Akhir Cerita FPI; Menyentuh Megawati, Rizieg Shihab Selesai?

0
458
mega riziek Menyentuh Megawati, Rizieg Shihab Selesai
Bener HUT Kota Arma Ke-41

Kegaduhan politik berbau SARA yang sudah dimulai sejak Jokowi-Ahok naik menjadi DKI1-2 di tahun 2012, mencapai matang di Pilpres 2014 ketika Jokowi menjadi RI1, dan Ahok menjadi DKI1.  Dalam prosesnya, FPI (Front Pembela Islam) yang wajah depannya identik dengan Riezig Shihab berkembang menjadi ormas intoleran, radikal, sekaligus laris dipakai kepentingan-kepentingan politik yang berbenturan.

Setelah itu, seperti singa yang mengaum-aum mencari lubang, maka akhirnya melalui Ahok arus politik SARA mencapai klimaks melalui demo 411, dan 212.  Demo yang coba disakralkan dengan membuat koperasi, produk, bahkan demo susulan yang berbau sama.  Menggelikan, tapi itulah realitasnya.

Ahok dijadikan pintu untuk menggoyang Jokowi. Tapi skenario itu keburu dipatahkan, orang-orang yang hendak makar segera dipadamkan. Tapi rupanya, kuda tunggangan para politikus, Riezig Shihab, tidak menyadari atau mungkin sudah kepalang basah, maka tetap nekat untuk melancarkan serangan-serangan membabi buta.

Disisi lain, Nahdatul Ulama (NU) ormas Islam terbesar di Indonesia pun terlihat sampai terkaget-kaget ketika Kiai sekelas Gus Mus sampai dihina di medsos, sehingga segera bergerak untuk melindungi kehormatan para Kiainya. Ketua umum NU, KH Said Aqil tidak merekomendasi untuk mengikuti demo 212. Sehingga tensi antara ormas intoleran dan NU pun terlihat meningkat.

Dan ini “gilanya”, tak berhenti disitu, serangan ke Ahok, Jokowi, dan NU ternyata berlanjut ke PDI-P, partai pemenang dan yang berkuasa saat ini.

Dan serangan ini tidak main-main, melalui demo di depan Mabes Polri, Riezig Shihab mendesak kepolisian untuk memproses Megawati secara hukum  atas dasar penistaan agama ketika memberikan pidato politik HUT PDI-P yang ke-44.

Kali ini Riezig offside, dan dia merasakan itu, sehingga meminta dengan nada memelas supaya “didamaikan” secara kekeluargaan terhadap semua pihak (kecuali Ahok) yang beurusan hukum dengan dia termasuk dengan Megawati, meskipun dengan embel-embel ancaman “daripada ada bentrok horizontal” (sumber).

Tapi rupa-rupanya Rizieg sudah sampai ke point of no return. PDI-P marah besar. Melalui siaran pers (17/1/17), sekjen PDI-P Hasto menyatakan 4 poin yang sangat lugas dan frontal. Sama dengan para ansor yang marah karena Kiai-Kiainya dihina, sekarang kader-kader Banteng mengamuk karena ibu Banteng diusik. Berikut adalah kutipan-kutipan setiap poin (tidak utuh) dari sumber web resmi PDI-P (sumber)

Sekiranya Bapak Rizieq Shihab (mohon maaf kami tidak menyebut Beliau Habib berdasarkan apa yang saya baca dari pendapat KH Said Aqil Siradj), memang akan berhadapan dengan Ibu Ketua Umum Partai, maka sebagai Sekjen Partai saya tegaskan bahwa kami siap berhadapan dengan Pak Rizieq. (Poin 1)
Sekiranya Pak Rizieq ada yang tidak puas, sampaikan melalui jalur hukum, dan kami akan siapkan pembela hukum terbaik. Bagi kami komitmen terhadap pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara tidak bisa ditawar-tawar. (Poin 2)
Apa yang dilakukan oleh FPI dengan membubarkan aksi kemanusiaan berupa pengobatan gratis merupakan tindakan yang telah melampaui batas. Tidak bisa diterima dan mendesak aparat penegak hukum untuk bertindak cepat. Ada batas kesabaran dari kami, dan pesan yang ingin saya sampaikan ke Bapak Rizieq adalah kami tidak takut. Kami siap berhadapan jika mereka terus bertindak main hakim sendiri. (Poin 3)
Krn itulah tuduhan Pak Rizieq ke Ibu Megawati sangat tidak beralasan. Sikap Ibu Megawati yang keras di dalam membela perdamaian di Timur Tengah itulah yang juga ikut mewarnai konstelasi pilpres 2004. Disitulah kenegarawanan Ibu Megawati termasuk ketika membela Ustadz Abu Bakar Baasyir agar tidak di ekstradiksi karen atugas peminpin untuk melindungi segenap bangsa dan sel tumpah darah Indonesia. (Poin 4)

Dari poin-poin itu terlihat bahwa PDI-P langsung menembak dan menantang Rizieg Shihab. Entah mau sembunyi kemana lagi, meminta bantuan DPR pun Fadli Zon, dan Fahri Hamzah tidak akan mampu lagi membendung kemarahan jutaan kader PDI-P. Prabowo dan SBY sebagai “sesepuh” dibelakang layar tidak akan berani menyentuh Megawati.  Apakah Anies bisa menjembatani? Itupun sulit dibayangkan.

Pidato Megawati sendiri terlihat sangat nasionalis dan sangat berapi-api. Orasi politik yang sangat menggetarkan semangat untuk kembali ke ideologi Pancasila, dan teguh dengan pemerintahan yang sah. Dengan gayanya yang lugas dan khas, Megawati “guyon” kepada Jokowi dan Jusuf Kalla :

Jadi kalau ada yang mau macam-macam itu Bapak Presiden, Bapak wapres…panggil saja KITA…lha kalau ada yang mau macam-macam anak buah saya sudah ada lho Bapak… (Megawati)

Pernyataan-pernyataan yang langsung menantang siapapun yang mencoba makar terhadap pemerintah yang sah (landasan struktural) dan mengganti Pancasila (landasan Ideologi). Megawati menekankan PDI-P adalah partai berbasis ideologi yang akan terus teguh membela terhadap semua serangan ideologi tertutup (radikal, intoleran.

Sebuah pernyataaan-pernyaatan yang seharusnya diberikan standing ovation, tapi oleh Rizieg Shihab (dan kawan-kawan) dianggap penistaan agama. TIdak heran kemarahan sang ibu Banteng tidak terhindar lagi.

Riezig harusnya bertanya dulu kepada SBY bagaimana rasanya bermusuhan dengan Megawati. Sampai kepada titik nol, kalau tidak ada mujizat terjadi Rizieg akan dikejar banteng. Itu yang akan terjadi.

3 hal yang Rizieg akan sesali seumur hidupnya karena telah menyentuh Megawati:

Pertama, Megawati adalah PDI-P, PDI-P adalah Megawati. Dan saat ini PDI-P boleh dikatakan satu-satunya partai ideologis yang masih bertahan sejak orde baru dan memiliki sejarah sampai ke berdirinya negara melalui Bung Karno sang Ayah, lahirnya Pancasila yang sudah dikeppreskan Jokowi (Keppres 24/2016).  Artinya, Rizieg telah menyentuh kekuatan idelogis terbesar Indonesia.

Kedua, Jokowi adalah kader PDI-P, dan selalu dengan PDI-P sejak dari Solo, Jakarta, sampai Indonesia. Hubungan Jokowi dan Megawati adalah hubungan yang sangat erat secara politis maupun pribadi. Artinya, secara kekuasaan Megawati saat ini bisa dikatakan ada dipuncaknya. Dan Rizieg lupa diri sehingga telah menyentuh kekuasaan negara terbesar yang ada sekarang.

Ketiga, pengikut fanatik Megawati dan/atau PDI-P adalah wong-wong ciliki (grass root). Mereka ini “preman-preman” yang siap tempur dalam arti yang sebenarnya. Bukan retorika, tapi memang itu realitas yang sudah menjadi rahasia umum.  Bahkan dalam orasi politik yang sama, Megawati mengatakan:

Anak-anak saya ini nakal-nakal Bapak Presiden, tapi kalau untuk bangsa dan negara, jiwa mereka berikan (Megawati)

Menyentuh Megawati berarti menyentuh pasukan banteng akar rumput yang jumlahnya saya pastikan lebih dari sekedar memenuhi Monas, bundaran HI, dan juga lapangan-lapangan yang ada.  Hebat bukan Rizieg yang berani menantang banteng-banteng ini?

Sekarang ini Kapolda Metro Jaya sudah secara frontal mengatakan : Kapolda Metro Jaya: Mulutmu Harimaumu, Itu Pesan Saya kepada Rizieq, Wiranto mengatakan “Wiranto: Indonesia Negara Hukum, Bukan Negara Ormas“, dan kapolda Jabar, Anton Charliyang, yang sedang berhadapan dengan Rizieg di kasus penistaan Pancasila mengatakan “

“Datang beribu-ribu orang tanpa izin, apa etis? Apa itu adab? Kalau benar, kenapa takut? Sendiri saja hadapi,” tuturnya

Ahok dikriminalisasi, Jokowi hendak digulingkan, NU dihina, dan sekarang Megawati dituduh menistakan agama? Semunyanya menjadi blessing in disguise karena akhirnya Indonesia melihat akhir cerita sinetron Rizieg yang ceritanya sudah bertele-tele terlalu lama.

Bener HUT Kota Arma Ke-41
loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here