata Kabupaten Lebong

Dan di provinsi Bengkulu, khususnya, Emas akan serta merta mengingatkan kita pada sebuah daerah yang baru saja di mekarkan dari Kabupaten Induk Rejang Lebong pada 2002 lalu. Yah… Kabupaten Lebong nan elok, di kelilingi hutan dan memiliki berbagai kandungan kekayaaan alam. Bahkan daerah itu juga pernah dikenal sebagai lumbung padi.

Disana pula emas yang berada di puncak tugu Monas serta menjadi kebanggaan penduduk Indonesia berasal. Ini pula yang menjadi alasan penjajah pada masa lalu untuk mendekam lebih lama di daerah yang kaya akan hasil tambang itu. Berkilo-kilo emas dan seolah tidak pernah ada habisnya dikeluarkan dari perut bumi Lebong.

Lebong memang penghasil emas yang berlimpah. Dan begitu juga sekarang, tetap memberikan emas bagi penduduknya di sana. Namun, sistem dan cara untuk mendapatkan emas disana, oleh penduduk setempat dilakukan secara tradisional. Perhiasan emas yang senantiasa selalu memberikan kebanggan tersendiri bagi pemakainya dan tentunya bernilai tinggi itu, memang banyak di hasilkan dari daerah tersebut.

Tapi tidak banyak yang tahu, bagai mana perhiasan nan mahal itu bermula. Bagaimana hingga dari serbuk-serbuk halus yang menyatu dengan bebatuan didalam perut bumi itu diperoleh lalu diolah? Gampangkah? Jelas tidak. Itu pula alasan kenapa harga emas itu tinggi.

‘Cari Emas sama dengan Cari Setan’, begitulah bunyi semboyan ‘anak tambang’ demikian penduduk setempat menyebut para pencari emas di Kabupaten Lebong, khususnya di lokasi pertambangan tradisional Desa Lebong Tambang Kecamatan Lebong Utara.

Jelaslah sudah, dari bunyi semboyan itu saja kita bisa menganalogikan bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh penambang emas ini bukanlah pekerjaan yang ringan. Selain berhadapan dan merasakan langsung bagaimana pengapnya berada didalam lubang sempit yang kedalamannya minimal 50 meter diperut bumi, kepastian untuk mendapatkan jalur emas pun tidak dapat bisa diharapkan seratus persen.

“Masih perlu perjuangan dan keberuntungan,” ujar salah satu anak tambang setempat kepada EXPO belum lama ini.

Mencari emas bukan perkara mudah. Untuk mencarinya, pekerja tambang tradisional ini harus mencari serat-serat emas terlebih dahulu di dalam lubang. Bila diyakini jalur serat-serat emas itu memiliki banyak kandungan emasnya, pencari emas pun baru memulai pekerjaannya dengan diawali pengeboran manual untuk membuat lobang mengikuti jalur serat emas tersebut.

Mengingat, yang dibor secara tradisional itu bebatuan, berarti pencari emas ini membutuhkan waktu yang cukup lama sampai menemui serat-serat emas yang diyakini memiliki banyak kandungan emasnya.

“Bisa memakan waktu berhari-hari,” timpal anak tambang yang lain.

Apabila pencari emas tradisional ini mendapatkan bongkahan yang mengandung banyak serat emasnya, bongkahan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam karung berukuran 1 kaleng beras, untuk dibawa pulang dan diolah dengan menggunakan “glundungan” untuk mendapatkan buliran emas.

Lebong! Memang merupakan daerah potensial penghasil emas terbesar tempo dulu sejak zaman penjajahan Kolonial Belanda hingga kini walaupun dilakukan secara tradisional. Bagi sebagian besar masyarakat di kecamatan Lebong Utara khususnya desa Lebong Tambang, pekerjaan penambangan emas merupakan pekerjaan utama dalam kehidupan mereka sehari-hari, sedangkan bertani merupakan pekerjaan sampingan.

Kendati harga emas dipasaran sangat tinggi, bukan berarti serta merta kehidupan ekonomi anak tambang berada pada tarap yang membahagiakan. Terkadang malah sangat sederhana. Hasil yang diperoleh dari pekerjaan penambangan emas ini dapat mencukupi kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Mereka melakukan penambangan secara konvensional secara turun temurun.

Emas yang dicari oleh pencari emas ini sendiri didasari oleh urat-urat emas yang menyatu bersama kwarsa. Lobang yang digalipun mengikuti jalur urat tersebut. Alasan ini menjadi dasar bagi pekerja tambang emas, karena menurut sebagian pekerja mengatakan banyaknya batu kwarsa yang ditemukan merupakan pertanda bahwa ditempat tersebut banyak kandungan emas. Selain itu, tanda-tanda bahwa di tempat tersebut terdapat emas sering ditandai dengan adanya batu salur/mensen merah.

Menurut Ujang, salah seorang pekerja tambaaang emas tradisional setempat, di Lebong Tambang, sebenarnya terdapat tujuh buah lobang penggalian dengan kedalaman maksimum sampai 250 meter. Namun yang masih aktif dilakukan pencarian hanya ada tiga lobang. Diantaranya lobang bekas sisa pembuangan kegiatan penambangan masa Kolonial Belanda, Lobang Kacamata dan lobang dalam di daerah Saringan.

Naik Turunnya Harga Emas, Membuat Jumlah Penambang Tidak Tetap

Jumlah penambang yang ada di daerah itu tidak tetap, hal ini dipengaruhi oleh naik atau turunnya harga emas di pasaran. Apabila harga emas tinggi, maka jumlah penambang juga akan bertambah karena masyarakat dari luar daerah ikut melakukan penambangan, sebaliknya jika harga emas turun, maka jumlah penambang akan berkurang.

Selain sistem penambangan yang tradisional, proses pengolahannya masih dilakukan secara manual dengan alat yang biasa disebut gelundungan seadanya. Bahan baku emas yang masih bercampur dengan bebatuan dicampur dengan air raksa yang berfungsi untuk menangkap molekul atau buliran emas.

Cara kerja untuk mendapatkan emas diawali dengan cara menumbuk batu-batu kwarsa yang telah dibawa dari lokasi tambang kerumah. Batu yang sudah ditumbuk itu membentuk butiran kecil. Butiran batu itu kemudian dimasukkan ke dalam glundungan yang dicampur dengan air raksa selama 24 jam.

Ujang : “Saya Menjadi Anak Tambang Dimulai Sejak Masih Kecil”

Setelah selesai dalam waktu tersebut, sebagian ada yang menambahkan butiran batu, dan ada pula yang langsung menyaringnya. Melalui proses penyaringan inilah molekul emas dan perak akan terpisah dari butiran batu halus.

Dikatakan Ujang, saat ini jumlah penambang yang ada saat ini berkisar berjumlah 40 (empat puluh) orang dengan alat pengolah glundung sebanyak 65 buah. Lokasi pengolahan ini ada yang dekat tambang dan ada juga di lokasi rumah tempat tinggal.

“Saya menjadi anak tambang dimulai sejak masih kecil,” ujar laki-laki kelahiran 12 Agustus 1958 ini mengenang.

Katanya, sejak dibangku kelas empat Sekolah Dasar ia sudah terbiasa ikut orang tuanya menambang menggali bongkahan batu mencari serat-serat emas di Lobang Goa Kacamata. Di usia dini seperti ini seharusnya dia berada dibangku sekolah. Namun karena tuntutan ekonomi, dirinya memutuskan berhenti sekolah dan ikut orang tuanya masuk lobang begulaat dengan maut untuk mencari serat-serat emas. Selama ikut orang tuanya, biasanya paling cepat satu minggu sekali dia keluar dan menghirup udara segar.

Dikisahkan, selama di dalam lobang, udara sangat pengap. Untuk bisa bertahan selama berminggu-minggu dan bahkan berbulan-bulan, dirinya harus menyiapkan blower untuk pernapasan. Peralatan kerjapun disiapkan seadanya seperti paku, palu, senter dan kayu. Biaya modal awal pun lumayan besar yang terkadang tidak sebanding dengan penghasilan dikala harga emas turun.

“Pahit getir selama menjadi pekerja tambang telah saya rasakan sejak kecil. Soal hasil itu tergantung nasib, bila sedang sial bisa berbulan-bulan tidak menghasilkan. Inilah mengapa saya katakan mencari emas itu sama dengan mencari setan” imbuhnya mengakhiri.(RED)

LOKASI POTENSI TAMBANG DI LEBONG

Lokasi :Ulu Ketenong
Tahap Penyelidikan :Rinci
Cadangan :Terukur 260.000 ton
Kadar :Au=0.8-2,4 gr/ton
Keterangan : Pernah di tambang belanda th 1910-1940 tipe vein

Lokasi :Lebong Donok
Tahap Penyelidikan :Rinci
Cadangan :Terukur 2,243,000 ton
Kadar :Au=0,73-13,83 gr/ton
Keterangan : Pernah di tambang Belanda th 1899-1941

Lokasi :Tambang Sawah
Tahap Penyelidikan :Rinci
Cadangan :Terukur 2,243,000 ton
Kadar :Au=0,03-30,31 gr/ton
Keterangan : Tipe vein pernah di tambang belanda th 1923-1031 survey kanwil DPE Prov Bengkulu 1998/1999

Lokasi :Lebong Simpang
Tahap Penyelidikan :Rinci
Cadangan :Sumberdaya Terukur
Keterangan : Pernah di tambang Belanda th 1925-1940

Lokasi :Lebong Sulit
Tahap Penyelidikan :Rinci
Cadangan :Sumberdaya Terukur 513,000
Kadar :Au=3,8g/t
Keterangan : Pernah di Tambang Belanda th 1903-1918

Lokasi :Lebong Tambang
Tahap Penyelidikan :Rinci
Cadangan :Sumberdaya terukur
Kadar :Au=0,36-36 gr/ton
Keterangan : Direktorat SDM Bandung 1985

Lokasi :Air Plantan dekat muara Aman
Tahap Penyelidikan :Prospeksi
Cadangan :Tereka
Keterangan : Direktorat SDM bandung 1985

Lokasi :Gunung Seblat
Tahap Penyelidikan :Survey Tinjau
Cadangan :Indikasi
Keterangan : Direktorat SDM Bandung 1993