Ahok, Agus, dan Anies dalam Strategi Politik Megawati

0
356
ahok jarot min
Ahok dan Djarot | Sumber Kompas.com

Menarik. Tiga koalisi terbangun untuk Pilgub DKI 2017. Koalisi Cikeas dengan Agus-Sylviana, Koalisi Kartanegara dengan Sandiaga-Mansyur/Anies, dan Koalisi Kerakyatan Ahok-Djarot. Terbentuknya tiga koalisi para partai itu, tak lepas dari perancang strategi politik di Indonesia yang spektakuler.

Peran besar kekuatan politik tersembunyi itu bekerja kembali dengan sempurna. Megawati menunjuk Ahok-Djarot pada detik terakhir. SBY dan Prabowo pun terpecah. Hasilnya Koalisi Kekeluargaan rontok berkeping tiga dengan calon: Ahok, Sandiaga dan Agus.

Mari kita telaah peran besar the Operators dalam mengatur strategi politik Pilgub DKI 2017 dengan hati gembira ria riang senang sentosa bahagia suka-cita koprol menertawai dan ngakak habis menonton keputusan politik konyol SBY dengan Agus dan Fadli Zon dengan Sandiaga Uno selamanya senantiasa.

Munculnya tiga kandidat cagub itu sesuai dengan rancangan dan arahan strategi politik untuk Ahok-Djarot. Di balik keputusan Megawati menunjuk Ahok-Djarot tersimpan strategi yang dimakan mentah oleh SBY dan Prabowo.

Permainan waktu penunjukan Ahok-Djarot telah menghancurkan persiapan para partai. Wacana demi wacana yang dibangun hanya menghasilkan pepesan kosong. Strategi PDIP mengulur waktu dimungkinkan karena strategi the Operators jelas dan terukur: mengatur dukungan internal dan memengaruhi partai lain agar gamang dan galau. Hasilnya para partai kebingungan menentukan calon.

Sejak awal wacana Yusril, Risma, Sandiaga, sampai Saefullah dan bahkan Lulung dan Rizal Ramli telah membuat publik dan bahkan politikus kena kibul strategi politik. Bangunan wacana penolakan Ahok sebagai cagub dibangun sebagai alat untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan Ahok. Ternyata Ahok tetap memlliki kekuatan nyata di dalam masyarakat DKI Jakarta: elektabilitas dan popularitas Ahok tetap tak tergoyahkan.

Ketika akhirnya Presiden ke-5 Megawati menunjuk Ahok-Djarot, seketika terkesiap baik internal maupun eksternal PDIP. Boy Sadikin pun terperangah dan kecewa karena tidak diusung dua kali. Pada 2014 lalu Boy Sadikin berharap menjadi wagub DKI menggantikan Ahok yang naik menjadi Gubernur DKI Jakarta. Ternyata Djarot naik. Pada pencalonan kali ini, Boy Sadikin berharap dirinya naik sebagai cawagub dengan Djarot sebagai cagub, namun senyatanya popularitas Ahok-Djarot tak tertandingi dalam simulasi internal PDIP. Boy pun tersingkir dan kini menyingkirkan diri.

Di kalangan eksternal PDIP, SBY dan Prabowo marah besar. Tersinggung dan kecewa secara politik. SBY dan Prabowo bukan hanya kecewa secara politik namun secara pribadi pula. Mega dan SBY adalah kayu kering dan minyak yang gampang disulut dan terbakar. Akibat luka politik “pengkhianatan politik” 2004 ketika SBY seolah didzolimi oleh Mega. Sejak itu permusuhan politik tak pernah berakhir sampai kiamat kelak.

Prabowo dan Mega bagai minyak dan air yang tak bakalan bersatu. Pencalonan Jokowi dengan dukungan PDIP alias Presiden ke-5 Megawati dan akhirnya Jokowi mengalahkan Prabowo menjadi peristiwa politik yang menyesakkan dada, hati dan jiwa dengan luka terdalam yang tak pernah terbayangkan oleh politikus. “Pengkhianatan politik” perjanjian Batutulis Bogor tentang Mega mendukung Prabowo menjadi luka menganga tak pernah tersembuhkan sampai baik Prabowo maupun Mega menutup mata masuk ke alam kubur.

Nah, selain itu perseteruan pribadi Prabowo dan SBY sejak di Akmil – yang ketika itu SBY pernah digebukin babak belur oleh Prabowo sebagaimana disebutkan oleh Hermawan Sulistyo silakan Googling sendiri ya – tak akan pernah menyatukan Prabowo dan SBY. Untuk itu dalam perhitungan politik Megawati, dengan mencalonkan Ahok-Djarot, kekuatan Koalisi Kekeluargaan akan terpecah dua. Dan, benar. Muncul Koalisi Cikeas dan Koalisi Kertanegara.

Si culun politik Agus Yudhoyono dikerek ayahnya yang sebagai rezim gagal total 10 tahun tak bermakna dipasangkan dengan guru pemberontak Sylviana Murni. Munculnya Agus adalah akhir peran Agus sebagai prajurit brilian di bawah bapaknya.

Di bawah Presiden Jokowi Agus merasa kalang kabut yang akhirnya ngacir mundur mengabdi sebagai prajurit TNI. Sangat disayangkan padahal Agus cerdas dan hebat melebihi bapaknya yang di  militer rata-rata tanpa pernah di Operasi Militer dan di politik gagal total membangun.

Calon yang diusung Prabowo pun hanya politikus kerekan dan culun si Sandiaga Uno. Lalu wakilnya siapa pun misalnya Yusuf Mansyur atau Mardani juga tak akan menjanjikan apa-apa selain kekeokan, kekalahan dan kemaluan. Ahok-Djarot tetap akan  memenangi Pilgub DKI jika penantang mereka hanya politikus palsu kerekan semacam Agus dan Sandiaga. Bagaimana perhitungan kekuatan politik masing-masing? Begini.

Pertama, Ahok-Djarot. Ahok dan Djarot dipastikan akan didukung oleh rakyat DKI Jakarta dengan modal pendukung PDIP yang militan. Ditambah dengan partai yang disiplin Hanura dan NasDem dengan Golkar sebagai penopang akan sangat menguntungkan dari segi mesin partai. Demografi DKI yang pluralis menguntungkan Ahok-Djarot. Pun sejuta dukungan Teman Ahok dipastikan modal awal yang sangat luar biasa.

Kedua, Agus-Syliviana. Pasangan ini akan kesulitan mendapatkan dukungan karena tidak menjanjikan sama sekali. Agus culun politik dan menjadi korban ambisi SBY dengan mundur dari TNI. Sangat disayangkan. Pun Sylviana diharapkan mendapat dukungan dari PNS guru. Sylviana di kalangan guru dianggap biasa saja dan tak menonjol, hingga Ahok dengan senang hati melepas Sylviana. Mantap. Catatan Agus anak SBY dan bermertua Aulia Pohan sang koruptor BI jelas membebani Agus. Belum lagi Demokrat sebagai salah satu dari hampir semua partai yang korupsinya hanya kalah oleh PDIP. Beban berat di pundak Agus. Syliviana hanya akan membebani saja dan mengurangi dukungan guru dan PNS kepada Ahok sekitar 10 persen. Agus yang bermertua koruptor Aulia Pohan pun dipastikan hanya akan menjadi pelengkap penderita. Pertama, pelengkap penderita ambisi bapaknya, dan kedua, pelengkap penderita kalah di Piligub DKI 2017. Selesai.

Ketiga, calon Sandiaga-Mardani atau Yusuf Mansyur atau Anies Baswedan lainnya. Dengan gambaran Fadli Zon, Fahri Hamzah dan partai agama PKS yang dimotori si tukang kompor segregatif Hidayat Nur Wahid dipastikan akan gagal meraih simpati kalangan pluralis non-Muslim. Pun suara mayoritas Muslim akan terpecah menjadi 3 bagian persis seperti Pilgub DKI 2012 dan Pilpres 2014 lalu. Dengan demikian pasangan Gerindra dan partai agama PKS ini hanya akan menjadi pemecah suara dan akan tersingkir.

Dengan demikian kemenangan Ahok-Djarot akan semakin memerdalam dendam kesumat dan sakit hati politik dan pribadi cinta segitiga SBY-Mega-Prabowo. SBY akan menonton anaknya korban ambisi dan keluar dari TNI, dan jadi pengangguran. Padalah Agus lebih cocok di militer dan sangat cerdas. Sementara Prabowo lagi dan lagi kalah setelah Pilpres 2014 dipecundangi oleh Mega dengan calonnya: Jokowi.

Nah, itulah rancangan matang strategi politik the Operators dalam mengarahkan Pilgub DKI yang sangat penting bagi Presiden Jokowi di 2019. Maka penghancuran lawan politik dengan berbagai drama dan wacana yang mengecoh parpol saingan PDIP menjadi senjata mematikan. Pun perseteruan pribadi dan politik antara SBY, Megawati, dan Prabowo dimanfaatkan oleh the Operators untuk bergerak menciptakan political uncertainty dalam diri para partai. Terlebih lagi PDIP benar-benar memanfaatkan kekuatannya untuk memainkan mereka. Maka hasilnya Ahok-Djarot tetap akan menang.

Ikuti ulasan politik jitu mulai hari ini terkait Pilgub DKI 2017 dari Ki Sabdopanditoratu dan sesekali the Opertors.

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here